
Ramadhan telah tiba. Ini adalah pertama kalinya bagi Shafa dan Rayyan menyambut Ramadhan dengan status berbeda. Jika tahun lalu mereka masih sendiri, maka Ramadhan kali ini mereka tak sendiri lagi, bahkan sudah ada anak di tengah-tengah mereka. Ramadhan kali ini disambut dengan suka cita. Bulan yang penuh dengan ampunan dan berkah ini masih bisa di jumpai Shafa dan keluarga dengan formasi yang semakin lengkap. Keberadaan Jeffri dan baby Am membuat Ramadhan kali ini terasa sangat berbeda. Bagi Mommy dan daddy Shafa, ini adalah Ramadhan paling lengkap yang pernah mereka lalui selama 33 tahun pernikahan mereka.
"Mommy kapan buka puasa? Atu haus" Ujar Zafran sambil memeluk leher momnynya yang tengah menyusui baby Am.
"Anak mommy sudah boleh minum kok. Makan juga boleh" Ujar Shafa sambil mengusap kepala Zafran.
"Tapi kata ayah kalau puasa ga boleh makan dan minum mommy" Balasnya.
"Itu kalau sudah besar sayang. Zafran kan masih kecil jadi nggak papa puasanya setengah hari. Ini lihat adek Am juga lagi minum" Ujar Shafa yang sedang menyusui anaknya.
"Belalti aku ga puasa dong mommy" Balasnya lagi.
"Puasa dong, nanti habis makan dan minum Zafran puasa lagi yah" Bujuk Shafa. Anak seusia Zafran memang belum waktunya berpuasa, tapi tak apa mengenalkan ibadah puasa sejak dini agar kelak ia terbiasa.
"Mommy puasa juga?" Tanya Zafran tiba-tiba.
"Enggak sayang. Mommy kan baru melahirkan adek. Kalaunmommy puasa kasian adeknya. Karena adek harus minum susu" Ujar Shafa.
"Belalti mommy halus makan yang banyak. Ayo mommy kita makan. Atu liat bibi Ati bikin kue coklat" Ujar Zafran yang masih bergelayut manja pada Shafa.
"Iya, mommy ambilkan ya. Abang jaga adek dulu" Shafa membaringkan anaknya di kasur kecil khusus miliknya yang di simpan di ruang tengah rumah itu.
"Fa? Kamu mau makan?" Tanya ibu yang juga sedang menyiapakan takjil di dapur.
"Zafran haus bu, dia juga pengen makan kue coklat yang di buat mbak Yati" Ujar Shafa sambil menuangkan air di dalam gelas bergambar spongebob.
"Kamu juga makan yang banyak Fa, biar ASI mu lancar"
"Maaf mbak Shafa, bu Wiana. Di depan ada tamu" Ujar Bi Lastri yang terlihat tergopoh-gopoh.
"Siapa bi?" Tanya Ibu.
"Anu... Itu" Bi Lastri nampak ragu menyebutkan siapa yang datang bertamu.
"Itu siapa?" Tanya Ibu penasaran.
"Bu...bu Lilis dan mbak Yola" Ujar bi Lastri.
Mendengar dua nama itu di sebut Shafa langsung membelalakkan matanya. Ia meninggalkan begitu saja gelas yang berisi minuman untuk Zafran dan segera menuju ruang tengah. Sedang ibu yang merasa geram langsung ke luar menemui Yola dan Lilis.
"Zafran, ayo masuk kamar mommy nak" Shafa segera mengambil bayinya dan mengajak Zafran masuk kedalam kamarnya. Ia sengaja mengunci kamarnya dari dalam agar tante Lilis tidak menemukannya. Shafa masih trauma dengan kejadiaan tempo hari dimana tante Lilis dan Yola berniat jahat dengan mengancam anaknya. Kali ini ia tidak akan membiarkan hal itu terjadi lagi makanya ia lebih memilih untuk berdiam di kamar karena kondisinya sendiri masih blm pulih jika harus melawan mereka.
__ADS_1
"Mommy kenapa pintunya di kunci?"
"Biar nyamuk nggak ada yang masuk sayang. Ini, Zafran minum air putih dulu ya. Nanti kalau ayah datang baru kita makan kue sama-sama yah" Bujuk Shafa sambil memberikan botol air mineral pada Zafran.
Sementara itu di luar rumah ibu berusaha menahan diri untuk tidak mengumpat pada dua orang wanita yang masih keluarganya itu. Ibu sangat sakit hati dengan perlakuan mereka terhadap menantunya.
"Mau apa kalian kesini? Mau menyakiti menantuku lagi?" Tanya ibu yang langsung pada intinya. Ia bahkan tak menyapa dengan salam dan mempersilahkan masuk.
"Mbak Wina" Tante Lilis meraih tangan ibu yang langsung di tepis olehnya.
"Nggak usah basa-basi. Cepat katakan! Mau apa kalian datang ke rumah Rayyan?" Ucap ibu dengan ketusnya meski dalam hati ia terus beristigfar.
"Mbak Wina, kami tidak bermaksud jahat. Kami hanya ingin minta maaf mbak pada Rayyan, Shafa dan juga embak" Ujar Lilis dengan ekspresi mengiba.
"Heh, drama apa lagi yang kamu mainkan Lilis? Kamu fikir aku dengan mudah mempercayai ucapanmu setelah apa yang kamu lakukan pada anak dan menantuku? Tidak semudah itu Lis" Ujar ibu yang menatap sinis pada tante Lilis dan Yola..
"Aku mohon mbak! Demi Allah aku tulus, aku dan Yola sudah menyesali perbuatan kami. Kami sadar kami salah mbak. Kami hanya ingin menebus kesalahan kami pada Shafa dan Rayyan mbak. Tolong ijinkan kami bertemu mereka" Ujar Lilis dengan linangan air mata. Ia terlihat begitu tulus ingin meminta maaf dengan Rayyan.
"Tante Lilis, Yola?" Rayyan terkejut mendapati dua orang wanita tersebut berada di teras rumahya. Ia dan ayah baru saja pulang dari masjid untuk melaksanakan shalat ashar.
"Ray... Tolong maafin tante dan Yola Ray. Tante menyesal." Ujar tante Lilis mengahmpiri Rayyan. Ia bahkan hendak berlutut jika tidak di tahan oleh Rayyan.
"Istigfar bu. Ingat lagi puasa" Bisik Ayah yang hanya di tanggapi komat kamit oleh ibu.
"Ayo tante dan Yola masuk dulu" Rayyan mempersilahkan mereka masuk dengan sopan. Biar bagaimanapun juga ia tidak akan tega berbuat kasar pada orang yang lebih tua darinya.
"Kak Ray, aku dan mamah tulus ingin minta maaf sama kak Ray dan kak Shafa. Yola dan mamah sudah jahat sama kak Shafa hiks...hiks kami minta maaf kak" Ujar Yola sambil menunduk. Ia terlihat begitu menyesal.
"Benar Ray, mbak. Kami tulus minta maaf. Kami jugaa ingin menjenguk Shafa. Kami tahunkesalahan kami sangat besar dan sulit untuk di maafkan. Kami akan melakukan apapun agar kalian bisa memaafkan kami, terutama Shafa. Bahkan kami rela jika harus bersujud untuk mendapatkan maafnya" Ujar taante Lilis sambil terisak. Tak nampak kebohongan di matanya. Ia terlihat benar-benar menyesal.
"Tidak perlu seperti itu tante. Tidak sepaantasnya kita bersujud di hadapan manusia. Rayyan tidak ingin apa-apa tante cukup tante benar-benar tulus dan tidak berniat buruk pada keluarga Rayyan tante."
"Demi Allah kami tulus Ray. Kami tidak tidak punya masud lain selain minta maaf. Bagi kami, kalian adalah keluarga yang sangat berharga. Kami bodoh telah memanfaatkan kebaikan kalian. Kami sangat menyesal Ray" Balas tante Lilis dengan wajah sendu penuh permohonan.
"Shafa dimana bu?" Tanya Rayyan. Ia cukup iba melihat taante Lilis seperti itu.
"Tadi dia di ruang tengah" Rayyan beranjak hendak menemui istrinya. Sedangkan tante Lilis dan Yola tengah mendengarkan pencerahan dari ayah.
"Mom..."
"Zafran.."
__ADS_1
Beberapa kali Zaafran memanggil, namun tak ada sahutan. Ia mencari di teras belakang juga tidak ada. Ia segera menuju ke kamar, pasti Shafa sedang di kamar batinnya.
Tok...tok...!!!
"Mom...Mommy di dalam!"
Ceklek,
Pintu terbuka. Benar, Shafa dan anak-anaknya sedang berada di dalam kamar. Zafran sedang bermain dengan adiknya di atas tempat tidur.
"Mas"
"Kenapa di kunci?" Rayyan masuk ke dalam kamar dan ikut duduk di sisi ranjang dimana anak mereka berada.
"Aku takut mereka nyakitin anak kita lagi mas" Ujar Shafa.
"Sayang, tante Lilis kemari ingin minta maaf pada Shafa. Dia sudah mengakui kesalahannya" Ujar Rayyan.
"Maaf mas aku nggak bisa!" Ujar Shafa sambil memalingkan wajahnya. Seketika matanya memanas, hatinya terasa sakit.
"Sayang, tante Lilis tulus. Dia ingin meminta maaf pada Shafa atas semua kesalahannya."
"Aku tetap nggak bisa"
"Tapi sayang..."
"Mas! Mas fikir sakit hati aku bisa hilang gitu aja setelah dia minta maaf iya? Gara-gara mereka mas nampar aku. Apa mas lupa? Aku nggak akan lupa mas! Gara-gara mereka juga aku harus pergi dari rumah ini tanpa membawa apapun. Mas tau gimana menderita dan tersiksanya aku saat itu. Terlebih saat aku tahu aku hamil. Belum lagi saat mereka ingin mencelakai Zafran. Mas fikir aku akan memafkan mereka begitu saja? Maaf mas, istrimu ini bukan wanita baik yang bisa dengan mudah memafkan tante Lilis dan Yola sekalipun mereka bersujud di hadapanku" Ujar Shafa dengan cairan bening yaang mengalir di pipinya.
Rayyan hanya bisa menghela nafas berat mendengar ucapan istrinya. Ucapan Shafa barusan benar-benar mengiris hatinya. Shafa mengingatkan kembali Rayyan pada kesalahan terbesarnya.
"Maafin mas sayang" Rayyan langsung memeluk tubuh Shafa. Ia tak mungkin memaksa Shafa untuk memaafkan tante Lilis.
"Maafkan aku mas...hiks...hiks tapi aku benar-benar belum bisa memaafkan mereka" Ujat Shafa sambil terisak.
"Apa Shafa juga belum bisa memafkan mas atas kesalahan mas wantu itu?" Rayyan menatap mata istrinya yang sudah basah oleh air mata.
"Nggak mas, aku maafin mas Rayyan tapi tidak dengan mereka" Ujarnya sambil menggeleng.
"Mommy kenapa menangis ayah?"
Mereka lupa kalau mereka tidak sendiri. Ada Zafran dan baby Al yang sejak tadi melihat dan mendengarkan percakapan mereka.
__ADS_1