Jodoh Pilihan Allah

Jodoh Pilihan Allah
Arisan


__ADS_3

"Shafa, Sayang kemari teman-teman ibu sudah datang" Panggil ibu dari ruang tamu.


"Sepertinya tamunya ibu sudah datang, aku kesana dulu ya mas" Ujarku pada pria yang masih asik dengan piring puding di tangannya.


Akupun segera berlari kecil menghampiri ibu yang tengah menyambut tamunya. Ku perhatikan kembali penampilanku dari ujung kaki sampai ujung kepala. Oke Rapi, bandana masih melekat indaah di kepalaku. Aku memasang senyum semaanis mungkin saat 6 Orang wanita mulai berjalan menuju pintu utama. Dari semua yang hadir nampak satu wajah yang tak asing buatku. Satu satunya wanita yang tidak menggunakan penutup kepala.


"Nenek sihir itu" Ucapku lirih yaang mungkin di dengar oleh ibu di sebelahku.


"Don't worry honey. Ada ibu disini" Bisiknya. Benar, ibu mendengarnya. Aku menyunggingkan senyum semanis mungkin menyambut kedatangan mereka.


"Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam, Mari masuk jenk" Ucap ivu memeluk sambil bercipika-cipiki kepada mereka.


"Hey, siapa si cantik ini?" Ujar ibu kerudung biru saat aku mengilurkan tangaan mencium tangannya.


"Oh ya kenalin, ini Shafa menantu saya, istrinya Ray" Ucap ibu dengan wajah berbinar.


"Serius jenk, Si Ray kapan nikahnya kok ga ngundang-ngundang sih? Ucap ibu berkerudung hitam. Mereka nampak terkejut, tapi tidak dengan emaknya Tania yang bibirnya nampak meleot ke kiri kanan.


"Ya udah masuk dulu yuk, kita ngonrol di dalam" Ucap ibu. Kami pun masuk menuju ruang tengah. Ku lihat mas Ray masih di posisinya. Dia nonton sofa tak jauh dari meja makan.


"Jadi-Jadi gimana ceritanya jenk si Ray nikah?" Ibu berkerudung biru tadi masih penasaran dengan pernikahanku.


"Duh, sabar donk jenk. Jadi Shafa dan Ray itu udah sebulan lebih nikah. Dan untuk resepsinya akan di gelar minggu depan, bertepatan dengan ulang tahun yayasan. Mumpung jenk-jenk disini sekalian aja saya ngundang" Ucap ibu antusias.


"Oh, gitu... Akhirnya si Ray mau juga nikah. Pasti seneng banget kan jenk punya mantu cantik gini. Kaya artis" Timpal ibu berkerudung pink. Aku tersipu mendengar pujian mereka. Ahh.. I luv you tante kudung pink.


"Gimana ga mau kalau nikahnya di paksa" Tukas ibu Tania membuat jenk jenk teman ibu ini sontak berbalik ke arahnya.


"Ha? dipaksa?" Ucap mereka bersamaan. Dasar bobir l**beng. Aku menatapnya dan dia menatap sinis ke arahku.


"Benar itu jenk Wina?" Tanya mereka. Aku semaakin memepetkan tubuhku kepada ibu.

__ADS_1


"Hahaha... Awalnya sih iya. Mereka kalau ga di paksa mana mau nikah, padahal umur udah cukup. Tapi ternyata awalnya aja yang malu-malu sekarang udah lengket kaya perangko" Ujar ibu sambil terkekeh mencairkan suasana. Salut gue sama mamer ku ini. Sepertinya dia patut menerima penghargaan kategori acting terbaik.


"Oh begitu, jadi ingat masa lalu deh jenk. Aku dulu juga sama suamiku kan di paksa nikah sampe mau minggat segala. Eh ga taunya sekarang anaknya udah 4 aja, udah bercucu pula" Ibu kerudung putih kini yang menyahut. Suasana kembali mencair. Sedangkan emaknya Tania hidungnya nampak kembang kempis menahan marah.


"Oh ya, ayo sambil di cicipi kuenya sambil kitaa nunggu jenk Maya dan jenk Shanti" Ucap ibu mempersilahkaan. Aku membantu meletakaan piring kecil dan menuangkan air ke dalam gelas.


"Huumm... Enak banget"


"Lembut"


"Segernya"


Gumanman para ibu-ibu saat menikmati hidangan yang berada di depannya.


"Ini Pudingnya seger banget, ga bikin eneg, Pesen di toko kue mana jenk?" Tanya si nenek lampir emaknya Tania. Aku yakin kalau dia tau aku yang buat dia ga akaan ngomong kaya gitu.


"Ini semua mantu kesayanganku dong yang buat" Ucap ibu bangga sambil merangkul bahuku.


"Oh ya? wah selain cantik, ternyata pinter masak juga ya, boleh dong tante minta resepnya" Sahut ibu kerudung biru.


"Boleh banget tante" Jawabku tersenyum.


"Dih, beruntung banget sih Ray ini,, punya istri cantik, pinter masak, murah senyum lagi. Mau juga dong aku punya mantu kaya gini" Aku hanya senyum senyum mendengar pujian yang di lontarkan ibu kudung pink.


"Milih mantu jangan asal milih bu Leni, harus dilihat bibit, bebet, bobotnya. Percuma donk cantik kalau bibitnya ga bagus" Ujar bu Hesti sinis.


"Oh ya jenk, aku mau nanya donk. Terkait masalahnya mantu jenk wina yang sempat menggegerkan seisi sekolah dengan foto fotonya di club malam dengan laki-laki itu, Aku jadi penasaran, besan jenk Wina ini orang dari mana ya?" Ucapnya.


"Foto apa ya jenk Hesti?" Jiwa kepo ibu-ibu mulai meronta.


"Foto ini lo jenk" Bu Hesti menunjukan foto tersebut membuat mereka melongo menutup mulutnya sambil melihat ke arahku. Sedangkan ibu yang di sampingku malah santai seperti di paantai sama sekali ga menanggapi. Aku mulai gusar.


"Maaf tante, sepertinya tidak perlu membahas masalah itu disini" Ucapku berusaha se sopan mungkin.

__ADS_1


"Ya ga papalah, kan tante-tante ini juga kan pengen tahu tentang kamu. Takutnya salah menilai. Oh ya ngomong-ngomong orang tua kamu kerja dimana?" Tanyanya dengan sombong.


"Hay.. Hay... Sorry aku telat, soalnya baru pulang dari Bandung" Ucap seorang wanita yang baru muncul. Aku membelalak, melihat wanita paruh baya dengan penampilan kece yang membuatnya terlihat 20 tahun lebih muda.


"Hey jenk Fanny, Apa kabar? makin cantik aja" Sapa mereka kepada ibu yang telah melahirkanku. Jadi mereka ini satu geng arisan? Ck! Dan mereka sama sekali ga tau siapa aku. Ya Allah Drama macam apa ini.


"Mommy?" Ucapku agak keras.


"Hey, kesayangan mommy disini juga rupanya" Mommy memelukku sambil mencium pipiku.


"Jenk Fanny kenal sama menantu bu Wina? Tanya bu Hesti keheranan.


"What?? Kenal? Ini Shafa jenk, anak kesayanganku satu-satunya" Ucap mommy. Ibu-ibu semakin melongo di buatnya terutama bu Hesti. Pasti dia ngiranya aku wanita biasa yang kebulan ketemu mas Ray terus dinikahin. Big No!!! Aku Shafa Azura putri tunggal dari Harsha Juniawan dan Fanny Azura. Daddyku adalah pemilik salah satu klinik ternama di Jakarta. Sedangkan Mommyku adalah seorang dokter anak yang wajahnya juga sering muncul di layar kaca.


"Jadi ini Shafa? Yang jenk Fanny sempat mau Ruqiyah itu?" Tanya ibu Leni.


Apa apaan Mommy ini pake acara mau ruqiyah Shafa, memangnya Shafa kesurupan. Aku memandang Mommy dwngan tatapan menyelidik.


"hahaha... bener jenk. Dia ini yang sempat bikin aku stress. Tapi alhamdulillah sekarang udah nemu pawangnya. Udah jinak dia." Ucap Mommy sambil tertawa riang.


Oh bagus ya? ternyata di belakangku Mommy merencanakan sesuatu.


"Oalah ternyata ini anaknya jenk Fanny yang model itu. Pantesan cantik, mulus kinclong gini" Ucap ibu kudung hitam.


"Jadi soal bibit jelas kan ya?" Ucap ibu tersenyum puas. Sedangkan bu Hesti malah melengos.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2