Jodoh Pilihan Allah

Jodoh Pilihan Allah
Hadiah dari Makkah


__ADS_3

Karina melangkah menuju ke arahku. Aku jadi canggung gini sih. Dia memelukku memberikan cipika cipiki pada pipiku.


"Thank you Fa" Ucapnya. Matanya memancarkan kebahagian dan ketulusan. Aku tahu, Karina adalah gadis baik dan sabar. Dialah yang sebenarnya selalu ada di samping Sam selama ini. Ketika kami bertengkar Karina adalah orang pertama yang di temui Sam untuk menenangkan dirinya. Dia bukan hanya sekedar sahabat. Lebih dari itu, Karina adalah wanita yang sangat tangguh yang mampu menahan sakit demi pria yang di cintainya. Sekarang, ketulusan dan ke iklasannya berbuah manis. Pada akhirnya dialah tempat Sam kembali pulang.


"Terima kasih juga untuk selalu berada di samping Sam. Kalian harus bahagia!" Ucapku menunjukan senyuman termanisku.


"Oh ya, kalian disini ngapain?" Tanyaku pada Sam dan Karin.


"Kami akan menikah minggu depan Fa, kalian datang ya" Ujar Sam yang berdiri di sebelah suamiku.


"Karin dan Sam mau menikah?" Tany Mommy tiba-tiba. Pasti si mommy kegirangan mendengar berita ini.


"Puji Tuhan tante, kalau sempat tante datang ya" Kataa Sam dengan sopan.


"Wah, Selamat ya Karin, Sam" Momny memeluk Karin. Tiba-tiba sikap mommy berubah 180 derajat menjadi ramah kepada Sam.


"Oh ya kalian silahkan pilih-pilih tante mau urus gaun Shafa dan Ray dulu" Ujar mommy sebelum meninggalkan kami menyusul ibu mas Ray di dalam butik.


"Kalian, Cari gaun juga?" Tanya Karin.


"Iya dong, 2 minggu lagi resepsi pernikahan kami di gelar. Kalian harus hadir. Titik" Ucapku.


"Kami usahakan. Kita kan butuh honeymoon juga kali Fa" Ucap Sam. Dasar Samuel, belum juga nikah udah mikir honeymoon.


Setelah pertemuan dengan Sam dan Karin aku dan mas Ray melanjutkan berbelanja kebutuhan lain. Aku memilihkan beberapa pakaian untuk mas Ray dan diriku. Mataku serasa menemukan harta karun begitu melihat jajaran dress sexy nan cantik yang terpasang di manekin.


Wah ini model terbaru musim ini, Aku memilih beberapa yang menurutku paling oke. Ya ampun! Aku menoleh mendapati mas Ray yang masih memperhatikanku. Gara-gara liat dress ini aku jadi lupa kalau ada makhluk Tuhan paling ganteng yang menemaniku.


"Maas... Aku boleh ya beli itu. ya..ya..ya?" Ucapku manja sambil mengedip ngedipkaan mataku agar Mas Ray mengizinkan.


"Boleh tapi hanya untuk di pakai di dalam kamar" Ucapnya datar. Jiah, baju bagus gitu cuma mau di pake di kamar doang? percuma dong beli. Orang aku maunya buat ku pamerin di IG. Tapi ga apa deh, yang penting beli aja dulu.


"Ok boss" Ucapku kegirangan.


Akhirnya aku membeli beberapa lembar dress dengan warna beda-beda. Senangnya hatiku. Kalau gini terus aku rasanya ingin hidup 1000 tahun berada di sisimu Mas.

__ADS_1


Setelah selesai belanja, kami sempetin nongkrong bareng Amel dan Vira sekalian mereka kenalan dengan Mas Ray. Reaksi ke duanya begitu ngeliat mas Ray sungguh di luar dugaan. Mereka seperti melihat oppa - oppa yang selalu seliweran di layar laptopku. Pake acara minta foto bareng lagi. Ngeselin banget kan.


"Mass... mas tadi kok ga mau salaman sama temen aku sih? Mas ga suka ya sama teman-temanku?" Kami saat ini sedang dalam perjalanan pulang menuju rumah. Tadi waktu di cafe, Amel dan mengulurkan tanganbya untuk berkenalan eh si mas Ray malah nangkupin taangan di dada. Kan aku jadi ga enak sama mereka.


"Bukan muhrim sayang. Berdosa." Ucapnya kalem.


"Apa-apa bukan muhrim, emang muhrim itu siapa sih mas?" Tanyaku ketus. Aku tuh suka sebel kalau mas Ray mulai menggunakan istilah-istilah aneh kayak gitu.


"Muhrim itu artinya orang yang tidak boleh di nikahi, seperti ibu, saudar kandung, anak itu tidak boleh di nikahi sehingga kita boleh bersentuhan langsung dengannya" Jelasnya sambil mengacak rambutku. Emmezz deh aku.


"Lha terus kenapa mas sentuh aku, cium aku, "ea ea" in aku. Aku kan bukan muhrim dong berarti" Tanyaku kesal mendengar jawaban mas Ray.


"Kamu lupa, kamu istri mas? Kalau udah jadi istri berarti udah halal diaa-apain termasuk di "ea ea" in" Ucapnya terkekeh menirukan istilah yang ku buat.


"Mass!" teriakku kesal.


"Nih rasain!" Aku mencubit pinggangnya.


"Aw.. aw Sakit Shafa, Udah.. udah mas ga fokus ini" Ucapanya yang masih berada di belakang kemudi.


"Iya.. Iya... Mas ga akan nyebelin lagi. Udah ya! Mas janji nanti malam akan "ea ea" in kamu lagi" Ucapnya sambil terkekeh. Membuatku semakin kesal.


Sesampainya di rumah aku langsung mandi karenaa ga tahan seharian memakai baju tertutup. Aku mencoba beberapa baju yang ku beli. Cantik! itulah kata pertama yang terucap saat ku lihat pantulan diriku di kaca.


Kulihat mas Ray baru keluar dari kamar mandi . Baru aku mau menyentuhnya dia malah bilang "Mas Udah wudhu sayang". Ngeselin ga tuh. Wudhu kan bisa di ulang, lagian belum waktunya shalat magrib. Aku gangguin ah. Aku sengaja mepet-mepet kepadanya yang sedang duduk di sofa paanjang di kamar kami.


"Shafa.." Tegurnya


"Hmmm" Ucapku terus memepetnya sampai di pinggir. Dia meletakan bukunya dan tiba-tiba mendekapku. Dia melingkarkan tangannya di perutku. membuatku susah bergerak.


"Sengaja mau godain mas?" Tanyanya menyandarkan dagunya di bahu kananku.


"Lagian mas sih, aku cuma mau sentuh aja ga mau"


"Kan udah di bilang udah wudhu. Kalau mau sentuh ntar malam aja, mau di apain aja mas iklas deh" Ujarnya. Mas Ray ni kalau di kamar omangannya suka ga di filter, asal njeplak aja.

__ADS_1


"Maaaas.." Panggilku manja.


"Mas beneran ga pernah pacaran?" Tanyanku. Dia pan pernah bilang pacaran haram, berarti dia ga pernah dong pacaran.


"Enggak" Jawabnya singkat. Wah, berasa dapat *J*acpot ni aku.


"Berarti aku yang pertama kiss mas dong?" Tanyaku lagi.


"Enggak" Jawabnya dari tadi enggak-engak terus sih.


"Yang pertama ibu dong" Ucapnya masih pada posisi nyender d bahuku.


"Sudah masuk waktu magrib. Aku bergegas mengambil wudhu dan segera mengambil posisi d belakang imamku. Kalau ada mas Ray perasaanku semangat banget mau Sholat, tapi kalau ga ada suka males malesan, nanti nanti akhirnya kehabisan waktu.


"Shafa bisa mengaji?" Tanyanya. Ya elah, cuman ngaji doang ya bisalah. Gini gini dulu waktu jaman SMP aku pernah lo ikut lomba tilawah karena kata pak Ustad suara Shafa bagus. Eh as giliran tamat SMP aku lebih sering ikut lomba nyanyi.


Aku memang sering denger mas Ray ngaji tiap subuh atau habis magrib biasanya, tapi aku sendiri males mau ngaji.


"Bisa" Jawabku singkat. Aku melihatbdia membuka laci di sebelahnya. Wow apa itu? Seperti Al-Quran, Cantik banget covernya perpaduan warna Dusty pink dan putih. *L*ook! bagian bawah sampulnya ada tulisan timbul bertinta emas Zidane & Shafa. Uuhhh.. So sweet banget.


"Ini buat Shafa"


"Waah...Cantiknya" Aku membolak balik Qur'an tersebut dengan perasaan bahagia.


"Itu mas pesan khusus waktu di Mekkah"


"Terima kasih" Aku menyunggingkan senyum lebar.


"Sekarang baca!" Titahnya. Hah?, jangan sampe aku lupa hurufnya, Pan udah lama banget aku ga baca ginian. Ya Allah bantu aku. Perlahan ku buka Al Quran ku dari halaman pertama. *B*ismillah..


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2