Jodoh Pilihan Allah

Jodoh Pilihan Allah
Ngabuburit


__ADS_3

"Aku mau pelgi sama mommy ayah!"


"Mommy kan harus jaga adek Am, kalau adek nangis gimana? Sama ayah aja ya ngabuburitnya?" Bujuk Rayyan.


Sore ini ia berencana untuk ngabuburit bersama Zafran. Karena sejak awal Ramdahan hingga hari ke 18 Ramadhan mereka hanya sibuk dirumah bersama baby Am. Padahalkan Ramadhan tanpa ngabuburit rasanya kurang afdol. Walaupun dua hari lalu Rayyan dan Zafran sempat jalan-jalan dengan berkunjung ke rumah haji Usman sekaligus ziarah ke makam orangbtua Zafran. Dan kali ini mereka ingin ngabuburit dengan jalan-jalan sore sembari mencari takjil yang banyak di jajakan di pinggir jalan.


Zafran menjatuhkan dirinya di atas lantai sambil menendang-nendangkan kakinya.


"Atu mau sama mommy. Pokoknya sama mommy hua...hua" Zafran menangis menjadi-jadi sambil menendang-nendangkan kakinya di lantai.


"Ya udah iya..iya, mommy ganti baju dulu ya?" Shafa menenangkan Zafran yang sudah sesunggukan.


"Ada apa ini kok ibu dengar Zafran nangis?" Ibu yang baru datang langsung menghampiri mereka.


"Kebetulan ibu datang. Shafa titip Am dulu ya bu? Zafran pengen dibtemenin ngabuburit" Balasnya.


"Oh, iya. Mungkin Zafran kangen pengen jalan sama kamu Fa. Kalian pergilah, Am biar ibu yang jaga. Yang penting siapakan susunya ya"


Sebelum berangkat Shafa terlebih dulu memompa ASI buat baby Am. Beruntung Shafa tidak memiliki kendala dengan ASI nya. Justru ASI nya keluar cukup banyak, membuat Am tidak butuh susu formula lain selain ASI.


"Boleh coba nggak?" Goda Rayyan sambil melirik istrinya yang sedang memompa ASI.


"Nggak usah aneh-aneh mas! Batal loh puasanya" Balas Shafa sambil menutup botol steril yang sudah terisi setengah.


"Apa hubungannya dengan batal puasa? Mas cuma mau coba alatnya aja kok" Kilahnya.


"Nggak usah mas, Nanti mas malah pengen yang lain. Yuk buruan pergi keburu Am bangun" Shafa menarik suaminya keluar dari kamar.


Langit sore itu begitu cerah, matahari yang mulai bergerak ke barat menyisakan rona jingga yang begitu menyilaukan. Mobil Rayyan baru saja keluar dari gerbang perumahan Citra Land Permai yang mereka tempati menuju ke jalan utama yang tidak pernah sepi kendaraan terlebih di jam-jam seperti ini.


"Mas Ini mau kemana?"

__ADS_1


"Ke tamkot aja. Di skana banyak pilihan takjil" Ujar Rayyan.


Taman kota yang terletak sekitar 5 kilo meter dari tempat tinggal Rayyan memang menjadi salah satu tempat yang wajib di datangi untuk mengisi waktu ngabuburit. Tempat yang tidak pernah sepi saat Ramadhan itu menawarkan berbagai macam pilihan takjil buka puasa. Mulai dari aneka minuman, es esan, kue sampai sayur dan lauk pauk semua ada.


"Mommy atu mau belikan es klim adek Am ya mommy" Ujar Zafran yang tengah memeluk Shafa bagaikan anak koala.


"Adek Am belum boleh makan es krim sayang. Bolehnya cuma minum susu aja." Jawab Shafa.


"Tenapa mom?"


"Karena adek Am masih bayi nannti kalau adek Am sudah bisa lari-lari baru boleh" Balasnya.


Zafran sepertinya memang sangat merindukan momen bersama mommynya. Ia terus sajaa memeluk Shafa sambil sesekali mencium pipinya.


Shafa mengapit lengan Rayyan yang tengah menggendong Zafran menuju ke stand-stand penjual jajanan yang sudah berjajar rapi di pinggiran taman. Selama bulan Ramadhan beberapa ruas jalan di sekitar taman tersebut di tutup untuk memberikan ruang bagi pedagang kaki lima berjualan di sekitaran taman tersebut.


"Mas mau apa buat buka nanti?" Tanya Shafa sambil melihat lihat jajaran meja yang menyajikan minuman segar.


"Pisang ijonya 10 porsi ya bu" Ujarnya pada sang penjual setelah menghitung-hitung jumlah orang yang ada di rumahnya, termasuk ART, supir serta satpam.


Selesai membeli pisang ijo mereka bergeser mengelilingi stand-stand makanan yang lainnya. Satu jam menjelang buka puasa, tempat ini semakin ramai pengunjung, membuat beberapa penjual nampak kewalahan. Meskipun hanya di pinggir jalan tapi makanan yang di jual di tempat ini tak kalah dengan yang ada di resto atau mall. Di dalan taman juga nampak muda mudi yang tengah duduk memenuhi bangku-banhku taman.


"Rayyan!!!" Suara yang sangat di kenal Rayyan menarik perhatiannya. Ia menoleh mencari sumber suara yang berada di belakangnya.


"Tante"


"Rayyan, bagaimana kabarmu nak?" Tante Lilis tersenyum lembut pada Rayyan dan juga Zafran. Namun Zafran justru berbalik memeluk kaki ayahnya. Ia takut menatap tante Lilis.


"Alhamdulillah kami baik, Tante sendiri bagaimana? Dimana Yola?" Jawab Rayyan.


"Dia sedang cari klappertaart. Biasanya kalau bulan puasa banyak yaang jual disini" Klappertaart adalah kue khas Manado yang di buat dari campuran susu, telur, tepung dan daging kelapa muda.

__ADS_1


"Kamu sendiri Ray?"


"Aku sama Shafa tan, dia sedang beli kue buat Zafran" Rayyan mengangkat tubuh Zafran yang langsung memeluk erat lehernya.


"Nak..." Tante Lilis menyentuh lengan Zafran tapi Zafran malah menangis seperti melihat hantu.


"Cup...cup. Nggak papa sayang" Rayyan menepuk nepuk punggung Zafran yang masih menangis.


"Tante itu nakal ayah!" Bisiknya yaang belum berani berbalik.


"Zafran, nak. Maafin tante ya" Ujar tante Lilis sambil mengelus punggung Zafran.


"Mas!"


Shafa langsung membatu saat tante Lilis menoleh ke arahnya. Mau lari tak mungkin, menghampirinya pun enggan. Tante Lilis berjalan mendekati Shafa dengan mata berkaca-kaca, tak peduli saat ini ia sedang berada di mana, tekatnya sudah bulat. Ia benar-benar ingin minta maaf pada Shafa atas kesalahan nya dulu.


"Shafa" Lirihnya namun Shafa tak bergeming. Kakinya terasa berat untuk melangkah. Ada rasa sakit yang tiba-tiba menyusup hatinya.


Grep! Tante Lilis memeluk Shafa sambil menangis. Sedangkan yang di peluk hanya diam meski mata Shafa pun ikut berkaca-kaca. Bukan karena sedih tapi karena sesak mengingat perlakuan tantenya dulu pada dirinya.


"Shafa, maafkan tante nak. Tante salah. Tante sudah jahat dan salah menilai Shafa. Tante menyesal Shafa. Tolong maafkan tante" Ujarnya sambil terisak


"Sudah tante, Shafa pasti maafin kok. Kami harus segera pulang. Kasihan Am dirumah" Ujar Rayyan yang membuat tante Lilis melepaskan pelukannya pada Shafa.


"Tante ingin melihat anakmu Ray"Ujar tante Lilis sambil menyeka air matanya. Sejak Shafa melahirkan hingga kini usia anaknya 3 minggu, tante Lilis belum pernah sekalipun melihatnya, karena saat ia datang ke rumah Shafa kala itu, Shafa malah menghindar tak ingin menemuinya.


"Ayo mas kita pulang!" Ujar Shafa dingin.


"Maaf tante, kami pulang dulu. Kasian Am sendiri di rumah" Ujar Rayyan dengan sopan. Ia tidak mungkin memaksa istrinya untuk memaafkan tante Lilis di tempat ini. Ia tahu betul bagaimana kerasnya ego Shafa, meskipun ia yakin jauh di dalam hatinya ia pasti tersentuh dengan ketulusan tante Lilis.


Baru beberapa langkah mereka berjalan, Shafa mendadak berbalik. Hatinya cukup terenyuh menatap tante Lilis yang masih memandang mereka dengan tatapan sayu.

__ADS_1


"Datanglah ke rumah tante, jika ingin melihat Am"


__ADS_2