
Malam itu Rayyan mendapatkan cecaran bertubi-tubi baik dari ayah maupun ibu nya. Selama hampir 32 tahun usianya, itu adalah kali pertama ia melihat ayah nya semarah itu pada nya.
Setelah mendengar penuturan Bi Lastri, rasa bersalah nya pun semakin tak terbendung. Ia terus saja merutuki kebodohan nya karena telah berbuat kasar samai menyakiti fisik istrinya.
Rayyan sudah sampai di rumah sejak 2 Jam yang lalu. Tapi, sampai hampir tengah malam, mata nya masih enggan terpejam.
Aku telah berbuat dzolim pada istri dan anak ku Ya Allah.
Sekelebat bayangan Shafa kembali muncul di ingatan nya. Bagaimana ia dengan tingkah manja nya yang tak ingin jauh dari nya, saat ia merajuk menginginkan sesuatu, bahkan saat ia marah dan kemudian melunak saat Ray mulai mengeluarkan dalil-dalil nya. Nyata nya semua itu hanya ulasan balik kenangan nya beberapa minggu yang lalu. Rayyan sangat merindukan saat-saat itu bisa terulang kembali.
Ia melangkahkan kaki menuju ruang ganti. Di buka nya satu per satu lemari pakaian Shafa. Ia menyentuh pakaian Shafa yang tersusun rapi di salam lemari. Ia bahkan tidak membawa selembar pakaian pun saat pergi. Ia beralih ke lemari kaca di sebelah nya. Puluhan tas branded dan sepatu import nya pun masih tertata rapi di dalam lemari tersebut. Entah berapa puluh juta yang telah Shafa habiskan untuk membeli barang-barang tersebut. Ray bahkan tidak akan keberatan jika kini Shafa ingin menguras semua harta nya untuk berbelanja asalkan dia kembali ke sisi nya.
Rayyan kembali merebahkan dirinya di tempat tidur sambil meraba tempat kosong di sebelahnya. Sudah hampir seminggu ia harus tidur seorang diri tanpa kehangatan seorang Shafa. Ia hanya bisa melepaskan kerinduan nya dengan memandangi beberapa foto yang ada di handphone nya. Ia juga baru menyadari bahwa istrinya benar-benar telah berubah. Tanpa sepengetahuan nya, Shafa telah menutup akun Instagram nya yang selama ini menjadi sumber pundi-pundi nya.
Rayyan pernah mengatakan bahwa foto-foto vulgar yang terpasang di sosial media bisa menjadi ladang dosa bagi Shafa. Tapi, ia tidak menyangka bahwa respon nya akan secepat itu, sampai menutup akun dengan jutaan followers tersebut. Rayyan juga menemukan sebuah buku Fiqih Wanita milik Shafa yang diam-diam di belinya. Baginya kini, Shafa adalah mutiara yang tak ternilai harganya, tak bisa di bandingkan dengan siapapun. Bahkan diri nya sendiri pun kini merasa tidak pantas untuknya.
Pukul 1 malam Rayyan kembali terjaga dari tidur singkat nya. Ia memutuskan untuk sholat Tahajjud, memohon ampun dan petunjuk agar segera di pertemukan kembali oleh istrinya. Tak ada yang lain yang di inginkan nya selain bertemu dengan Shafa dan menebus semua kesalahan nya.
πππππππ
"Abah, boleh besok Shafa ikut ke kota? Shafa ingin memeriksakan kandungam Shafa." Tanya Shafa pada abah yang baru pulang dari masjid pesantren.
"Tentu saja boleh. Ehm, Shafa, apa kamu tidak ingin bertemu suami mu Nak?" Tanya abah. Shafa sudah menceritakan semua pada abah dan umi tentang alasan dia pergi dari rumah. Dia tidak ingin menutup-nutupi masalahnya dari dua orang yang telah menganggap nya seperti anak sendiri.
Shafa terdiam. Jauh di lubuk hatinya ia sangat sangat merindukan Rayyan. Tapi, melihat bagaimana ia menampar dan membentak nya, ia jadi ragu kalau Rayyan akan memaafkan perbuatan nya pada Yola. Meski Shafa melakukan itu untuk mempertahankan Rayyan dan harga diri nya.
"Tidak apa-apa kalau Shafa belum mau. Abah hanya mengingatkan, Tidak baik terus-terusan lari dari masalah. Bisa jadi, saat ini suami Shafa sudah menyadari kesalahan nya dan sedang mencarimu." Ujar abah. Ucapan abah memang ada benar nya. Shafa sendiri tidak tahu sampai kapan akan berada di tempat itu. Meskipun nyaman, tetap saja itu bukanlah tempat Shafa untuk pulang.
"Shafa belum siap abah. Shafa belum siap bertemu mereka." Ujar Shafa dengan derai air mata.
"Sudah-sudah, jangan menangis. Kasihan cucu abah di dalam. Kamu harus kuat agar anak mu juga kuat. Kita doakan semoga suami mu di bukakan hatinya begitu juga dengan tante dan keponakan mu semoga Allah membukakan hatinya untuk bertaubat." Ujar abah menenangkan.
__ADS_1
.
.
.
Sore itu kediaman Rayyan cukup sepi, karena Rayyan belum pulang dari kampus. Bi lastri pun masih berada di rumah utama. Tinggalah Yola, tante Lilis dan Nisa yang satu jam lalu baru pulang dari toko.
"Mah, kita kasi peringatan dia sekarang." Ujar Yola penuh semangat.
"Ia ayo, mama sudah nggak sabar melihat dia angkat kaki dari sini!" Ujar tante Lilis.
Mereka berdua melangkah menuju kamar Nisa.
"Dog..dog..dog... Heii buka pintunya" Teriaknya. Nisa pun membuka pintu kamar nya, menatap heran dua orang wanita yang sudah berdiri dengan angkuhnya di hadapan nya.
Mau apa mereka?
"Lepaskan!!!" Teriak Nisa sambil menghempaskan tangan tante Lilis.
"Tante jangan macam-macam ya!" Ucap Nisa berusaha melawan. Mereka yang tengah ribut, tidak menyadari kedatangan Rayyan dan orang tuanya.
Ayah memberikan kode agar tidak mendekat menyaksikan keributan yang baru akan memasuki babak awal.
"Saya peringatkan sama kamu ya, Jangan coba-coba mendekati Rayyan!" Ujar tante Lilis. Ia mengira Nisa akan diam saja, tapi ternyata dugaan nya salah. Nisa adalah tipe wanita yang tidak bisa di singgung apa lagi ancam. Sifat egois dan keras kepalanya tersebut cukup di pahami oleh sahabat-sahbat nya.
"Atas dasar apa anda melarang saya mendekati pak Rayyan?" Jawabnya lantang.
"Dasar tidak tahu malu! Kamu dan sahabat mu itu sama saja. Sama-sama J***** dan murahan!" Teriak tante Lilis penuh emosi.
Mendengar ucapan tante Lilis ibu sudah tidak bisa menahan diri untuk muncul di hadapan tante Lilis dan memberi pelajaran tapi ayah menahan nya. Ia ingin menyaksikan sejauh mana tante Lilis akan bertindak.
__ADS_1
"Oh ya? Lalu apa bedanya dengan kalian? Setidak nya aku tidak pernah menggunakan cara licik dengan menghasut pak Rayyan dan menyakiti Shafa." Balas Nisa.
"Heh, kamu fikir kak Ray akan tertarik dengan wanita hamil yang suaminya tidak jelas seperti mu? Aku jadi kasian sama kak Ray, kenapa dia harus di kelilingi oleh wanita-wanita murahan bekas laki-laki lain seperti kamu dan kak Shafa!" Ujar Yola dengan nada sinis dan mengejek.
Kali ini Rayyan mulai geram mendengar ucapan Yola, ia sudah mengepalkan tangan nya. Namun lagi-lagi di tahan oleh ayah dan Bi Lastri.
"Asal kamu tahu, Pak Rayyan lebih dulu menyukai ku sejak kami berada di Kairo. Bahkan sebelum dia menikah dengan Shafa. Jadi kamu, jangan terlalu percaya diri." Balas Nisa yang membuat Yola dan tante Lilis semakin naik pitam.
"Jangan mimpi kamu! Saya akan pastikan kamu tidak akan menginjakan kaki lagi di rumah ini. Karena sebentar lagi Yola lah yang akan menjadi nyonya di rumah ini" Ujar tante Lilis penuh percaya diri.
"Huh, kalian terlalu percaya diri. Pak Rayyan saja tidak pernah menyentuh makanan Yola, bagaimana mungkin Yola akan menggantikan Shafa" Ejek Nisa.
"Kurang Aj*r!!!" Yola mendorong Nisa hingga terjatuh ke belakang.
"Cukup Yola!!! Cukup!!!"
Teriakan itu membuat 3 orang wanita tersebut terlonjak kaget.
_______________________________________
Hai..Hai.. Author balik lagiπ
Yang minta Shafa cepet ketemu sama mas Ray harap sabar ya. Katanya biar mas Ray nyesel duluπππ Yang pasti mereka akan tetep ketemu kok sekalian malam mingguanπππ
Mungkin 3 episode lagi baru Author akan mempertemukan mereka.hi.hi.hi. Author mau beresin dulu para serangga penggangguπ
Aku udah Up ya.. Jadi tolong Like, Vote and Rate nyaβ€οΈβ€οΈβ€οΈ
Ada yang penasaran dengan Authornya gag? Yang penasaran bisa cek profil ku di Fb. Nela Mandira Citra Pratiwi πππ
Thank You for reading. I Love You Allβ€οΈπππ
__ADS_1