Jodoh Pilihan Allah

Jodoh Pilihan Allah
Pamit


__ADS_3

Aku sungguh penasaran dengan ke datangan kak Jeffri di rumah mommy, ku lihat mas Rayyan sedang Asyik menyuapi Zafran dengan es buah buatan mommy. Ini kesempatanku untuk mengintip mereka bertiga.


"Mas aku ambil air dulu ya, haus!" Ujar Shafa yang di angguki Rayyan. Aku segera masuk kedalam Rumah. Aku berjalan mengendap-endap, dan kini berada di balik tembok yang menghubungkan antara ruang tamu dan ruang tengah. Aku sedikit memunculkan kepalaku untuk mengintip apa yang sedang mereka bicarakan. Terlihat jelas kak Jeff sedang duduk dengan wajah menunduk. Ia sedang memakai jaket hitam dan celana jeans hitam seperti orang yang hendak bepergian. Didepannya aku melihat Daddy dan Momny tengah duduk dengaan wajah datar. Mommy nampak menoleh kesamping mengalihkan pandangannya. Ketiganya diam tak bersuara.


Ada apa ini sebenarnya? Bathinku. Apakah ini berhubungan dengan bisnis Daddy atau yang lainnya?


"Pak, Bu...." Kak Jeff mulai bersuara.


"Tolong maafkan Jeffri atas segala kesalahan Jeffri. Saya tahu bapak dan ibu kecewa, tapi saya tidak punya pilihan lain pak. Saat itu kondisinya memang sangat rumit" Ujar kak Jeffri sambil menatap sendu Daddy. Apa yang sebenarnya terjadi? Aku menajamkan kembali telingaku. Beberapa pembantu yang lewat nampak heran saat aku memberi kode pada mereka agar jangan ribut.


"Kenapa kamu baru datang sekarang Jeff? Apa kamu sudah tidak menganggap kami lagi?" Ujar Mommy dingin.


"Maaf bu, saya hanya menunggu saat yang tepat. Saya tahu bapak dan ibu masih marah. Saya tidak ingin memperkeruh suasana" Jawab kak Jeff yang terdengar begitu lemah lembut.


"Lalu, untuk apa kamu datang kemari jika tahu kami masih marah?" Ujar Daddy yang tak kalah dingin. Aku kasihan melihat kak Jeff yang seperti terdakwa. Apa dia telah melakukan kesalahan fatal pada Mommy dan Daddy padahal setahuku dia adalah orang kepercayaan Daddy.


"Saya... Saya ingin berpamitan pada ibu dan bapak, sekaligus Saya ingin minta maaf yang sebesar-besarnya pak ibu dan bapak atas semua kesalahan Jeffri" Ujar Kak Jeff sambil menatap Daddy dan Mommy. Seketika mommy langsung membalikan wajahnya menatap kak Jeff.


"Berpamitan?" Tanya Mommy.


"Benar Bu, saya mendapat tugas mengintai kelompok mafia yang ada di Singapura. Mereka telah mencuri salah satu aset berharga milik negara. Dan saya bersama tim di tugaskan untuk menangani masalah ini, karena telah menyangkut keamanan negara" Ujar Jeffri.


"Lalu? Kenapa berpamitan? Bukannya selama ini kamu selalu pulang pergi ke luar negeri tanpa memberi tahu kami?" Ujar Daddy yang terlihat masih kesal.


"Karena...Saya takut tidak bisa mengatakannya lagi nanti. Saya takut ini menjadi misi terakhir saya." Ujar Kak Jeff.


"Apa maksud kamu Jeffri?" Bentak Mommy yang terlihat marah. Aku memegang dadaku. Mengapa aku sedih mendengar ucapak kak Jeff.


Ku lihat kak Jeff berdiri dan kemudian bersimpuh di depan mommy.


"Tolong maafkan Jeffri bu." Apa ini? Kenapa kak Jeff berlutut di hadapan Momnyku? dia terlihat menahan air matanya sedangkan mommy terlihat beberapa kali mendongak agar air matanyaa tak tumpah. Aku tak tahan, ingin rasanya aku keluar dan bertanya langsung drama apa yang sedang mereka mainkan.


"Jeffri..hu.hu.hu" Mommy menangis memeluk leher ka Jeff, seperti seorang ibu memeluk anaknya. Apa jangan-jangan kak Jeff anak mommy yang lain? tapi tidak mungkin, bukankah Shafa anak tunggal, bahkan untuk mendapatkan Shafa mommy harus berjuang selama hampir 8 tahun. Sedangkan umur kak Jeff hampir sama dengan mas Rayyan.


Kini ku lihat kak Jeff beralih pada Daddy dan melakukan hal yang sama seperti pafa mommy.


"Maafkan Jeffri pak, telah mengecewakan bapak! Tolong doakan Jeffri agar bisa pulang dengan selamat" Ujar kak Jeffri. Sepertinya misi kak Jeffri kali ini benar-benar berat. Apa dia akan pergi untuk selamanya? Ku lihat kak Jeffri sudah berdiri hendak keluar pintu aku pun keluar dari persembunyianku.


"Kak Jeff" Panggilku. Ia pun menoleh menatapku, dengan tatapan sendunya. Sepertinya kak Jeff benar-benar dalam misi berat.


"Shafa? Kenapa kamu disini? Masuk!" Ujar Mommy yang terlihat sangat terkejut, terkejut melihatku tiba-tiba muncul. Ku lihat Daddy menahan tangan mommy saat ingin menghampiriku.

__ADS_1


"Kak Jeff mau kemana?" Tanyaku tanpa menghiraukan peringatan mommy. Aku mendekat kearahnya begitupun dia.


"Jaga diri Shafa baik-baik! Jangan suka kabur-kaburan lagi" Ujarnya dengan senyum getir. Ada perasaan sedih saat melihatnya. Ya Allah jangan sampai ini pertemuan terakhirku dengan kak Jeff. Ku lihat Mommy menutup mulutnya menahan ledakan tangis.


"Kak Jeff mau kemana?" Tanyaku untuk ke dua kalinya.


"Kak Jeff akan pergi tugas Shafa" Ujarnya.


"Pergi tugas, bukan pergi selamanya kan?" Tanyaku dengan nada yang lebih tinggi. entah mengapa mataku tiba-tiba terasa panas mengingat betapa baiknya laki-laki di depanku ini. Dia selalu melindungi dan menjagaku meski tak secara langsung. Bahkan ketika aku di Jerman, aku tahu dia juga memantauku lewat orang-oraang suruhannya, terlepas apakah itu perintah Daddy atau bukan.


"Kakak tidak janji Shafa" Ujarnya membuatku semakin tak tahan untuk tidak memeluknya. Meski aku tahu ini salah.


"Kak Jeff" Aku langsung memeluknya dan menangis seperti mommy. Dia lebih seperti saudara bagiku. Ku rasakan tangan besarnya mengusap kepalaku dan ku dengar ia juga terisak sepertiku.


"Jaga dirimu baik baik dek!" Ucapnya kemudian pergi meninggalkan ruang tamu.


"Kak Jeeeffff" Teriakku. Aku melihat ia mengusap matanya dengan punggung tangannya. Aku tak mungkin mengejarnya karena perutku yang sudah membesar.


"Shafa!" Suara lain yang terdengar lebih dingin dan tegas membuatku menegang seketika. Astaga? Mas Rayyan! Apa dia melihat ku memeluk kak Jeffri?


Aku menoleh, Mas Rayyan sudah menatapku tajam dengan wajahnya yang merah. Tanggannya terlihat mengepal. Aku menggigit bibir bawahku. Aku tak tahu kemarahan seperti apa yang akan mas Rayyan tunjukan.


"Ngapain kamu nguping pembicaraan kami Shafa? Lihat, Rayyan pasti akan marah" Ujar Mommy.


"Kenapa mom? Mommy kenapa menangis?" Tanyaku pada momny yang terlihat jelas mata sembabnya.


"Mommy...Mommy sedih. Ya mommy sedih karena kalau Jeffri pergi tidak ada lagi orang kepercayaan mommy dan Daddy" Ujar Mommy yang melangkah masuk menghampiri Zafran yang tengah duduk di Sofa sambil menonton film kartun.


"Kamu sendiri kenapa menangis?" Tanya Mommy balik.


"Entahlah mom, aku mendadak sedih melihat wajah kak Jeff." Ucapku membayangkan kembali wajah sendu miliknya. Kak Jeff itu tampan, sangat tampan. Aku bahkan sempat berfikir Daddy akan menjodohkanku dengannya, mengingat dia sering kali berada di tengah-tengah kami, entah itu sedang liburan atau acara besar lainnya, dia selalu ada dengan alasan keamanan.


"Apa kamu sedang mengingat dosa-dosamu pada Jeffri?" Suara mommy membuayarkan lamunanku.


"Benar Mom, Aku sering merepotkan kak Jeff, dan sering morotin uang kak Jeff tanpa sepengetahuan mommy." Ujarku sambil meringis.


"Maksudmu?" Mommy melotot ke arahku.


"Dulu mom, duluuuuuu. Shafa sering ngerjain kak Jeff, minta di traktir di resto mahal atau beli barang mahal saat dia terus membuntuti Shafa. Salah sendiri mematai-matai Shafa seperti penjahat" Ujarku mengingat kembali momen beberapa tahun silam.


"Ayaaah mana mommy" Ujar Zafran yang sudah terlihat bosan dengan tayangan televisi.

__ADS_1


"Ayah lagi ada urusan penting sama Opa sayang." Jawab Mommy sambil meraih tubuh Zafran dan memangkunya.


Mas Ray kok belum keluar juga dari ruangan Daddy ya? aku jadi takut terjadi sesuatu pada mereka berdua. Lebih tepatnya perdebatan yang memungkinkan renggangnya hubungan antara mertua dan menantu.


Tak lama kemudian Mas Ray terlihat keluar dari ruangan ayah dengan wajah yang sudah terlihat tenang. Entah apa yangbtelah ayah katakan padanya, yang jelas ia tidak terlihat menakutkan lagi. Tapi aku masih takut untuk menatapnya apalagi menyapanya duluan.


CUP!


Satu kecupan mendarat di keningku membuatku tersentak. Aku mendongak, ku lihat mas Rayyan tersenyum. Apakah ini tandanya aku selamat?


"Mas?" Panggilku.


"Hmmm" Ia mendudukan dirinya di sampingku sambil merangkul bahuku. Melihat itu, Zafran segera menghampiri mas Rayyan dan naik keatas pangkuannya.


"Ayah, aku mau belenang. Kolam opa besal ayah" Rengek Zafran sambil menyandarkan kepalanya di dada mas Ray.


"Zafran suka berenang? Kalau begitu Zafran tinggal disini, nanti opa ajak Zafran berenang setiap hari" Sahut Ayah membuat Zafran langsung menoleh ke arahnya.


"Daddy, jangan nyogok Zafran lagi Dad" Ujarku. Ahh.. Bisa-bisa Zafran benar-benar tinggal sama Daddy jika terus-terusan di iming-imingi hal-hal yang di sukainya.


"Benar Zafran, bukannya Zafran ingin jadi dokter?" Tanya mommy. Yang langsung di angguki oleh Zafran.


"Kalau Zafran tinggal disini Opa dan Oma akan ajar Zafran jadi dokter. Opa dan Oma kan dokter" Ujar Mommy menimpali.


"Mom, Jangan ngompori Zafran dong mom" Ujarku kesal. Mas Rayyan malah tersenyum seakan tak ada beban.


"Siapa yang ngompori? Mommy cuma menawarkan" Ujar Mommy.


"Opa ayo kita belenang" Zafran turun dari pangkuan Rayyan dan beralih pada Daddy.


"Zafran biar berenang sama Daddy, kalian istirahatlah" Ujar Daddy sambil menggendong Zafran menuju kolam renang di halaman belakang yang cukup besar. Mommy pun menyusul daddy dan Zafran sehingga tinggal aku berdua dengan mas Rayyan. Aku merasa canggung terlebih setelah kejadian tadi.


"Ke kamar yuk?" Ajaknya. Aku pun mengangguk masih belum berani menatapnya. Ia menuntunku menaiki tangga pelan-pelan menuju kamar yang sudah sejak remaja aku tempati.


Ia mendudukanku diatas kasur empuk berwarna peach muda. Mas Rayyan juga membantu menaikkan kakiku ke atas tempat tidur.


"Sayang..." Panggilnya.


"Ah, i ..iya?" Aku mendadak menjadi gagap. Aku berbalik menghadap ke arahnya.Dia menatapku, kemudian memelukku erat.


Mas? Secepat inikah marahmu reda?

__ADS_1


__ADS_2