
"Kenapa gak makan Fa? Kamu sakit?" Tanya Nisa yang duduk di samping Shafa. Shafa memang tidak mengambil makanan sedikitpun. Ia hanya makan beberapa buah yaang tersedia di meja.
"Gue ga nafsu Nis" Ujarnya malas.
"Mas aku ke kamar ya, sekarang belum lapar" Bisiknya. Rayyan hanya mengangguk.
"Istrimu kenapa lagi Ray?" Tanya tante Lilis. Sedangkan Yola tersenyum melihat Shafa meninggalkan meja makan.
Pasti kak Shafa lagi marah. Ga lama lagi pasti mereka akan ribut.
"Shafa sekarang makannya tengah malam tante" Jawab Ray.
Didalam kamar Shafa hanya menggonta ganti siaran televisi tapi tak menemukan siaran yang pas. Ia beralih duduk di tepi ranjang. Ia melihat handphone Rayyan di atas nakas dan segera mengambilnya. Ada kepuasan tersendiri saat ia sudah mengotak atik handphone suaminya tersebut.
Handphone Rayyan tidak menggunakan pola atau kunci pengaman sehingga sangat mudah untuk mengecek isinya. Setiap kali membuka layar depan handphone Rayyan Shafa selalu tersenyum bahagia. Foto dirinya yang sedang mencium pipi Rayyan menjadi gambar pembuka pada tampilan layar utama.
Setelah puas memandangi layar depan ponsel suaminya, Shafa beralih ke menu whatsaa**p. Ia menscroll keatas daan ke bawah semua percakapan di whatsapp Ray tapi tak menemukan sesuatu yang mencurigakan.Aman! Selanjutnya ia beralih ke menu pesan SMS.
Begitu ia bukaa menu tersebut, ia langsung membuka pesan teratas dari nomor yangbtak di kenal. Sontak matanya membulat, Jantungnya serasa berhenti, nafasnya tersengal saat mendapati pesan di ponsel Rayyan.
+6281321xxxxxxx
Asslamualaikum Kak Zidane. Hana ingin minta maaf atas ucapan Hana tadi. Bukan bermaksud tidak sopan, Hana hanya ingin mengutarakan perasaan Hana yang sesungguhnya. Hana tidak punya maksud apa-apa. Wassalam
"Hana?" Lirihnya. Mata Shafa mulai terasa memanas. Dadanya bergemuruh seolah ingin meledak.
"Jadi selama ini kalian masih berhubungan? Bahkan tadi kalian bertemu dan Hana mengungkapkan perasaan nya. Perasaan apa yang kamu utarakan pada suamiku Hana?" Geram Shafa, ia menggenggam kuat posel Rayyan seakan ingin menghancurkannya.
"Aku harus cari tahu" Gumam Shafa. Ia kembali meletakan ponsel suaminya di atas nakas setelah sebelumnya menscreenshoot pesan dari Hana dan mengirimnyaa ke handphonenya.
Shafa beranjak menuju balkon kamarnya. Ia berdiri menatap langit malam yaang nampak cerah namun tak secerah hatinya.
Tuhan...Apa yang harus ku lakukan? Kenapa mas Ray sampai hati membohongiku. Bukankah Hana sudah menikah? Kenapa kalian masih bertemu? Apakah Hana berpisah dengan suaminya karena mas Ray?
Tak terasa air matanya mulai membasahi pipi mulusnya.
"Sayang.." Suara Rayyan mendekati Shafa yang berdiri memegang pagar balkon. Ia segera menghapus air matanya.
__ADS_1
"Sayang kenapa?" Rayyan meraih bahu Shafa dan mengarahkannya untuk menghadapnya. Shafa tak mampu menatap mata Rayyan yang menurutnya menyimpan banyak rahasia.
Rayyan meraih kepala Shafa memeluknya. Shafa tak menolak tapi tidak juga bersuara.
"Bilang sama Mas, Shafa kenapa? Shafa ingin sesuatu atau....
"Mas ga selingkuh kan?" Ujarnya tiba-tiba.
"Rayyan melepaskan pelukannya daan menatap kedalam mata istrinya.
"Shafa ini ngomong apa? Mas harus gimana supaya Shafa percaya kalau mas ga macam-macam di belakang Shafa" Tanyanya. Rayyan berusaha tetap sabar menghafapi tingkah Shafa yang kian menjadi. Rasa curiganya yang semakin besar membuat Rayyan harus ekstra hati-hati karena kesalah pahaman seperti sore tadi bisa saja sewaktu-waktu terjadi.
"Cukup buktikan kalau mas tidak berbohong di belakangku" Shafa beralih masuk kedalam kamar dan berbaring memeluk guling.
"Ada apa Shafa? Gak biasanya kamu seperti ini ngambeknya? Apa masih karena Yola?" Rayyan mencoba menerka-nerka.
"Tidak. Sini bobo" Shafa menepuk kasur kosong di sebelahnya.
"Sudah masuk waktu Isya, Sholat dulu yuk baru boboan" Ujarnya. Shafa segera bangun mengambil wudhu dan memakai mukenahnya.
Ada apa lagi dengan Shafa. Kenapa semakin hari semakin bertingkah aneh? Apa benar kata tante Lilis kalau aku terlalu memanjakannya? Ya Allah ampunilah aku jika aku salah mendidik istriku.
"Bilang sama Mas, Kamu kenapa?" Rayyan menarik tangan Shafa yang ia gunakan untuk menutupi wajahnya. Shafa tak menjawab, bibirnya tak mampu berkata-kata. Ucapan Hana dalam SMS yang dia baca tadi terus terngiang di telinganya.
"Demi Allah Shafa, mas ga macam-macam di belakangmu mas hanya cinta sama Shafa" Ujarnya mulai kehabisan akal untuk meyakinkan Istrinya.
Bohong! Kamu bohong Mas! Kenapa kamu ga jujur kamu masih berhubungan dengan Hana? Kenaa harus bohong membawa-bawa nama Tuhan. Aku tak tahu apa yang kalian lakukan di belakangku tapi secepatnyaa aku akan mengetahuinya.
Shafa berusaha menguatkan hatinya. Dia mengusap kasar air matanya. Kemudian memeluk Rayyan dengan erat.
"Mas Ray jangan tinggalin aku, Apapun yang terjadi jangan tinggalin aku" Ucapnya. Shafa sangat takut kehilangan Rayyan. Entah sudah berapa kali ia menanyakan kalimat yang sama pada Rayyan. Ia takut kalau Rayyan akan kembali kepelukan Hana. Shafa jadi ragu bahwa Rayyan benar-benar mencintainya sepenuh hati.
"Ia sayang... Mas ga akan ninggalin Shafa" Ucapnya sambil mengecup puncak kepala Shafa.
"Shafa belum makan, Shafa mau makan di luar?" Tanya Ray. Shafa menggeleng.
"Tapi Shafa harus makan. Atau Shafa ingin makan sesuatu? Bakso atau martabak manis?" Tawarnya lagi. Shafa tetap menggeleng.
__ADS_1
"Aku ingin seperti ini saja" Jawabnya.
"Kalau begitu mukenanya di buka dulu ya" Rayyan membuka mukena pemberiannya waktu malam resepsi yang selalu digunakan Shafa untuk sholat. Setelah itu ia merapikan rabut Shafa yang berantakan.
Rayyan menuntun Shafa menuju tepat tidur kemudian memeluknya. Shafa menenggelamkan wajahnya di dada Rayyan. Nyaman! Tapi tak senyaman hatinya.
"Maaas, aku mau ijin ga ngajar 1 minggu boleh ya" Tanyanya.
"Hmm... Memangnya Shafa mau kemana kok izin?" Tanyanya heran.
Bukannya Shafa tidak nyaman bersama taante Lilis di rumah? Kenapa sekarang minta izin?
"Aku pengen refresing dan bersantai" Jawabnya.
Aku pengen ngikutin kamu mas dan bertemu Hana secara langsung. Kalau kamu bisa bertemu Hana di belakangku aku juga bisa mengawasimu di belakangmu.
"Terserah Shafa saja. Atau Shafa ingin ke rumah ibu? Sudah lama ya Shafa ga kesana. Pasti ibu senang kalau Shafa datang" Ujar Ray. Shafa hanya menggeleng.
Kalau aku kerumah ibu, aku ga akan fokus menangkap basah kamu dengan Hana.
"Mas, ingin makan kerak telor" Ucapnya. Tiba-tiba lidahnya ingin merasakan makanan yang menjadi ciri khas kota Jakarta itu.
"Ya udah Ayo, pake jaket ya. di luar dingin Ujar Ray. Shafa segera memakai sweeter dan pasminanya.
Mereka menuruni tangga dengan tangan saling bertautan. Meski kesal Shafa tak ingin Rayyan jauh-jauh darinya.
"Shafa mau kemana?" Tanyaa Nisa yang kebetulan keluar dari kamarnya.
"Gue mau beli kerak telor Nis, loe mau juga?" Tanya Shafa pada sahabatnya yang tengah hamil 3 bulan itu.
"Emm... boleh ikut ga? aku ingin makan Roti Boy" Ucap Nisa ragu-ragu.
"Loe ngidam Roti Boy Nis?"
"Sepertinya begitu Fa" Jawabnya.
"Ya udah Ayok!" Ajak Shafa tanpa pikir panjang.
__ADS_1
_______________________________
Assalamualaikum Readers..... Jangan lupa Like ,vote and Rate ya? Biar author semangat Up nya😘😘😍😍😍