
Nafas keduanya semakin memburu menuntut hal yang lebih dari sekedar berciuman. Hawa dingin ruangan ber AC ditambah sasana gerimis di luar seakan tak mampu meredam panas di tubuh mereka yang menuntut untuk segera tuntaskan.
"Emmh... Mash kamu yakin ini aman?" masih sempat sempatnya Shafa bertanya dan kembali menghentikan aktifitas pada bibir Rayyan.
"Yakin sayang, Mommy sudah menghitung jadwal masa subur kamu" Ucap Rayyan kembali merengkuh tubuh istrinya. Ia menarik lengan Shafa agar duduk di pangkuannya. Posisi yang sangat menguntungkan bagi Rayyan. Ia bisa leluasa menjelajahi bagian depan tubuh Shafa.
Kegiatan keduanya terhenti saat terdengar suara rengekan Am yang berhasil mengusik Rayyan di sela-sela usahanya menjamah kembali tubuh Shafa.
Am, mengertilah nak!
Rayyan memejamkan matanya, menarik nafas dalam saat rengekan tersebut berubah menjadi tangisan. Baru saja ia melepaskan cardigan mommy nya dia sudah bangun mengganggu malam pertama kedua mereka. Shafa segera berlari menuju box bayi yang terletak tepat di sebelah ranjangnya. Menidurkan Am di dalam box bayi itu juga merupakan ide yang beberapa waktu lalu di cetuskan oleh otak jenius Rayyan, alasannya untuk menjaga agar Am tidak tertindih jika Rayyan tanpa sengaja bergerak bebas. Alasan, tetap saja alasan. Karena pada kenyataan nya Rayyan yang kalau tidur sangat tenang tak banyak gerak vampir dalam peti kecuali jika ada maunya, dia akan bergerak bebas tanpa mengenal waktu apakah tengah malam, dini hari atau pagi buta.
"Ngompol mom?"
"Tidak, sepertinya dia haus" Shafa menggendong Am dalam posisi siap menyusu. Dan benar saja ia langsung melahap sumber makanannya sesaat setelah Shafa mengeluarkan payud*ranya.
Rayyan mendengus kesal "Mulai besok Am mau ayah kasi compeng biar nggak ganggu" Ucapnya. Ck, benar-benar menguji kesabaran seorang Rayyan.
"Ya Ampun mas, anak baru 3 bulan udah mau di kasi compeng aja. Aku nggak ngijinin!" Balas Shafa.
"Cuma kalau malam aja mom, ya nak ya? Gantian sama ayah kan nak" Ia mengusap pipi gembul Am yang sudah mulai terpejam sambil menyusu.
Kurang lebih 20 menit Shafa baru berhasil menidurkan kembali Am dengan nyaman di box nya. Sedangkan Rayyan sudah menunggu dengan wajah kusut di sisi ranjang sambil memainkan ponselnya.
Shafa meraih remote lampu di atas nakas dan langsung menekan tombol untuk mengubah lampu terang menjadi lampu tidur remang remang. Hal itu membuat Rayyan langsung berbalik menoleh pada Shafa yang sudah berbaring di atas kasur. Tanpa basa basi ia segera berbaring di sampingnya merangkul tubuh Shafa yang tengah terlentang sedikit memiringkan nya agar bisa meraih kembali bibir yang menjadi candu baginya. Semoga kali ini tak ada gangguan lagi dari anak-anaknya.
"Sayang, apa Shafa bahagia hingga detik ini bersama Mas?" Tanyanya sambil mengusap lembut wajah istrinya.
"Tentu... Tidak ada yang lebih membahagiakan selain menjadi istri dan ibu dari anak-anak Mas Rayyan" Jawab Shafa. Tangannya ikut mengelus wajah Rayyan.
Rayyan mengangkat tubuhnya menindih tubuh Shafa. Ia mulai melafazkan doa yang yang di anjurkan oleh baginda Rasulullah. Tatapan keduanya saling menuntut. Tubuhnya seakan berteriak untuk segera di puaskan, Shafa menggigit bibir bawahnya menahan lenguhan agar tidak membangunkan Am yang sedang nyenyak tertidur. Bibir Rayyan bekerja menyusuri leher jenjang Shafa, mencium, menjilat tapi tidak menggigit. Ia tak berani memberikan tanda di sana karena takut akan menimbulkan tanya pada putra sulungnya yang setiap pagi tak pernah absen memeluk mommy nya.
Geli! Merinding! Nikmat, itu yang Shafa rasakan saat ciumannya mulai turun dari leher hinga tulang selangkanya.
Rayyan berhenti sejenak, sebelum melanjutkan tugas mulianya. Ia menarik terlebih dahulu selimut kemudian mulai melepaskan kain yang melekat di tubuhnya juga tubuh istrinya.
Sungguh nikmat Allah yang mana lagi yang kau dusta kan?
Ia tersenyum sementara Shafa memejamkan mata, malu saat mata suaminya menyapu seluruh bagian lekuk tubuhnya.
Cup! "Kamu tetap yang terbaik sayang" Bisik nya di telinga Shafa. posisinya sudah menindih sempurna. Ia kembali mengulum lembut bibir Shafa yang sedari tadi menahan desahan setiap kali tangan Rayyan aktif bergerak menyentuh titik titik sensitifnya.
"Emmh" Desahan itu lolos begitu saja saat bibir lembut itu menyentuh bagian puncak dadanya, mengambil alih apa yang menjadi milik baby Am selama ini. Rayyan kini telah bertukar posisi dengan Am memiliki sepenuhnya dada Shafa untuk dirinya sendiri. Mereka saling bertukar rasa yang sangat di rindukan, menikmati sentuhan demi sentuhan, ******* dan hisapan hingga tak bisa lagi menahan untuk tidak segera menyelesaikannya.
__ADS_1
"Pelan-pelan mas" Lirihnya saat merasakan Rayyan mulai mengubah posisinya. Rayyan hanya mengangguk, tak ingin menanggapi ucapan istrinya.
"Aaagh" Leguh nya saat Rayyan berhasil menerobos pertahanannya. Ia memejamkan matanya, menyesuaikan rasa yang baru saja di dapatkannya.
Sakit!
Meski bukan pertama kali, meski sudah melahirkan, tapi rasa sakit saat benda itu menerobos masuk kedalam tubuhnya tetap terasa. Kini Shafa benar-benar yakin, usahanya menghabiskan banyak rupiah dua bulan terakhir ini tak sia-sia. Ia yang selalu takut Rayyan akan berpaling, takut tidak bisa menyenangkannya kembali membuatnya melalukan treatment dan perawatan kewanitaan oleh dokter ahli yang direkomendasikan oleh dokter Lily.
Rayyan terus bergerak aktif berusaha mencapai puncak kenikmatan yang disebut sebagai surganya dunia. Kini, tak hanya desahan Shafa yang terdengar, erangan dan lenguhan Rayyan pun terdengar jelas berpadu dalam suasana panas di ruangan itu. Besok, mungkin Rayyan akan memindahkan Am di kamar Zafran atau mencari suster untuk menemani Am tidur. Yang pasti malam ini dia ingin Shafa hanya miliknya. Bibirnya, dadanya dan semuanya hanya milik Rayyan seorang, meskipun tak bisa berbuat apa-apa lagi saat bayi tampan hasil percampuran gen nya dan gen Shafa itu menangis minta ASI.
Kurang lebih 45 menit berlalu, Senyum jumawa tampak tersungging sudut di bibir Tautan. Wajahnya berbinar bahagia.
Cup! "Terimakasih sayang" Ia merengkuh tubuh Shafa yang masih terengah-engah setelah menyelesaikan babak pertamanya.
"Udah ya?" Ucap Shafa sambil mengelus lembut rambut Rayyan yang tengah memeluknya.
"Lagi!"
"Mass!!!" Shafa memukul lengan Rayyan kuat-kuat.
"Aww... Iya mom iya"
"Iya apa?"
Cup!
"I love you so much"
***
"Apa senyum-senyum?" Lirikan Shafa tertuju pada suaminya yang tengah tersenyum melihat anaknya sedang menyusu. Setelah pergulatan panas tadi, Am benar-benar bangun karena popoknya basah. Shafa yang sudah kehabisan tenaga meminta Rayyan mengangkat Am dan membaringkannya di sebelahnya. Selain lebih mudah untuk menyusui, keberadaan Am di antara mereka, dapat menghentikan niat terselubung Rayyan yang pasti menginginkan lebih dari sekali permainan.
"Ayah nakal ya, susunya Am di habiskan" Ujar Shafa sambil menepuk-nepuk bokong anaknya agar terlelap kembali.
"Nanti Am ayah beliin susu formula terbaik deh" Rayyan ikut mengelus kepala bayi mungil fotocopy an dirinya itu.
"Enak aja! Ayah aja tuh yang minum sufor" Sahut Shafa.
"Nggak! Ngapain ayah minum sufor kalau yang gratisan ada" Ia menarik narik pipi Am, memainkannya gemas.
"Besok-besok jangan kaya tadi ya. Kasian Am, mas mau Am kekurangan gizi?" Benar saja, mengingat kejadian tadi masih membuat Shafa kesal, meskipun dia menikmatinya, sangat menikmatinya.
"Jangan salahin ayah mom. Mulai besok mommy makannya di banyakin biar air susunya nggak cepat habis. Kayaknya mommy yang kurang gizi deh. Ya kan nak?"
__ADS_1
"Ya Allah, Ayahhhhhhhh!!!"
.
.
.
.
.
"Mas Raaaaay.... Am di apain?" Pekik Shafa saat hendak masuk ke dalam mob. Ia syok melihat putra kecil nan menggemaskan itu tengah mengemut compeng di bibirnya. Ia duduk di pangkuan ayahnya dengan kedua tangan kecilnya memegang setir mobil. Entah dari mana Rayyan mendapatkan benda kesukaan para bayi dan balita itu, yang pasti Shafa sangat kesal melihat ulah suaminya tersebut.
"Kik...kik...kik" Zafran tertawa menutup mulutnya melihat adiknya sangat lucu mengemut benda tersebut.
"Slow mom, Ayah hanya membantu mencarikan solusi agar Am tidak rewel, iya kan nak?"
Shafa hanya menggeleng kemudian meraih Am dari pangkuan Rayyan.
"Aaa.... Buka ininya" Shafa menggoyang-goyangkan compeng di mulut Am agar melepaskannya. Tapi semakin ia berusaha melepas, semakin kuat pula Am menahan.
"Ya Allah Am, buka nak. Nurut dong sama mommy" Ucap Shafa yang masih berusaha melepas compeng nya.
"Jangan di paksa mom, nanti dia nangis. Biarin aja" Mata Am sudah berkaca-kaca sambil menatap Rayyan seolah meminta pertolongan.
"Memang ya, bapak sama anak sama aja." Gerutu Shafa melihat Am yang begitu senang berada dalam rengkuhan ayahnya.
Seperti itulah kehidupan mereka berlangsung, meski kadang kesal, sebal, namun tak menyurutkan cinta keduanya. Mereka bertemu karena Allah, dan berharap berpisah karena Allah pula. Sejatinya tak ada yang abadi di dunia ini, namun cinta yang di bangun atas dasar ketaqwaan dan hanya mengharap ridho Nya insha Allah akan abadi hingga ke Jannah Nya.
_________________Season 1 End______________
Alhamdulillah akhirnya season 1 tamat juga... terimakasih untuk semua pembaca setia JPA.😍 Semoga bermanfaat dan ada ilmu yaang bisa di ambil...Extra Partnya nyusul ya😍
FYI
Season 2 Dengan judul SAKINAH BERSAMAMU akan rilis tgl 5 Agustus ya. Jangan lupa mampir, jadiin Favorite, Like and Vote...
Untuk kisah Zaf and Aira aku akan buat setelah season 2 tamat. Yang pasti season 2 ini lebih seru menurutku, karena alur ampe ending juga udah aku tentuin. Banyak kisah dan pelajaran juga yang bisa kita ambil di season 2 nanti. Intinya yang namanya hidup pasti ada ujiannya... Dan setiap ujian pasti akan menemukan akhirnya😍😍😍
__ADS_1
*Aksara Citra*