
Siang itu, Shafa sudah bersiap untuk pulang ke rumahnya. Pak Madi selaku supir pribadinya sudah stay di klinik sejak pagi tadi. Shafa sudah cantik dengan memakai setelan rok dan atasan longgar berwarna mocca dan kerudung simple berwarna dusti pink. Ia keluar dari ruangan perawatan dengan menggendong bayi kecilnya di tuntun oleh Rayyan, sedangkan ibu dan mommy sibuk membawa tas dan perlengkapan bayi yang lainnya.
Begitu keluar dari ruangannya, ia menghentikan langkahnya dan menatap nanar pintu yang ada di hadapannya. Pintu yang masih di jaga ketat oleh orang-orang berseragam lengkap.
"Kita lihat kak Jeffri dulu?" Tanya Rayyan yang mengerti dengan tatapan istrinya itu. Shafa mengangguk kemudian melangkahkan kakinya menuju ruangan.
"Ibu dan Ayah duluan ya, Shafa mau nengok mas Jeffri dulu sebentar" Rayyan menoleh pada ayah dan ibunya.
"Aku ikut mommy dan adik kakung" Ujar Zafran yang meminta turun dari gendongan kakungnya.
"Mommy cuma sebentar kok, Zafran sama kakung dan uti aja. Kalau sama ayah, nggak ada yang gendong nanti" Balas ayah.
"Iya nak, Zafran sama kakung ya. Mommy nggak lama kok. Habis ini mommy pulang nyusul Zafran" Sahut Shafa. Zafran pun mengangguk setuju.
Dengan sigap penjaga kamar Jeffri langsung membuka pintu kamar tersebut mempersilahkan Shafa untuk masuk. Mommy dan daddy juga ikut masuk ke dalam ruangan tersebut. Nampak Jeffri sedang di bantu Aini untuk meminum obatnya.
"Tanteee.... Adik bayiii" Teriak Hafiz begitu melihat Shafa masuk ke dalam membuat Jeffri mengalihakan pandangan nya ke arah pintu masuk. Entah mengapa, saat menatap mata Jeffri Shafa selalu ingin menangis. Mata coklat itu seperti menyimpan kesakitan tersendiri.
"Kak Jeff"
"Shafa"
"Kenapa kemari dek? Apa kamu sudah sehat betul?" Ujar Jeffri. Dada sebelah kirinya masih berbalut dengan perban yang menandakan lukanya belum kering.
"Aku yang harusnya nanya. Apa kakak sudah sehat? Lihat ini anak Shafa kak" Shafa berdiri di sebelah Jeffri sambil menunjukkan bayi dalam gendongannya.
"Kakak baik-baik saja Fa! Coba sini, kakak ingin gedong anak kamu" Ujar Jeffri berusaha meraih anak dalam gendongan Shafa.
Shafa memberikan anaknya kepada Jeffri yang sedang bersandar di ranjangnya. Ia nampak tersenyum menatap keponakan tampannya itu.
"Wajahnya mirip kamu Ray" Ujar Jeffri sambil menatap Rayyan.
"Tapi hidungnya persis banget dengan Shafa" Imbuhnya sambil tersenyum melihat wajah imut dalam gendongannyaa itu.
"Hidung ku kaya mommy kak, sedangkan kak Jeff mirip daddy. Kenapa sih kakak dulu pake pelihara berewok? Kan jadi serem." Ujar Shafa mengingat bagaimana wajah kakaknya dengan brewok yang dulu begitu digilai oleh teman-teman wanitanya. Ia bahkan dapat julukan bodyguard tamvan dari Amel dan Vira.
Jeffri hanya tersenyum mendengar pertanyaan Shafa. Ia sengaja melakukan itu agar tidak terlalu kelihatan bahwa wajahnya mirip dengan daddy nya. Karena semakin dewasa semakin mirip Jeffri dengan daddy nya.
"Dulu, waktu Shafa bayi, kak Jeff yang selalu jagain Shafa saat mommy memasak atau sedang melakukan perkerjaan lain" Ujar mommy yang tiba-tiba duduk di pinggir ranjang Jeffri.
"Masa sih Mom? Berarti kak Jeff tau dong bayinya aku?"
"Iya, Bayinya Shafa sangat cantik" Jawab Jeffri.
"Kak Jeff, dulu suka nyanyiin kamu lagu nina bobo sama cicak-cicak di dinding kalau kamu sudah mulai rewel" Balas Mommy mengenang masa kecil mereka.
"Apa nggak ada foto foto kita waktu masih kecil mom?" Tanya Shafa. Ia sangat ingin melihat kenangan masa kecilnya.
"Ada sayang, foto kalian di simpan di sebuah album yang hanya mommy dan daddy yang tahu. Foto waktu Jeffri jaga Shafa, foto waktu lebaran, waktu Jeffri pertama masuk sekolah, bahkan foto waktu Jeffri sunat juga ada" Ujar mommy membuat Jeffri tersentak mendengar ucapan mommy.
"Nggak percaya?" Mommy menatap Jeffri yang melongo.
"Nanti kalau kamu pulang, mommy tunjukin" Ujar mommy dengan seulas senyum.
Ya Allah ibu. Terimakasih untuk segalanya.
"Kak Jeff kapan pulang? Lusa udah ramadhan loh kak. Kakak betahbapa tinggal disni lama-lama"
"Besok Jeffri sudah bisa pulang Fa, jadi kamu tenang saja. Kakakmu ini laki-laki kuat" Ujar Daddy yang sekaligus dokter pribadi Jeffri.
__ADS_1
"Ibu, eh mommy akan ikut mengantar Shafa pulang?" Tanya Jeffri. Ia masih suka canggung dengan panggilan Mommy kepada mereka berdua.
"Iya, mommy mau bantu ibunya Rayyan menyiapkan semua kebutuhan Shafa." Ujar Mommy.
"Biar Jeffri pulang ke rumah Jeffri saja besok. Mommy fokus sama Shafa saja dulu" Balas Jeffri. Ia tak ingin merepotkan ibu Fanny terlebih Shafa juga membutuhkannya.
"Nggak!!! Kamu tetap pulang ke rumah mommy! Titik" Sahut mommy tanpa bantahan.
"Bener kak, kan kasian mommy kalau harus bolak balik ke rumah ka Jeff, terus ke rumah Shafa. Lagiankan di rumah kan Shafa udah ada ibu." Ujar Shafa.
"Maksih ya dek! Kakak pinjam mommy dulu" Ujar Jeffri sambil mengusap kepala Shafa.
"Mommy Shafa kan mommy kak Jeff juga. Ya udah kak, Shafa pulang dulu ya, kalau sudah sembuh kakak harus main ke rumah aku"
"Iya pasti kakak main. Jaga baik-baik anakmu Fa, semoga dia jadi anak yang berbakti kepada orang tua..."
"Dan kuat seperti kak Jeff" Potong Shafa.
"Amiiin"
"Shafa balik ya kak? Asslamualaikum"
"Wa alaikum salam"
Setelah menjenguk Jeffri Shafa dan Rayyan segera pulang ke rumah tanpa singgah-singgah lagi. Begitu mobilnya masuk ke halaman rumah para ART nampak keluar untuk menyambut kedatangannya.
"Assalamualaikum" Sapa Shafa begitu turun dari mobil.
"Waalaikumsalam"
Bi Lastri dan mbak Yati segera mendekat dan mengucapkan selamat pada Shafa. Mereka semua kagum dengan wajah ganteng anak dalam pelukan Shafa.
"Rasanya luar biasa bi. Bikin nagih" Ujar Shafa sambil terkekeh.
"Wah, bakalan cepet ada adiknya kayaknya ini cah ganteng."
"Insha Allah bi. Mumpung masih muda" Sahut Rayyan dengan entengnya kemudian iku duduk di samping istrinya.
"Aku mau aja, asal mas jangan malu-maluin kaya kemarin" Shafa melirik suaminya. Ia mengingat kembali betapa konyolnya tingkah suaminya kemarin
"Mas Rayyan kenapa mbak?" Tanya bi Lastri.
"Biasa bi, Ayah siaga. Istrinya masih hidup malah di tangisi dikira udah meninggal" Ujar Shafa.
"Mbak pingsan ya? Masih mending mbak, dulu suami bibik pas bibi melahirkan malah dia yang nangis meraung-raung terus pingsan."
"Karena saya terlalu takut kehilangan bidadari tanpa sayap ini bi" Balas Rayyan sambil menatap mata bening istrinya.
"Gombal"
"Permisiiii"
"Hei. Aila" Teriak Zafran saat melihat sahabatnya itu datang bersama maminya.
"Bu RW, mari silahkan" Ujar Shafa pada mami Aira.
"Ini adiknya Zafran ya? wah, imut sekali" Ujarnya sambil menimang-nimang baby boy yang tengah tertidur pulas.
"Loh, Aira kenapa kok diam saja? Apa lagi marahan sama Zafran?" Tanya Shafa pada gadis kecil yang hanya diam sambil memegang sebuah kotak kecil.
__ADS_1
"Aku malah sama Zaflan. Kenapa kamu ga pelnah sekolah Zaflan." Ucapnya ketus.
"Aku pelgi liat adikku Aila. Ia tan mommy" Ia menoleh pada mommynya.
"Iya, Zafrannya kemaren nemenin tante d klinik jadi nggak sekolah. Besok pasti Zafran sekolah kok" Balas Shafa.
"Iya nih. Aira ngambek ikut-ikutan nggak mau sekolah" Ujar mami Aira.
"Oh ya Aira, kadonya kasih tante sayang" Ujar Mami Aira.
"Ini untuk adek bayi tante. Aku yang pilih tadi" Ujar Aira sambil memberikan sebuah kotak kecil.
"Wah apa ini, terimakasih kakak Aira" Ucap Shafa sambil mengelus kepala gadis cantik tersebut.
Hari ini kediaman Shafa terlihat agak ramai karena beberapa tetangga terdekat berkunjung untuk melihat keadaannya dan juga bayinya. Di perumahan tempat tinggalnya Rayyan dan Shafa di kenal ramah dan humble sehingga mereka tak sungkan untuk berkunjung. Mereka semua membawa berbagai macam hadiah buat si kecil yang baru lahir.
"Mas, aku baru ingat. Tadi Aira kasih sepatu lucu banget buat anak kita. Memangnya tidak apa-apa mas menerima hadiah dari non muslim?" Tanya Shafa. Ia baru saja selesai menyusui anaknya yang kini sedang tidur pulas.
"Tidak apa-apa sayang, selama itu tidak mengganggu aqidah kita. Pemberian itu di maksudkan sebagai hadiah untuk anak kita jadi tidak apa-apa. Kecuali kalau pemberiannya dalam rangka perayaan atau peringatan hari besar mereka seperti hadiah natal atau angpau imlek, itu tidak boleh karena itu menyangkut keyakinan mereka dan akan mengganggu aqidah kita sebagai seorang muslim" Terang Rayyan.
"Oh ya... ya... Emm mas, aku kok jadi takut ya, Aira dan Zafran ketika dewasa nanti. Aku taaku mereka akan seperti aku dan Sam dulu. Sekarang aja mas lihat sendiri bagaimana mereka berdua lengketnya. Gimana kalau besar mas?" Ujar Shafa. Sebagai ibu ia sudah berfikir sangat jauh terhadap masa depan anak angkatnya tersebut. Bagaimana pun juga Shafa menyayangi Zafran seperti ia menyayangi anak kandungnya sendiri.
"Itulah kenapa kita harus bekali Zafran sejak dini dengan pondasi iman yang kuat. Agar kelak ketika ia dewasa ia bisa menentukan mana yang haq dan yang bathil, tanpa kita beri tahu dia akan sadar dengan sendirinya" Terang Rayyan sambil mentoel toel pipi anaknya tersebut.
"Mas jangan di ganggu, kalau bangun, mas mau nidurin lagi?"Omel Shafa sambil memukul tangan suaminya yang selalu gemas ada anaknya.
"Ini anak ayah yah?"
"Bukan! Anak mommy dong. Mommy yang ngelairin koj" Balas Shafa.
"Tapi ayah yang buat, mommy mau apa?"
"Hidungnya mirip mommy ayah mau apa?"
"Tapi mata, bibir, sama rambutnya kaya ayah. Berartikan ini anak ayah" CUP! ia memberikan kecuapan pada pipi bayi kecil itu membuatnya sedikit terusik.
"Mas! Jangan di ganggu!" Bisik Shafa penuh penekanan.
"Mas gemes sayang. Ini lucu banget, mas bahagia sekali memiliki dua orang jagoan yang lucu"
"Aku juga mas, rasanya hidupku sudah sangat lengkap" Balas Shafa.
"Belum lengkap sayang" Sela Rayyan sambil menatap istrinya.
"Kenapa?"
"Karena bulum ada Shafa kecil di tengah-tengah kita" Jawabnya sambil meringis.
"Nggak usah ngomongin Shafa kecil kalau Rayyan kecil aja belum ada namanya. Buruan deh mas kasih tau aku siapa namanya?" Ujar shafa kesal.
"Iya... sayang iya"
"Iya siapa?"
"Sabar!"
"Cepet"
"Namanya adalah adalah Am......."
__ADS_1