Jodoh Pilihan Allah

Jodoh Pilihan Allah
Tak Peduli


__ADS_3

Aku masuk kedalam mobilku dan membanting pintunya dengan keras. Awas aja kalau kamu ga nyusulin aku mas. Akan aku tinggal pergi kamu selamanya. Dadaku terasa panas, aku sekuat tenaga menahan amarahku kepada Yola. Tubuhku bergetar, mataku memanas dan buliran-buliran bening itu mulai meluncur bebas.


Sehina itukah aku di mata mereka. Aku bahkan sudah berusaha bersikap baik kepada mereka tapi apa yang aku dapat? Selain pandangan rendah mereka.


"Sayang..." Mas Ray menyusulku masuk kedal mobil dan langsung memeluk tubuhku. Aku menumpahkan rasa kesalku di bahunya. Mas Ray tak berucap apa-apa dia hanya berusaha menenangkaan ku. Sekarang kamu lihat kan mas gimana sikap taante dan sepupumu itu.


"Jalan sekarang?" Tanyanya. Aku hanya mengangguk. Sepanjang perjalanan aku hanya diam menatap keluar jendela begitupun mas Ray. Dia tak mengucapkan sepatah katapun.


Mas Ray memarkirkan mobil di bagian paling ujung parkiran guru. Ia tak langsung keluar melainkan memperhatikan ku yang sedang mengusap wajahku dengan tissu. Untung maskara gue waterproof bedak juga yang kualitas terbaik, jadi amanlah. Tapi mataku nampak sendu dan hidungku agak memerah.


"Mas akan bicara sama Yola nanti. Sekarang kita turun yah? Kalau Shafa masih ga enak hati, kita istirahat di ruangan ayah saja ya" Ucapnya lembut mengelus kepalaku. Aku hanya mengangguk.


Aku berjalan menunduk di belakang mas Ray. Aku bahkan tidak menghiraukan sapaan dari beberapa siswa. perasaanku campur aduk antara kesal, marah dan juga gugup. Gugup dengan penampilaan baruku.


"Asalaamualaikum" Mas Ray mengucap salam begitu memasuki ruang guru.


"Waalaikumsalam"


"Woww... ada yang baru nih? Bu Shafa berhijab. Makin cantik deh" Ujar bu Anne. Aku haanya membalasnya dengan senyuman.


"Iya loh. Ih aku jadi pengen ikutan juga ah. Bu Shafa kok ga bilang-bilang sih kalau mau hijrah. Aku kan juga pengen ikutan" Timpal bu Ita.


"Heleh, hijrahnya bu Ita palingan dari dari kelas Biologi ke kelas Musik" Cibir pak Rudi.


"Pak Rudi kenapa sih sewot aja. Makanya pak jangan kelamaan ngejomblo" Balas bu Ita di sambut gelak tawa yang lainnya.


Satu persatu teman-teman guru mulai meninggalkan Kantor menuju kelas masing-masing. Masih tertinggal aku, Mas Ray dan pak Briyan yang baru saja tiba. Aku baru akan masuk pada jam pelajaran kedua dan setelah istirahat.

__ADS_1


Pak Briyan menjadi satu-satunya orang yang tidak mengomentari penampilan baru ku.


"Pak Rayyan ga ada kelas?" Tanyanya.


"Saya setelah istirahat baru ada kelas. Pak Briyan sendiri?" Tanya mas Ray yang sudah berhadapan dengan laptopnya.


"Saya juga baru ada kelas di jam ke dua. Siapa tau pak Rayyan dan bu Shafa mau ikut ke ruang musik. Yah itung-itung menghibur diri" Ucap pak Briyan seolah tau apa yang sedang aku rasakan.


"Mm... boleh juga. Shafa?" Mas Ray melihat ke arahku, maksudnya mengajak ku ruang musik. Aku mengangguk. Pada dasarnya aku suka musik. Sejak lama aku ingin bermain di ruang musik tapi aku takut mas Ray tidak mengizinkan. Lumayan lah buat menghibur diri.


Kami bertiga menuju sebuah ruangan yang bersebelahan dengan lab komputer. Ruangan ini cukup besar dan kedap suara. Di sini ada sebuah panggung mini yang di lengkapi dengan alat musik, seperti piano, drum, gitar akustik, bahkan alat musik tradisional seperti seruling dan gendang pun ada disini.


"Silahkan Pak Rayyan atau bu Shafa mungkin mau bermain musik" Pak Briyan menyambungkan beberapa kabel yang terhubung langsung dengan alat musik tersebut.


Aku berjalan jalan mengamati setiap alat musik yang terdapat di ruangan ini. Aku sih ga begitu mahir main musik karena di sekolah dulu aku adalah vocalis. Kalau pak Briyan yang ku tahu dia hampir menguasai semua jenis alat musik.


"Atau mungkin mau saya sumbangin lagu lagi buat pasangan pengantin baru ini" Ucap pak Briyan.


"Boleh... kebetulan saya lagi butuh penyegaran otak pak" Ucapku. Bolehlah pagi pagi gini dengerin lagu. Kali aja mood ku berubah jadi baik lagi.


Pak Briyanpun mulai memainkan gitar akustiknya. Aku dan mas Ray duduk sebagai penonton yang sedang menyaksikan pertunjukan langsung dari seorang Briyan Utama. Aku dan Mas Ray begitu menikmati lagu yang di bawakan pak Briyan. Aku sempat terkekeh saat ku tau dia menyanyikan lagu Jawa yang pernah di populerkan oleh Via Vale**n yang berjudul Sayang. Pak Briyan bisa banget buat mood kita kembali baik.


***


Setelah pulang dari megajar hari ini aku langsung masuk ke dalam kamar dan tidak keluar lagi sampai makan malam. Aku lebih baik menghabiskan waktu bersantai di balkon kamar sambil mendengarkan musik atau nonton tv. Beberapa kali mas Ray membujuk ku untuk keluar kamar dan makan malam bersama tapi aku menolak. Aku lebih baik menghindari Yola dan ibunya dari pada memaksa bertemu dengan mereka dan tidak bisa mengendalikan emosiku.


Tanpa sepengetahuan mas Ray aku diam-diam membeli sebuah buku yang berjudul Fiqih Wanita. Awalnya aku tidak tau buku ini membahas tentang apa. Yang pasti ini adalah buku yang di sarankan oleh Nana untuk ku baca. Buku ini berisi tentang penjelasan seputar masalah wanita dari A sampai Z dalam pandangan agama. Aku baru baca beberapa halaman saja tapi sudah pusing. Tapi kan aku harus mulai belajar berbenah diri. Aku biasa membacanya ketika jam istirahat di sekolah atau saat senggang lainynya.

__ADS_1


"Sayang" Mas Ray membuka pintu. Segera ku masukan kembali buku ku ke dalam nakas. Aku malu kalau mas Ray tahu aku baca buku ini. Pasti ketahuan kalau aku ga tau apa-apa.


"Ya Mas?" Aku berpura-pura merapikan jubah tidurku. Mas Ray melangkah mendekatiku.


"Mas sudah bicara dengan Yola. Sekarang dia menunggu di luar, kamu temuin gih" Ucapnya. Nagapain juga aku harus nemuin dia? Aku masih tak begeming menanggapinya.


"Sayang, kita tidak boleh menolak niat baik seseorang. Siapa tahu setelah ini hubungan Shafa dan Yola akan jadi lebih baik." Ujarnyaa sambil mengelus tangan ku.


"Baiklah"


"Terima kasih sayang" Mas Ray mengecup pipiku. Aku beranjak di temani mas Ray di sebelahku untuk menemui Yola.


Begitu ku buka pintu aku mendapati Yola sedang berdiri di depan kamarku.


"Kak Shafa, aku minta maaf ya kalau kata-kataku tadi pagi menyinggung kakak" Ucapnya sambil mengulurkan tangannya.


Aku menerima uluran tangan Yola. Entah mengapa hatiku mengatakan permintaan maaf Yola ini tidak tulus.


Aku menerima uluran tangannya.


"Ga papa, kakak juga minta maaf karena sudah jengkel sama Yola. Kakak hanya belum terbiasa saja dengan semuanya. Kakak harap Yola mengerti" Ucapku jujur. Aku memang jengkel sama dia jadi ga perlu berpura-pura bersikap baik kan?


"Ya udah Yola pamit ke kamar dulu ya" Ucapnya sebelum pergi menuju kamarnya di bawah. Benarlah kata mas Ray, bahwa hijab dan akhlaq adalah 2 hal yang berbeda. Wanita berhijab belum tentu baik tapi yang baik agamanya sudah pasti berhijab. Dan aku bukanlah keduanya.


______


Maaf agak slow up nya soalnya authornya nyambi buat kue lebaran😍😘 Tapi selalu di usahakan untuk up minimal 2 kali sehari. Bantu vote, like and rate ya.. Thank YouπŸ˜πŸ˜˜πŸ€—πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜

__ADS_1


__ADS_2