Jodoh Pilihan Allah

Jodoh Pilihan Allah
Pak Rudi


__ADS_3

Aku keluar dari ruangan ayah sementara mas Ray tetap tinggal untuk membahas sesuatu bersama ayah nya. Sepertinya aku akan langsung pulang kerumah karena aku males meladeni pertanyaan pertanyaan teman-teman yang akan di tujukan kepadaku.


"Bu Shafa Tunggu" Suara ini? Aku berbalik, dan benar dia adalah pak Rudi. Guru matematika yang juga menjadi idola para siswi. Rudiart Pythagoras, sebuah nama yang unik. Mungkin orang tua pak Rudi ini mengidolakan salah satu tokoh Matematika yang namanya di abadikan dalam sebuah Teori, yaitu Teorema Pythagoras. Salah satu pelajaran yang aku sukai waktu aku masih remaja. Eits, jangan salah ya! Semasa remaja aku termasuk salah satu siswa beprestasi yang sering wara wiri di berbagi ajaang petlombaan.Pria lajang berusia 28 tahun lebih muda 2 tahun dari suamiku ini memiliki postur tubuh tinggi, bertubuh kekar, dan wajah khas jawa yang ada manis-manisnya. Jika di lihat dari postur tubuhnya, dia lebih cocok menjadi guru olahraga. Secara fisik dia cukup menarik tapi gombalan recehnya membuatku menjadi illfeel.


"Ada apa pak Rudi?" Aku tersenyum canggung. Padahal aku sudah berusahaa lewat tempat yang sepi eh masih ada juga yang liat.


"Emm... maaf, apa bisa kita bicara sebentar" Ucapnya.


"Aduh gimana ya? Saya harus segera pulang" Kilahku. Aku menggaruk tengkukku.


"Sebentar saja, please!" Ia memohon dengan mengatupkan tangannya. Aku jadi ga enak, pak Rudi yang biasanya ngebanyol dengan lawakan dan gombalan recehnya mendadak serius gini.


"Baiklah, tapi sebentar ya pak!"


"Siap.. kita duduk disana" Ia menunjuk sebuah bangku panjang tak jauh dari tempat parkir. Ini termasuk kategori selingkuh ga ya? Kan lata ustad tempo hari, jangan berduaan yang bukan muhrim. Duh jadi serba salah nih. Mau nolak juga ga enak. Biarin deh, toh cuma sebentar ini.


"Jadi, ada apa pak?" Tanyaku langsung to the point ga pake lama apa lagi basa-basi.


"Saya.. mau mintaa maaf sama bu Shafa, karena saya sempat berprasangka buruk sama ibu. Tapi, setelah mendengar penjelasan pak Ray tadi saya jadi lega... dan emm..." Ia nampak ragu-ragu.


"Dan apa pak?" Apa dia mau nanyain tentang hubunganku dengan mas Ray. Apa dia belum tahu?


"Dan apakah isu rencana pernikahan bu Shafa dengan pria di foto itu benar?" Tanyanya. Ia menatap mataku dalam membuatku mengalihkan pandanganku ke sembarang arah.


"Oh itu.. pria di foto itu adalah mantan saya pak dan ------"


"Alhamdulillah" Ucapnya senang. Aku kan belum selesai ngomong. Main potong aja.


"Jadi bu Shafa ga jadi nikah dengan pria itu?" Tanyanya dengan mata berbinar-binar.


"Enggak pak tapi---"


"Terima kasih ya Allah" Ucapnya sambil menengadahkan kedua tangannya. Lagi lagi motong ucapanku. Terserah anda lah pak Rudi.


"Bu Shafa, Saya ingin jujur sama ibu" Ia menatap ku, membuat ku tidak nyaman. Kayaknya dia mau nembak aku nih. Gawat!!! Gawat!!! Dia bergeser mendekat, akupun bergeser menjauh.


"Saya Ingin mengutarakan---"


"SHAFA..!!!" Suara itu membuatku membelalak. Mati aku. Bodoh..bodoh Shafa bodoh. Kan ketahuan jadinya.

__ADS_1


Mas Ray menatap tajam ke arahku. Wajahnya nampak kaku sepertinya akan ada perang dunia ke 3. Aku harus pandai-pandai mengendalikan diriku.


"Maaf pak, saya harus segera pulang" Ucapku buru-buru beranjak dan menjauh dari pak Rudi.


"Masuk di mobilku sekarang!" Ucap mas Ray. Aku merasakan hawa dingin di sekitarnya. Aku mengangguk dan segera mengikutinya dari belakang. Aku ga peduli dengan panggilan pak Rudi. Biarlah dia mau mikir gimana, toh cepat atau lambat dia akan tau kebenaran hubunganku dengan pak Rayyan.


Aku masuk kedalam mobil hitam milik suamiku. Ekspresi wajahnya tetap datar, dia bahkan tidak melirikku sama sekali. Mas Ray apakah kamu cemburu? melihat wajahmu yaang seerti ini membuatku takut, lebih takut di banding saat nonton film Annabelle. Wajahmu lebih horror dari boneka Chaky.


Sepanjang perjalanan hanya keheningan yang menemani. Ku lirik dengan sudut mataku dia yang sedang menyetir. Gimana nasib mobilku yah?


"Maasss.." Aku mencoba buka suara.


Tidak ada jawaban. Sepertinya dia beneran marah.Aku harus cari cara untuk membujuknya.


"Mas, aku mau haus mau minum" Ucapku, Semoga berhasil.


Dia masih diam. Dan sekarang dia menyodorkan sebotol air mineral tanpa melirik ke arahku.


"Aku ga mau ini, aku maunya yang adem-adem. Minum Es buah atau es campur enak kali ya" Ucapku. Kali ini pasti berhasil.


Mas Ray masih tetap bungkam dan terus melajukan mobilnya. Ya Allah harus harus gimana sih bujuknya. Kalau aku marah, dia pasti akan lebih marah. Lagian aku juga sih yang salah. Harusnya aku menolak ajakan pak Rudi tadi. Kalau sudah begini kan repot.


"Turun!" Ucapnya.


"Mas, ngapain kesini?" Ucapku menarik ujung jasnya.


Dia menghentikan langkahnya, menoleh ke arahku. Nunduk aja ah, kan serem lihat matanya kalau lagi marah.


"Katanya mau minum es buah, kalau idah ga mau ayo pulang saja" Ucapnya.


"Ia mau..mau..mau.. aku mau" Ucapku segera.


"Ua sudah ayo" Dia menarik tanganku. Yes.. Aku berhasil. Syalalala setidaknya dia sudah mau bersuara. Ternyata dia mengajaku minum es buah di sebuah taman dekat simpang tiga. Kami duduk di gazebo taman tersebut. Suasana disini cukup adem karenna di kelilingi oleh pepohonan hijau. Pinter banget deh mas Ray nyari tempatnya.


"Maaasss" Aku mencoba untuk mengajaknya ngobrol. Namun tidak mendapat sahutan walau sekedar "hmmm". Ia justru sibuk dengan benda pipih ditangannya.


"Mass, jangan diam terus" Aku memberanikan diri untuk menyentuh tangannya.


"Maas, aku tuh tadi sama paak Rudi ga ngapa-ngapain" Tidak apa apalah mencoba untuk menjelaskan duluan.

__ADS_1


"Apa harus tunggu ngapa-ngapain baru kamu sadar kalau berduaan dengan laki-laki lain itu salah" Ucapnya. Tatapan matanya masih fokus pada layar di depannya.


"Bukan begitu mas, tapi kondisinya memang...Aarrgh" Aku frustasi harus menjelaskan bagimana. Mending ku minum es buah yang menyegarkan di depaanku ini.


Aku menyendokkan potongan buah banyak banyak ke dalam mulutku untuk mengalihkan rasa kesalku. Dia masih tida melirikku membuatku semakin kesal. Sukur-sukur aku mau inisiatif menjelaskan, eh malah ga di anggep gini. Ini aku nikah sama manusia kan? kok berasa kaya makhluk halus, ada wujudnya ga ada suaranya. Eh, Kebalik ya.


Melihat sikap dinginnya itu membuatku semakin gencar mwmasukan potongan buah ke mulutku dan mwngunyahnya kasar.


"Uhuk-Uhuk-Uhuk.." Sial, aku keselek potongan melon. Duh Sakiit. Aku memukul-mukul dadaku.


"Pelan-pelan Shafa" Mas Ray mendadak meraih punggungku dan menepuk-nepuk punggungku.


"Minum!" Ia meminumkan air putih. "Bismillah dulu" Ucapnya sebelum aku meneguknya.


"Bismillahirrohmanirrohim" Ucapku cepat, lalu meneguk air dari tangannya.


"Lain kali sebelum makan dan minum baca doa dulu, supaya makannya ga di temani setan" Ucapnya sambil mengelap bibirku dengan tisu.


"Mas Rayaaaannku" Aku memeluknya. Kalau sudah begini pasti dia ga akan marah lagi.


"Ga usah ngerayu, ga mempan!" Ucapnya. Namun aku tak begitu saja melepaskan pelukanku, malah semakin ku eratkan meski dia tidak membalas namun dia tidak juga menolak.


"Mas jangan marah, Aku minta maaf. Tapi sumpah aku ga ngapa ngapain. Pak Rudi tadi maksa mau ngomongin hal penting, aku udah nolak tapi dia mohon mohon katanya cuma sebentar mau ngomong sesuatu aku kan ga enak mas. belum juga dia ngomong mas Ray udah datang" Jelasku panjang kali lebar.


"Kamu tau dia mau ngomong apa?"


"Gimana mau tau mas Ray udah keburu datang"


"Dia mau ngomong kalau dia suka sama kamu" Ucapnya. Persis dugaanku.


"Lain kali jangan berduaan dengan laki-laki lain, kali ini maafin" Akhirnya diaembalas pelukanku


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2