Jodoh Pilihan Allah

Jodoh Pilihan Allah
Kerja Keras?


__ADS_3

"Maaaas, Zaf. Makaan dulu yuk!" Ajak Shafa yang tengah menyiapkan hidangan di atas meja. Malam ini Shafa membuat terong balado, ikan bakar, udang goreng dan sayur bening bayam khusus buat Zafran.


"Mommy makan duluan yah, ayah sama Zafran bentar lagi nyusul" Ucap Rayyan yang masih setiap menemani Zafran mewarnai tugas sekolahnya di ruang tengah.


"Kenapa? Kok tumben. Mommy udah buatin sayur kesukaannya Zafran lo. Ayo nak makan dulu, keburu adek bangun nanti mommy nggak bisa nyuapi" Shafa menghampiri Zafran yang sedang menggoreskan crayon pada kertas putih bergambar gajah.


"Aku mau makan sama ayah mommy. Iya tan ayah?" Ia menoleh pada Rayyan yang berada di sebelahnya.


"Iya, mommy duluan aja" Jawab Rayyan yang masih asik membantu Zafran memberikan warna pada gambar pohon buah di kertas yang lainnya. Ini yang sekolah anaknya, tapi bapaknya ikut mewarnai. Ck, sepertinya masa kecil kurang bahagia.


Shafa mendengus kesal melihat dua orang laki-laki kesayangannya mengacuhkannya. Ia sudang mengambil ancang -ancang untuk mengomel terutama pada bapak anak dua yang ikut-ikutan sibuk mewarnai gambar milik anaknya. Bukannya membujuk anaknya untuk makan.


"Bagus ya? Mommy di cuekin" Shafa berkecak pinggang di hadapan mereka.


"Kenapa mom?" Rayyan mendongak melihat istrinya yang menatapnya bergantian dengan Zafran.


"Ayah, harusnya ayah ngajakin Zaf makan tepat waktu, bukan malah ngajakin anaknya makan nanti-nanti. Kalau sakit gimana? Kalau kena mag gimana?" Omel sang ratu keluarga pada sang suami. Baginya kesehatan keluarga yang utama.


"Maaf mas, ini pesanannya sudah datang" Ucap pak Ali yang tiba-tiba nongol sambil memberikan kantong berwarna putih kepada Rayyan.


"Mommy sayang, kenapa sensi amat sih? Mommy nggak sedang datang bulan kan?" Sebuah pertanyaan yang membuat Shafa semakin ingin menguyel-nguyel suaminya itu.


"Ayah ngomong apaan sih? Mana ada mommy datang bulan. Ayah nggak lihat momny tadi sholat magrib?" Ucapnya ketus.


"Mommy tenapa malah-malah sama ayah?" Tanya Zafran polos.


"Mommy lagi kangen sama ayah sayang, makanya marah-marah. Sekarang kita makan yuk. Ini pesanannya sudah ada" Ujar Rayyan sambil memasukkan kembali crayon-crayon dalam kotak pensil. Kangen dan marah, sungguh dua hal yang sangat jauh dan bertentangan.


"Ini apa mas?" Shafa meraih kantong putih yang di diberikan pak Ali tadi. Dari aromanya yang menguar, seperti makanan.*W*angi!


"Sate kambing mom"


"Hah? Sate kambing?" Shafa mengerutkan dahinya.


"Iya, kenapa?" Rayyan menunjukan senyum yang menurut Shafa sangat menyebalkan.


"E..enggak papa, ya udah ayo makan" Ia meletakkan makanan dalam kantong tersebut yang memang benar isinya adalah sate di atas piring.


Mas ray kok tumben beli sate kambing? Apa dia lupa kalau aku nggak suka daging kambing? Astaga jangan-jangan...


Shafa menyadarkan diri dari dugaan-dugaan liar nya.


"Mom yang dipisah itu punya Zafran. Punya Ayah yang setengah matang" Ujar Rayyan sambil memperhatikan Shafa yang sedang menata sate tersebut di atas piring.


"Mas kenapa beli yang setengah matang? Mas nggak lagi rencanain sesuatu kan?" Lirik Shafa. Ia pernah dengar, sate kambing setangah matang merupakan salah satu menu yang dapat meningkatkan libido dan vitalitas pria. Shafa sudah menerawang sampai sejauh itu, karena tak biasanya bahkan bisa di katakan ini pertama kalinya Rayyam memesan sate kambing setengah matang.


"Rencana apa sih sayang? Mommy mulai deh otaknya ngeres" Ledek Rayyan sambil senyum-senyum.


"Ya Ampun mas, aku cuma nanya loh, siapa juga yang otaknya ngeres? Mas tuh yang suka mikir yang enggak-enggak? Lagian udah ada makanan pake beli segala. Tau gitu aku nggak usah masak" Balasnya tak mau kalah dan berusaha memojokkan Rayyan.


"Ya masa makan terong mom? Kalau lemes gimana? Ayah kan mau kerja keras malam ini" Ucapnya santai membuat Shafa sedikit membelalak.


"Nah...tuhh...tuuh mulai ngomongnya yang enggak-enggak. Itu apa coba maksudnya?" Cibir Shafa yang tengah menyendokkan nasi di piring Rayyan.


"Maksudnya apa sih mom? Ayah memang mau keja keras nanti malam, mau periksa tugas mahasiswa. Memangnya menurut mommy ayah mau ngapain?" Rayyan berhasil membuat Shafa keki setengah mati.


Apa otak gue yang emang lagi ngeres atau mas Rayyan yang ngerjain gue. Ah dia kan mulutnya manis banget pinter membolak-balikkan pertanyaan


"Ayo makan, jangan melamun. Tenang saja ayah akan lakukan seperti yang mommy pikirkan" Ucapnya disertai senyuman jahil.


Mereka bertiga menikmati makan malam dengan tenang, Shafa juga ikut makan dengan menyambi menyuapi Zafran. Sesekali ia melirik Rayyan yang begitu lahap memakan tusuk demi tusuk sate yang ada di hadapannya.


"Ayah yakin mau habisin semua?" Shafa melirik piring yang berisi sekitar 30 tusuk sate kambing. Apalah arti 30 tusuk kalau Suzana saja bisa makan sampai 200 tusuk sate.

__ADS_1


"Iya, biar kuat" Jawabnya membuat Shafa bergidik. Pikirannya benar-benar kacau.


Tak berapa lama berselang, Tepat setelah mereka menyelesaikan makan malam, bi Lastri muncul dengan sebuah gelas di tangannya.


"Mas, ini minumannya" Bi Lastri menyodorkan segelas minuman berwarna keruh yang mencuri perhatian Shafa.


Apa lagi itu? Dalam pandangan Shafa, setiap gerak-gerik yang Rayyan lakukan malam ini patut untuk di curigai.


"Makasih bi" Rayyan segera meneguk gelas berisini minuman berwarna keruh tersebut. shafa hanya bisa memperhatikan suaminya yang sedang meneguk gelas tersebut hingga tetes terakhir. Ingin bertanya, pasti di anggap mikir yang tidak-tidak, tidak bertanya kok rasanya penasaran.


"Mas?"


"Ya?"


"Itu apa?" Lebih baik bertanya dari pada sesat dalam berprasangka.


"Oh, ini jamu" Ucapnya sambil tersenyum ke arah Shafa. Padahal yang ia minum adalah air madu yang di campur jahe untuk menghangatkan tubuh karena cuaca yang sangat dingin.


Tuh kan, bener dugaan ku! Gilak, mas Ray persiapannya ampe segitu banget, sate lah, jamu lah, ntar apa lagi ya? Ya Allah kayaknya bakal kejadian bener nih.


***


"Mom, bobo yuk?" Bisiknya di telinga Shafa yang masih menemani Zafran menonton televisi di ruang tengah


"Masih jam setengah 9 mas, Zafran juga belum tidur" Ujar Shafa.


"Zaf, ayo bobo nak? Ayah bacain dongeng yang bagus banget! Besok Zafran kesiangan loh kalau telat bobonya" Tanpa menunggu persetujuan Zafran, Rayyan segera menggiring Zafran masuk ke dalam kamarnya untuk menidurkannya.


Sambil menunggu Rayyan menudurkan Zafran, Shafa berpikir keras. Beberapa kali ia menelisik ke arah tubuhnya yang masih mengenakan daster panjang.


Ganti baju, enggak... ganti...enggak


Ia sendiri masih tak yakin akan melakukannya malam ini. Masih ada rasa khawatir dan takut dalam dirinya. Tapi kalau suaminya mau gimana? Inikan sudah 3 bulan bahkan sudah lewat 1 minggu. Ia memilih masuk ke dalam kamar mandi untuk mencuci muka agar lebih segar. Ia kemudian mengganti pakaiannya dengan sebuah dress tidur pendek dengan tali kecil dikedua bahunya. Seksi dan menggoda! Namun Shafa menutup dress tersebut dengan cardigan luarnya sehingga tak begitu menampakkan kemolekan tubuhnya yang padat berisi.


Clak!!!


Suara tarikan hendel pintu membuatnya berjingkat kaget, ia segera beralih duduk di sofa, pura-pura memainkan ponselnya agar tak begitu nampak gugup.


Rayyan mendekat, mendudukkan dirinya di sebelah Shafa, merangkul bahunya dan menyandarkan kepalanya di sandaran sofa dengan rileks. Am sendiri sudah terlelap di atas box bayi miliknya, ia biasanya akan terjaga saat popoknya basah atau haus yang biasa terjadi pada tengah malam dan menjelang subuh nanti.


Hening


.


.


Belum ada percakapan di antara mereka. Keduanya masih sibuk dengan fikirannya masing-masing. Rayyan kini menyandarkan kepalanyaa di bahu istrinya. Ia memejamkan matanya menikmati wangi yang menguar dari tubuh mulus berbalut dress berwarna coklat itu.


"Mas?" "Sayang!"


Keduanya bersamaan memanggil. Naampak jelas raut canggung di wajah Shafa. Ia menggigit bibir bawahnya, untuk menyalurkan perasaannya yang kini seperti abg yang baru ketemu dengan kekasihnya. Labil.h


"Shafa dulu" Rayyan mempersilahkan istrinya berbicaraa terlebih dahulu.


"Mas duluan" Shafa menolak. Keduanya saling menatap. Ada sebuah senyuman yang terbit dari sudut bibir Rayyan.


"I love you mom" Bisiknya di telinga Shafa. Astaga, dikira mau ngomong apa ternyata I love you.


"Kirain apa!" Shafa mengusap lembut pipi suaminya. Ia tak membalas ucapan suaminya hanya sebuah senyum simpul.


"Katanya mas mau kerja, meriksa tugasnya mahasiswa?" Tanya Shafa. Rayyab sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan bekerja. Laptopnya masih tersimpan rapi di atas meja.


"Nggak jadi"

__ADS_1


"Kenapa?"


"Ada kerjaan lain yang lebih mulia" Ucapnya. Ia meraih tangan Shafa dan memainkan jemarinya.


"Tugas yang lebih mulia? Apa?"


"Ini"


Cup!


Tugas mulia versi Rayyan adalah memandang dan mencium istrinya. Ada-ada saja tingkah bapak satu ini, selalu membuat istrinya salah tingkah.


"Mas Ray ih" Shafa bergeming, ia malu! Menyembunyikan rona merah yang bersemu di pipinya.


" Ada pahala dan kebaikan yang Allah berikan kepada kita saat kita bersama, menyentuh, memeluk, mencium, bahkan hanya memandang penuh cinta pun, Allah hadiahkan kita pahala" Ucap Rayyan. Tangan nya menarik lembut tali rambut yang mengikat rambut Shafa, membiarkan rambut lembut nya menjuntai indah di bahunya.


"Sesungguhnya orang-orang yang saling mencintai, kamar-kamarnya di surga nanti terlihat seperti bintang yang muncul dari timur atau bintang barat yang berpijar. Lalu ada yang bertanya, "Siapa mereka itu?", "Mereka itu adalah orang-orang yang mencintai karena Allah 'Azzawajalla. ***Hadis Riwayat Ahmad*" 


"Mas mencintaiku karena Allah?"


"Insha Allah. Aku mencintaimu karena Allah, Aku menikahimu karena Allah. Semua yang ku lakukan padamu semata-mata untuk mengharap ridho Allah" Ucapnya tanpa mengalihkan pandangan matanya. Ucapan Rayyan yang seperti ini yang membuat Shafa kembali terhipnotis dan akan melakukan apapun, termasuk jika harus hamil lagi. Rayyan selalu bisa memenangkan hati Shafa hanya lewat ucapan dan tatapan teduh matanya. Apalagi senyumnya, yang otomatis meluluh lantahkan perasaan Shafa. Dengan lembut Rayyan menyentuh wajah Shafa, Menyusuri kulit mulus bak porslen yang selalu di rawatnya. Rayyan sedikit menarik dagunya agar lebih dekat dengan bibirnya. Mulai memberikan sentuhan lembut pada bibir manis itu.


"Emmph.... Mas?" Shafa melepaskan ciuman suaminya.


"Ya? Sudah boleh kan?" Rayyan menatap Shafa dengan wajah teduh penuh pengharapan. Dia tidak sanggup lagi menahan lebih lama. Sudah cukup penantiannya selama ini. Bahkan orang lain ada yang 40 hari sudah menyentuh istrinya, dia harus bersabar hingga 100 hari, yang bagaikan 1000 hari.


Shafa mengangguk, tapi bukan itu yang ia fikirkan.


Duh, bukan itu maaksudku!


"Kenapa?"


"Mas, aku... Aku takut hamil. Am masih bayi, mas pake pelindung gih" Ucapnya terus terang, dari pada menyimpannya dan menyesal akhirnya, lebih baik mengutarakannya.


Rayyan tergelak mendengar ucapan istrinya yang terlihat benar kekhawatiran di dalamnya. Mana mungkin ia sengaja ingin menghamili Shafa di saat anaknya baru berusia 3 bulan lebih. Ia tak tak se tega itu pada wanita yang amat di cintainya.


"Mas udah konsultasi sama dokter, Shafa jangan khawatir?" Ucapnya sambil mengusap lembut rambut istrinya.


"Dokter siapa? Jangan bohong deh mas! Aku beneran takut nih kalau kebobolan. Am masih butuh ASI" Shafa tak yakin, bagaimana mungkin Rayyan yang pemalu akan konsultasi dengan dokter mengenai hal ini. Ini pasti hanya akal-akalannya saja.


"Mas Juga butuh ASI sayaang" godanya sambil merwmemas lembut sumber makanan Am itu.


"Mas, serius nih! Mas konsul sama dokter siapa?" Shafa menahan lengan suaminya yang sudah menyusup di balik cardigannya.


"Serius mom, mas konsul sama dua dokter sekaligus!"


"Iya siapa? dokter Lily?" Perasaan dokter Lily nggak pernah cerita.


"Dokter Harsha sama dokter Fanny" Tanpa menunggu komentar dari Shafa, ia kembali menarik dagu Shafa, mencecap manis dari bibir merah muda yang sangat dirindukannya. Ia menuntun lengan Shafa untuk melingkar di lehernya. Mata mereka terpejam menikmati sensasi yang telah lama tak mereka rasakan. Mereka mulai terbuai dalam ciuman yang dalam dan paanjang, lidahnya menari, mengabsen setiap inci bagian mulut mereka.


Leguhan dan desahan mulai terdengar saat tangan Rayyan tak lagi diam. Tangannya ikut bekerja menyentuh bagian bagian sensitif tubuh yang telah di halalkan untuknya.


"Now?" Bisiknya. Yang di jawab anggukan oleh Shafa.


_______


Hai..hai... kemarin aku sibuk banget. Anwy selamat hari raya idul Adha ya... Mohon maaf lahir bathin😍😍😍


Ngegantung ya?


hehehe... Sengaja kok🤭 Jangan lupa like, comment and vote ya? Tembus 500 Like gue up segera up eps sambungannya dengan cepat dan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya 😍


Happy weekend❤️

__ADS_1


__ADS_2