Jodoh Pilihan Allah

Jodoh Pilihan Allah
Persiapan


__ADS_3

Sore ini keluarga Rayyan tengah bersiap-siap untuk USG kandungan Shafa di klinik milik orang tua Shafa. HS Clinic di kenal sebagai klinik kesehatan dengan fasilitas lengkap dan dokter dokter terbaik.


"Ayah tolong pasangkan sepatu Zafran yah" Pinta Shafa, karena perutnya yang kian besar menyulitkan dirinya untuk berjongkok.


"Ayah... Kita mau lihat adek?" Tanya Zafran. Ia nampak antusias dan gembira.


"Iya sayang, Zafran senang kan punya adek?" Balas Rayyan sambil memakaikan sepatu.


"Iya, aku mau adek laki-laki yah. Nanti Zaflan ajak main mobil mobil" Ujar nya.


"Kalau adeknya perempuan, Zafran juga harus ajak main yah?" Balas Rayyan. Kali ini ia sudah selesai memasangkan sepatu di kaki Zafran.


"Ga ayah. Kalau pelempuan dilumah aja. Ga boleh main-main di lual. Anak pelempuan cengeng sepelti Aila" Ujarnya.


"Memangnya Aira cengeng sayang?" Tanya Shafa yang merasa lucu dengan anaknya.


"Iya Mommy, Aila cengeng. Pas Zaflan ga mau main bola dia nangis dan malah malah" Terangnya dengan logat cedalnya khas anak kecil. Aira adalah anak pak RW sebelah rumah Rayyan. Pengasuh mereka biasa membawanya main ke rumah Rayyan karena Aira sangat senang bermain dengan Zafran.


"Ya udah, sekarang kita berangkat yuk!" Ajak Shafa setelah semuanya siap.


Sepanjang perjalanan Zafran terus saja mengoceh. Setiap apa yang ia ligat ia akan bertanya kepada Mommy dan ayahnya. Traumanya pun perlahan mulai menghilang.


Sesampainya di klinik, Shafa segera di sambut oleh beberapa pegawai yang bertugas. Wajah Shafa memang sudah tidak asing lagi bagi mereka yang bekerja disitu. Putri tunggal pemilik klinik yang terkenal cantik dan seksi. Tapi sepertinya image itu perlahan mulai hilang karena Shafa sekarang terlihat tertutup dengan hijabnya.


"Silahkan bu Shafa, Dokter sudah menunggu anda di dalam" Ujar salah seorang perawat yang bertugas di bagian kandungan.


"Terima kasih suster" Shafa di temani oleh Rayyan dan Zafran segera masuk ke dalam ruangan yang cukup luas dan nyaman. Nampak beberapa alat penunjang berjajar rapi di sudut ruangan. Pantas saja jika klinik di sebut sebagai klinik terbaik dan pasti ini dengan harga perawatan yang fantastis. Hanya orang-orang berduit yang akan memilih berobat di tempat ini.


"Ibu Shafa, ini usia kandungannya sudah memasuki minggu ke 25 yah. Apa sudah mulai sering terasa adanya gerakan dari dalam?" Tanya dokter Liliyana dengan sangat ramah.


"Ia dok, gerakannya semakin kuat dan sering. Terkadang sampai terasa nyeri di bagian bawah" Terang Shafa.


"Memang sudah seperti itu bu. Sebentar lagi akan memasuki trimester terakhir dimana gerakan itu akan semakin kuat seiring dengan kematangan organ-organ tubuh janin. Oh ya, untuk proses kelahirannya sendiri, ibu akan memilih melalui jalan sesar atau normal?" Tanya dokter.


"Menurut dokter mana yang terbaik untuk saya?" Tanya Shafa. Ia tentu harus meminta pertimbangan dari dokter yang lebih tahu.


"Kalau di lihat dari kondisi fisik ibu, sebaiknya normal. Karena selain lebih cepat proses pemulihannya, juga tidak berisiko untuk kehamilan berikutnya. Tapi semua kembali pada bapak dan ibu." Ujar dokter.


"Suami saya ingin punya banyak anak dok. Apakah kalau melalui proses sesar saya bisa melahirkan terus?" Tanya Shafa yang seketika mendapat senggolan dari Rayyan. Ia merasa malu dengan ucapan istrinya yang terang-terangan.

__ADS_1


"Mommy" Bisik Rayyan.


"Apa sih yah? Katanya ayah mau punya anak banyak. Ibu malah mintanya tiap tahun melahirkan. Kan nggak salah kalau aku tanya" Ujar Shafa tanpa malu. Dokter Lilyana tertawa mendengar penuturan Shafa.


"Tidak perlu malu pak, pak Harsha juga sudah menyampaikan kepada saya bahwa beliau ingin memiliki banyak cucu" Ujar dokter Lily dengan tawa renyahnya.


"Benar dok. Karena kami berdua adalah anak tunggal, jadi orang tua kami ingin memiliki banyak cucu. Jadi bagaimana baiknya dokter?" Tanya Shafa.


"Kalau ibu Shafa berencana memiliki anak lebih dari dua, sebaiknya melahirkan dengan jalan normal saja bu. Selain karena proses pemulihannya yang cepat, resiko yang di timbulkan pun lebih kecil dibandingkan sesar. Kita ketahui pada saat operasi sesar, rahim akan mengalami robekan dan untuk proses pemulihannya di butuhkan waktu sekitar dua tahun untuk bisa hamil lagi, itupun dengan resiko besar. Karena pasca sesar biasanya kemungkinan komplikasi dan masalah lainnya bisa saja timbul" Terang dokter Lily dengan jelas dan detail.


"Lalu, apa yang harus saya lakukan untuk mempersiapkan diri menghadapai persalinan normal dokter?" Tanya Shafa lagi. Ia ingin menggali informasi sebanyak banyaknya seputar persalinan.


"Yang pertama, ibu harus menjaga pola hidup sehat. Yang ke dua, ibu bisa mulai mengikuti kelas kehamilan untuk mendapatkan informasi dan tips penting seputar kehamilan. Selanjutnya ibu juga bisa latihan pernapasan dan juga yoga atau latihan kegel untuk melatih otot panggul dan paha dalam mempersiapkan proses persalinan." Terang dokter. Shafa dan Rayyan mendengarkan dengan seksama penjelasan demi penjelasan yang di sampaikan oleh dokter.


"Dokter, apakah ada cara untuk mengatasi rasa nyeri yang di rasakan oleh istri saya akibat gerakan dari dalam? Karena semalam, dia nyaris tidak tidur lantaran gelisah dan tidak nyaman dok" Tanya Rayyan. Ia teringat kembali bagaimana istrinya yang gelisah karena menahan nyeri. Ia baru tertidur menjelang subuh setelah Rayyan melantunkan ayat suci Al-Quran.


"Itu wajar pak, bahkan nanti di usia kandungan yang semakin bertambah gerakan gerakan tersebut akan semakin sering dan semakin terasa. Ibu bisa mencoba untuk mendengarkan musik-musik klasik. Musik klasik bisa memberikan efek tenang dan relaksasi bagi ibu juga janin" Terangnya lagi.


"Baiklah, sekarang kita lihat kondisi janin di dalam ya. Kita lakukan USG 4D untuk melihat perkembangannya secara detail" Ujar dokter sambil mengarahkan Shafa menuju sebuah ranjang bersprei merah muda yang terletak di sisi kanan ruangan.


"Ayah, kita mau lihat adek?" Tanya Zafran sambil menoleh melihat ayahnya.


Shafa bebaring dengan posisi terlentang di bantu oleh asisten dokter yaang bertugas. Suster mulai menyingkap bajunya sebatas dada dan sekit menurunkan roknya. Nampak perut mulus Shafa yang sudah membesar.


"Aku mau lihat adek. Mana adek nya ayah?" Ujar Zafran sangat antusias.


"Sebentar ya sayang, kita lihat adik sama-sama. Sini, kakaknya duduk di sini yah" Ujar dokter dengan ramah. Ia menyuruh Zafran duduk di sebelah Mommynya.


Suster mulai menuangkan gel yang terasa dingin di kulit Shafa. Ada perasaan gugup campur baahagia yang membuncah di hati Shafa karena ini adalah kali pertama ia akan melihat wajah anaknya.


Dokter mulai mengarahkan alat yang ujungnya berbentuk seperti setengah lingkaran pada permukaan perut Shafa. Ia memutar mutarnya hingga nampak gambar di layar yang menunjukkan bentuk janin.


"Nah, ini jari-jari kaki dan tangannya pak, bu. Lengkap ya" Ujar dokter sambil menunjuk ke layar yang menampilkan bagian kaki dan tangan janin yang sudah terbentuk sempurna. Shafa dan Rayyan tersenyum bahagia melihat bagian tubuh anak mereka.


"Mana adek Zaflan?" Zafran lagi-lagi berceloteh. Ia masih belum mengerti dengan gambar yang nampak di layar monitor.


"Tunggu ya sayang, sekarang kita lihat bagiaan wajahnya" Ujar dokter sambil memutar kembali alat tersebut mengarak ke bagian wajah.


"Nah, ini adeknya kakak. Lihat, wah hidungnya mancung seperti mommy nya" Ujar dokter sambil menunjukan gambar janin dengan wajah yang sudah jelas terbentuk. Nampak jelas dari arah samping hidung ank Shafa begitu mancung seperti dirinya.

__ADS_1


Anakku!


"Benar dok, hidung mancung seperti momny nya" Ujar Rayyan yang terlihat sangat bahagia, begitu juga dengan Shafa.


"Aku mau cium adek doktel" Ujar Zafran tiba-tiba.


"Belum bisa di cium sekarang nak. Nanti kalau adek sudah keluar baru bisa di cium. Sekarang masih dalam perut mommy" Ujar Rayyan memberi penjelasan.


"Kapan kelualnya ayah?" Tanyanya tak sabar.


"Nanti kalau sudah waktunya. Abang tunggu saja ya?" Jawabnya.


"Kondisi anak bapak dan ibu di dalam cukup baik. Perkembangannya juga cukup signifikan. Jumlah air ketubannya pun cukup" Ujar dokter.


"Adek Zaflan cowo tan Mommy?" Ujar Zafran.


"Gimana dok? Apakah sudah kelihatan jenis kelaminnya?" Tanya Shafa yang juga penasaran.


"Sudah nampak ibu, coba lihat ini. Ini ada ada belalainya, berarti tebakan kakak benar. Adeknya laki-laki" Ujar dokter sambil tersenyum ke arah Zafran.


"Ye..ye..ye... Aku punya adek cowok" Zafran kegirangan sambil bertepuk tangan.


Setelah semua proses pemeriksaan selesai, Rayyan dan Shafa meninggalkan klinik dengan perasaan yang sangat bahagia. Begitu pun dengan Zafran. Tak henti hentinya ia berceloteh tentang adek yang ada di dalam perut Shafa.


Di sisi lain, seorang wanita tengah termenung menatap langit dadi dalam jendela kamarnya mentap langit dengan tatapan sendu. Raganya berada di tempat itu tapi jiwanya melayang entah kemana.


"Sonya, ayo makan dulu. Kamu sejak pagi belum makan. Ingat, besok adalah hari pernikahan kamu!" Ujar mama Sonya yang baru saja masuk di kamar.


"Ma? Apa papa benar-benar sudah melepaskan Briyan? Papa tidak menyakitinya lagi kan ma?" Tanya Sonya. Ia di hantui rasa takut yang teramat dalam mengingat kejadian kemarin, saat para bodyguard itu menghajar Briyan.


"Apa kamu benar-benar mencintainya Sonya?" Tanya mama sambil mengusap rambut anaknya tersebut. Sonya tak menjawab. Ia masih diam dalam tatapan kosongnya. Ada yang hilang dari separuh jiwanya. Ia sangat merindukan sosok jahil yang selalu membuatnya kesal di pagi hari. Sosok yang dengan seenaknya suka memerintah, minta ini itu dengan semaunya.


"Sudahlah Sonya, kamu jangan berfikir yang tidak-tidak. Sekarang fokuslah pada dirimu untuk menghadapi hari penting besok. Akad nikahmu akan dilangsungkan di Masjid agung besok pagi" Ujar mama.


Briyan... Dimanapun kamu berada. Aku harap kamu baik-baik saja. Aku harap Tuhan aakan berbaik hati memberikan sedikit kebahagian untuk kita, meski dengan orang yang berbeda!


__________


Briyan.. Play boy inshaf😁

__ADS_1



__ADS_2