
Baru saja aku mau menuju ke tempat tidur, handphone ku berdering. Ku lihat ID pemanggil bertulis Bebs Nisa😘.
"Hallo, Assalamualaikum bebskuu..." Ucapku membuka salam, namun yaang ku dengar di balik telfon adalah suara isak tangis. Membuatku gusar. Pasti sesuatu telah terjadi pada Nisa.
"Hallo, Nis.. Loe kenapa Nis?" Tanyaku khawatir
"Hiks..hiks... Hallo, Fa... tolongin aku Shafa" Ujar di telfon sambil terisak.
"Lo kenapa?" Tanyaku lagi.
"Aku...aku cerai sama suamiku..hiks..hiks..."
"What??" Aku teriak lantaran sangat terkejut. Hingga membuat mas Ray yang sedang membaca buku terkejut.
"Sayang kenapa?" Dia mendekatiku yang nampak syok mendengar penuturan Nisa. Aku hanya memberikan kode bahwa aku ga papa, agar Nisa mau melanjutkan ceritanya. Mas Ray kembali bersandar di kepala ranjang sambil membaca bukunya.
"Mungkin ini balasan karena aku ga dengerin omangan ibu dan bapak" Ucap Nisa yang masih teirisak di balik telfon.
"Gimana ceritanya sih Nis? Bukannya suami mu itu ustad ya?" Setahu ku Nisa menikah dengan orang Mesir yang juga teman kuliahnya. Itu berarti suaminya kan Ustad sejenis mas Ray gini.
"Dia Nikah lagi tanpa sepengetahuan aku Fa, dia poligami aku di saat aku sedang mengandung anaknya" Terangnya. Astaga suaminya poligami. Waduh jangan-jangan bener lagi paradigma di masyarakat kalau ustad itu biasa poligami. Mommy Shafa ga mau kalau sampai di poligami.
"Terus, mertua lo gimana? Kenapa lo ga cari tau dulu penyebab suami lo nikah lagi. Bisa aja dia di jebak atau apalah" Ujarku. Berdasarkan beberapa film yang pernah aku tonton tidak semua poligami terjadi karena perselingkuhan bisa jadi karena penyebab lain seperti di film Surga yang tak dirindukan.
"Hiks...hiks...." Nisa semakin tersedu.
"Mertuaku sejak awal ga pernah merestui hubungan kami Fa. Mereka terpaksa menerimaku karena suami ku mengancam akan pergi meninggalkan mereka jika mereka tidak merestui kami" Ya Allah Nisa, aku ga nyangka ternyata sahabatku yang paling alim di antara kami bertiga bisa mengalami hal ini. Kami bersahabat sejak SMA. Setelah selesai S1 dia memutuskan untuk melanjutakn kuliah di Mesir sedangkan aku memilih untuk nganggur dan hanya berkarier di dunia maya serta foya-foya sampai Daddy menyuruhku mengajar di yayasan Ayah. Sementara Amel dan Vira mereka masing-masing sudah bekerja di perusahaan.
"Terus Suamimu menikah dengan siapa Nis, kenapa ga lo damprat aja sih itu perempuan. Udah tau laki-laki beristri masih juga di deketin. Kalo suamiku sampe kayak gitu udah ku bejek bejek "anu"nya." Ucapku gemas sambil melihat mas Ray. Aku jadi membayangkan seandainya aku yang di posisi Nisa. Mas Ray bengong melihatku menatap gemas ke padanya.
"Dia menikah dengan wanita pilihan mertuaku Fa. Setelah bertemu wanita itu, dia langsung berubah dan tak lama kemudian dia mengaku kalau sudah menikah lagi. Dia bilaang aku ga bisa menyenangkannya. Belum lagi kondisiku sekarang yang sedang ngidam menyebabkan aku ga bisa melayaninya dengan baik" Ujarnya sesunggukan. Dasar laki-laki s*ndel mau enaknya aja. Istri lagi hamil bukannya di sayang malah di tinggal kawin.
__ADS_1
"Dasar laki-laki Br*ngseeeeeek!!!"
"SHAFA..!!!" Bentak mas Ray begitu mendengar aku mengumpat. Ia langsung meletakan bukunya di nakas sisi ranjang.
"Nis kita lanjutin di chat aja ya, gue takut ga bisa ngontrol emosi gue kalau denger langsung" Ucapku kemudian mematikan sambungan. Mas Ray sudah menatap tajam ke arahku.
"Maaaassss....." Aku menghampirinya langsung mendusel di di dadanya. Kalau begini pasti marahnya reda.
"Lihat mas!!" Ucapnya datar sambil mengarahkan pandanganku untuk menatapnya. Aku pun menatapnya takut. Ku gigit bibir bawahku. Dasar bibir lemes... Ngapain pake mengumpat sih.
"Ini terakhir kalinya mas dengar Shafa bicara seperti itu. Paham!!!" Ujarnya. Aku mengangguk.
"Siapa yang nelfon Shafa tadi? Siapa yang Shafa katain kaya gitu tadi?" Tanyanya masih menatapku tajam.
"Temenku mas, Nisa. Suaminya poligami. Kan bre--" Segera ku bekap mulutku. Hampir keceplosan. Mas Ray menurunkan tanganku dan CUP! dia mengecup bibirku.
"Jangan terlalu ikut campur dalam masalah rumah tangga orang lain. Sekalipun itu temanmu" Ucapnya, Membaringkan kepalaku di dadanya. Aku pun melingkarkan tanganku di perutnya.
Tring...2 pesan masuk dari Nisa. Ingin ku buka tapi aku takut. Aku mendongak menatap suamiku. Cup! Satu kecupan di hidung. Tandanya boleh baca pesan. Segera ku buka pesan dari Nisa.
Bebs Nisa😘: Fa, tolongin aku. Suamiku udah mentalak aku dan aku di usir dari rumahnya tanpa membawa apa-apa. Sekarang aku tinggal di asrama Indonesia. Aku ingin pulang. Kamu bisa bantuin aku Fa?
Bebs Nisa😘: Aku ga mungkin minta tolong Amel atau Vira. Cuma kamu yang bisa aku mintai tolong Fa.
Tanpa terasa air mataku jatuh membaca pesan Nisa. Bagaimana mungkin seorang wanita yang sedang hamil di usir dari rumah dan harus terlunta-lunta tanpa apa-apa. Aku harus nolongin Nisa. Karena di antara kami berempat, aku termasuk yang memiliki risqi berlebih.
"Sayang..." Mas Ray mengusap kepalaku. Akupun membenamkan wajahku ke dalam dadanya.
"Dia di usir dari rumahnya mas. Dia minta tolong aku, dia ingin pulang. Dia butuh uang" Ucapku jujur.
"Shafa boleh kok bantu teman Shafa itu" Ujarnya. Sepertinya mas Ray juga tersentuh hatinya.
__ADS_1
"Makasih mas" Ucapku kegirangan. Segera ku kirim pesan kepada Nisa.
Shafa : Aku pasti bantu kok. Kirim no. rek mu akan segera ku transfer. Tapi lo janji lo ga boleh stress dan harus jaga keponakan gw baik-baik🤗. Send!
Tak lama masuk satu pesan balasan.
Bebs Nisa😘: Terima kasih Shafa, kamu memang sahabat terbaikku. Semoga Allah membalas ke semua kebaikan kamu😘
Setelah menerima nonor rekening Nisa aku segera mentransfer 20 juta ke rekeningnya. Karna itu adalah saldo terakhir di ATM pribadiku. Semoga cukup untuk Nisa pulang ke Indonesia. Seperti itulah persahabatan kami. Nisa, Meski egois dan keras kepala, tapi dia paling solehah dan sering mengingatkan kami saat lalai beribadah. Amel yang paling cerewet, ngeselin tapi dia sangat penyayang dan perhatian. Vira yang ceplas ceplos, ucapannya dan sering menyakitkan, tapi dialah yang paling dewasa dan bijak di antara kami. Dan aku yang paling cantik, sexy sedikit bar-bar dibanding mereka tetapi kata mereka aku yang paling royal dan baik hati. Intinya tidak ada manusia yang sempurna dan dari ke tidak sempurnaan itulah kita saling melengkapi.
"Maaaas... aku mau nanya"
"Nanya apa sayang?" Ia memiringkan badannya sehingga wajah kita saling berhadapan.
"Mas, ada niat buat poligami ga?" Aku menatap matanya.
"Kok Shafa tiba-tiba nanya gitu?" Tanyanya. Tinggal jawab aja susah banget sih. Pake nanya balik lagi.
"Ya, aku kepikiran aja. Habis denger suami Nisa poligami aku jadi takut. Biasanya ustad ustad itu kan istrinya lebih dari satu"
"Poligami itu berat sayang... Mas takut ga mampu" Jawabnya sambil membelai lembut pipiku.
"Mas kan kaya, kok gak mampu?" Ucapku.
"Secara materi mungkin mas mampu bahkan untuk menghidupi 4 orang istri pun insha Allah mas mampu. Tapi poligami itu bukan hanya perkara materi, tapi juga laki-laki harus bisa berlaku adil terhadap istri-istrinya. Jika tidak bisa berlaku adil, tentu akan mendatangkan kecemburuan yang akan mengakibatkan rumah tangga berantakan. Kalau sudah berantakan, tujuan dari pernikahan itu sendiri tidak akan tercapai. Mas itu menikah ingin membangun keluarga bukan hanya di dunia, tapi juga di akhirat." Ujarnya. Dari penjelasan tersebut bisa di simpulkan kalau suamiku ga mau poligami. Yess.
"Shafa nanya gitu, emang Shafa mau di poligami?" Tanyanya membuatku membelalak. Apa mas Ray sekarang berubah pikiran?
"Ya enggaklah!!! aku lebih baik pergi dari pada harus di poligami. Pokoknya aku menolak keras poligami dalam hidupku.TITIK!!!" Ucapku menggebu-gebu.
"Sayang, Shafa boleh menolak untuk di poligami tapi Shafa tidak boleh menyalahkan atau membenci poligami. Karena poligami dalam agama kita di perbolehkan dan itu merupakan salah satu cara yang Allah tawarkan untuk melindungi perempuan dan menghindari zina. Hanya saja banyak yang salah memaknai arti poligami yang sesungguhnya. Kalau Shafa mau menyalahkan, salahkan orannya yang tidak mampu berlaku adil jangan poligaminya.Karena Rasululloh pun melakukan itu."
__ADS_1
Apa sekarang kamu berubah pikiran mas Ray?