Jodoh Pilihan Allah

Jodoh Pilihan Allah
Pulang


__ADS_3

Acara Milad pesantren malam itu berjalan dengan lancar. Ayah dan ibu sudah kemabli ke rumah setelah sholat Isya, sedangkan Rayyan masih tetap tinggal di pesantren. Ia tak mau terpisah lagi dari istri yang teramat sangatbia cintai.


Satu jam yang lalu ummi menyuruh Shafa masuk ke dalam rumah karena khawatir ia akan mual kembali. Saat ini ia berada di kamar tamu yang telah ummi siapkan untuk nya dan Rayyan. Karena meskipun sudah bertemu, nampaknya mereka butuh waktu berdua untuk berbicara dari hati ke hati.


Setelah drama pertemuan suami istri yang lama terpisah sore tadi. Shafa hanya diam. Ia sam sekali tidak mengucap sepatah kata pun. Jika di tanya, ia hanya akan mengangguk dan menggeleng.


Setelah berada di kamar ia mengganti pakaian nya dengan rok panjang dan sweeter. Selama di pesantren ia mulai terbiasa memakai rok panjang dan pakaian serba panjang lainnya. Ia berbaring di sisi ranjang menghadap ke tembok.


Nak, apa kamu senang ayah mu datang? Maafkan Mommy, tapi mommy belum bisa menerimanya kembali. Rasa nya masih terlalu sakit. Jika saja kita tidak pergi, pasti dia masih mempercayai ucapan dua wanita ular itu. Rasa nya sakit, mengetahui dia lebih memilih mereka di bandingkan mommy.


Shafa mencoba untuk memejamkan matanya sebelum Rayyan datang, namun rasa kantuk tak jua menyergapnya. Ia mencoba menggambar garis-garis lurus dan lingkaran dengan telunjuknya pada dinding putih dihadapannya.


Ceklek,


"Assalamualaikum"


Seseorang membuka pintu dan mengucap salam. Sudah pasti itu adalah ayah dari janin yang sedang di kandung Shafa. Tidak ada balasan dari salam nya. Rayyan tahu, Shafa belum tidur terlihat dari jari tangannya yang masih bergerak seolah menulis pada tembok di depan nya. Ia juga tahu bahwa Shafa belum sepenuhnya memaafkannya. Tapi, setidaaknya dengan adanya Shafa di sisinya kembali sudah membuatnya jauh lebih tenang walau harus di diamkan.


"Sayang" Panggilnya lembut. Masih juga tidak mendapat balasan. Biasanya, ia akan mengeluarkan hadis atau dalil di saat seperti ini, tapi rasanya percuma karena kesalahannya memang sangat fatal dan tidak mudah di maafkan.


Rayyan merangkak naik ke atas tempat tidur mensejajarkan tubuhnya dengan istrinya. Ia memberanikan diri untuk memeluknya dari belakang. Tidak ada penolakan.


"Sayang aku tau kamu belum tidur" Ujarnya yang tidak juga di jawab. Perlahan ia membalikan tubuh Shafa untuk menghadap ke arah nya.


Tidak ada penolakan. Ia saat ini bisa leluasa memandangi wajah istrinya yang terlihat agak pucat. Nampak rembesan air pada bulu matanya yang lebat dan lentik itu. Rayyyan memandangi lekat-lekat wajah di hadapan nya itu. Ia mengarahkan tangannya untuk meraba pipi mulus yang pernah menjadi korban tangan kasarnya.


"Maafkan aku Sayang" Cicitnya lirih.


"Maafkan ayahmu nak" Tangannya beralih mengusap perut Shafa.


"Sayang, tolong jangan seperti ini. Mas sudah cukup tersiksa selama ini tanpa kamu" Ujarnya sambil membelai kepala istrinya.


Shafa membuka matanya, ia menatap tajam pada pria di hadapan nya itu.

__ADS_1


"Kamu pikir hanya kamu yang tersiksa mas? Aku dan anak ku jauh lebih tersiksa saat harus pergi tanpa membawa apa pun. Seandainya kamu juga menggambil handphone milikku waktu itu. Mungkin saat ini aku sudah jadi gelandangan di jalanan." Ujar Shafa. Berkat handhone mahal dari sang Daddy lah ia bisa bertahan.


Mendengar hal itu hati Rayyan seperti di iris iris. Perih! Ucapan yang pertama kali ia lontarkan berhasil membuat air mata Rayyan kembali tumpah.


"Tolong jangan bicara seperti sayang. Mas benar-benar menyesal. Harus dengan apa Mas menebus nya? Mas berdosa sama kamu dan anak kita. Kamu boleh ambil semua milik Mas, semuanya milik kamu sekarang." Ujarnya sambil memgang bahu istrinya.


Shafa mengalihkan pandangannya menatap langit-langit kamar.


"Tidak perlu, tanpa uang mu pun aku masih bisa hidup!" Ucapan Shafa bagaikan pisau tajam yang menghujam. Rayyan selama ini telah salah menilai istrinya.


"Aku tidak bisa hidup tanpa kamu Shafa" Akhirnya kalimat klise yang sering di dengar di serial ikan terbang itu meluncur juga dari mulut Rayyan. Suara Hati Suami, itulah judul yang tepat untuk menggambarkan dirinya saat ini.


"Sayang, Aku mohon maafkan aku" Ujarnya lagi dengan suara yang sudah serak.


"Kembalilah menjadi Shafa nya Mas seperti dulu, Mas kangen kamu Shafa?" Rayyan bergerak mensejajarkan wajahnya dengan perut Shafa. Dipeluknya perut yang sudah tidak rata itu. Di ciumnya beberapa kali.


"Nak, Maafkan ayah Nak. Ayah janji tidak akan menyakiti kalian lagi" Ujar Rayyan yang masih memeluk perut istrinya itu.


"Apa kamu ingin sesuatu Nak?" Rayyan memcoba berbicara pada perut Shafa.


"Tidak" Jawab Shafa ketus.


"Kenapa?" Tanya Rayyan masih berada di perut Shafa.


"Karna Mommy ku tidak punya banyak uang, aku tidak ingin menyusahkan nya."Jawabnya ketus, seolah-olah dialah yang sedang di ajak bicara.


Rayyan tersenyum mendengar Shafa menjawab setiap pertanyaan yang ia lonyarkan pada perut nya.


"Sekarang ayah mu di sini. Mintalah apapun yang kau inginkan. Ayah akan mengabul kan nya" Ujarnya sambil mengusap lembut perut tersebut.


"Tidak usah repot-repot." Ujar Shafa.


" Baiklah, besok kita pulang ya Nak. Apakah kamu tidak rindu rumah, nenek, dan kakek mu?" Tanya Rayyan. Tapi kali ini Shafa tidak menjawab.

__ADS_1


Rayyan tidak ingin berbicara lagi karena waktu sudaah hampir jam 11 malam. Ia bergeser membalikkan kembalibtubuh Shafa membelakanginya dan mendekapnya dari belakang. Nyaman! Itulah yang keduanya rasakan.


Semoga esok akan lebih baik lagi.


Seusai melaksanakan sholat subuh, Rayyan menghabiskan waktunya di masjid pesantren bersama abah.


"Apa kamu akan mengajaknya pulang Rayya" Tanya abah seusai melaksanakan pengajian subuh.


"Iya, abah. Rayyan tidak bisa lagi jauh dari nya. Rayyan ingin memperbaiki dan menebus kesalahan Rayyan padanya." Ujar Rayyan.


Abah menepuk nepuk bahu Rayyan, "Bawalah ia pulang, didiklah ia dengan baik karena sesungguhnya Shafa adalah perempuan yang baik, hatinya tulus. Bulan lalu, setelah beberapa hari berada disini dia memberikan infaq yang cukup besar untuk pesantren. Dia bilang ingin belajar lebih banyak tentang agama. Sepulang dari sini tugas kamu adalah mendidik nya Ray. Karena tugas suami bukan hanya memberi nafkah tapi juga ilmu."


Setelah berbincang cukup lama, mereka kembali ke rumah utama. Matahari sudah mulai menunjukkan sinarnya perlahan menggerus kabut dingin yang menyelimuti pagi. Shafa sudah berganti baju dengan memakai plisket panjang dan tunik se lutut.


Seusai sarapan mereka semua berkumpul di ruang tengah. Rayyan baru saja masuk setelah memanasi mobilnya.


"Shafa bagaimana? Apa sudah siap untuk pulang?" Tanya abah. Shafa hanya menunduk tak menjawab.


"Abah tahu ini berat, tapi tempat terbaik untuk seorang istri adalah rumah suaminya. Disanalah Ridho Allah berasal." Shafa kemudian mengangguk.


"Bilqis, bantu kak Shafa bersiap" Perintah abah.


"Kak Shafa mau pergi." Tanya Bilqis dwngan mata berkaca-kaca. Shafa sudah di anggap seerti kakak sendiri oleh gadis berusia 14 tahun itu.


"Kakak akan sering main kesini." Jawab Shafa sambil merangkul gadis di sebelahnya itu.


"Janji ya Kak?" Ucapnya.


"Iya. Kalau libur Bilqis bisa main ke rumah kakak" Ujar Shafa.


"Ayo kak, Bilqis bantu berkemas." Ajak Bilqis.


"Tidak usah Bilqis, kakak tidak akan membawa apa-apa." Ujarnya

__ADS_1


__ADS_2