Jodoh Pilihan Allah

Jodoh Pilihan Allah
Mimpi?


__ADS_3

Aku dimana?


Gumamnya saat pertama ia membuka mata. Kepalanya masih terasa berat. Matanya pun masih terlihat sembab lantaran banyaknya air mata yang ia tumpahkan. Ia menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan, mencoba mengumpulkan kembali kesadarannya dan mengingat-ingat kejadian yang telah menimpa dirinya.


Astaga. Bukankah ini hari pernikahanku?


Ia sedikit melirik tubuhnya yang masih berbalut kebaya putih dan rok jarik berwarna coklat.


Lalu kenapa aku disini? Aku seperti bermimpi melihat Briyan di hari pernikahanku. Lalu mana suamiku?


Sonya menoleh ke kiri dan ke kanan tapi tak mendapati siapapun. Tak lama kemudian ia mendengar hendle pintu di tarik, ia segera memejamkan kembali matanya pura-pura tidur. Ia belum siap bertemu dengan suaminya.


Briyan baru saja keluar dari kamar mandi untuk mencuci muka. Berbaring di sebelah Sonya membuatnya ikut tertidur. Ia melakah menuju ranjang dimana Sonya sedang terbaring. Pandangan matanya melirik jam tangan yang melingkar di lengan kanannya.


Sudah jam 12 tapi kenapa belum sadar juga?


Briyan mulai khawatir. Namun, ia teringat kembali kata-kata Vina sebelum pergi, bahwa Sonya hanya butuh istirahat lebih.


Jantung Sonya berdegup kencang saat merasakan getaran di ranjang yang menandakan ada seseorang yang turut naik di atasnya.


Ya Allah tolong lindungi aku dari orang yang ada di dekatku. Aku belum siap ya Allah. Aku belum bisa melupakan Briyan. Batinnya menjerit saat ia rasakan sebuah tangan membelai lembut pipinya.


"Kenapa aku baru menyadari bahwa kamu sangat cantik Sonya" Ujarnya, mengamati secara detail wajah Sonya yang terlelap kemudian mendaratkan sebuah ciuman di bibir Sonya.


Huaaaa!!!! Apa yang kamu lakukan?


"Kapan kamu akan bangun Sayang, aku rindu kamu yang cerewet dan suka marah-marah. Aku rindu teriakan kamu, aku rindu omelan kamu dan aku rindu semua yang ada pada dirimu." Ujarnya sambil menopang kepalanya dengan tangan kanannya.


Suara itu!!!


Sonya segera membuka matanya, dan langsung terbelalak saat tatapannya bertemu pandang dengan sosok yang terus mengganggu fikirannya. Ia mengerjabkan matanya sambil menggeleng.


Tidak mungkin!!! Aku pasti sudah gila lantaran terlalu memikirkan Briyan.


Ia kembali membuka matanya. Kali ini di lihatnya wajah Briyan tengah tersenyum manis kepadanya.


"Akhirnya sadar juga. Selamat bangun istriku" Ucapnya sambil mencium kening Sonya. Sonya hanya mematung tak sanggup berkata-kata. Ia masih belum percaya dengan semua yang di lihatnya.


CUP!


Satu kecupan di bibir menyadarkan Sonya bahwa ia sedang tidak bermimpi. Ia menoleh menatap lekat wajah pria tampan yang sedang memandangnya dengan senyum mengembang di wajahnyaa. Sonya memberanikan diri untuk menyentuh wajah tampannya.


"Briyan?" Panggilnya lemah.


"Iya istriku" Jawabnya sambil menatap Sonya dengan penuh cinta.


"Istri? Jadi aku nggak mimpi?" Tanyanya mencoba meyakinkan keraguannya.


"Tidak sayang! Tuhan telah berbaik hati mengabulkan doaku" Ujar Briyan yang kini tengah berbaring saling berhadapan dengan Sonya. mata Sonya berkaca kaca, ia langsung memeluk tubuh Brian yang ada di hadapannya.

__ADS_1


"Terima kasih Bri. Terimakasih telah hadir sebagai pengantinku hari ini. Aku nggak tahu apa yang akan terjadi jika orang itu bukan kamu Bri." Ucapnya sambil terisak.


"Aku juga nggak tahu apa yang terjadi padaku jika kamu benar-benar menikah dengan orang lain" Ujar Briyan sambil mendekap erat tubuh Sonya.


"Tunggu...tunggu!!! Kenapa kamu bisa ada di acara pernikahanku? Dimana calon suamiku yang sebenarnya Bri?" Tanya Sonya sembari melepaskan pelukannya. Ia baru terfikir untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka dan keluarga. Bukankah semalam papa Sonya menolak Briyan mati matian. Dan juga kejadian di Singapura 2 hari lalu, dimana papa Sonya mengancam akan menghabisi Briyan. Tidak mungkin dia akan luluh secepat itu.


"Aku tidak tahu Son. Aku juga kaget dengan semua ini." Balas Briyan.


" Apa kamu mengancam papaku Bri? Atau kamu berlutut padanya?" Tanya Sonya lagi. Ia masih di selimuti rasa penasaran.


"Tidak Son, mana brani aaku mengancam papa mertua yang galak itu!" Jawab Briyan.


"Lalu?"


Flasback On


Setelah Sonya di paksa pulang ke Indonesia kala itu, Briyan pun segera ke apartemennya untuk bersiap-siap pulang. Ia sudah bertekad untuk memperjuangkan Sonya dan meyakinkan papa Sonya bahwa dirinya pantas bersanding dengan Sonya. Briyan pun akan nekad menggagalkan pernikahan Sonya dengan laki-laki pilihan papanya.


Sebelum meninggalkan Singapura, Briyan menyempatkan diri mengunjungi sebuah pusat perbelanjaan terbesar di negara itu. Ia menuju sebuah toko perhiasan yang menjual perhiasan terbaik dunia. Briyan ingin menunjukan bahwa dirinya benar-benar serius dan mencintai Sonya. Ia memilih sebuah kalung berantai kecil dengan liontin tak begitu besar berbentuk hati yang terbuat dari susunan berlian kualitas terbaik. Untuk mendapatkan kalung itu, Briyan harus menguras hampir seluruh isi tabungannya. Semua itu ia lakukan demi wanita yang sangat berharga dalam hidupnya meskipun ia baru menyadarinya.


Kedatangan Briyan di sambut senang oleh keluarganya. Namun, papa Briyan begitu emosi dan marah begitu melihat wajah putranya babak belur, di tambah lagi penuturan Briyan bahwa selama ini ia pergi bersama Sonya untuk menghindari perjodohan. Papa Briyan melakukan hal yang sama dengan papa Sonya. Ia menyuruh Briyan melupakan Sonya.


"Lupakan perempuan itu!!! Papa tidak akan menjodohkan kamu dengan anak dari pria yang sudah membuatmu babak belur" Ujar Papa Briyan sesaat setelah Briyan tiba di rumah.


"Please pa, jangan batalkan perjodohan ini. Briyan sangat mencintai Sonya pa. Tolong bantu Briyaan meyakinkan om Adam agar mau menerima Briyan pa" Briyan memohon dengan wajahbmelas pada papanya.


"Tidak Briyan! Sekali papa bilang tidak berarti tidak!" Ucap papanya dengan penuh penegasan. Briyan tahu betuk bahwa papanya adalah orang yang tidak suka di bantah.


"Bukankah dari awal kamu tidak menginginkan perjodohan ini Bri? Kami sudah mengabulkannya. Kami tidak mungkin menarik ucapan kami kembali bahwa perjodohanmu dengan Sonya telah berakhir." Ujar mama yang memiliki pemikiran sama saja dengan papa.


Malam itu, Briyan nekad menemui Sonya seorang diri. Ia sudah siap dengan segala resiko, bahkan jika harus mati di tangan papa Sonya. Baru saja ia tiba di depan pagar rumah Sonya beberapa bodyguard telah menahannya. Ia berdebat cukup lama dengan para body**guard yang berjumlah 4 orang itu. Hingga ia mendapatkan cela untuk masuk saat mereka tengah sibuk menceramahi Briyan. Ia segera berlari menuju pintu utama namun naas nya ia kembali tertangkap oleh pria pria berseragam hitam itu.


Malam itu menjadi malam yang paling menyakitkan bagi Briyan. Perasaannya benar-benar hancur saat menatap Sonya untuk terakhir kalinya. Hatinya terasa teriris saat melihat Sonya menangis menumpahkan air matanya. Semalaman ia tak bisa terlelap, karena bayang-bayang Sonya dengan tatapan sendunya selalu menghantui fikirannya. Hingga ia membulatkan tekad untuk pergi sejauh mungkin dari negara ini. Malam itu juga ia memesan tiket penerbangan menuju Los Angeles tempat dimana ia menimba ilmu dahulu. Ia menyipakan semua keperluannya di dalam koper. Ia sudah menyerah untuk menggapai Sonya. Karena semakin ia berusaha, semakin ia akan menyakiti Sonya. Ia tidak ingin Sonya mendapat perlakuan kasar lagi dari pengawal orang tuanya.


Briyan mengangkat kopernya menuruni anak tangga yang ada di rumahnya. Ia terkejut saat melihat banyak sanak keluarga yang berkumpul di ruang keluarga. Beberapa saudara Briyan yang ada di luar kota pun hari itu telah berada dirumah Briyan.


Mau ada acara apaan sih? Gumamnya saat melihat mereka mengenakan pakaian yang tak biasa.


"Eh Bri, mau kemana?" Tanya papa yang juga sudah rapi dengan jas hitam dan peci hitamnya. Ia melihat adiknya yanh bernama Bastian juga sudah rapi dengan pakaian senada.


"Briyan mau ke LA pa, Briyan ingin liburan sekalian menenangkan diri" Ujarnya sekalian berpamitan pada sang papa.


"LA?" Papa terlihat Syok mendengar jawaban Briyan.


"Iya pa, untuk apa Briyan berada di sini jika wanita yang Briyan cintai justru akan menikah dengan orang lain." Jawabnya dengan tatapan lesu.


"Kamu benar-benar mencintainya Br" Tanya papa sambil menatap lekat putranya tersebut.


"Apakah Briyan terlihat main-main pa?" Tanya Briyan balik.

__ADS_1


"Tidak!!! Tapi sebelum pergi, kamu harus ikut kami terlebih dahulu. Setelah itu, kamu boleh pergi sejauh yang kau inginkan" Ujar papa serius.


"Kemana Pa?" Tanya Briyan bingung.


"Jangan banyak tanya. Ini menyangkut hidup dan matimu" Ujar papa.


"Briyan sudah beli tiket pa, satu jam lagi take off"


"Papa akan menggantikannya dengan tiket keliling dunia! Sekarang ganti bajumu dan segera bersiap" Ujar papa dengan penuh keseriusan.


Awalnya Briyan mengira akan di ajak menghadiri acara keluarga, namun fikiran tersebut di tepis saat ia melihat papa Sonya juga berada di tempat itu. Terlebih ia di buat terkejut saat sang MC mengumumkan kedatangan mereka dan mempersilahkan mereka untuk duduk di sekitar meja kecil bertaplak putih tersebut.


"Aku harus pergi" Briyan berbalik hendak meninggalkan tempat acara tersebut namun lengannya di cekal oleh papanya.


"Mau kemana Bri?" Tanya papanya.


"Apa papa ingin membunuh Briyan dengan menyuruh Briyan menyaksikan pernikahan Sonya pa?" Tanyanya lantang. Ia yakin itu adalah pernikah Sonya, karena papa dan kakak Sonya juga berada di tempat itu. Papanya sedang duduk bersila di samping laki-laki yang ia yakini sebagai penghulu.


"Benar! Tapi pernikahan ini tidak akan berlangsung jika mempelai prianya pergi" Sahut papa Sonya tiba-tiba.


"Maksud Om?" Tanya Briyan keheranan.


Papa Sonya berdiri menghampiri Briyan.


"Apa kamu belum paham juga? Baiklah, sekarang om berikan pilihan. Kamu yang menikahi Sonya atau Sonya aku nikahkan dengan pria lain." Ucap papa Sonya datar dan dingin.


"Saya yang menikahi Sonya!" Jawabnya cepat.


"Bagus!!!"


"Bisa kita mulai pak akad nikahnya?" Tanya bapak yang ternyata adalah seorang penghulu.


"Bisa pak" Jawab papa Sonya mantap.


"Apa yang kamu tunggu! Cepat duduk" Ujar papa Briyan sambil menarik anaknya yang tengah bengong agar duduk di depan penghulu.


"Ananda Briyan Utama apakah ananda siap untuk di nikahkan dengan ananda Sonya Adam binti Faisal Adam?" Tanya pak penghulu.


"Siap!" Jawab Briyan lantang.


"Baiklah, apa mahar yang akan ananda berikan kepada calon istri ananda?" Tanyanya lagi, membuat Briyan bingung. Ia menoleh ke kiri dan kanan. Ia sama sekali belum memiliki persiapan untuk ini.


"Cepat jawab Bri!" Sahut papa Briyan sambil mengulum senyum melihat putranyaa kebingungan. Mereka sengaja mengerjai Briyan untuk melihat keseriusan Briyan.


"Sa..Saya akan memberikan 500 juta sebagai maharnya." Ucap Briyan mantap.


"Hanya 500 Juta Bri?" Ledek kakaknya.


"Karena itu adalah uang terakhir yang Briyan peroleh dari jerih payah Briyan sendiri. Bukan uang papa apalagi uang perusahaan" Ucapnya dengan penuh keyakinan.

__ADS_1


Aku tidak salah menikahkan putri ku dengan kamu Briyan.!!! Gumam papa Sonya yang sangat terkesan dengan ucapan Briyan.


__ADS_2