
Happy Readingππππ
Ayo Like, Vote, coment Biar akuh semangat ngetiknya.
Jadi, di part ini aku belum mau nemuin Shafa dan mas Rayyan... Mungkin ntar malam. Biar sekalian mereka malam mingguan. hihihiπ
_____________________
Akhirnya yang di tunggu-tunggu telah tiba. Mereka semua sudah berkumpul di rumah Mommy untuk mengetahui labar terbaru dari Shafa. Sesuai dengan janjinya hari ini suratbke dua dari Shafa di terima oleh Mommy. Mereka sangat antusia, tidak sabar untuk membacanya.
Ibu dan Mommy berada di urutan pertama yang membaca surat tersebut. Di bukanya aamplop berwarna putih itu. Belum membaca Mommy sudah terlebih dahulu menangis, membayangkan putri semata wayang nya itu.
*Dear Mommy and Daddy
Assalamualaikum wr.wb.
Semoga Mommy dan Daddy selalu dalam lindungan Allah, sebagaimana Shafa di sini!
Mom, Dad. Terima kasih karena tidak mencariku, Shafa sangat merindukan kalian. Aku harap Mommy dan Daddy tidak mengkhawatirkan ku. Allah Maha Baik, Dia mengirimkan orang-orang baik yaang menjaga Shafa disini.
Aku ingin bercerita sedikit tentang kandunganku. Pasti Mommy ingin bertanya apakah aku ngidam dan sebag**ainya? Alhamdulillah aku tidak menginginkan hal yang aneh-aneh seperti sebelumnya Mom. Aku juga tidak lagi merasa panas atau gerah saat malam hari.
Cucu Mommy ini sangat pintar, dia sangat mengerti kondisi ibu nya yang mungkin tidak akan bisa menuruti semua keinginan nya. Dia juga tidak menyulitkan ku. Aku bisa memakan semua jenis makanan tanpa pilih pilih.
Aku bersyukur Allah menitipkan dia di dalam tubuhku. Adanya dia disini bisa sedikit mengobati luka hati ku. Mommy, sepertinya Mas Ray sudah menemukan perempuan yang ia cari selama ini. Aku melihatnya bersama ibu dan perempuan itu.
Sejak awal sepertinya akulah yang menjadi orang ketiga di antara mereka. Aku pun cukup sadar diri, aku tidak ada apa-apa nya di bandingkan dia. Mom katakan pada mas Ray, aku tidak akan menghalanginya bersama Hana-nya. Aku juga tidak akan menuntut apa pun dari dia. Cukup berikan aku kebebasan setelah anak ini lahir. Mommy dan Daddy paham maksud ku kan?
__ADS_1
Aku tidak ingin di madu mom! Maafkan Shafa jika pada akhirnya Shafa lah yang menyerah dalam rumah tangga ini.
I love you Mom, Dad.
-Shafa Azura*-
"Astaagfirullahaladzim Shafa, kamu salah paham Nak" Ujar ibu sambil menyeka air Matanya.
"Berarti Shafa masih di Jakarta!" Ujar Daddy.
Mata Rayyan pun sudah berkaca-kaca membaca surat ke dua dari istrinya. Beban di pundak nya bertambah lagi karena kesalah pahaman Shafa. Tapi di sisi lain dia bersyukur karena Shafa dan janin nya baik-baik saja. Sendainya Rayyan tahu jika saat itu Shafa sedang hamil ia pasti dwngan senang hati akan menuruti semua keinginan nya tanpa mengeluh sedikit pun.
Di kediaman Rayyan nampak sepi. Hanya ada bi Lastri dan pak Madi. Sementara Yola dan tante Lilis sudah sejak kemarin meninggalkan rumah itu. Dan Nisa masih berada di rumah sakit.
Diam-diam tenyata ada seseorang mengamati aktifitas Rayyan. Dan kini dia telah mengetahui bahwa Shafa pergi meninggalkan rumah.
"Jangan berisik deh Mel, kita belum coba pergi ke rumah teman-teman SMA kan?" Jawabnya enteng
"Ha? Gila Lo? Kita mau datengin rumah mereka satu-satu?" Ujar Amel.
"Ya enggak lah, otak lo dimana sih Mel, kan bisa telfon satu-satu"
"Udah lah Bri.. Lo ngapain sih masih ngejar-ngejar bini orang. Shafa tuh udah cinta mati ama tuh suaminya. Lo repot-repot gini dapat apa emang?" Ujar Amel yang sudah lelah menemani Briyan ikut mencari Shafa selama beberapa hari ini.
"Aku hanya ingin memastikan dia bahagia. Ketika dia tidak bahagia, aku adalah orang pertama yang akan membahagiakannya. Aku pernah mengecewakan nya. Dan aku tidak mengulangi untuk yang kedua kalinya" Ujar Brian tegas.
"Tapi dia udah Nikah Bri.. Udah Nikah!" Ujar Amel penuh penekanan.
__ADS_1
"Sudah menikah bukan berarti sudah bahagia kan Mel? buktinya dia pergi. Aku tidak akan menggangunya jika dia memang sudah bahagia Amellya Mahesa" Ujarnya.
πππππππ
Sudah hampir sebulan Shafa meninggalkan rumah, dan selama itu pula Rayyan tidak pernah berhenti mencarinya meskipun ia masih rutin mengirim surat setiap pekannya. Tante Lilis dan Yola sudah tidak pernah lagi terdengar kabarnya, sedangkan Nisa sudah mulai kembali bekerja di toko.
Setelah kehilangan bayinya, Nisa berusaha untuk menata kembali hidup nya. Ia menyadari bahwa apa yang terjadi pada dirinya adalah teguran dari Allah atas sikap egois nya selama ini.
Rayyan sudah tak tahu lagi kemana harus mencari Shafa. Setiap sudut kota ini telah ia telusuri tanpa kenal lelah. Semua kerabat dan teman-temannya pun sudah di hubungi, tapi tak satu pun dari mereka yang mengetahui keberadaan Shafa.
Sore ini ia baru pulang ke rumah dengan membawa banyak sekali barang belanjaan.
"Mas, Ini apa? Kok banyak sekali" Tanya bi Lastri yang melihat majikannya kerepotan, ia segera menghampiri.
"Buah bi" Jawabnya singkat.
"Banyak sekali mas, yang kemaren aja masih banyak" Jawab bi Lastri. Pasal nya setiap pulang mencari Shafa ia selalu membawa buah-buahan untuk di bawa pulang.
"Simpan saja bi, Siapa tahu Shafa pulang. Semua buah sudah tersedia." Jawabnya sambil membawa buah-buahan itu ke dapur.
Bi Lastri menjatuhkan air matanya. Lagi lagi Rayyan memberikan jawaban yang sama setiap kali di tanya.
Mbak Shafa dimana? Pulang Mbak. Kasihan Mas Rayyan. Ya Allah segera pertemukanlah mereka kembali dan jangan pisahkan lagi. Guman bi lastri, ia pun ikut merasakan sedih, sejak di tinggal Shafa wajah Rayyanbtak pernah terlihat bahagia dan berbinar seperti sebelum nya.
Hari-hari yang di lalui Rayyan terasa begitu berat, hampa dan sepi. Ia hidup tapi serasa mati saat Shafa tak di sisinya. Ia menjadi dingin dan jarang berbicara. Di kampus pun ia lebih sering terlihat menyendiri. Separuh jiwanya terasa pergi. Tak ada lagi warna yang menghiasi hari-harinya. Sjafa dengan sikap manjanya sangat ia rindukan. Ia hanya bisa menyampaikan rindunya kepada Shafa lewat sujud panjang di sepertiga malam nya. Berharap Allah segera mempertemukannya kembali dengan istrinya.
Seusai melaksanakan Sholat Tahajjud, Rayyan tak langsung terlelap kembali, ia menghabiskan waktu malamnya untuk mengaji dan berdzikir. Memohon ampun dan petunjuk pada sang pemilik waktu. Tiba-tiba ia teringat akan guru nya. Sudah lama ia tak mengunjungi nya, terakhir ia menemui sang guru 5 bulan yang lalu, saat ia merasa bimbang dengan Shafa yang kala itu baru menjadi istri nya. Nasihat dan petuah nya bagaikan asupan energi untuk Rayyan agar ia bisa lebih bijak dalam bertindak.
__ADS_1
Sepertinya aku harus menemui pak kyai untuk minta bimbingan dan petunjuk.