
"Kalian disini rupanya!" Seorang mengenakan sebuah jas hitam dan berkaca mata hitam menghadang langkah Sonya dan Briyan.
"Siapa kamu?" Tanya Briyan yang terkejut dengan kemunculan tiba-tiba laki laki itu. Laki-laki itu menjentikan jarinya di udara dan seketika datang beberapa orang yang juga berpakaian serba hitam mengelilingi mereka. Jumlahnya sekitar 10 orang.
"Briii...." Bisik Sonya. Ia terlihat takut dan bersembunyi di baling punggung Briyan.
"Jangan takut! Ada aku disini" Ujar Briyan.
"Huh, perkenalkan! Namaku Edo. Tuan Adam memerintahkan kami untuk menemukan nona Sonya dan melenyapkan siapa saja yang telah membawa dan menyembunyikan nona Sonya" Ujarnya di iringi senyum jahat.
"Apa?Jadi kalian suruhan papa?" Sonya tersentak mendengar ucapan Edo. Edo memberikan aba-aba kedua dan dengn sigap para bodyguard langsung menahan Briyan. Tangan Briyan di tahan di belakang punggungnya hingga tak bisa melawan.
"Briyaannn!!!!" Sonya berteriak histeris saat lengannya juga di tarik dengan paksa.
"Lepaskan!!! Breng*** kalian. Kalian tidak tahu siaa aku! Lepaskan aku bilang!!!" Briyan mencoba melawan tiga orang bodyguard yang menahannya.
"Aku tidak peduli siapa kamu! Yang pasti kamu sudah membawa dan menyembunyikan nona Sonya. Itu artinya kamu harus menerima segala konsekuensinya. Termasuk menghilang dari muka bumi untuk selamanya!" Ujar Edo dengan penuh keseriusaan.
"Buug" Sebuah hantaman keras pada wajah Briyan berhasil membuat bibirnya berdarah.
"Brugg" Satu pukulan lagi di perutnya berhasil membuatnya terjatuh dengan lutut bertumpu pada pasir.
"BRIYAAANNNN....!!! Lepaskan!!! Jangan Sakiti dia! Briyaaan!!!" Sonya berteriak di sertai air mata.
"Maaf nona, kami hanya menjalankan perintah papa anda. Anda harus ikut kami pulang sekarang! Kalian semua bereskan laki-laki tak berguna itu!" Perintah Edo pada 6 orang anak buahnya.
"Tunggu!!! Aku mohon, Jangan sakiti dia. Dia adalah laki-laki yang akan papa jodohkan denganku. Biarkan aku bicara dengan papa!" Ucap Sonya sambil memohon.
"Tidak ada lagi perjodohan nona! Sesuai dengan keingin anda! Tuan adam sudah membatalkan perjodohan kalian dan sekarang beliau telah berubah pikiran untuk melenyapkan laki-laki br*ngsek itu" Ujar Edo denga penuh wibawa.
"Apa? Tidak mungkin!!!" Teriak Sonya.
"Apa yang tidak mungkin Sonya?" Sebuah suara mengalihakn pandangan Sonya.
"Papa!!!" Sonya terkejut dengan kehadiran papanya. Ternyata dugaannya selama ini benar, bahwa orang tuanya telah mengetahui keberadaannya.
"Papa, Semua yang di katakan pria ini tidak benar kan Pa? Dia Briyan pa, yang akan papa jodohkan dengan Sonya" Ujar Sonya. Ia berusahan mencari peruntungan dengan meluluhkan hati papanya yang sekeras batu.
"Benar! Dia yang akan papa jodohkan denganmu. Tapi karena kamu menolaknya, terpaksa papa membatalkan pertunangan kalian dan setelah papa tahu dia yang membawa mu pergi. Papa semakin yankin untuk menghancurkannya" Ujar papa Sonya dengan nada menakutkan.
"Tidak pa, Jangan! Sonya mohon. Sonya mau papa. Sonya mau dijodohkan dengan Briyan. Tapi Sonya mohon jangan sakiti dia papa" Sonya memohon hingga berlutut di hadapan papanya.
Briyan langsung mengangkat kepalanya yang tertunduk karena menahan nyeri di bagian pipinya akibat pukulan para bodyguard itu. Ia Terkejut mendengar ucapan Sonya yang rela menikah dengannya agar mereka tidak menyakiti Briyan.
"Terlambat Sonya!!! Apa sekarang kalian baru menyadari perasaan kalian? Sekarang terimalah hasil dari sikap keras kepala kalian" Ujar Papa Sonya dengan penuh penegasan.
"Sonyaaaaaa!!!! Awh.. Lepaskan aku!!! Briyan berusaha berontak saat Papa Sonya menarik paksa Sonya.
"Sonya!!!" Bentak Adam, saat Sonya menarik kuat taangannya hingga terlepas dari genggamannya. Sonya berlari ke arah Briyan ynag sudah babak belur dan masih dalam penjagaan bodyguard papanya.
__ADS_1
"Maafkan aku Bri... Maafkan aku!!!" Sonya memeluk Briyan sambil terisak. Briyan tak mampu bergerak karena kedua tangannya di tahan oleh paraa bodyguard itu.
"Aku nggak mau!!!" Ujar Sonya Saat salah satu bodyguard itu berusaha melepaskan tangannya yng melingkar di leher Briyan.
"Ikutlah dengan papa mu Sonya. Aku tidak ingin mereka semakin berbuat kasar padamu" Ujar Briyan. Ia tak tega melihat kulit lengan Sonya yang memerah karena di tarik paksa oleh pengawal suruhan papanya.
"Nggak Brii.. Kamu gimana? Mereka akan menyakitimu Brii" Sonya tak bisa membendung air matanyaa melihat wajah tampan Briyan penuh lenbam. Meskipun wajah itu terkadang begitu menyebalkan bagi Sonya, tapi melihatnya kesakitan seperti tadi membuat hati terdalamnya ikut terluka. Entah karenaa sudah terbiasa dengan adanya Briyan di sisinya atau karena ada perasaan lain yang sulit untuk di jelaskan.
"Aku akan baik-baik saja Sonya!" Jawab Briyan. Hatinya pun ikut teriris melihat wanita yang sering mengomel di hadapannya ini menangis.
"Papa, Sonya mohon pa. Sonya akan lakukan apapun asal papa mau melepaskan Briyan" Pinta Sonya dengan mata sembab dan tatapan melasnya.
"Baik! Papa akan lepaskan dia dengan 1 syarat!"
"Apapun itu akan Sonya lakukan papa" Ujar Sonya mantap. Saat ini, tak ada yang terpenting selain keselamatan Briyan.
"2 hari lagi kamu harus menikah dengan laki-laki pilihan papa! Atau kamu akan lihat laki-laki di hadpanmu ini tinggal namanya!"
Deg...
Air mata Sonya kembali tumpah tanpa suara. Tubuhnya menjadi lemas seketika.
Kenapa? Kenapa papa tega pada Sonya? Andai saja aku tidak menolak perjodohan ini, pasti semua takkan seperti ini.
Sonya menoleh menatap Briyan yang ternyata juga meneteskan air matanya. Di tatapnya lekat-lekat wajah yang mungkin akan di rindukannya.
"Baik! Sonya akan menikah dengan pilihan papa" Ujarnya dengan tatapan mata masih tertuju pada Briyan. Setidaknya ia masih bisa melihat Briyan meski dia bukan siapa-siapanya. Itu lebih baik dari ada harus kehilangan dia selamanya.
"Maafkan aku Sonya... Maafkan aku yang tidak bisa melindungimu!!! Maafkan aku yang telah membawamu semakin jauh dalam jurang penderitaan! Aku baru menyadari perasanku. Aku mencintaimu Sonya... Aku mencintaimu!!!" Ujar Briyan yang tak bisa menahan lebih lama lagi perasaannya terhadap Sonya.
"Om, tolong beri saya kesempatan. Saya akan lakukan apapun untuk Sonya om. Saya mohon, saya sangat mencintai Sonya om" Ujar Briyan dengan sungguh sungguh pada papa Sonya. Ia tak peduli jika nantinya harus merasakan kembali pukulan dari para pengawal apa Sonya.
"Kesempatanmu sudah habis. Sejak kamu datang ke rumahku dan membawa pergi anak gadisku! Lebih baik kamu mencari perempuan lain. Wanita yang tadi bersamamu kelihatannya tidak buruk!" Ujar papa Sonya dengan nada mengejek. Ketahuan sudah sifat play boy Briyan.
"Jaga dirimu baik-baik Bri, Jangan jadi play boy lagi!!!" Ujar Sonya sambil memegang wajah Briyan, menahan perih dalam hatinya.
"Cukup Sonya!!! Kamu sudah menyetujui syarat dari papa. Sekarang kita pulang!!!" Papa Sonya kembali menarik lengan Sonya. Tidak ada perlawanan dari Sonya. Ia pasrah mengikuti langkah papanya. Sesekali ia menoleh pada Briyan yang masih mematung dengan tatapan sendu.
Aku juga mencintaimu Briyan!!!
πππππππ
"Maaas... Bangun Mas!"Panggil Shafa sambil meringis merasakan nyeri pada perutnya.
"Mas Rayyan" Panggilnya lagi kali ini dengan menarik lengannya. Ingin Rasanya ia menjerit tapi ia khawatir kalau Zafran bangun. Sejak kejadian dua hari lalu, Zafran masih tak ingin jauh dari Rayyan, tidur pun ia selalu memeluk Rayyan.
"Kenapa Mom?" Tanya Rayyan yang berusaha terjaga.
"Mas perut aku sakit" Keluhnya. Mata Rayyan langsung membuka sempurna. Ia segera bangkit dan menghampiri istrinya yang tengah bersandar di kepala ranjang.
__ADS_1
"Sakit gimana sayang? Yang mana yang sakit?" tanyanya khawatir.
"Nyeri bagian perut bawah Mas" Ujarnya. Kali ini Shafa merubah posisinya. Ia hendak bangkit duduk di sofa.
"Ayo Mas bantu!" Ujar Rayyan sambil memegang pinggang istrinya.
"Duuuhh" Keluh Shafa yang nampak kepayahan menahan nyeri.
"Apa jangan-jangan mau melahirkan sayang? Aku telfon mommy ya?" Ujar Rayyan dengan raut khawatir
"Nggak mungkin, ini kan masih 6 bulan lebih mas. Mas mau telfon mommy, memangnya ini jam berapa mas? Ini jam 2 malam" Balas Shafa mengingatkan.
"Tapi kamu gimana? Nanti kenapa-napa?" Ujar Rayyan. Ia benar-benar khawatir terjadi sesuatu pada istrinya.
"Ini anak kamu dari tadi nendnag terus mas, Mungkin karena itu perut aku sampai nyeri. Udah aku elus elus juga bukanya berhenti malah makin kencang!" Ujar Shafa yang sedang meringis menahan tendangan dari dalam perutnya.
"Sini coba Mas lihat! Assalamualaikum anak Ayah? Sayang lagi apa kok belum bobo?" Ujar Rayyan sambil mengusap lembut perut Shafa. Dapat ia Rasakan tendangan ynag begitu kuat dari dalam. Sebaliknya ia justru merasa senang saat tangannya merasakan adanya gerakan dari dalam perut istrinya.
"Sayang mungkin anak kita lapar. Anak ayah lapar yah?" Rayyan memciba berbicara kembali dengan perut Shafa. Dan lagi-lagi ia mendapatkan respon yang sama.
"Mas, jangan di ajakin ngobrol dong! Kan makin kenceng nendangnya!" Omel Shafa.
"Yah terus Mas harus gimana sayang?"
"Buatin aku makanan!" Jawab Shafa singkat.
"Dengan senang hati Mommy!" Jawabnya kemudian menuntun Shafa keluar kamar. Tak lama mereka sudah berada di dapur, karena letak kamar mereka di lantai 1.
"Mommy mau makan apa?" Tanya Rayyan yang sudah siap untuk memasakkan istrinya.
"Telur dadar aja mas, tapi kuningnya aja. Nggak pake putihnya" Ujar Shafa. Rayyan melongo tak paham dengan maksud istrinya.
"Gimana bisa sayang?"
"Bisa mas, coba sini ambilkan telur, sendok dan mangkuk. Mangkuknya dua!" Perintah Shafa. Rayyanpun segera mengambilkan semua yang di minta istrinya.
"Telurnya jangan cuma 1 Mas! Anak kamu ini makannya banyak. Tambah lagi 6" Imbuhnya. Memang benar adanya bahwa porsi makan Shafa lebih banyak di banding saat ia belum mengandung. Banyak yang menduga bahwa anak yang di kandungnya adalah laki-laki.
"Perhatikan ya!" Ujarnya saat semua bahan telah siap di hadapannya. Satu persatu Shafa mulai memecahkan telur dengan memisahkan kuning telurnya. Rayyan hanya memperhatikan sebagai penonton.
"Nah udah, ini mas goreng! Yang ini mas simpan!" Ujarnya sambil menunjuk masing-masing mangkuk yang telah terisi telur di depannya. Dengan sigap ia melakukan semua instruksi dari istrinya, dan akhirnya telur goreng atau yang lebih tepatnya kuning telur goreng siap di hidangkan. Mata Shafa berbinar melihat sepiring kuning telur goreng di atas piring lengkap dengan nasi nya.
"Aku maunya makan berdua Mas" Ujarnya.
"Iya sayang...iya" Balas Rayyan sambil meraih piring di depan istrinya, ikut menikmati santap malam bersama dengan ibu hamil yang sangat ia cintai.
"Besok waktunya USG mas, aku kok pengen tahu jenis kelamin anak kita ya. Biar bisa nyiapin perlengkapannya" Ujar Shafa.
"Iya, besok kita ke dokter. Sekarang habisin dulu makannya. Setelah ini kita Sholat Tahajjud ya, biar anak ayah ini nantinya jadi anak yang Sholeh" Ucap Rayyan. Tak ada yang di harapkan orang tua selain anak-anak yang Sholeh yang mampu menjadi penyambung pahala di kala sudah tiada.
__ADS_1
____________________
Hai..Hai.... Please tinggalkan Like kalian sebelum bergeserππ