Jodoh Pilihan Allah

Jodoh Pilihan Allah
Siapa Hana?


__ADS_3

Setelah lelah membahas seputar poligami akhirnya kami terlelap tanpa melakukan apa-apa.


Keesokan harinya, mas Ray sudah bersiap memakai kemeja dan celana panjang. Aku masih bingung harus memakai baju yang mana. Aku sih lebih nyaman pakai celana dan kaos. Tapi ini kan acaranya agak formal masa iya sih aku pake pakaian santai. Akhirnya ku pilih dress panjang bermotif batik sarung dan manset hitam sebagai atasan nya.


"Sudah siap sayang?"


"Udah.... Mas, liat dong aku. Udah cantik belum?" Tanyaku memasang wajah super imut.


"Sudah... Shafa nya mas paling cantik" Pujinya membuatku tersenyum.


"Ya udah Ayok" Kini giliran aku yang menarik mas Ray keluar dari kamar.


Perjalan dari hotel menuju tempat kegiatan memakan waktu sekitar 10 menit. Sesampainya di tempat kegiatan kami di sambut oleh jajaran dan staf kampus di depan gedung. Ku lihat foto mas Ray terpampang jelas pada baliho ucapan selamat datang. Aku baru tahu bahwa suamiku memiliki banyak gelar di di depan dan belakang namanya. Di sana tertulis jelas Dr. Zidane Ar-Rayyan, Lc. MA. Duh itu gelar apa ya? kok sebanyak gitu. Aku aja yang cuma bergelar S.S di belakang namaku rasanya ga pengen nambah lagi. Itu ampe tiga gitu gelarnya emang ga pusing?


"Assalamualaikum Ustad"


"Selamat datang Ustad"


Kami disambut bak tamu penting. Aku yang selalu berada di sisi suami hanya senyum-senyum se anggun mungkin, seperti yang sering di ajarkan mommy pada saat pertemuan penting Daddy. Intinya senyum dan jangan bicara kalau ga di tanya.


"Mas Aku masih cantik kan?" Bisik ku pada mas Ray. Tanganku sejak tadi sudah gatal ingin menyentuh bagian atas kerudungku. Jangan sampai mleot atau miring.


"Iya..."Bisik nya di telingaku.


"Silahkan ustad" Mereka mempersilahkan kami duduk di sebuah ruangan. Mas Ray tengah asik ngobrol berbincang dengan salah seorang pria. Sepertinya dia moderator dalam seminar yang akan di gelar.


"Sayang tunggu di sini ya... Takutnya kamu bosan kalau ikut ke dalam aula" Ujarnya.


"Aku di sini sama siapa?" Tanyaku.


"Nanti ada yang nemenin" Jawabnya. Siapa yang nemenin? perasaaan disini cowok semua.


"Assalamualaikum"


"Waalaikum salam"


Dua orang wanita berkerudung panjang masuk ke dalam ruangan. Mereka mengulurkan tangan menyapa ramah kepadaku.


"Ini istrinya Ustad Zidane?" Tanya seorang wanita berkerudung hijau tosca. Aku mengangguk sambil tersenyum.


"Ia Na, Ini istriku. Tolong kamu temani yah, supaya ada teman ngobrol selama saya tinggal." Ucap mas Ray.


"Iya Ustad dengan senang hati" Jawabnya.


"Mas tinggal dulu ya, acaranya akan segera di mulai" Mas Ray berdiri hendak beranjak namun sebelum itu dia mengusap lembut kepalaku. Cuma di usap gaes, di cium napa.

__ADS_1


Sesaat setelah mas Ray pergi dua orang wanita di sampingku mulai membuka percakapan.


"Oh ya kak, nama saya Nana, ini teman saya Marwa" Ucap mereka memperkenalkan diri. Kalau di liat-liat kita seumuran. Tapi lagi lagi mereka memanggilku kak. Kalau aku tanya pasti jawabannya akan sama dengan si Amar kemarin.


"Oh ya saya Shafa"


"Kita ngobrolnya di ruangan sebelah aja ya kak, saya sudah nyiapin pesanan Ustad Zidane di sebelah" Ujarnya. Pesanan? Aku ga paham maksud mereka. Aku mengangguk dan mengikuti mereka dari belakang.


Kami memasuki sebuah ruangan, namun sebelum itu kami harus membuka alas kaki terlebih dahulu. Ruangan itu tidak begitu luas di dalamnya terdapat sebuah ranjang ukuran kecil, televisi, kulkas mini, cermin dan kamar mandi. Tidak ada sofa atau kursi. Lantainya di lapisi karpet tebal. dan ada sebuah meja lesehan. Sepertinya ini ruang untuk istirahat.


"Tunggu sebentar ya kak" Ucap Marwa berpamitan keluar.


"Dia mau kemana?" Tanyaku yang sedang berselonjor di atas karpet tebal tersebut. Nyaman banget sih.


"Mau ngambil pesanan ustad kak" Jawab Nana.


"Pesanan apa?"


"Aneka cemilan kak, kata ustad biar kakak gaa bosan" Ucapnya.


"Serius? Wah, dia memang terbaik" Nana terkekeh melihatku.


"Eh Na, kamu sebelumnya emang udah kenal sama mas Ray?" Tanyaku.


"Ustad Zidane maksudnya?"


"Iya kak, sejak saya masuk kuliah di Kairo. Ustad Zidane sering memberikan motivasi dan membantu kami kak" Ucapnya. Ow ternyata Nana alumni Kairo juga.


"Berarti kamu kenal dong sama Amar?"


"Iya kak, kami satu angkatan. Kakak kenal Amar juga" Tanyanya.


"He.em... Kemarin kita jalan-jalan di antar sama Amar" Asik juga di ajak ngobrol si Nana ini. Beda dengan Amar.


"Assalamualaikum... Maaf lama" Marwa masuk dengan membawa beberapa kantong. Dan mulai menatanya di atas meja.


"Woww... Ini apaan aja?" Tanyaku mengamati satu persatu kotak yang ada di depanku.


"Ini semua makanan khas Aceh kak, Ada Kue Adee, kue bhoi, kue timphan, pacri nanas, martabak aceh, dan rujak nanas" Marwa menerang satu satu.


"Wah aku jadi penasaran, boleh di coba ya?"


"Silahkan kak, ini semua khusus untuk kakak" Ujarnya. Yang bener aja sebanyak ini.


"Kalian juga makan dong, masa aku sendiri. Ga usah canggung gitu anggap aja kita temen" Ucapku sambil mencoba sepotong kue Adee.

__ADS_1


"Makasih kak, ternyata kakak nyenengin ya. Pantas saja ustad Zidane tertarik" Ucapnya. Aku tersenyum. Kami memulai obrolan seputar makanan khas Aceh. Aku harus membuat mereka nyaman dulu baru bertanya lebih lanjut.


"Minum kak," Marwa menyodorkan segelas jus strawberry dari dalam kulkas.


"Wow... ada ini juga. Thank you"


"Ustad Zidane yang suruh kak. Katanya istrinya suka jus strawberry" Ujarnya.


"Saya ga nyangka ustad Zidane ternyata sangat perhatian" Ucap Nana.


"Saya juga ga nyangka Na" Ucapku yang di sambut gelak tawa mereka.


"Beneran loh kak padahal dulu waktu di Kairo ustad Zidane itu cuek dan datar. Atau mungkin karena kaka istrinya ya?" Imbuhnya. Iti mah udah bawaan dia. Aku jadi istrinya aja masih sering di cuekin apalagi kalau ingat awal awal kita menikah.


"Masa sih Na?Aku pikir cueknya cuma sama aku doang"


"Hah? Kakak di cuekin?" Mereka terkejut mendengarnya.


"Iya, itu dulu pas awal-awal menikah. Sekarang udah jinak" Ujarnku nyengir.


"Wah kakak hebat. Nana pikir dulu ustad Zidane menikahnya dengan kak Hana. Upps.." Nana menutup mulutnya. Sementara Marwa memberikan kode seolah meminta Nana untuk diam.


"Hana? Oh mahasiswaa indonesia yang cerdas itu ya?" Ujarku berusaha mencairkan suasana. Aku harus terlihat biasa saja supaya mereka mau cerita lebih.


"Eh? Kakak Tahu?" Tanyanya ragu.


"Iya dong. Apa sih yang aku ga tahu. Udah lanjut aja. Toh Hana juga sudah menikah kan?" Ucapku sok tahu. Sambil menyedot jus Strawberry milikku.


"Hu.um..tapi syukurnya bukan sama kak Hana" Ucap Nana.


"Memangnya kenapa Na?"


"Ish.. kak Hana tu emang pintar tapi sombong. Beda sama ustad Zidane walaupun terkesan cuek tapi beliau tetap membantu kami menyelesaikan tugas"


"Oh..." Aku manggut-manggut.


"Eh, Hana itu kaya gimana sih? cantik ga?" Tanyaku penasaran.


"Kak Hana itu, pintar, cantik juga. Tapi cantik kan kakak kok" Ucap Marwa. Semoga Marwa ga sedang bohong karena aku di depaannya.


"Kok kalian tahu sih kalau mas Ray deket sama Hana?" Tanyaku lagi. Jangan-jangan mereka sering dua-duan lagi.


"Tau lah kak, kan kak Hana tiap hari mengantar makanan untuk Ustad Zidane dan kak Hana satu-satunya yang akrab dengan ustad Zidane" Waduh, Mas Ray tiap hari di bawaon makanan? berarti dia pinter masak. Aku harus segera meningkatkan Skill memasak ku. Supaya mas Ray bisa melupakan rasa makanan buatan nya.


_____

__ADS_1




__ADS_2