
Dalam hidup, semua tak selalu berjalan indah. Kadang kala kenyataan tak sesuai dengan harapan, seperti yang di rasakan oleh mommy dan daddy Shafa kala itu. Mimpi mereka adalah agar bisa menjaga cinta mereka, menua bersama dalam suka dan duka. Nyatanya, hadirnya Anita dan anak dalam kandungan nya sedikit banyak telah menggerus harapan tersebut, menggoyahkan benteng pertahanan dr. Harsa dan menghancurkan kepercayaan Fanny Azura. Meski semua yang terjadi bukan sepenuhnya kesalahan mereka. Entah mengapa takdir begitu kejam mempermainkan perasaan mereka. Perasaan Fanny, seorang istri yang harus menerima kenyataan bahwa suaminya berpoligami, perasaan dr. Harsha yang harus memilih antara istri yang di cintainya atau wanita yang sedang mengandung anaknya, dan perasaan Anita yang harus iklas di tinggalkan orang yang baru saja menjadi suami nya dan di saat ia sedang mengandung anaknya. Ketiganya sama tersiksanya dan sama menderitanya.
Shafa menangis sambil memegang dadanya yang begitu sesak. Begitu juga dengan Aini dia bahkan tak mampu mengangkat wajahnya saat mendengarkan cerita dari Fanny yang begitu memilukan. Tidak ada seorang istripun di dunia ini yang rela berbagi suami, kalau pun ada, pasti jauh di dalam hatinya merasakan sakit yang teramat meski bibirnya mengatakan tidak tapi hati nya pasti berkata iya.
Fanny mengambil tissu untuk mengelap air matanya sebelum melanjutkan kembali ceritanya.
Malam itu, dr.Harsha pulang dengan tiba-tiba, tanpa memberi tahu terlebih dahulu. Fanny cukup terkejut dengan kedatangan suaminya yang tiba-tiba. Begitu melihat Fanny ia langsung berlari memeluknya sambil menangis tersedu-sedu. Fanny hanya bengong karena tak tahu apa yang telah terjadi pada suaminya.
"Mas... Kamu kenapa mas?" Tanyanya sambil berusaha melepaskan pelukannya. Mungkinkah rindu membuatnya sampai seperti itu?
"Maafkan aku Fanny... Maafkan aku!" Cicitnya masih sesunggukkan sambil memeluk Fanny.
"Iya, tapi ada apa? Kenapa tiba-tiba menangis?" Fanny bingung dengan tingkah suaminya.
"Maafkan aku Fanny" Cicitnya lagi.
"Kita bicara di kursi ya? Jangan seperti ini" Ia mengajak suaminya untuk duduk di sofa agar bisa bicara lebih nyaman.
"Katakan! Ada apa sampai mas menangis seperti ini?" Tanyanya sambil mengusap lembut bahu suaminya.
Tatapan lembut Fanny membuat dr. Harsha tak sanggup berkata-kata. Ia tak sanggup menyakiti wanita yang amat di cintainya itu. Tubuhnya meluruh ia berlutut di hadapan Fanny sambil memegang lututnya.
"Mas, ada apa? Jangan seperti ini" Ujarnya yang semakin tidak mengerti dengan tingkah suaminya.
"Aku mohon jangan tinggalkan aku Fanny! Apapun yang terjadi jangan tinggalkan aku" Ujarnya sambil menangis di hadapan Fanny. Fanny mulai merasakan ada sesuatu yang tidak beres dengan suaminya. Sesuatu yang besar pasti telah terjadi.
__ADS_1
"Mas! Katakan ada apa? Mas tiba-tiba datang dan menangis seperti ini. Apa kamu telah melakukan sesuatu?" Tanyanya penuh selidik.
"Aku terpaksa Fanny. Demi Allah aku tidak bermaksud melakukan semuanya" Ujarnya masih menenggelamkan wajahnya di pangkuan Fanny.
"Mas! Lihat aku! Kamu melakukan apa?" Fanny menatap Harsha dengan tajam. Berbagai macam fikiran telah mengusik ketenangannya. Apakah suaminya membunuh orang? Ah tidak mungkin, apakah dia menabrak orang atau membuat kesalahan fatal dengan status dokter yang di sandangnya? Itu lebih tidak mungkin lagi.
Apa kamu selingkuh mas?
"Jangan bilang kamu... " Fanny tidak melanjutkan ucapannya. Ia menatap suaminya sambil menggeleng. Ia yakin dugaannya pasti salah.
Harsha menggenggam tangan Fanny dan mulai menceritakan awal mula kejadian naas itu terjadi sampai pada hari di mana ia mengetahui bahwa Anita hamil.
"Maafkan aku Fanny... Malam itu aku benar-benar khilaf. Aku bersumpah hanya sekali melakukannya" Ujarnya sambil tergugu di hadapan Fanny. Sementara Fanny hanya membatu dengan tatapan kosong setalah mendengar pengakuan suaminya. Dunianya seakan di renggut paksa malam itu.
"Fanny aku mohon maafkan aku." Ujarnya lagi.
"Aku akan menceraikannya Fanny, aku tidak akan hidup bersamanya. Aku hanya mau menghabiskan waktuku bersamamu. Aku janji aku tidak akan pernah membuat kesalahan lagi" Balasnya sambil berusaha meraih tangan istrinya.
Fanny tersenyum sinis,
"Wah, indah sekali hidup anda dr. Harsa, setelah menghianati istri anda dan menghamili perempuan lain anda mencampakkannya begitu saja. Dimana tanggung jawab anda sebagai seorang laki-laki?" Fanny berdiri meninggalkan dr.Harsa yang masih terpaku di depan sofa. Sakit hatinya mendengar Fanny memanggilnya seperti orang asing. Sepanjang malam Fanny menangis sendiri di dalam kamarnya, ia tak menghiraukan suaminya yang terus mengetuk sampai menggedor pintu.
Saat pagi menjelang, Fanny baru membuka pintu kamarnya, di dapatinya suaminya tertidur di depan pintu kamarnya. Ada perasaan tak tega melihat wajah suaminya yang begitu sendu, ia bahkan masih belum mengganti pakaiannya. Bisa dibayangkan betapa lelahnya ia, tapi semua itu tidak cukup membuat hatinya yang terlanjur luka membaik.
"Fanny...!!!" Ia segera berdiri saat merasakan tangan lembut menyentuh wajahnya. Fanny kembali memalingkan wajahnya sambil menahan air matanya.
__ADS_1
"Bawa aku bertemu denganya sekarang!" Ucap Fanny tegas. Semalaman ia merenung sambil memikirkan keputusan apa yang akan di ambilnya. Jika ia memilih berpisah, keluarganya pasti akan bertanya-tanya bahkan mencari tahu penyebab perpisahan mereka dan jika sampai mereka mengetahuinya bukan hanya karir suaminya yang akan hancur, tapi bisa saja ia tidak akan melihatnya lagi di dunia ini, dan Fanny tidak ingin hal itu sampai terjadi. Karena biar bagaimana pun juga, cintanya pada dr. Harsha lebih besar dari segalanya bahkan rasa kecewanya.
"Apa yang akan kamu lalukan Fanny? Aku tidak ingin kembali kesana Fanny!" dr. Harsha memohon.
"Jangan jadi laki-laki pengecut dokter. Anda telah memulainya jadi anda harus menyelesaikannya. Atau aku akan meninggalkanmu selamanya!" Ujar Fanny dingin. Dengan sangat terpaksa ia mengikuti kemauan istrinya. Hari itu juga, setelah mengganti pakaiannya dan sarapan mereka kembali menuju ke tempat di mana Anita berada. Begitu turun dari mobil, mereka segera berjalan menuju kediaman pak Rasyid. Dr. Harsha memperkenalkan Fanny kepada keluargaa Anita. Anita sudah tidak memiliki ibu, ia hanya tinggal bersama bapaknya sementara saudara-saudaranya yang lain sudah memiliki keluarga masing-masing.
"Saya kemari, ingin memperjelas semuanya. Saya tahu kamu pasti terluka, begitu juga dengan saya dan dr. Harsha. Sekarang saya ingin bertanya padamu, apa yang kamu harapkan dari pernikahan ini?" Tanya Fanny pada Anita yang duduk di depannya sambil menunduk.
"Sebelumnya saya ingin minta maaf pada mbak. Demi Allah, saya tidak pernah punya niat sedikit pun untuk menjadi orang ketiga dalam rumah tangga kalian. Semua yang terjadi ini saya yakini sebagai garis tangan yang Allah berikan kepada saya. Saya tidak berharap apa-apa dari pernikahan ini mbak. Sekiranya dr. Harsha ingin menceraikan saya, saya ikhlas. Saya cukup berhutang budi pada pak dokter karena telah menolong saya, dan melindungi kehormatan saya. Cukup bagi saya di nikahi dan di beri status yang jelas, dari pada saya harus menanggung malu dan di hinakan karena di perkosa oleh laki-laki bejad itu" Jawab Anita dengan tulus. Tak nampak kebohongan di matanya.
"Apa kamu yakin?" Tanyanya lagi.
"Saya yakin mbak. Saya sudah pernah mengatakan hal ini pada pak dokter sebelum saya hamil. Dan soal kehamilan saya, saya dan anak saya tidak akan menuntut apapun dari pak dokter. Setidaknya dia lahir bukan dari hasil perzinahan apalagi perkosaan. Sekiranya anak ini menjadi aib bagi keluarga pak dokter, saya akan merahasiakannya" Balas Anita. Begitu besar tekadnya untuk tidak membuat dr. Harsha dan Fanny kerepotan karena dirinya dan anak dalam kandungannya.
Sontak jawaban Anita tersebut membuat Fanny tersentuh. Ia bahkan rela tak di anggap demi menjaga kehormatan suaminya. Melihat sosok Anita yang begitu tulus, Fanny tidak sampai hati untuk berkata kasar seperti yang sudah ia rencanakan tadi. Ia fikir Anita adalah wanita licik yang sengaja menjerat suaminya. Melihat dokter Harsha yang begitu tampan dan berwibawa, siapapun tentu akan sangat tergoda. Ia menepis segala fikiran buruknya tentang Anita setelah bertemu langsung dengannya. Sekalipun sakit yang di sebabkan oleh hadirnya Anita belum juga mereda.
"Sekarang pilihan ada di tanganmu Mas!" Ujar Fanny sambil melirik suaminya sekilas.
"Anita, pak Rasyid. Saya mohon maaf, saya tidak mampu untuk berlaku adil pada pernikahan ini. Saya benar-benar tidak bisa menduakan Fanny. Dan soal anak yang Anita kandung. Saya akan bertanggung jawab. Saya akan memenuhi semua kebutuhannya sampai ia dewasa nanti." Ujar dr. Harsha dengan wajah memelas.
"Terima kasih atas kebaikan pak dokter, tapi sungguh, kami tidak mengharapkan semua itu. Dengan Pak dokter bersedia menikahi Anita saat itu, saya sudah sangat bersyukur karena marwah anak saya telah terjaga." Ujar pak Rasyid. Bersyukur orang tua Anita sangat baik dan pengertian, bukan seorang yang matrealistis yaang akan tergiur dengan harta.
"Tapi pak, saya tetap akan bertanggung jawab memberikan nafkah untuk anak tersebut. Saya bukanlah orang kejam yang akan menelantarkan darah dagingnya sendiri. Sekalipun mungkin saya tidak bisaa bersama dengan ibunya" Ujar dr. Harsha sambil menatap wajah tenang Anita.
"Tidak apa-apa pak dokter, itu juga yang saya harapkan. Saya pun tidak ingin menjadi orang ketiga dalam rumah tangga kalian. Saya tidak ingin di cap sebagai perempuan perebut suami orang." Ujar Anita.
__ADS_1
Setelah pertemuan itu, Harsha tidak pernah lagi bertemu dengan Anita. Mereka hanya berkirim kabar lewat telfon, itu pun dengan sepengetahuan Fanny. Karena Fanny sendiri lah yang lebih sering menghubungi Anita. Dan tepat setelah 40 hari Anita melahirkan Jeffri, dr. Harsha menjatuhkan talak yang mengakhiri ikatan pernikahan keduanya. Sekalipun begitu, hubungan mereka tetap terjalin baik, setiap bulan ia selalu mengirimkan sejumlah uang untuk kebutuhan Anita dan anaknya. Setelah dua tahun usia Jeffri, Anita menikah dengan laki-laki lain yang merupakan teman masa kecilnya. Hidupnya pun sangat bahagia meski tidak di karunia keturunan lagi. Hingga pada saat usia Jeffri 6 tahun. Anita memberanikan diri untuk menemui dr. Harsha dan Fanny ke Jakarta.
"Mbak Fanny, maafkan saya"