Jodoh Pilihan Allah

Jodoh Pilihan Allah
Tak Nyaman


__ADS_3

Pagi ini aku sengaja tidak membuat sarapan untuk mas Ray. Semalam aku sudah memerintahkan bi Lastri untuk menghendel urusan sarapan. Aku masih ga mood. Tapi aku harus tetap berusaha tenang. Aku harus menghargai tante Lilis, bagaimana pun juga dia adalah ibu ke dua Mas Ray. Waktu kecil tante Lilis turut merawat mas Ray sebelum Ibu benar-benar resign dari pekerjaan nya.


"Ayo sayang" Ajak mas Ray yang juga sudah siap dengan pakaian kerjanya. Hari ini adalah hari senin. Artinya aku berangkat bersama supir karena mas Ray harus ke kampus.


Di meja makan ku lihat Yola dan mamanya sedang menyiapkan makanan. Harus nya kan bi Lastri yang melakukan itu.


"Pagi Ray, Shafa. Ayo makan. Yola udah masakin makanan kesukaan kamu Ray" Sapa tante Lilis sambil meletakkan piring di atas meja.


Makanan kesukaan? Yola tahu apa makanan kesukaan mas Ray? Dia kok ga pernah bilang kalau dia suka makanan apa gitu. Setiap kali aku masak di cuma bilang enak-enak aja. Ku pikir semua makanan dia suka.


"Terima kasih tante, Yola. Harus nya ga usah repot-repot, kan ada bi Lastri yang bisa nyiapin" Ujar mas Ray.


Aku melihat nasi goreng yang tersaji di atas meja lengkap dengan telur, timun dan kerupuk. Kalau ini mah aku juga sering buatin kale. Jadi makanan kesukaan mas Ray nasi goreng.


"Kak Ray makan yang banyak ya" Ucap Yola sambil menyendokan nasi goreng ke piring mas Ray. Ini yang istrinya gue apa dia. Berani sekali dia mengambil alih tugasku.


Melihat hal itu membuatkan tidak bernafsu untuk makan. Aku memilih mengambil pisang sebagai sarapan pagiku dengan segelas susu Strawberry.


"Shafa ga makan?" Tanya tante Lilis.


"Aku sarapannya ini aja tante" Ucapku sambil menunjukan pisang di tangan ku.


"Gimana kak Ray masakan Yola? Enak ga?" Tanya nya sambil terus memperhatikan suamiku. Ish, pen nyiram pake susu mukanya biar tau rasa!


"Enak" Ucap mas Ray singkat.


"Aaa..." Mas Ray menyodorkan satu suapan padaku.


"Mas?!" Aku menatapnya dia malah menajamkan matanya. Artinya aku harus makan. Dengan terpaksa ku buka mulutku dan memakan suapan nasi goreng nya. Lumayan sih rasanya.

__ADS_1


"Oh ya, Shafa juga mau mengajar ya?" Tanya tante Lilis.


"Iya tante" Ucapku sopan.


"Istri kak Ray kok gak pake jilbab sih kak?" Tanya Yola membuat jantungku serasa ingin melopat dari tempatnya. Ingin rasanya aku sumpel mulutnya pake piring di depanku.


"Kak Shafa masih belajar. Ga lama lagi akan make kok" Jawaab mas Ray. Gak lama lagi lu yang bakal gue depak dari sini Yola. Sabar shafa...sabar.


"Tetap saja kelihatan aneh Ray. Apa kata orang-orang nanti. Kamu kan doktor alumni Kairo. Cukup paham akan adab seorang muslimah tapi istri kamu sendiri ga melaksanakan nya" Ujar tante Lilis. Oke Shafa kamu harus lebih kuat. Ternyata emak dan anaknya ga beda jauh. Sebagai orang yang lebih tua tidak sepantasnya tante Lilis menegur penampilan ku di depan suami ku langsung. Terlebih aku pun masuh berada disitu. Ibu saja yang nyata-nyata ibu kandung mas Ray tidak pernah menjatuhkan ku seperti ini. Ku lihat ada sebuah senyuman menyungging di sudut bibir Yola.


"Kak Shafa harusnya menghargai masa Ray dong sebagai suami kakak. Bukan malah mempermalukan nya" Imbuh Yola. Kalian memang pasangan ibu dan anak yang luar biasa!


"Oh ya tante, Yola kami berangkat dulu ya. Takut kesiangan. Ayo sayang" Mas Ray menarik lembut lengan ku meninggalkan meja makan. Aku masih terdiam. Hatiku bergemuruh ingin menumpahkan luapan amarah ku kepada mereka. Mata ku rasanya sudah sangat memanas.


"Kak Ray tunggu..! Yola bareng" Yola berlari mengikuti kami ke halaman.


"Kakak ada keperluan sebentar, kamu di antar pak Madi ya? Pak Madi mana kunci mobil ibu?" Pak madi pun memberikan kunci mobil ku. Mas Ray membukaa pintu untuk ku. Yola menghentak hentakan kakinya. Dasar ke kanakan.


"Sayang, jangan di ambil hati ucapan tante Lilis ya. Anggap saja itu sebuah nasehat agar kita lebih baik" Ujar nya. Aku tak berkomentar, karena apapun yang aku katakan tidak ada gunanya. Mas Ray tetap akan membela tante dan Yola. Aku mendengus memalingkan wajahku melihat ke luar jendela


Mas Ray meraih tangan ku dan menciumnya.


"Sayang udah dong ngambeknya" Ucapnya.


Mas Ray menepikan mobilnya begitu sampai didepan gerbang sekolah. Ia menarik tanganku membuatku terjatuh dalam pelukan hangatnya.


"Sayang udah ya, jangan sedih. Mas ga bisa lihat Shafa kaya gini" Ucapnya sambil mengecup keningku. Air mataku akhirnyaa lolos juga.


"Apa mas nyesel nikah sama aku?"Pertanyaan itu tiba-tiba terlontar begitu saja.

__ADS_1


"Kamu bicara apa? Mas itu ga pernah nyesal kenal dan menikah dengan Shafa. Mas justru bahagia bisa hidup bersama denganmu"


"Tapi aku hanya akan bikin mas malu" Ucapku mengingat omongan tante Lilis pagi tadi.


"Shafa ga bikin mas malu kok. Selama Shafa masih mau belajar dan berbenah mas akan selalu mendukung. Sekecil apapun usaha Shafa untuk berubah mas hargai itu, dan mas Bangga. Jadi ga usaah berfikir yang macam-macam ya" Ucapnya. Kata-katanya sedikit banyak mulai bisa menenangkan ku.


" Ya udah, Shafa masuk gih. Atau mau ikut mas ke Kampus?" Tanyanya. Aku menggeleng. Aku melepaskan pelukannya dan hendak turun namun tanggannya menahan ku.


"Kiss dulu" Ujarnya. Dasar mas Ray dalam situasi kaya gini masih bisa minta kiss. Aku pun memberikan ciuman sekilas pada bibirnya.


"Kalau ada apa-apa cepat hubungi mas ya"


Aku mengangguk dan turun dari mobil.


"Assalamualaikum"


"Wa alaikum salam"


Mobilku pun melaju meninggalkaan sekolah. Aku masuk ke kantor dengan lesu. Seperti tak bertenaga. Aku sedang membayangkan bagaimana nasib kehidupan ku 3 bulan ke depan. Aku harus lebih menyiapkan diriku untuk hal lain. Aku merasa Yola akan berbuat sesuatu untuk membuat mas Ray benci sama aku. Aku harus Waspada. Maafkan aku mas, jika nanti akhirnya aku harus menjadi orang egois. Maafkan aku jika nanti aku berada di ambang batas kesabaran ku. Bukan hanya Yola, Ibunya pun akan aku lawan jika mereka berani mengusik ku lebih jauh lagi. Aku akan berusaha sabar tetapi bukan untuk di injak-injak dan di tindas. Mommy selalu mengajarkan bahwa keutuhan keluarga adalah segalanya. Siapapun itu jika dia berniat mengusik rumah tanggaku maka aku tidak akan tinggal diam.


"Hey... are you ok? " Sapa pak Briyan yang juga baru tiba.


"I'm ok pak Briyan" Ucapku dengan seenyuman yang sedikit di paksakan.


"Tapi mata mu tidak mengatakan demikian" Ucapnya.


"Ah, saya hanya kelelahan saja karen kesibukan kemarin" Ucapku mencari alasan. Pak Briyan kok ga jalan duluaan aja sih? Kakinya kan panjang.


"Apa kamu lupa, hanya dengan melihat tatapan matamu aku bisa mengetahui isi hatimu" Bisiknya kemudian melangkah mendahului ku.

__ADS_1


Tau apa kamu tentang isi hatiku Briyan?


__ADS_2