Jodoh Pilihan Allah

Jodoh Pilihan Allah
Bertamu


__ADS_3

"Ini bener arah jalan menuju rumah teman kamu Cinta?" Tanya Briyan yang merasa tak asing dengan jalan yang di tunjukan Sonya.


"Iya sayang. Di depan sana ada gerbang besar sebelah kiri kamu masuk ya" Ujar Sonya memberikan petunjuk.


"Perumahan Citra Land Permai?" Tanya Briyan yang sedang menyetir mobil.


"Iya"


Astaga, itu kan perumahan tempat Shafa tinggal.


"Yakin temanmu tinggal disitu?" Tanya Briyan yang tiba-tiba merasa tidak nyaman. Ia khawatir bertemu dengan Shafa ataupun Rayyan. Pasalnya, hubungan keduanya belum membaik pasca kejadian beberapa bulan lalu saat Briyan dengan terang-terangan mengutarakan keinginanya untuk memiliki Shafa kembali.


Kini mobil Briyan telah memasuki area kompleks perumahan Citra Land Permai. Briyan terlihat semakin khawatir saat arah yang di tunjukan Sonya sama dengan arah menuju kediaman Shafa.


"Nah, itu dia rumahnya yang ada pos jaganya" Sonya menunjuk sebuah rumah dengan pagar berwarna hitam. Satu satunya rumah yang di jaga oleh security pribadi.


"Bener yang itu? Bukan yang di sebelah sana?" Briyan mencoba meyakinka sambil menghentikan mobilnya.


"Kamu kenapa sih sayang? Ya bener ini lah, aku udah beberapa kali kok kesini" Ujar Sonya yang merasa heran dengan suaminya tersebut.


"Cinta, lihat aku!" Briyan tiba-tiba meraih tangan Sonya


"Apapun yang terjadi, aku mohon kamu percaya sama aku. Dulu aku memang play boy, br******. Tapi sekarang, aku berani sumpah, aku hanya mencintai kamu seorang." Ujar Briyan sambil menggenggam tangan Sonya dan menatapnya lekat.


"Sayang, kamu kenapa? Kamu kenal pemilik rumah ini?" Tanya Sonya menyelidik. Briyan hanya mengangguk.


Lebih baik jujur sekarang dari pada semuanya semakin runyam.


"Lalu kenapa kok kamu kelihatan gugup?" Tanya Sonya lagi.


"Ini adalah rumah putri pak Harsha Juniawan, istri dari Rayyan. Apakah teman dosenmu itu bernama Zidane Ar-Rayyan?" Tanya Briyan yang masih menggenggam tangan Sonya. Sonya terkejut bukan main, tapi ia mencoba untuk bersikap tenang.


"Apa maksudmu Fara itu Shafa?" Tanya Sonya. Briyan hanya mengangguk pelan. Sonya langsung melepaskan genggaman tangan Briyan. Ia memalingkan wajahnya menghadap ke arah luar jendela. Ia tak menyangka bahwa wanita yang hendak di rebut oleh Briyan waktu itu adalah Shafa.


"Cinta, aku mohon... Semua itu masa lalu. Aku sudah berjanji bukan hanya di hadapan orang tuamu tapi di hadapan Allah. Bahwa aku akan menjadikan kamu satu-satunya dalam hidupku. Hanya kamu" Ujar Briyan dengan wajah memelas.


"Duh, mau ku simpan dimana wajahku. Kalau ternyata suamiku sendiri pernah berniat untuk merusak rumah tangga mereka! Kamu mikir nggak sih Bri?" Ujar Sonya sambil memijat pelipisnya. Kepalanyanterasa pening mengetahui kenyataan yang ada.


Berapa banyak mantan yangbkamu miliki Briyan? Jangan sampai setiap ornag yang aku kenal adalah mantan pacarmu.


"Aku tahu aku salah waktu itu, tapi sungguh, aku tidak berniat merusak hubungan mereka. Aku hanya akan mendekati Shafa saat aku tahu suaminya menelantarkannya" Ujar Briyan.


"Impossible!!! Mereka berdua saling mencintai Bri, mana mungkin Mr. Ray menelantarkan nya"


"Tapi itulah kenyataannya Sonya. Aku menemukan Shafa sedang sendirian di pinggir jalan dalam keadaan muntah-muntah dan pucat. Aku menolongnya dan beberapa hari kemudian aku baru tahu baahwa Shafa meninggalkan rumah kerena kesalahan Rayyan. Kamu tahu rasa bersalahku cukup besar padanya. Itu sebabnya aku berusaha menemukannya dan mengambilnya jika Rayyan memang benar-benar meninggalkannya. Tapi kenyataannya dia justru lebih terlihat gila saat Shafa meninggalkannya. Dan setelah aku tahu Shafa bahagia dengaan Rayyan aku pun tidak lagi berniat mendekatinya." Terang Briyan.


"Apakah jika di kemudian hari kamu dapati Shafa terluka kembali, apakah kamu akan datang kembali untuk merebutnya?" Tanya Sonya dengan tatapan tajam.


"Tidak Sonya...Bahkan jika di kemudian hari dia sendiri yang datang padaku, aku tidak akan pernah menduakanmu. Karena aku mencintaimu lebih dari apapun Sonya. Aku mohon, percayalah padaku" Ujar Briyan dengan tatapan penuh permohonan.


"Apa Mr. Ray tahu bahwa kamu pernah berniat mendekati istrinya?"

__ADS_1


"Iya dia tahu!"


"Astaga Briyaaaaaan!!!!!" Jerit Sonya dengan segenap rasa kesal dalam hatinya.


"Awww, Aduh sakit... ampun bos..ampun!!!" Briyan meringis saat Sonya melayangkan cubitan di perutnya.


"Rasain!!! Kamu nih ya bener-bener play boy. Kamu tau Mr. Ray itu udah banyak bantu aku. Gimana kalau dia marah? Belum lagi Shafa, aku nggak ingin kehilangan teman sebaik mereka" Ujar Sonya. Ia justru lebih khawatir dengan kemarahan Shafa dan Rayyan di bandingkan perasaan Briyan terhadap Shafa.


"Aku akan minta maaf pada Rayyan dan Shafa. Sebagai bentuk penyesalan dan kesungguhanku padamu! Mereka adalah orang-orang baik, mereka tidak akan membencimu." Ujar Briyan dengan penuh keyakinan.


"Pokoknya kalau sampai mereka marah, kamu harus puasa sampai mereka maafin kamu" Ujar Sonya dengan ancaman seperti yang sering di layangkan Shafa pada Rayyan.


"Cinta, kamu kok jadi ikut ikutan kaya Shafa sih? Kita kan baru nikah sehari masa udah main puasa aja" Briyan mencoba memberikan pembelaan.


"Terserah!!!" Ujarnya Ketus.


Briyan menarik nafas dalam dan menghembuskannya.


"Bismillahirrohmanirrohim!!!" Ucapnya sebelum menginjak pedal gas memasuki kediaman Shafa. Sonya hanya tersenyum geli melihat ekspresi suaminya. Ia tidak sepenuhnya marah pada Briyan, ia hanya khawatir dengan perasaan Shafa dan Rayyan.


"Kamu turun duluan cinta." Ujar Briyan. Sonya pun segera turun sambil membawa sebuah kotak berisi cup cake. Pintu rumah Shafa nampak terbuka, sepertinya mereka memang tengah menunggu kedatangan Sonya.


Ting...Tong....


Sonya menekan bel yang terdapat di sebelah pintu. Tak lama kemudian seorang pria tampan berbadan tegap dengan kaca mata bening yang selalu menghiasi matanya keluar dengan menggendong bocah kecil yang terlihat begitu lengket dengannya.


"Assalamualaikum Mr. Ray" Sapanya pada Rayyan yang menyambutnya.


"Waalaikum salam, sendirian bu Sonya? Suaminya mana?" Tanya Rayyan.


Duh, Briyan kok nggak turun-turun sih!


"Ayo mari silahkan duduk" Rayyan mempersilahkan Sonya duduk di ruang tamu rumahnya.


"Mom, Bu Sonyanya sudah datang" Panggil Rayyan pada Shafa yang tengah mempersiapkan menu makan malam. Mendengar panggilan Rayyan Shafa segera bergegas menuju ruang tamu. Kondisi perutnya yang sudah besar membuatnya harus berjalan perlahan sambil memegang pinggang belakangnya.


"Hei bumil cantik" Sonya langsung berdiri begitu melihat Shafa.


"Hallo pengantin baru apa kabar?" Mereka saling berpelukan.


"Aku baik, Ya ampun udah lama nggak ketemu udah segede ini perutnya." Ujar Sonya sambil memegang perut Shafa.


"Oh ya suaminya mana bu Sonya?" Tanya Shafa sambil celingak celinguk.


"Tadi sih masih di mobil, mungkin dia malu. Aku panggil dulu ya" Ujar Sonya.


Belum juga Sonya keluar Briyan sudah berada di depan pintu.


"Maaf cinta tadi papa menelfon" Ujar Briyan pada Sonya yang hendak menyusulnya.


"Briyan?"

__ADS_1


Shafa terkejut saat melihat Briyan berada dirumahnya terlebih saat ia memanggil Sonya dengan sebutan Cinta.


"Hai Fa" Sapa Briyan dengan senyuman canggung.


"Jadi ini suami bu Sonya?" Pandangan Shafa beralih pada bu Sonya yang juga terlihat canggung.


"I..iya"


"Ya ampun. Awas lu macem-macem ama temen gue!" Ancam Shafa pada Briyan yang membuat Sonya terkekeh.


"Mommy apaan sih, biarkan mereka duduk dulu. Mari pak Briyan bu Sonya silahkan duduk" Ujar Rayyan yang terlihat begitu tenang tidak seperti istrinya yang sudah menunjukan moode galak. Shafa hafal dan tahu persis siapa Briyan.


"Jadi Mr.Ray dan Bumil cantik ini sudah kenal dengan suami saya?" Tanya Sonya membuka obrolan mereka.


"Ya, kebetulan pak Briyan pernah mengajar di yayasan ayah, jadi kami kenal di sana" Jawab Rayyan tenang.


"Tapi kalian beneran menikah? Bri, kamu nggak mainin bu Sonya kan?" Tanya Shafa terang-terangan dengan tatapan tajam pada Briyan.


Benar kata Sonya, Shafa galaknya ngalahin badak.


"Ia Fa, dan juga aku ingin mintaa maaf sama kamu dan pak Rayyan atas kejadian beberapa waktu lalu. Saya sudah tidak sopan terhadap kalian. Aku harap kalian mau memaafkanku. Karena jika tidak, Sonya akan..."


"Awww... Sakit!!!" Pekik Briyan saat Sonya kembali mencubitnya. Ia malu jika sampai Briyan mwmbeberkan ancamannya.


"Jangan malu-maluin deh Bri" Bisik Sonya.


Rayyan terkekeh melihat dua orang pengantin baru di hadapannya ini.


"Bu Sonya akan apa pak Briyan? Semoga ancamannya tidak seperti yang sering di ucapkan mommy nya Zafran" Ujar Rayyan mencairkan suasana.


"Nah, itu dia masalahnya pak Ray. Sepertinya istriku ini sudah jadi pengikut setianya Shafa." Balas Briyan.


"Maksudnya?" Tanya Shafa.


"Ya gitu lah. Intinya aku minta maaf sama kalian untuk semua salah dan khilaf yang pernah aku lakukan" Ujar Briyan deng tulus dan sungguh-sungguh.


"Kami sudah memaafkan pak Briyan. Manusia itu tempatnya khilaf dan dosa. Dan sudah seharusnya kita saling memaafkan. Yang penting jangan di ulangi lagi" Balas Rayyan dengan senyum khasnya.


"Alhamdulillah, terima kasih pak Rayyan. Anda sudah menyelamatkan saya malam ini" Ujarnya yang membuat Rayyan dan Shafa tertawa seketika.


"Oh, jadi ancamannya bu Sonya itu...."


"Iya!!! Karena menurut saya itu sangat ampuh. Buktinya waktu itu berhasil membuat Mr. Ray kelabakan" Jawab Sonya memotong ucapan Shafa.


"Kalian para istri memang paling tahu kelemahan suami" Cibir Briyan yang sudah merasa lega karena Rayyan dan Shafa telah memaafkannya dan tetap bersikap ramah nan hangat.


"Mommy..." Zafran beralih minta duduk di pengkuan Shafa sambil memeluknya dari depan. Badanya sedikit hangat lantaran terlalu lama berenang bersama.


"Mommy? Si ganteng ini siapa?" Tanya Sonya yang sedikit terkejut saat Zafran memanggilnya Mommy.


"Ini anak kami bu Sonya, namanya Zafran" Ujar Rayyan.

__ADS_1


"Oh..." Sonya hanya manggut-manggut.


Siapa anak ini, kok wajahnya ganteng banget. Jangan-jangan...


__ADS_2