
Sepanjang perjalanan Shafa hanya memandang di luar jendela dengan kebisuan. Rayyan memacu mobilnya dengan kecepatan sedang. Saat ini, kenyamanan Shafa adalah prioritas utamanya.
"Apa Shafa ingin sesuatu?" Tanyanya sambil melirik istrinya yang terlihat bosan. Entah itu pertanyaan ke berapa yang ia lontarkan sejak meninggalkan pesantren satu jam yang lalu. Dan jawaban yang di berikan Shafa tetap sama, menggeleng.
"Tidur lah, perjalanan kita masih lama. Mas akan membangunkan mu kalau sudah sampai" Ujarnya sambil mengusap kepala istrinya.
Shafa menarik nafas panjang. Memejamkan matanya, mencari kenyamanan dari posisinya saat ini. Ia berfikir apa yang akan ia lakukan setelah sampai di rumah nanti. Setelah sebulan menghilang, ayah tentunya sudah mendapat pengganti dirinya untuk meengajar bahasa Jerman di sekolah,, mengingat begitu banyak pelamar yang mengantri untuk menjadi salah satu bagian dari sekolah tersebut. Ia juga tidak mungkin tetap bekerja dalam keadaan hamil seperti saat ini. Terlalu berisiko untuknya, jika sewaktu-waktu ngidam itu datang, ia tentu akan menyusahkan banyak orang. Tapi, berada dirumah duduk diam menikmati kekayaaan suami juga bukan pilihan. Sejak Rayyan meminta semua barang berharga yang ia berikan pada Shafa, sejak saat itu pula ia berjanji tidak akan memakai uang suaminya lagi. Sekalipun nantinya makan dan minumnya tentu menjadi tanggungan kepala keluarga tersebut.
Tak terasa mereka sudah memasuki kawasan ibu kota, Shafa membuka matanya karena merasakan mual pada perut nya. Ia menutup mulutnya dengan meenggunakan tangannya. Hal itu tentu saja menarik perhatian Rayyan yangbsejak tadi fokus dengan jalanan yangbada di depan nya.
"Kenapa sayang? Mau muntah?" Tanyanya sambil mengurangi kecepatan mobil. Dengan cepat Shafa menganggukkan kepalanya. Rayyan menepikan mobilnya di jalanan yang agak lenggang kemudian berlari membukakan pintu untuk istrinya.
Shafa segera turun, dan memuntahkan semua isi perutnya di bawah pohon. ia terus sajaa muntah hingga tidak ada yang bisa ia keluarkan.
Dengan telaten Rayyan mengurut tengkuk istrinya dan mengelap pelipisnya yang berkeringat.
"Minum dulu" Ujar Rayyan sambil menyodorkan botol air mineral. Tapi di tolak oleh Shafa.
"Ayo, kita singgah istirahat di cafe depan." Ujar Rayyan sambil membantu istrinya berdiri dan memapahnya. Setelah memasangkan seatbelt pada Shafa, ia kembali menjalankan mobilnyaa menuju sebuah cafe.
Rayyan masih tetap merangkul bahu istrinya yang nampak pucat. Ia memilih duduk di kursi sofa agar Shafa bisa duduk dengan nyaman.
"Apa selama ini, seperti ini?" Tanya Rayyan.
Shafaa menggeleng, Karena memang selama sebulan terakhir ia tidak pernah mual apa lagi ngidam yang aneh-aneh. Terakhir kali ia merasakan mual adalah saat ia pergi dari rumah dan bertemu Briyan di jalan. Setelah itu semua berjalan normal sampai kemarin malam ia baru merasakan mual lagi.
"Apa kaamu ingin sesuatu sayang" Ujar Rayyan pada perut Shafa sambil mengelusnya.
"Aku mau Es Kelapa Muda" Ucapnya refleks.
Rayyan tersenyum "Ternyata lebih enak bicara dengan mu dari pada dengan Mommy mu sayang." Ujarnya.
"Huh" Shafa membuang mukanya.
Rayyan pun memesan Kelapa Muda sesuai dengan keinginan Shafa. Bukan hanya Es Kelapa Muda, ia juga memesan Jus Strawberry untuk jaga-jaga siapa tahu Shafa menginginkan nya.
"Hei.. Mr. Ray anda disini juga rupanya" Panggil seseorang yang sontak mengalihakan pandangannya.
Mati aku! jangan sampai Shafa salah paham lagi.
Wanita cantik, tinggi, bertubuh langsing bak model majalah datang menghampiri.
__ADS_1
"Assalamualaikum Bu Sonya." Sapa Rayyan sambil menangkupkan kedua tangan nya. Shafa yang di sebelahnya hanya melirik sekilas kemudian fokus dengan Es kelapa di hadapan nya.
"Ups, Sorry. Waalaikum salam Mr.Ray" Ujarnya. Sonya adalah salah satu rekan dosen Rayyan di kampus.
"Boleh saya gabung?" Tanyanya. Rayyan bingung menjawab nya. Mau di berkata boleh pasti akan membuat Shafa semakin merajuk. Mau berkata tidak, rasanya tidak sopan. Ia putuskan untuk bertanya pada istrinya.
"Sayang" Lirihnya.
"Silahkan Nona" Ujar Shafa dengan senyum yang di paksakan. Ia sengaja memanggil Nona pada wanita di depan nyaa itu, meski usia jauh lebih tua dari Shafa.
"Terima kasih, oh ya Mr. Ray kemana saja kok jarang kelihatan di kampus?" Tanya Bu Sonya.
"Saya ada sedikit urusan di luar" Jawab Rayyan. Hati nya sudah ketar-ketir. Ia takut Shafa akan beranggapan tidak-tidak dengan nya.
"Ingin sesuatu lagi?" Tanyanya lembut setelah melihat Shafa selesai meminum Es Kelapanya.
"Anyway, ini istri Mr. Ray?" Tanyanya. Ia baru memperhatikan wanita yang sejak tadi diam di samping Rayyan.
"Iya bu Sonya, ini istri saya" Jawab Rayyan.
"Oh, Hay. Saya Sonya teman Mr. Ray" Ujar nya sambil mengulurkan tangan.
"Mual lagi?" Tanya Rayyan. Shafa kembali mengengguk.
"Maaf bu Sonya, saya antar istri saya dulu." Ujar Rayyan yang dengan sigap menuntun istrinya menuju toilet.
Di kamar mandi Shafa kembali memuntahkan isi perutnya. Membuat Rayyan khawatir.
"Kita ke dokter ya? Mas khawatir terjadi apa-apa sama anak kita." Ujar Rayyan.
Shafa mengangguk. Karena memang sudah waktunya ia periksa kandungan dan melihat perkembangan janinnya. Setelah kejadian tempo hari di klinik kandungan, Shafa tidak pernah lagi mengecek kandungan nya di dokter. Ia hanya meminum vitamin yang dapatnya dari bidan.
"Maaf bu Sonya, saya duluan. Istri kurang enak badan." Pamit Rayyan pada wanita yang masih setia duduk di meja nya.
"Baiklah Mr. Ray. Sampai jumpa di kampus." Jawabnya.
Dasar genit! Sepertinya kamu tidak suka ayah mu dekat dengan perempuan lain Nak!
Kurang dari 15 menit, mereka telah sampai di klinik kandungan. Rayyan segera mendaftarkan istrinya di bagian administrasi. Setelah periksa tekanan darah dan menimbang berat badan, perawat yang bertugas mempersilahkan Shafa untuk masuk kedalam ruangan yang bertuliskan dr. Ellyana, S.P.OG.
Rayyan sangat antusias menemani Shafa periksa kandungan untuk pertama kalinya. Ia tak sedetikpun melepaskan pegangannya dari tubuh istrinya.
__ADS_1
"Nyonya Zidane, ini kehamilan pertama anda ya?" Tanya dokter
"Iya dokter." Jawab Shafa.
"Baiklah, silahkan berbaring di sini. Kita lihat perkembangan janinnya" Ujar dokter Elly.
Setelah memberikan gel pada perut Shafa, dokter Elly mengerakkan alat di seputar perut Shafa. Pandangan matanya tetap fokus pada layar monitor di depan nya.
"Nah, ini janin nya sudah mulai terlihat." Ia menunjukan gambar seperti kantung hitam dengan sebuah titik berbentuk seperti huruf c di bagian tengahnya.
Rayyan tersenyum bahagia melihat gambar yang tertera di layat monitor.
"Perkembangan nya cukup baik, ini usianya sudah memasuki minggu ke 12. Artinya sudah melewati trimester pertama. Sekarang kita dengar detak jantung nya?" Dokter kemudian menekan salah satu tombol pada layar monitor.nya.
Deg.. deg.. deg.. deg.. deg..
Suara detak jantung itu begitu terdengar bergemuruh seiring dengan garis naik turun yang terlihat di layar monitor. Rayyan tak kuasa meneteskan air matanya. Begitu juga dengan Shafa. Detak jantung malaikat kecil mereka sudah terdengar begitu jelas. Ia semakin mengeratakan genggamannya pada jari istrinya.
Ya Allah jaga dan lindungilah anak dan istriku!
"Apa ada keluhan selama masa kehamilan ini?" Tanya dokter, setelah selesai melakukan USG.
"Dua hari ini saya mual dan muntah dok, padahal sebulan sebelumnya baik-baik saja." Ujar Shafa.
"Mual dan muntah itu wajar terjadi di awal kehamilan. Dan masih banyak hal lain yang mungkin terjadi selama masa itu. Yang penting ibu tidak boleh kelelahan apalagi stress, karena itu akan berdampak pada perkembangan janin di dalam kandungan ibu." Jelas dokter.
"Oh ya, selama masa kehamilan ini, bapak harus lebih sabar ya pak! Karena pengaruh hormon, biasanya wanita hamil akan cenderung lebih sensitif dan mudah marah. Selain itu, biasanya ibu hamil akan menginginkan hal-hal di luar kebiasaan nya. Jadi, bila itu terjadi bapak jangan kaget." Ujar dokter kepada Rayyan yang sejak tadi mendengarkan penjelasan dokter dengan seksama.
"Untuk makanan, apa ada yang di larang dokter?" Tanyaa Rayyan. Ia lebih terlihat antusias dalam menggali informasi seputar kehamilan istrinya itu.
"Untuk makanan, sebaiknya jangan mengkonsumsi makanan yang mengandung pengawet, soda, dan junk food. Selebihnya boleh di makan. Usahakan makan dengan pola 4 sehat 5 sempurna." Terang dokter.
"Dan satu lagi, ini yang biasanya sering di tanyakan oleh kaum suami. Selama masa kehamilan, berhubungan suami istri tetap bisa di lakukan. Dengan catatan dilakukan dengan lembut dan frekuensinya di kurangi." Imbuh dokter yangbuat wajah Rayyan merah seketika.
Tidak taukah anda dokter saya sudah sebulan lebih berpuasa!
________
Hai..hai... Aku up lagi loh.. Jangan lupa like and vote ya...β€οΈππ
Yang nanya kenapa up nya dikit? Aku udah bagi masing-masung part itu 1000 kata lebih, jadi setiap eps yang aku up panjang nya nggak kurang dari 1000 kata.π Sebenernya aku pengen kasi visual di tiap eps. Hanya saja kalau ada visualnya reviewnya suka lama. Takutnya reader udah ga sabarβ€οΈπ
__ADS_1