Jodoh Pilihan Allah

Jodoh Pilihan Allah
Pelet


__ADS_3

"Ayah ganteng!!!" Ujar Shafa tanpa rasa bersalah pada Rayyan. Ia mengusap keringat yang membasahi area sekitar keningnya. Di matanya, Rayyan yang dalam keadaan berkeringat seperti itu memiliki tingkat kegantengan berkali-kali lipat.


Setelah minta gendong tadi, Rayyan dengan segenap kesabarannya menggendong Shafa yang berat badannya kian meningkat. Rayyan bukanlah sosok kekar dan perkasa seperti yang di gambarkan di novel-novel yang ketika istrinya minta gendong dengan mudah akaan diangkatnya. Rayyan hanya sosok lelaki biasa yang harus mengerahkaan kekuataan penuh untuk menggendong istrinya yang tengah berbadan dua itu. Apalagi jarak antara tempat Shafa muntah dengan areaa parkir sekitar 50 meter lebih.


Dan disinilah mereka sekarang berada. Di kedai es kelapa muda di samping area parkir. Rayyan memutuskan untuk istirahat sejenak sembari melepas lelah.


"Ayah aaa..." Ujar Shafa sambil menyuapkan kelapa muda kepada Ray. Minuman yang di pesan Rayyan telah habis lebih dahulu lantaran kehausan bagai lari marathon. Dan Shafa dengan rasa tidak bersalahnya seolah begitu bahagia melihat suaminya yang tengah ngos-ngosan.


Rayyan merogoh ponselnya dalam saku untuk menghubungi pak Madi agar datang membawakan mobil ke pasar.


"Loh, kok nyuruh pak Madi jemput Mas? Motornya gimana?" Ujar Shafa yang mendengarbpercakapan suaminya deng supir pribadinya.


"Motornya biar di bawa pak Madi" Ujar Rayyan yang tengah mengipas-ngipas tubuhnya dengan kertas menu yang ada di atas meja.


"Aku masih pengen naik motor Mas" Ujar Shafa sambil memanyunkan bibirnya.


Rayyan langsung menatapnya dengan tatapan galak.


CUP! "Ayah ganteng!" Ujar Shafa sambil nyengir setelah mendaratkan satu kecupan di pipinya, membuat Rayyan malu bukan main. Pasalnya mereda sedang berada di tempat terbuka.


Huh! modus! Nggak mempan!


Tak lama kemudian pak Madi tiba di lokasi. Rayyan segera menggiring istrinya untuk masuk ke dalam mobil dan mengambil alih kemudi.


.


.


"SIAL..!!!" Briyan memukul stir kemudinya dengan wajah marah, hatinya terasa terbakar melihat Shafa dan Rayyan. Saat di jalan tadi, tak sengaja ia melihat Rayyan dan Shafa sedang berboncengan mengendarai sepeda motor. Lalu, ia merinisiatif untuk meengukitinya sampai ke pasar Tradisional. Di sana, ia juga melihat bagaimana Rayyan dengan possesifnya mengawal istrinya untuk berbelanja bahkan dengan suka rela menggendong tubuhnya keluar dari pasar.


"Jadi kamu benar-benar bahagia Fara?" Geramnya. Ia kemudian menekan salah satu kontak di ponselnya.


"Ada hal penting yang ingin aku bicarakan. Seperti aku sudah menemukan jalan keluarnya" Uajrnya pada seseorang di balik telfon.


"Oke aku kesana sekarang" Ujarnya sebelum menutup telfonnya.


Briyan melajukan mobilnya ke sebuah cafe bernuansa hijau itu. Seorang wanita cantik berambut panjang sudah menunggunya di slah satu meja pengunjung.


"Langsung saja, aku tak suka berlama-lama" Ujar Sonya saat Briyan baru saja duduk.


"Ck! Baru kamu wanita yang tidak betah berlama-lama dengan ku. Apa kamu benar-benar tidak nyaman berdekatan dengan laki-laki Sonya?" Balas Briyan dengan pandangan mengejek.


"Jangan mulai Briyan! Katakan apa solusi yang kau tawarkan?" Ujar Sonya dengan ekspresi judes.


"Kita kabur bersama!" Jawab Briyan.


"Hah? Ide konyol macam apa itu. Kamu fikir akan mudah bagiku untuk kabur saat dua pengawal bodoh itu terus mengikutiku? Bahkan ke kampus pun aku selalu di awasi oleh mereka." Ujar Sonya sambil menunjuk dua orang berbadan tegap yang tengah menunggunya di luar.

__ADS_1


"Ck! Ternyata kamu tidak secerdas yang ku bayangkan!" Ujar Briyan sambil menaikan satu kakinya ke paha sambil bersandar santai.


"Apa maksudmu Briyan?" Tanya Sonya yang sedikit geram. Mood nya tidak pernah baik bila bertemu dengan Briyan.


"Serahkan saja semua padaku!!!" Ujar Briyan sambil menyeringai.


"Aku tidak mau, Sebelum kamu jelaskan secara rinci apa rencanamu!" Tolak Sonya tegas.


"Baiklah... Baiklah Nona Sonya! Dengar baik-baik!!! Kenapa saya mengajakmu pergi bersama? Pertama, agar kamu terbebas dari pengawalmu itu. Orang tuamu tentu akan dengan senang hati memberikan waktu untuk kita berdua. Yang kedua, tidak akan ada yang curiga jika kita pergi bersama" Terang Briyan.


Sonya nampak menimbang-nimbang usul dari Briyan yang ada benarnya juga.


"Oke! Tapi kita akan pergi kemana?" Tanya Sonya.


"Singapura" Ujar Briyan sambil menari turunkan alisnya.


"Ha? Singapura?" Sonya terlonjak kaget. Ia tidak pernah membayangkan akan kabur sejauh itu.


"Come on Sonya. Mereka akan menemukan kita jika hanya kabur di sekitaran sini. Tidak akan lama, sampai mereka membatalkan perjodohan konyol ini, Bagaimana?"


Benar juga kata Briyan. Tapi bagaimana dengan pekerjaanku? Apa aku cuti dulu yah? Sepertinya aku harus menemui Mr. Ray. Aku butuh bantuannya.


"Oke... Tapi aku harus menyelesaikan dulu urusanku d kampus. Akan ku kabari nanti" Jawab Sonya seraya berdiri meninggalkan cafe itu.


.


.


"Mas Ih.." Teriak Shafa saat Rayyan mulai menjhilinya.


"Mas punya kejutan buat Shafa" Ujar Ray untuk memancing istrinya yang sedang ngambek. Padahal ia tidak memilik apa-apa yang ia sembunyikan.


"Apa mas apa? Mana?" Jawab Shafa antusias. Rencana Rayyan sepertinya berhasil. Ia harus segera memikirkan akan memberikan kejutan apa untuk istrinya.


"Ada deh, tapi Shafa kayaknya marah deh. Jadi---"


"Enggak marah kok ayah, mana kejutannya?" Ujarnya dengan mata berbinar-binar.


Wah kayaknya ini bisa di jadikan senjata saat di ngambek. Responnya langsung bagus.


"Ntar ya sayang kalau sudah sampai di rumah." Ujar Rayyan. Ia harus segera mencari sesuatu yang akan di berikan untuk istrinya.


Tiba-tiba ponsel Rayyan berdering. Panggilan dari bu Sonya.


"Sayang angkat, Bu Sonya menelpon" Ujar Rayyan menyerahkan ponselnya karena ia sedang fokus menyetir dan agar Shafa tidak mencurigainya.


"Assalamualaikum bu Sonya" Jawab Shafa.

__ADS_1


"Waalaikum salam.. Kebetulan Ms. Ray yang angkat. Bisakah saya bertamu malam ini? Saya perlu memberikan beberapa dokumen pada Mr. Ray, karena saya akan pergi untuk beberapa hari" Ujar bu Sonya dari balik telfon.


"Tentu, bu Sonya" Jawab Shafa ramah.


"Thank You, see you mrs.Shafa"


"See You" Jawab Shafa mengakhiri panggilan.


" Kenapa bu Sonya sayang?" Tanya Rayyan. Perasaannya sesikit lega karena istrinya tidak menunjukan tanda-tanda cemburu.


"Dia mau ke rumaah mas, mau nganter dokumen katanya" Jawab Shafa.


"Oh, padahal kaan bisa di kampus" Gumam Rayyan.


"Dia mau pergi beberapa hari katanya" Ujar Shafa. Rayyan hanya manggut-manggut.


"Maaas?" Panggil Shafa yang tiba-tiba tersentak.


"Kenapa Sayang?" Jawab Ray.


"Jangan jangan bu Sonya mau kabur karena di paksa nikah!" Ujar Shafa.


"Kamu ada-ada saja. Biarkaan mereka menyelesaikan urusan nya sendiri" Kawaab Rayyan.


Oh ya... Sonya kan mau ke rumah, sekalian saja aku titip hadiah untuk Shafa. Perempuan tentu lebih tahu!


"Aku yakin banget dia mau kabur mas, karena aku pernah berada dibposisi nya" Ujar Shafa yang langsungembekap mulutnya.


Rayyan menoleh pada Shafa, menatapnya tajam.


"Jadi kamu pernah mau kabur dari Mas?" Tanyanya. Shafa dengan cepat menggeleng gelengkan kepalanya.


Kok bisa keceplosan sih?


"Itu dulu mas sebelum aku kena pelet mas" Jawab Shafa asal. Tak bisa di pungkiri dulu ia memang pernah berniat utuk kabur dari Rayyan.


"Pelet?"


"Iya, buktinya aku jadi cintaa banget ama mas Rayyan" Jawab Shafa. Ia berusaha agar suaminya melupakan apa yang ia katakan tadi.


"Memang Shafa mempan di pelet?" Balas Rayyan.


"Lha ini buktinya ampe aku hamil" Jawab Shafa sambil mengelus perutnya.


"Hamil itu bukan hasil pelet sayang, tapi hasil kerja keras Mas tiap malam!" Jawab Rayyan sambil terkekeh.


"Iih.. Mas Mes*m...!!!" Teriaknya dengan wajah yang merah merona.

__ADS_1


__ADS_2