Jodoh Pilihan Allah

Jodoh Pilihan Allah
Cantikan Siapa?


__ADS_3

Setelah hampir tiga jam berkutat dengan 3 orang pegawai salon professional, akhirnya Shafa selesai dengan ritual perawatan nya. Mulai dari ujung kaki sampai ujung kepala, semua telah mendapat sentuhan tangan Rambut coklatnya di creambath dan di blow sehingga menjadi lebih indah, wangi dan lembut. Begitu juga dengan seluruh tubuhnya yang kini menjadi terlihat lebih segar dan bersinar.


Wajahnya yang sudah mulus menjadi semakin licin dan glowing.


Aku memang udah nggak langsing lagi, tapi aku jauh lebih seksi dari bu Sonya. Aku juga cantik, tinggi, mulus. Kita lihat Nak, apa reaksi ayah mu setelah melihat Mommy? Bodo amat mau di bilang ngidam ala ibu atau apa. Yang jelas Ayah mu harus tahu kalau Mommy gak kalah dengan wanita langsing itu. Gumamnya sambil memperhatikan pantulan dirinya di cermin. Kehamilan Shafa, membuat dirinya terlihat lebih seksi , terutama bagian depan tubuhnya yang nampak lebih menonjol dan berisi.


"Bi Lastriiiiii" Panggilnya pada ART kesayangan nya itu.


"Iya mbak." Bi Lastri dengan cepat menghampirinya. Ia nampak terkejut dengan penampilan Shafa yang terlihat sangat cantik dengan dress putih dan polesan make up simple nya.


"Duduk bi!" Pintanya. Bi Lastri pun langsung menurut.


"Bibi masih ingat wajah teman mas Ray yang waktu itu?" Tanya Shafa.


"Iya, ingat mbak. Yang cantik dan langsing itu ya?" Jawab bi Lastri membuat Shafa mencebikan bibir nya.


"Iya yang itu. Ehm menurut bibi, cantikan mana sama aku?" Shafa memasang wajah super imut di depan bi Lastri.


Lha? Mbak Shafa kok jadi aneh begini?


"Ya jelas cantikkan mbak Shafa lah. Mbak Shafa mulus kinclong begini dia mah lewat mbak." Ujar bi Lastri.


"Bibi nggak sedang bohong kan?" Tanya Shafa dengan tatapan mengintimidasi.


Waduh, ibu Wina harus tahu ini.


"Sumpah nggak bohong! Cantikan Mbak Shafa. Mbak Shafa cantik banget lho. Barusan habis oprasi plastik ya mbak?" Tanya polos.


"Ya enggak lah bi. Mana ada aku oprasi plastik. Emh.... Kalau sama Yola dan Nisa cantikan siapa?" Tanyanya lagi.


Duh, Mbak Shafa kenapa sih? Dari tadi kok nanya cantikan siapa terus?


"Ya jelas cantikan mbak Shafa lah. Jauuuuh." Jawab bi lastri.


"Kenapa bisa?" Tanya Shafa. Ia butuh jawaban yang bisa memuaskan hatinya yang tiba-tiba sensitif bila melihat wanita yang masuk kategori cantik berada di sekitarnya.


"Mbak Shafa putih, mulus, kinclong, hidung mancung, rambut lurus, pokok nya top deh nggak ada duanya. Mas Rayyan aja sampai klepek-klepek gitu." Jawab bi Lastri antusias.


Benar. Kita harus buat ayah mu klepek-klepek Nak, biar dia nggak macem-macem di luar sana!


Shafa tersenyum puas mendengar jawaban bi Lastri kemudian masuk ke dalam kamarnya dengan bahagia. Ia berjalan sambil bersenandung ria.


Melihat Shafa sudah masuk ke dalam kamarnya bi Lastri segera mengaambil ponsel dan menghubungi ibu Wina mertuanya.


"Assalamualaikum buk."

__ADS_1


"Waalaikum salam bi, ada apa? Apa ada kabar terbaru?" Jawab ibu Wina dari balik telepon.


"Buk, hari ini mbak Shafa aneh buk." Adu bi Lastri pada ibu Rayyan.


"Aneh bagaimana bi? Apa dia masih mogok bicara sama Rayyan?" Tanya ibu penasaran.


"Kayaknya begitu buk. Hari ini mbak Shafa manggil orang salon buat perawatan di rumah. Terus dia berungkali nanya ke saya, cantikan mana mbak Shafa dengan teman mas Ray yang pernah datang kesini. Mbak Shafa juga nanya cantikan mana dia dengan mbak Yola dan mbak Nisa." Terang bi Lastri. Ia menjelaskan semuanya secara detail karena tidak mau lagi disalahkan bila terjadi sesuatu pada Shafa dan Rayyan.


"Ha.ha.ha.." Suara ibu tertawa dari balik telfon membuat bi Lastri bingung.


"Hallo buk, kenapa tertawa buk? Apa ada yang salah?" Tanyanya pada ibu yang masih tertawa tepingkal-pingkal.


"Nggak ada bi, nggak ada yang salah. Seperti nya Shafa sedang ngidam bi. Biarkan saja bi."Ujar ibu masih dengan tawanya.


"Yaa sudah bu kalau begitu, saya tutup. Assalamualaikum" Laporan selesai.


"Ngidamnya kok aneh begitu ya?" Gumam bi Lastri.


Di kediaman Pak Luthfi dan ibu Wina, Ibu sedang tertawa geli mendengar laporan dari bi Lastri.


"Ibu kenapa sih? Kok dari tadi ayah dengar ketawa terus." Tanya ayah menghampiri istrinya.


"Sini yah, ibu mau cerita" Ibu menarik lengan ayah untuk duduk di sebelahnya.


"Ada apa sih bu?" Tanya ayah penasaran.


"Kok bisa tau bu? Ibu ngelindur apa?" Tanya ayah keheranan. Lahir saja belum ibu sudah menebak kalau cucunya seerti Rayyan.


"Bi Lastri habis laporan, katanya Shafa manggil orang salon kerumah buat perawatan, udah gitu dia minta penilaian ke Bi Lastri, lebih cantik mana dia dengan teman-teman perempuan Rayyan." Terang ibu sambil senyum-senyum.


"Apa hubungannya dengan mirip Rayyan bu?" Ayah jadi bingung sendiri.


"Ayah! Itu mirip banget dengan ibu dulu waktu hamil Rayyan." Ujar ibu kesal pada ayah yang nggak paham-paham.


"Oh... Jadi ibu dulu selalu manggil orang salon ke rumah?" Tanya ayah penuh selidik.


"Ish, ayah ngeliatnya jangan begitu ah. Toh ayah seneng juga kan dengan penampilan ibu." Ujar ibu mesam-mesem.


"Pantesan makin hari ibu makin cantik, bikin ayah nggak kuat. Haduuuh, Kasian Rayyan kalau istrinya masih ngambek." Ujar ayah membayangkan putranya harus menahan diri karena aksi mogok bicara Shafa.


πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ


Mobil Rayyan sudah memasuki pekarangan rumah. Shafa yaang sejak tadi mengintip dari balkon kamar segera masuk ke dalam kamar dan berpura - pura sibuk dengan ponsel nya.


Ayo Nak, kita buat ayah mu klepek-klepek.

__ADS_1


"Assalamualaikum" Ucap Rayyan sesaat setelah membuka pintu.


"Waalaikum salam" Jawab Shafa datar. Ia menoleh sekilas ke arah Rayyan. Ia ingin tertawa melihat ekspresi Rayyan seolah terkejut.


Shafa sengaja menyilangkan kakinya sehingga menampakan sebagian kulit pahanya yang mulus. Ia tetap bersikap acuh dan lebih fokus pada chat-chat yang masuk di ponsel nya.


"Sayang" Panggil Rayyan sembari mendekat ke arahnya. Ia mendaratkan tubuhnya di atas sofa di smping Shafa. Tapi saat Rayyan baru saja duduk ia malah beranjak, keluar kamar sambil bersenandung ria. Seerti orang yang sedang bahagia.


Rayyan mengacak rambutnya frustasi melihat istri cantiknya bersikap demikian.


Mau sampai kaan kamu siksa aku begini Shafa!


Rayyan segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dan menyegarkan kembali fikiran nya.


Setelah selesai melaksanakan Shalat Isya, Rayyan langsung mengusap perut Shafa dan mulai berbicara dengan janin yang ada di dalam nya "Sayangnya ayah mau makan apa?" Tanya Rayyan sambil mengelus lembut perut yang masih tersembunyi di balik mukena itu. Rayyan menanyakan hal itu karena tadi Shafa tidak mau turun untuk makan malam.


"Bakso!" Jawab Shafa singkat.


"Nggak boleh sayang, bakso ada pengawetnya. Yang lain saja yah." Balasnya, masih dalam posisis menunduk di depan perut istrinya.


" Sate!" Jawabnya lagi.


"Ya udah, ayah suruh pak Madi beli ya?" Ujar Rayyan yang langsung mendapat gelengan dari Shafa.


"Mau makan di tempat!" Jawabnya tanpa basa-basi.


Rayyan mendengus, sembari beristigfar dalam hati.


"Ya udah ayo. Ganti baju dulu ya?" Ujarnya. Namun Shafa menggeleng dan langsung keluar kamar dengan masih menggunakan mukena.


Jadilah mereka berdua berada di warung sate dengan Shafa yang masih memakai mukena nya. Dengan hati-hati Rayyan menyuapi istrinya agar tidak mengotori mukena nya. Meski mendapat tatapan dari para pengunjung yang lain Rayyan sudah tidak peduli lagi. Yang penting istrinya senang dan bisa segera kembali seperti dulu lagi.


"Masih mau sesuatu lagi?" Tanyanya setelah Shafa memberikan kode untuk menyudahi makan nya.


Shafa hanya menggeleng. Rayyan kemudian mengusap kembali perut istrinya "Anak ayah, jangan Nakal ya" Ujarnya. Itu adalah salah satu kata-kata mujarab yang membuat Shafa tidak memuntahkan makanannya kembali.


Sesampainya di rumah Shafa segera masuk kedalam kamarnya. Sebelum itu ia terlebih dahulu masuk kedalam kamar mandi untuk sikat gigi dan mencuci mukanya. Ia hatus memastikan bahwa wajahnya masih cantik membahana. Ia kemudian masuk ke dalam ruang ganti, mencari dress tidur paling seksi yang sering ia kenakan dulu.


Untuk pertama kalinya ia memakai kembali pakaian itu setelah kepulangannya yang sudah hampir satu minggu. Ia tersenyum jahat saat melihat pantulan tubuhnya di depan cermin yang begitu menggoda.


Ia dengan langkahnya yang penuh percaya diri keluar dari ruang ganti menuju tempat tidur nya. Rayyan yang melihat pemandangan tersebut tanpa sengaja menjatuhkan buku yang tengah di pegangnya.


Ya Allah, berat nian ujian Mu ini. Batinya menjerit!


_______________

__ADS_1


Hai Readers... Jangan Lupa tinggalkan jejak ya! Like, Comen, Vote😘😍❀️❀️❀️


__ADS_2