Jodoh Pilihan Allah

Jodoh Pilihan Allah
Liburan


__ADS_3

Minggu pagi yang begitu cerah. Sinar surya yang menyilaukan mulai menyapa dari balik jendela bertirai putih, mengusik seseorang yang tengah lelap di dalamnya.


Triiiing......


Suara panggilan di handphonenya membuat ia terpaksa harus membuka matanya.


"Ya hallo" Jawabnya dengan suara malas. Ia masih mendengarkan seseorang di balik telfon berbicara.


"Okey... See you honey!!!" Ucapnya dengan bibir menyungging. Ia melemparkan ponselnya asal.


"Emmmhhh" Leguhnya sambil meregangkan otot-otot nya. Matanya kini telah terbuka sempurna. Ia melangkah menuju kamar mandi untuk mencuci muka.


"Good morning Sonya" Sapa Briyan. Ia duduk di meja makan kemudian mencomot roti yang baru saja di olesi selai oleh Sonya.


"Huuuh" Sonya mendengus sambil menatap Briyan tajam. Kebiasaannya setiap kali berada di meja makan, Briyan suka mencomot makanan milik Sonya yang membuat keduanya selalu ribut.


"Kapan sih kebiasaan kamu ini berubah Bri?" Sindirnya sambil kembali mengoles selai pada roti yang baru.


"Apanya?" Tanyanya pura pura tak tau. Sonya hanya menggeleng.


"Makanya kalau sarapan, siapin juga buat aku. Jangan cuma buat kamu sendiri" Ujarnya kemudian meraih gelas berisi susu milik Sonya.


"Kamu pikir aku istri kamu apa? Udah bagus aku siapain makanan tiap hari. Nggak usah ngelunjak deh!" Jawabnya ketus sembari memasukan roti ke dalam mulutnya.


"Oh ya Son, habis ini aku mau ke Sentosa Island, mau ikut nggak?" Tanyanya.


"Ngapain Bri?"


"Yaelah Son, pake nanya ngapain. Ini kan minggu, aku ada janji sama teman kuliahku yang seksi itu. Katanya dia mau berenang bareng" Ujarnya dengan senyum mengembang. Ia membayangkan wanita cantik dan seksi memakai bikini sedang berenang dengannya.


"Woiii... otak mesum! Lagi banyangin apa?" Sonya mengagetkan lamunannya.


"Ah... ganggu aja kamu" Ucapnya kesal.


Pasti si ondel-ondel itu lagi. Ihh males banget liat Briyan sama cewek model kayak belatung nangka itu. Cantikan juga aku. Weit! Kenapa jadi ngebandingin dia sama aku? Jangan bilang aku cemburu. Oh No.. cemburu sama perempuan itu? Nggak level. Lagian apa peduliku si play boy tengil ini sama dia? Gumam Sonya dalam hati.


"Mmmmm Bri, kayaknya aku nggak bisa lebih lama lagi berada di sini." Ujar Sonya.


"Maksudmu?" Briyan menghentikan makannya. Ia meletakkan roti ke duanya kembali di atas piring.


"Mau sampai kaan kita kaya gini Bri? Oke lah kita nggak mau di jodohin, tapi menurutku ini bukan solusi terbaik. Aku ingin pulang dan membicarakan hal ini baik-baik pada papa" Ujar Sonya.


"Pu..pulang? Jangan! Eh?" Briyan jadi bingung sendiri.


"Kalau mereka maksa mau nikahin kita gimana? Papaku bukan orang yang bisa di ajak bicara baik-baik Sonya. Apa yang ia katakan itulah yang akan terjadi" Terang Briyan.

__ADS_1


"Papamu kan hanya ingin kamu menikah Bri! Kamu kan punya banyak pacar kenapa kamu nggak ngajak salah satu dari mereka bertemu dengan papamu" Ujar Sonya.


"Ga bisa Son?"


"Kenapa? Kenapa nggak bisa? Karena kamu cuma mainin mereka? iya?" Cecar Sonya.


"Bukan begitu"


"Lalu bagaimana" Tekan Sonya.


"Aku nggak bisa menikah dengan wanita yang tidak aku cintai Sonya" Ujar Briyan sambil menatap Sonya.


"Kalau tidak cinta kenapa kamu pacari Bri? Terserah kamu deh, yang pasti aku akan secepatnya pulang. Dengan atau tanpa kamu!" Ujar Sonya tegas.


Kok aku jadi nggak rela si Sonya ninggalin aku ya?


"Nantilah kita pikirkan lagi. Sekarang kamu mau ikut nggak?" Tanya Briyan mengalihkan pembicaraan.


"Ke pantai?"


"Kemana lagi?"


"Kamu mau ketemu si ulat nangka yang waktu itu ya Bri?" Sonya memastikan.


"Ulat nangka? Enak aja, namanya Devi wanita cantik dan seksi" Jawab Briyan.


"Tapi dia seksi Son" Jawab Briyan.


Walaupun tak se seksi Shafa dulu. ****! Kenapa aku jadi keingat dia lagi sih! Lupakan Shafa Briyan, dia sudah bahagia dengan suaminya.


"Oh ya? Kita liat aja nanti" Ujar Sonya seraya meninggalkan meja makan.


"Eh..Son... Mau kemana?" Teriak Briyan yang di tinggal sendiri.


"Siap-siap! Katanya mau ke pantai" Jawabnya kemudian menghilang dari balik pintu kamar. Briyan menyunggingkan senyumnya. Ada rasa senang di hatinya mengetahui Sonya akan pergi bersamanya.


.


.


Sentosa Island, adalah sebuah pulau dengan pantainya yang indah yang merupakan hasil dari reklamasi dari pulau Singapura. Pulau ini pernah hampir hilang karena mengalami abrasi air laut. Namun setelah reklamasi dan pembenahan ulang, Sentosa Island kini menjadi salah satu tempat wisata yang hits di Singapura. Selain pantai berpasir putih yang indah, terdapat banyak fasilitas lain seperti, hotel, cafe, restoran, yang dapat memanjakan wisatawan.


"Hi Briyan.." Devi menghampiri Briyan dengan bikininya yang menampakan sebagian besar tubuhnya moleknya.


"Hai Dev" Briyan menerima pelukan Devi sambil cipika-cipiki.

__ADS_1


"Ke sana Yuk!" Ajaknya sambil menarik lengan Briyan dan membiarkan Sonya mematung di belakangnya. Devi menoleh ke arah Sonya dengan senyuman mengejek membuat Sonya geram.


Tunggu pembalasanku! Gumam Sonya.


Sonya berjalan menuju sebuah kamar mandi di cafe tak jauh dari pantai itu. Ia segera mengganti celana jeans dan baju kaosnya dengan mini dress tanpa lengan yang mengekspos penuh leher jenjangnya. Ia membuka ikatan rambutnya, membiarkan rambut panjangnya terurai. Selanjutnya ia memakai topi bundar yang membuatnya semakin cantik. Ia menyunggingkan senyum sambil memakai sedikit lip balm pada bibirnya. Tak lupa sebuah kaca mata hitam dan sling bag kecil melengkapi penampilannya. Walaupun seksi tapi penampilan Sonya terkesan cantik dan tidak murahan seperti wanita-wanita berbikini yang tengah berjajar di pinggir pantai itu.



Sonya menyapukan pandangannya menelisik ke segala penjuru mencari keberadaan Briyan dan Devi.


Ah, itu dia!


Briyan tengah asyik bersandar pada sebuah kursi santai menghadap ke laut. Sedangkan Devi yang berada di samping bermanja-manja dengan sesekali menyuapkan buah ke dalam mulut Briyan. Mereka berdua berbincang sambil ketawa-ketiwi.


Sonya sengaja berjalan lewat di hadapan Briyan dengan memegang sebuah milk shake di tangan kanannya. Pandangan mata Briyan seketika teralihkan oleh sosok yang baru saja melintas di depannya. Ia segera membuka kaca mata hitamnya, memastikan yang di lihatnya adalah Sonya. Sonya sedikit menoleh ke arah Briyan sambil menjulurkan lidahnya mengejek.


Sonya ngapain pakai pakaian seperti itu? Kalau ada mata jelalatan gimana? Gumam Briyan sambil memperhatikan Sony yang duduk dengan kaki menyilang tak jauh dari kursi santainya.


"Honey, Hei... Kamu lihat apa sih?" Devi memutar wajah Briyan yang condong menoleh ke kanan.


"Ah... itu, sepertinya aku melihat temanku disini" Ujar Briyan. Ia semakin tak berselera dengan Devi yang sejak tadi menemaninya.


"Gimana kalau kita berenang sekarang?" Ujar Devi sambil meraba-raba dada Briyan.


"Emm... Jangan dulu ya Dev, sebentar lagi. Aku masih ingin bersantai" Jawab Briyan. Padahal ia masih ingin melihat apa yang akan di lakukan Sonya. Briyan menegakkan posisi duduknya saat melihat seorang pria mendekati Sonya. Sonya yang biasanya cuek, kini terlihat sangat humble dan ramah. Ia bahkan ngobrol dengan pria yang tak kalah tampan dari Briyan.


Wah, siapa tuh cowok? Jangan-jangan dia mau ngapa-ngapain Sonya. Sonya **** banget sih, kenapa harus ngobrol dengan orang tak di kenal.


Semakin lama, Sonya terlihat semakin akrab dengan laki-laki yang baru saja mengajaknya kenalan. Briyan pun di buat semakin geram dengan hal itu. Devi yang sejak tadi di acuhkan pun sudah mulai kesal dan memilih berjemur di bangku sebelah Briyan.


Eh, mereka mau kemana? Batinnya saat melihat Sonya menerima uluran tangan pria itu untuk berdiri. Secepat kilat Briyan segera menyambar tangan Sonya dan menariknya menjauh dari pria itu.


"Kamu apa-apaan Briyan? Main tarik-tarik ha?" Sonya tak terima, ia berusaha melepaskan genggaman tangan Briyan.


"Kamu ngapain dekat-dekat dengan cowok tadi? Kalau dia orang jahat gimana? Kalau dia suami orang gimana?" Tanya Briyan. Sonya mengerutkan dahinya. Ia menyilang kan tangannya di dada.


"Kamu Cemburu?" Dua kata yang sukses menikam hati Briyan. Membuatnya gelagapan.


"Hah? Em.. Aanu.. Bukan... Ahh.... Jangan ge er kamu Son!" Ujarnya dengan wajah merah.


"Terus?"


"Ya, karena kamu perginya sama aku, jadi aku harus jagain kamu. Aku ini laki-laki yang bertanggung jawab Son. Jadi selama kamu di sini kamu tanggung jawab aku!" Terang Briyan panjang lebar.


"Tau ah Bri... Aku pusing" Ujar Sonya sambil berlalu dari hadapan Briyan. Briyan pun dengan sigap menyusul Sonya berjalan di sampingnya.

__ADS_1


Grep! Briyan menggenggam tangan Sonya, berjalan bergandengan menyusuri pantai berpasir putih itu. Tidak ada obrolan antara mereka. Keduanya tengah sibuk berperang melawan perasaan masing masing-masing.


__ADS_2