Jodoh Pilihan Allah

Jodoh Pilihan Allah
Lega


__ADS_3

"Impossible!" Dokter Marco menggeleng menatap kepergian brangkar yang membawa tubuh Jeffri di atasnya.


"Dokter apa maksudnya? Kenapa tubuh Jeffri di bawa?" Fanny menghampiri dokter Marco yang masing bengong.


"Juan...Juan tolong jelaskan apa yang terjadi tadi di dalam? Bukankah Jeffri tadi sudah tidak menunjukkan respon pada tubuhnya?" Tanya dokter Marco pada perawat yang hendak menutup kembali pintu ruang operasi.


"Benar dok, pasien tadi memang sudah tidak merespon bahkan kemungkinan hidupnya 3 persen saja, tapi dokter Harsha tetap melakukaan pembedahan. Pada saat pengangkatan peluru tadi, detak jantung pasian sempat berhenti dan kami sempat menyatakan bahwa pasien meninggal. Tapi lagi lagi dokter Harsha melakukan tindakan yang di luar dugaan. Jantung pasien kembali berdetak meski sangat lemah dan nyaris tak kelihatan oleh sebab itu beliau membawanya ke HS Clinic. Beliau sudah menghubungi dokter dari Singapura khusus untuk memantau perkembangan pak Jeffri."


"Berapa persen kemungkinannya Juan?" Tanya dokter Marco. Ia masih tak percaya sahabatnya tersebut mampu melakukan operasi besar yang penuh kemustahilan tersebut.


"20 persen dok!" Ucap Juan mantap.


"Alhamdulillah... Terima kasih ya Allah. Terima kasih telah memberikan kesempatan untuk putraku" Ujar Mommy sambil terisak. Ia memeluk Aini dan saling menumpahkan air mata.


Mommy menghampiri Shafa yang tengah di dekap oleh Rayyan. Shafa gantian memeluk mommynya.


"Mommy yakin,, kakakmu pasti selamat" Ujar mommy. Shafa tak mampu berkata-kata. Ada rasa bahagia yang membuncah di dalam hatinya mendengar ucapan perawat tadi


"Shafa, kamu pulanglah, Zafran pasti mencari kalian, dan juga tubuhmu pasti butuh istirahat. Biar mommy dan Aini yang menyusul daddy ke klinik" Ujar Mommy sambil mengusap bahu Shafa.


"Benar Fa, tenaga dan fikiranmu sudah cukup terkuras hari ini. Sekalian aku titip Hafiz dulu ya. Setelah melihat kondisi mas Jeffri aku akan menjemputnya" Ujar Aini.


Ingin rasanya Shafa menolak dan memaksa ikut dengan mereka, tapi ia tidak boleh egois hanya memikirkan keinginannya semata. Setidaknya mengetahui bahwa Jeffri masih ada harapan hidup, sudah membuatnya senang dan sangat bersyukur.


"Tapi janji ya, kak Aini dan momny harus ngabarin aku." Pinta Shafa.


"Ia, nanti kami video call kalau kondisinya sudah memungkinkan." Balas Aini.


Setelah meyakinkan Shafa Aini dan mommy segera menyusul daddy menuju klinik milik mereka sedangkan Shafa dan Rayyan memutuskan untuk pulang.


"Mas, apa menurut mas kak Jeff akan selamat?" Shafa menoleh kepada suaminya yang tengah mengemudi.


"Insha Allah atas izin Allah Jeffri akan selamat. Karena tidak ada yang tidak mungkin Jika Allah berkehendak. Kalau Allah berkata jadi maka jadilah. Kun fayakun!" Rayyan mengusap kepala istrinya agar lebih tenang. Shafa menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi, mencari posisi ternyaman. Semua yang terjadi terasa seperti mimpi baginya. Di yang kemarin hidup sebagai putri tunggal kini harus menerima kenyataan bahwa ada anak lain selain dirinya. Mungkin karena itu juga mommy menjadi sangat posessive terhadap daddy. Kemana pun daddy pergi tidak pernah mommy tidak ikut.


"Sayang, sedang melamun apa? Awas kesambet loh!" Ujar Rayyan saat melihat istrinya tengaah melamun.

__ADS_1


"Enggak kok mas"


"Gimana kalau kita belikan kue coklat dan es cream kesuakaan Zafran, mumpung ada Hafiz juga" Tawar Rayyan untuk mengalihkan fikiran sang istri. Shafa langsung mengangguk setuju.


"Mommy......" Zafran berlari begitu mengetahui Shafa datang. Begitupun Hafiz yang mengikuti di belakangnya. Mereka sudah berganti pakaian dengan baju rumah bergambar Spongeboob Squerpants.


"Anak mommy sudah ganteng. Siapa yang mandiin sayang" Shafa mengusap kepala anaknya yang tengah memeluk perutnya.


"Kita mandi sama Uti mommy"


"Bundaku mana tante?" Tanya Hafiz yang menoleh ke kiri kanan mencari keberadaan Aini.


"Bunda Hafiz masih nemenin ayah Jeffri. Nanti bunda jemput. Sekarang Hafiz disini dulu sama tante dan Zafran ya? Tante bawa kue dan es cream loh buat Hafiz dan Zafran" Ujarnya sambil menunjuk kantong yang di pegang oleh Rayyan.


"Ye... Hore...!!! Ayo Hafiz kita makan es klim" Ajak Zafran kegirangan.


Mereka berdua menikmati kue coklat dan es krim yang di belikan Shafa di depan televisi dengan lahap dan suka cita di temani oleh film kartun Upin dan Ipin yang menjadi favorite mereka berdua. Keduanya larut dalam tawa bahagi ala anak-anak yang tanpa beban sedikit pun.


Apakah kak Jeff waktu kecil dulu bahagia seperti mereka?


Mendadak Air mata Shafa lolos dari pelupuk matanya.


"Kak Jeff di bawa ke klinik daddy bu. Pelurunya sudah berhasil di keluarkan" Ujar Shafa yang tengah selonjoran di atas karpet ruang tengah sambil menyaksikan dua bocah kecil itu tertawa memakan es krim dan kuenya.


"Percayalah semua akan baik-baik saja. Daddy mu pasti akan berusaha semaksimal mungkin untuk kesembuhan Jeffri."


"Amiin"


"Oh ya bu, bisakah ibu tinggal disini Sampai Shafa melahirkan? Karena mommy dan daddy pasti akan lebih fokus pada kak Jeff" Shafa menyandarkan kepalanya manja ke bahu ibu.


"Tentu sayang, ibu akan tinggal sampai cucu ibu lahir. Biarkan mommy dan daddymu menghabiskan waktu bersama Jeffri. Memang sudah waktunya." Ujar Ibu sambil menatap dalam mata Shafa.


"Ibu sudah tahu?" Tanya Shafa. Bukannya ini rahasia?


"Iya. Ayah dan ibu sudah tahu sejak kematian ibunya Jeffri. Saat itu ibu dan Ayah tidak sengaja bertamu ke rumah, karena Rayyan ingin melihat adek cantik. Dan daddymu menceritakan semuanya pada kami" Ujar ibu.

__ADS_1


"Adek cantik? Mas, jadi mas naksir aku sejak bayi?" Shafa cekikikan sambik mencolek suaminya.


"Ah ibu ngarang pasti. Rayyan nggak ingat tuh" Jawab Rayyan santai.


"Mana ada ibu ngarang. Kamu emang dulu suka banget sama bayinya Shafa. Sampai mau minta di bawa pulang segala. Kalau udah lihat adek cantik sukanya cium-cium kan?" Balas ibu sambil terkekeh mengingat Rayyan kecil yang begitu menyukai Shafa.


"Cie... Suka sama adik cantik. Eits tadi apa bu? Cium-cium? Jadi yang nyuri ciuman pertama ku adalah mas Ray? Cieeee..." Goda Shafa sambil senyum-senyum sambil menepuk lengan atas Rayyan.


"Yah namanya juga anak kecil" Balas Rayyan.


"Justru anak kecil itu nggak bisa bohong mas, udah lah mas tinggal ngomong iya aja susah amat sih!"


"Iya sayang iya. Aku padamu!" Jawabnya sambil menarik gemas hidung mancung Shafa yang sejak kecil ia sukai.


Sementara itu, di salah satu ruangan khusus, Daddy dan mommy Shafa tengah menunggu Jeffri yang masih belum menunjukkan tanda tanda akan sadar, sedangkan Aini sedang pulang untuk menengok mamanya yang hanya tinggal bersama suster dan pembantu.


Di klinik tersebut, Daddy sudah menyiapkan kamar khusus untuknya dan mommy tepat di sebelah ruangan Jeffri di rawat yang terhubung oleh sebuah pintu kaca. Sehingga mereka bisa memantau perkembangaan Jeffri setiap saat. Di luar ruangan dan di sekitar klinik tempat Jeffri di rawat pun masih tetap di jaga ketat oleh pihak kepolisian sebagai bentuk simpati dan apresiasi mereka terhadap Jeffri. Beberpa rekan dan atasan Jeffri pun nampak lalu lalang untuk memastikan kondisinya.


Malam ini Shafa bisa sedikit bernafas lega, karena daddynya baru saja menelfonnya via video call. Daddy sempat meminta maaf atas rahasia besar yang selama ini mereka sembunyikan. Ia juga memperlihatkan kondisi Jeffri yang masih belum sadar tetapi tanda-tanda vital sudah menunjukan perubahan ke arah yang lebih baik. Dokter khusus yang di datangkan daddy dari negara tetangga pun sudah mendarat sejak sore tadi dan saat ini sudah berada di klinik mereka. Untuk sementara waktu daddy mengatakan akan tinggal di rumah sakit bersama mommy. Mereka tidak akan meninggalkan Jeffri sedetik pun. Mereka sudah pernah membiarkannya hidup dalam kesendirian dan sekarang tidak akan mereka biarkan ia sendiri lagi.


"Tante... Apa Zafran saudara Hafiz tante? Kenapa bunda ngijinin Hafiz bobo di sini?" Tanya Hafiz di sela-sela makan malam nya. Shafa memang meminta Aini untuk meninggalkan Hafiz di rumahnya agar ia bisa menemani Jeffri dan agar Hafiz tidak kesepian, ia pun setuju dengan permintaan Shafa.


"Iya sayang, Hafiz itu sepupunya Zafran karena ayah Jeffrinya Hafiz adalah kakaknya tante" Ujar Shafa memberikan pengertian ppada anak usia 4 tahun itu.


"Belalti kita saudala Hafiz. Aku juga boleh bobo di lumah kamu" Sahut Zafran.


"Ia Zafran berarti kita saudara"


"Aku akan kasi tahu Aila besok, kalau aku punya saudala" Ujar Zafran kegirangan.


"Zafran paa?nggilnya sekarang kakak Hafiz ppya?" Ajar Rayyan. Sejak dini ia mengajarkan panggilan yang sopan kepada orang yang lebih tua sebagai bentuk soan santun.


"Iya ayah" Jawabnya.


Setelah menyelesaikan makan malam, Rayyan mengajak Zafran dan Hafiz untuk Shalat Isya berjamaah di masjid tak jauh dari rumah mereka.

__ADS_1


"Ayah, kenapa kita sholat di masjid? Biasanya kan di lumah" Tanya Zafran yang berdiri di depan. Mereka mengendarai motor matic untuk pergi ke masjid yang berjarak sekitar 200 meter dari rumah Rayyan.


"Karena laki-laki itu Sholatnya di masjid sayang. Kalau perempuan baru di rumah. Nanti kalau Hafiz dan Zafran besar harus sering- sering ke masjid ya? Karena masjidnitu tempat yang paling baik. Masjid itu adalah rumah Allah sayang" Ujar Rayyan memberikan penjelasan pada kedua bocah tersebut.


__ADS_2