
Shafa yang juga ada ruangan itu terbengong tak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya. Terlebih apa yang baru saja ia lihat. Bagaimana daddy dan mommy yang begitu syok pergi meninggalkannya begitu saja.
"Mbak Aini, biar pak Madi antar ke rumah sakit. Hafiz biar disini bersama Zafran" Ujar Rayyan saat melihat Aini hendak beranjak pergi sambil menyeka air matanya.
"Aku ikut mas!" Sela Shafa yang kini sudah ikut berdiri di sebelah Aini.
"Sayang, kamu lagi hamil besar. Lebih baik kita di rumah. Kita tunggu saja kabar dari daddy" Rayyan mencoba menenangkan istrinya yang bersikeras untuk ikut.
"Nggak mas! Aku harus lihat kak Jeff. Pokoknya aku mau ikut. Kak Aini tunggu aku!" Shafa bergegas masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil hijab instant nya.
"Sayang, ingat kandungan kamu." Rayyan menahan lengan Shafa saat hendak membuka pintu.
"Mas, aku mohon kali ini saja mas! Aku nggak apa-apa mas. Aku hanya ingin melihat kak Jeff." Ujarnya sambil berderai air mata.
Rayyan mengacak rambutnya. Ia benar-benar bingung berada di situasi seperti ini.
Haruskah Shafa mengetahuinya sekarang? Bagaimana kalau dia syok? Bagaimana kalau dia tak terima?
"Mas.." Shafa memegang lengan Rayyan, menatapnya sendu.
"Aku janji, aku dan anak kita akan baik-baik saja. Aku takut aku tidak bisa melihat kak Jeff lagi nanti." Shafa dengah wajah memohonnya berhasil meruntuhkan benteng pertahanan Rayyan. Terpaksa ia mengiyakan keinginan istrinya. Kerena jika tidak, bisa saja Shafa nekat atau malah akan menambah beban fikirannya.
"Ya sudah, ayo mas antar!"
Setelah menitipkan Hafiz dan Zafran pada ibu, mereka bertiga menuju rumah sakit menyusul daddy dan mommy. Sepanjang perjalanan Aini hanya memejamkan mata sambil bibirnya tak henti-hentinya melafazkan doa. Sementara Shafa begitu gelisah karena mobil yang di tumpanginya terasa begitu lambat.
"Mas! Cepet dong ah!" Ujarnya tak sabar.
"Sabar Shafa, di depan masih ada mobil!" Balas Rayyan yang sedang fokus menyetir.
Beberapa kali Shafa mencoba menghubungi mommy dan daddy nya, tapi tak satu panggilan pun yang dijawab. Shafa semakin frustasi sampai memukul-mukul handphonenya.
Ya Allah jangan dulu ambil nyawa kak Jeff ya Allah. Aku tidak akan merepotkan nya lagi ya Allah. Tolong selamatkan kak Jeff.
__ADS_1
Akhirnya mobil Rayyan tiba di rumah sakit yang di tuju. Nampak beberapa mobil polisi berada di rumah sakit itu. Beberapa orang yang juga berseragam lengkap terlihat lalu lalang di sekitar UGD. Kejadian ini seperti de javu bagi Shafa dan Rayyan. Ia ingat betul 6 bulan lalu, saat pertama ia menemukan Zafran dalam situasi seperti ini.
Mereka segera masuk ke dalam rumah sakit mencari keberadaan Jeffri. Rayyan mengeceknya di UGD namun tidak menemukan Jeffri maupun daddy.
"Siapa nama lengkap Jeffri?" Tanya Rayyan saat hendak bertanya pada bagian pendaftaran.
"Jeffri Juniawan Eka Putra" Sahut Aini.
Rayyan bertanya pada bagian pendaftaran, tapi lagi-lagi mereka tidak mendapatkan informasi tentang pasien bernama Jeffri tersebut.
"Jeffriiiiiiiiiiiiiii...hiks...hiks" Terdengar teriakan yang begitu memilukan dari dalam sebuah ruangan tak jauh dari tempat mereka berdiri. Mereka segera mencari sumber suara tersebut.
Seorang wanita muda terlihat keluar dari sebuah ruangan dengan baju bersimbah darah. Dialah Alice yang sejak kejadian tadi bersama Jeffri. Ia duduk di sebuah bangku sambil menutup wajahnya.
"Apa kamu teman mas Jeffri?" Aini memegang bahu Alice. Alice mendongak memandang Aini yang juga tengah memandangnya. Alice langsung memeluk Aini yang ia tahu sebagai istri Jeffri.
"Katakan apa yang terjadi? Bagaimana kondisi suamiku?" Aini berusaha melepaskan diri.
"Sesaat setelah kami turun dari pesawat, Seseorang langsung menembak ke arah kami. Aku selamat karena Jeffri sedikit mendorongku" Ujar Alice sambil sesunggukan.
"Lapor bu! Anda di tunggu komandan di lantai 3." Ujarnya dengan posisi sigap.
"Katakan aku segera kesana!"
"Siap!!!"
"Permisi, saya harus menemui komandan!" Ujar Alice kemudian berjalan menuju lantai 3 rumah sakit tersebut.
Jadi itu polisi? Aku fikir anak SMA. Bathin Shafa. Melihat penampilannya yang hanya mengenakan Kaos putih dan celana monyet membuat Alice yang sudah berusia 27 tahun terlihat seperti gadis remaja.
"Dimana Daddy mas?" Shafa menoleh ke kiri dan kanan mencari keberadaan orang tuanya. Ia juga tidak bisa sembarang masuk ke dalam ruangan tempat wanita tadi keluar.
"Permisi suster. Apakah di dalam ada pasien bernama Jeffri?" Tanya Aini pada suster yang baru saja keluar. Tapi suster tersebut tidak memberikan jawaban karena ia nampak terburu-buru.
__ADS_1
Shafa yang tak sabar, mendekati ruangan tersebut mencoba untuk masuk namun pintu tersebut di jaga oleh beberapa orang dari dalam.
"Buka... Buka pintunya!!!" Teriaknya.
"Sayang tenanglah" Rayyan mencoba untuk menenangkan Shafa yang menggedor pintu kaca tersebut.
"Mau tenang gimana? Kita ga tau gimana keadaan kak Jeff mas!" Omelnya.
"Daddy dan momny kemana sih? Kenapa tidak bisa di hubungi" Gerutunya lagi.
Mereka masih menunggu dengan gusar di depan ruangan yang di yakini ada Jeffri di dalamnya. Ruangan dengan penjagaan ketat itu mengindikasikan bahwa pasien yang berada di dalam bukanlah orang sembarangan. Benar saja, Jeffri adalah intelegen terbaik yang di miliki oleh negara ini. Sepak terjangnya di dunia kepolisian sudah tidak di ragukan lagi. Sudah banyak misi penting yang berhasil ia selesaikan. Namun tetap saja, seorang Jeffri adalah manusia biasa yang bisa sakit, terluka juga mati.
Perhatian mereka teralihkan pada keributan kecil yang terjadi di ruangan sebelah tempat Jeffri berada. Nampak mommy dan daddy Shafa keluar dari ruangan tersebut. Wajah daddy terlihat merah sedang mommy hanya menunjukan ekspresi datar meski jauh di dalam hatinya ia sangat terpukul. Mereka berdua tidak menyadari keberadaan Shafa, Rayyan dan Aini yang tengah duduk di bangku tunggu di dekat ruangan Jeffri. Selain Daddy dan Mommy nampak seorang pria seumuran daddy yang sedang memakai jas dokter juga keluar dari ruangan itu di susul seorang pria berseragam polisi dengan banyak lencana yang melekat di bajunya.
Mereka masih berada di depan pintu saat daddy mulai mengeluarkan suaranya.
"Lakukan operasi sekarang juga!" Ujar daddy menatap dokter yang ada di hadapannya.
"Tapi pak, kemungkinannya sangat kecil. Kita tidak bisa....."
"Saya sendiri akan ikut turun tangan dalam Jeffri dokter!" Potong Daddy yang suaranya mulai meninggi.
"Pak, anda tidak bisa memutuskan sepihak. Anda bukan dokter. Kita tunggu dokter yang memutuskan." Ujar pria berseragam tersebut.
"Tenang pak!" Dokter tersebut mencoba menenangkan daddy yang mulai naik pitam.
"Apa yang kita tunggu dokter Marco? Apa harus menunggu sampai pasien benar-benar meninggal baru akan bertindak?" Bentak Daddy Shafa.
"Tapi pelurunya mengenai..."
"Saya tidak peduli! Lebih baik dia mati saat menerima tindakan dari pada harus meregang nyawa tanpa di lakukan apa-apa! Segera siapakan ruang operasi dokter Marco!" Ujar Daddy Shafa yang sudah habis kesabarannya.
"Pak! Anda tidak berhak memutuskan!" Bentak pria berseragam tersebut. Ia mengira bahwa Daddy Shafa hanya orang awam yang tidak paham dengan tindakan medis. Nyatanya, dia adalah seorang dokter bedah yang juga merupakan rekan dokter Marco saat menempuh pendidikan dokternya dulu. Bahkan kemampuan daddy Shafa jauh di atas dokter Marco, yang membuatnya sering di kirin ke luar daerah untuk memberikan pelayanan medis.
__ADS_1
"Saya berhak pak! Saya punya hak untuk menentukan tindakan apa yang harus di berikan pada Jeffri. Karena saya adalah ayahnya. Ayah kandung Jeffri Juniawan!" Teriaknya dengan amarah yang sudah tidak bisa di tahan lagi.
"Daddy...."