Jodoh Pilihan Allah

Jodoh Pilihan Allah
Puding Strawberry


__ADS_3

"Gimana yah?" Tanya ibu yang sedang memperhatikan sang kepala keluarga menyuap makanan nya. Aku menggigit bibir bawahku. Jangan sampai rasanya ga cocok di lidah ayah.


"Emm... Enak bu, Ini mantu ayah yang masak?" Tanyanya memandang ke arahku membuatku tersipu.


"Iya. Humm... Beneran enak, gak salah kata bi Lastri kalo Shafa pintar masak" Giliran ibu yang memuji.


Finally, setelah kegiatan curhat-curhatan antara anak mantu dengan mertua, akhirnya aku mengabulkan permintaan ibu untuk masak makan siang. Jadilah aku memasak cumi pedas balado dan sayur asem di tambah perkedel dan puding strawberry kesukaanku. Aku harus kembali mengorbankan kuku cantikku yang baru kemarin masuk salon. Huaa... Tapi ga papa demi jadi mantu ideal apapun ku lakukan.


"Ayah ga nyangka Shafa pinter masak" Ujar ayah. Bukan cuma ayah, semua orang juga akan bilang gitu kale. Sepertinya aku harus meningkatkan skill memasak ku. Jadi ingat kata Mommy. Suami itu harus di puaskan dalam 3 hal. Yang pertama adalah matanya, jangan biarkan dia melihatmu dalam keadaan jelek, kusut,dekil dan sejenisnya. Makanya perawatan itu perlu dan eajib hukumnya bagi kaum wanita. Yang kedua adalah perutnya, Karena secantik apapun dirimu, jika dalam keadaan lapar makanan akan lebih menarik bagi laki-laki. Jadi wanita juga harus pintar masak. Dan yang ketiga puaskan ranjangnya (Ah kalau yang ini ga usah di jelasin karna readerku pasti lebih tau🤭). Jika ketiga hal tersebut terpenuhi yakin saja, dia tidak akan pernah bisa bepaling.


"Aku belajar dari Mommy ayah, Tapi Shafa bisanya masakan lokal aja" Ucapku jujur. Aku memang pecinta masakan nusaantara yang kaya akan rempah.


"Pas banget, Ray dan ayah juga ga suka makanan kebarata baratan, mereka sukanya makanan khas Indonesia" Sahut ibu.


Kami menikmati makan siang bertiga dengan suasana ceria. Aku yang selalu terbuka kepada mereka membuat mereka tak segan untuk berbicara apapun tentang kehidupan keluarga mereka.


Setelah makan siang, ayah langsung kembali ke kantor. Jadi ayah bela belain pulang, cuma untuk makan siang bersama karna ibu bilang aku yang memasak. Jadi terharu. Mommy aja ga pernah muji masakan aku, yang ada aku selalu di omelin.


"Ibu, habis ini mau ngapain? Tanyaku ada ibu yang tengah asik menikmati puding stawberry buatanku.


"Em.. gimana kalau kita buat puding aja, ini pudingnya enak banget. Ibu baru kali ini makan puding se enak dan se lembut ini" Ujarnya. Ku lihat matanya terpejam menikmati sensasi manis daan segar dari puding tersebut.


"Boleh bu, puding stawberry itu favorite Shafa bu, salah satu makanan yang paling sering Shafa buat. Aku dulu kan hobinya travelling ke luar negeri. Kata Mommy, Shafa ga boleh sembarang makan takutnya makanannya ga halal. Jadi Shafa inisiatif buat bikin olahan dari macam-macam buah dan berhasil. Jadi keterusan deh. Terangku. Yah, aku memang menyukai berbagai olahan buah, mulai dari salad buah, es buah, puding buah dan lain lain. Selain bagus untuk kesehatan kulit buah juga mengandung banyak vitamin yang bisa membuat daya tahan tubuh kita menjadi lebih kuat.


"Waah... Keren banget mantu ibu. Ibu juga dulu waktu muda persis Shafa, hobi ngemall, jalan-jalan, shoping. Tapi setelah menikah dengan ayah ibu mulai menyesuaikan diri dengan ayah. Ayah kan persis kaya Ray gitu"


"Emang jaman ibu muda udah ada mall?" Tanyaku.


"Ia dong sayang, ibu ini kan dulu kuliahnya di singapore" Ujar ibu. Sepertinya ibu mulai muncul aslinya.


"Terus. terus, gimana ceritanya ibu bisa ketemu ayah?" Aku jadi penasaran dengan masa muda mamer ku yang ternyata gaul juga.

__ADS_1


"Jadi dulu, ibu ga nyangka akan menikah dengan ayah. Karena ayah dulu itu galak, judesnya naudzubillah. Dia dulu dosen di kampus tempat Ray mengajar sekarang. Kebetulan sepupu ibu di Jakarta tinggal sama keluarga ibu, dia selalu minta antarin ibu kalau mau ketemu sama dosennya untuk perbaikan nilailah, kumpul tugaslah karena dia ga berani sendiri. Dari situ lah lama-lama kok ibu tertantang untuk menaklukan hati ayah yang sekeras batu itu. Terus suatu hari sepupu ibu minta di anterin ke rumahnya ayah untuk kumpul laporan, disana ibu ketemu dengan neneknya Ray, kita ngobrol dan cocok . Dari situ mulailah tumbuh benih-benih cinta" Ucap ibu sambil senyum-senyum.


Jadi kisah ibu ga jauh beda sama aku. Sama-sama mencintai pria dingin. Bedanya, cintaku tumbuh setelah menikah.


Aku dan Ibu mulai berkutat di dapur. Aku membuat puding dan beberapa desert seperti Coco lava dan Salad buah. Sementara ibu membuat Soto betawi untuk di hidangkan saat arisan nanti.


"Hmmm... Wangiiiiiii" Aroma rempah yang tercampur dalam kuah kaldu begitu harum menggugah selera. Aku pun telah menyelesaikan tugasku.


"Ini biar bibi aja yang beresin, sekarang Shafa mandi dan dandan yang cantik, mungkin Ray sebentar lagi pulang" Ucap ibu sambil menyiapkan beberapa pelengkap.


Aku bergegas naik ke atas menuju kamar mas Ray, yang sekarang menjadi kamarku juga. Satu persatu mulai ku buka pakaianku yang sejak pagi menempel di tubuhku.


Ceklek,


Pintu kamar tebuka.


"Aaaaaaaaaaaaaa" Aku berteriak menyilangkan tanganku di dada. Mas Ray nampak terkejut melihatku dalam keadaan setengah telanjang. Ia kemudian menutup kembali pintu.


"Kamu mau godain mas? Mas baru pulang loh ini" Ia menyeringai melangkah ke arahku.


"Mandi bareng yah..yah" Ucapnya menaik turunkan alisnya.


"Ga, mas jangan mesum deh. Ntar tamunya ibu keburu datang" Tolakku masih berusaha melepaskan diri.


"Ini masih jam 3 Sayang. Arisannya kan biasanya jam 4, masih ada 1 jam. Cukuplah buat main-main" Ucapnya yang selalu punya banyak alasan. Percuma berdebat dengan mas Ray masalah beginian. Karena dia tak pernah mau kalah apalagi kalau sudah mengeluarkan dalil bahwa istri tidak boleh menolak suami. Yang bisa aku lakukan hanya pasrah dan mengikuti semua kemauannya. Walaupun selalu diawali dengan perdebatan tapi akan selalu berakhir dengan senyum mengembang.


Setelah ritual mandi bersama, ternyata masih ada ritual lain yang mengharuskan kami mandi untuk yang ke dua kalinya. Sekarang aku sudah bersiap dengan memakai kaftan panjang bermotif batik dan bandana dengan motif senada.


Makanan dan desert sudah tertata rapi di meja. Ku lihat mas Ray sedang asyik menonton tv ditemani dengan aneka desert buatanku di sebelahnya. Aku menghampirinya dan duduk di sebelahnya.


"Mas, kok banyak banget makannya, bukannya mas ga suka manis?" Aku heran, karena setahuku mas Ray ga suka makanan manis atau jenis kue kuean. Dia lebih suka kripik atau makanan yang gurih gurih.

__ADS_1


"Ternyata enak sayang, rasanya beda . Aku suka, nanti buatin aku di rumah ya?" Ia menyendokan sepotong besar coco lava dengan lelehan coklat yang begitu lumer menggoda.


Aku memperhatikan mas Ray dengan seksama. Beneran nih dia suka, atau cuma buat nyenengin aku. Tapi kok makannya banyak banget. Ku lihat ia berpindah ke piring puding setelah coco lava nya haabis.


"Emmm.... Ini apa namanya sayang, Enak. Seger, mas suka ini" Ucapnya sambil terus menyendokan puding ke dalam mulutnya.


"Itu puding mas.. P-U-D-I-N-G" Aku mengejanya satu-satu.


"Kok rasanya kaya stawberry?" Tanyanya. Ya ampun, kamu selama ini makannya apa sih mas?


"Ya kan itu puding stawberry kesukaanku mas!"


"Nanti di rumah buatin yang kaya gini" perintahnya dengan mata fokus di layar dan tangan yang terus menyendok puding.


"Aku pernah buat tapi mas ga makan!"Ucapku kesal.


"Hah? Kapan?" Dia melirik ke arahku.


"Pas aku pertama kali masak itu loh mas!" Terangku.


"Oh itu, mas kan ga suka manis pada waktu itu" Ucapnya santai. Jadi sekarang udah suka manis? Dasar mas Rayyan, belum rasa udaah menilai duluan.


"Shafa, Sayang kemari teman-teman ibu sudah datang" Panggil ibu dari ruang tamu.


.


.



Fokus di cicin kawinnya dong.. cantik😍😘❤️

__ADS_1



Santai menikmati yang seger seger😍😘


__ADS_2