
"Selamat ya! Semoga kamu bukan hanya jadi pemanas ranjangnya sepertiku dahulu" Bisik Angel yang membuat Sonya mematung seketika. Hatinya terasa tercubit mendengar pernyataan dari wanita bernama Angel tersebut. Setelah meengucapkan itu, Angelpun berlalu dengan sebuah senyum sinis di sudut bibirnya.
"Cinta..." Briyan menyenggol Sonya yang nampak membatu. Saat dirinya sudah hendak duduk Sonya tetap berdiri dengan tatapan kosong memandang ke dapan.
"Kamu Kenapa?" Briyan menyentuh bahunya, sedikit membuat Sonya kaget. Ia langsung menepis tangan Briyan. Sonya memalingkan wajahnya. Matanya nampak berkaca-kaca.
"Sonya, aku mohon percaya sama aku. Jangan dengarkan omongan mereka tadi" Ujar Briyan setengah berbisik. Ia tahu kegusaran yang di rasakan oleh istrinya.
"Buktikanlah kalau kamu benar-benar pantas untuk ku percaya!" Balas Sonya dengan nada dingin.
"Harus bagaimana aku membuktikannya. Apa aku harus berlutut dihadapnmu?" Ujar Briyan. Beruntung mereka duduk di kursi yang sama sehingga tidak begitu naampak ketegangan diantara keduanya.
"Terserah padamu Briyan! Aku butuh bukti bukan omong kosong! Kalau perlu katakan pada semua orang termasuk jajaran mantanmu itu bahwa kamu hanya milikku!" Ujar Sonya dengan tatapan tajam ke arah Briyan. Ia tak lagi memanggil Briyab dengan seebutan sayang seperti biasa.
Mendengar ucapan Sonya, Briyan segera berdiri, kemudian berjalan turun dari pelaminan. Hal itu tentu saja mencuri perhatian para tamu undangan yang hadir di tempat itu. Sonya pun terkejut begitu Briyan berdiri dan meninggalkannya seorang diri di atas pelaminan.
Jangan bilang Briyan meninggalkan pesta ini! Ya Allah apakah aku akan segera menjadi janda? Bathin Sonya yang mulai gusar melihat Briyan berjalan menjauh dari pelaminan.
Apa Briyan mau membuat pengumuman? Gumam Sonya saat melihat Briyan menuju panggung musik dan mengambil microfon. Sonya menggigit bibir bawahnya. Ia tidak sanggup mendengar apa yang akan di ucapkan Briyan. Apakah sebuah gombalan receh seperti yang biasa ia ucapkan, atau bahkan kata-kata yang mungkin akan membuatnya menyesal telah bersikap dingin pada Briyan.
"Tes...tes..." Briyan mencoba microfon yang di berikan oleh MC di atas panggung.
"Selamat malam semua para tamu undangan yang saya hormati. Saya Briyan Utama, pada kesempatan ini ingin mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada kepada segenap undangan yang telah meluangkan waktunya untuk hadir di acara resepsi pernikahan saya dengan istri tercinta saya. Saya mohon doa restu dari bapak dan ibu semua, agar pernikahan ini menjadi yang pertama dan yang terakhir buat saya. Pada kesempatan ini pula saya ingin mengungkapkan perasaan terdalam saya untuk wanita tercantik yang telah berhasil meluluh lantahkan perasaan saya"
"Huuuuuuuu"
Suara sorak sorai terdengar menggema di ruangan terseebut. briyan benar-benar berhasil mencuri perhatian semua yang hadir di tempat itu tak terkecuali Shafa dan Rayyan yang tersenyum bahagia melihat aksi Briyan.
"Sonya Adam, mungkin dirimu bukan yang pertama bagiku. Tapi aku harap, kamulah yang terakhir untukku. Menemaniku menghabiska waktu, menua bersamamu. Aku memang bukan lelaki terbaik, tapi selama aku masih bernyawa aku akan berusaha menjadi yang terbaik untukmu, dan anak-anak kita kelak. Dan malam ini, aku ingin kau tahu, bahwa hanya dirimu yang ada di hatiku, hari ini, besok dan selamanya." Ujar Briyan mantap tanpa keraguan sedikitpun di hatinya.
Ada seulas senyum yang mengembang di bibir Sonya. Air matanya yang tadi menggenang kini terjatuh, menetes di pipinya. Bukan air mata duka tapi air mata bahagia meski banyak tanda tanya yang masih menyelimuti fikirannya. Ucapan Briyan tersebut membuat para undangan yang hadir menjadi baper. Banyak yang berkata "So Sweet" ada juga yang berteriak "Gomball" tak lain adalah adik dan kakak Briyan yang cukup tau sepak terjang seorang Briyan Utama.
"Mass... Aku juga mau di gombalin gitu." Ujar Shafa sambil mendongak pada Rayyan yang berdiri di belakangnya yang tak pernah melepaskan tangannya dari pinggang istrinya.
"Mas nggak bisa gombal sayang. Mas bisanya ngaji." Ujar Rayyan.
"Mas gak asik! Ini padahal pengennya anak kamu tahu mas. Dia pengen lihat bapaknya romatis pada emaknya" Ujar Shafa memberikan alasan dengan menggunakan janin dalam kandungannya.
"Wah gawat, jangan sampai anak ayah kalau besar jadi tukang gombal kaya om Briyan" Balas Rayyan.
"Ya nggak mungkin lah mas, bapaknyaa kan Mas Rayyan kenapa sifatnya jadi mirip Briyan?" Ujar Shafa tak trima.
"Ya kan dari dalam perut aja udah ngefans sama Briyan, sampe pengen di gombalin kaya Briyan" Balas Rayyan yang kali ini membuat istrinya mati kutu. Shafa hanya memonyongkan bibirnya.
__ADS_1
"Mas gak peka!" Ujarnya ketus. Tiga kata yang cukup membuat kaun suami pusing. Padahal selama ini Rayyan sudah cukup menjadi suami yang Romantis. Hanya saja naluri wanita selalu baper saat melihat hal-hal yang romantis di depan matanya.
Briyan masih tetap berdiri di atas panggung. Tiba-tiba terdengar suara piano mengalun begitu indah.
"Aku persembahkan lagu ini khusus untuk bidadari ku. Sonya Adam" Seketika lampu utama di ruangan itu menjadi redup. Hanya lampu kelap kelip yang masih bersinar terang memberikan kesan romantis malam itu.
Dengarkanlah wanita pujaanku
Malam ini akan ku sampaikan
Janji suci... Kepadamu dewiku
Dengarkanlah kesungguhan ini
Aku ingin mempersuntingmu
Tuk yang pertama, dan terakhir
Jangan kau tolak Dan buatku haancur
Ku tak akan mengulangTuk meminta
Satu keyakinan diriku ini
Sonya menutup mulutnya saat terdengar suara merdu Briyan membawakan lagu yang berjudul Janji Suci. Ia tak pernah menyangka bahwa suaminya memiliki suara emas yang begitu merdu. Yang ia tahu Briyan adalah sosok pria dengan kata-katanya yang manis. Bahkan sebelum menjadi suaminya, ia hanya tahu sosok Briyan adalah pria songong yaang bermulut pedas.
Briyan berjalaan menuju pelaminan masih dengan menggenggam mic di tangan kirinya. Tubuhnya di sorot oleh lampu yang terfokus hanya pada dirinya.
Dengarkanlah
Wanita impianku
Malam ini akan ku sampaikan
Hasrat suci, satu untuk selamanya
Dengarkanlah kesungguhan ini
Aku ingin, Mempersuntingmu
Tuk yang pertama dan terakhir
Jangan kau tolak dan buatku hancur
__ADS_1
Ku tak akan mengulang tuk meminta
Satu keyakinan diriku ini
Aku lah yang terbaik untukmu.
Di penghujung lagu Briyan berlutut sambil mencium punggung tangan Sonya.
"I love you my wife!" Ujarnya setelah lagu berakhir.
Briyan bangkit dan langsung mendapat pelukan hangat dari Sonya. Meski hatinya masih menyimpan kesal pada Briyan, namun tubuhnya tak mampu menahan untuk tidak memeluk laki-laki tampan berstatus suaminya yang ada di hadapannya.
Riuh tepuk tangan yang menggema di ruangan itu berhasil membuat barisan para mantan gigit jari karena kecewa. Mereka hanya bisa membayangkan andai saja mereka yang saat ini berada di posisi Sonya. Terutama Devi dan Ellena. Mereka berdua masih tak bisa menerima kenyataan ini.
Aku tahu kamu Briyan. Kamu tidak mungkin akan setia pada istrimu itu! Kita lihat, sepwrapa lama kamu akan bertahan tanpa adanya wanita lain di sisimu. Gumam Ellena
"Zafran, ayo pulaang nak!" Ujar Rayyan sambil merentangkan tangannya pada Zafran yang berada dalam paangkuan pak Benny.
"Yah, jangan dulu dong pak Ray, kan baru jam 8" Ujar pak Benny yang masih menahan Zafran. Iaa tak ingin kebersamaannya bersama wanita-wanita cantik itu berakhir saat Zafran kembali pada orang tuanya.
"Saya sudah capek pal Ben, mau istirahat!" Ujar Shafa yang sudah merasa lelah setelah hampir satu jam berada di dalam aula tersebut.
"Loh, jadi ini bukan anak kamu?" Tanya salah seorang wanita yang ada di situ. Pak Benny hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Tapi kok tadi mnggilnya papa Ben?" Ujar salah seorang gadis yang terlihat belia.
"Benar sayang panggil om Ben papa Ben?" Tanya Shafa pada Zafran yang sudah berada dalam gendongan Rayyan. Zafran pun mengangguk.
"Kata papa Ben, Kalo Zaflan panggil papa Ben akan di kasi es klim banyak Mommy" Ujar Zafran polos membuat pak Benny ingin menghilang.
"Wah, anda sudah memanfaatkan anak saya pak Ben" Ujar Rayyan membuat pak Benny salah tingkah karena ia juga mendapat tatapan sinis dari gadis-gadis yang ada di situ.
"Jadi papanya bocah ganteng ini anda?" Tanya seorang wanita yang tadi sibuk menyuapi Zafra
"Benar, Kita duluan ya pak Ben" Ujar Rayyan. Ia berjalan dengan tangan kanaanya mmegang pinggang istribya sedangkan tangan kirinya menahan tubuh Zafran. Mereka berjalan menuju parkiran depan resort yang tak begitu jauh dari tempat acara.
"Permisi" Seseorang berlari mwnghampiri Rayyan dan Shafa.
"Iya, ada apa? Tanya Shafa sambil memperhatikan gadis muda yang tengah mengatur nafasnya.
"Em...itu...anu, boleh saya numpang mobilnya?" Tanyanya dengan nafas ngos-ngosan. Gadia itu adalah salah satu gadis yang tadi ada bersama pak Benny dab Zafran.
Busyet... sampai di bela-belain lari ngos ngosan demi pengen semobil ama laki gue!
__ADS_1
"Maaf ya mbak, saya lagi hamil, suka mual kalau ada cewe lain ikut mobil saya apa lagi ngelirik suami saya." Ujar Shafa tanpa basa basi.