
Libur akhir tahun sudah hampir usai, selama tiga hari belakangan ini Rayyan terus di buat tidak tenang oleh Shafa yang selalu minta makan tengah malam. Selain itu Shafa juga selalu mencurigai Ray yang tidak-tidak. Shafa menjadi sangat posesive dan curigaan.
Dan setelah menceritakan kondisi sahabatnya, Ray menyetujui untuk merekrut Nisa di tokonya sebagai asisten Dian. Dian adalah orang kepercayaan Rayyan yang juga merupakan temannya sejak kecil.
Hari ini Nisa akan berkunjung ke rumah Shafa. Karena besok adalah hari pertamanya masuk kerja. Hari ini ia akan melihat lokasi toko bersama Shafa dan suaminya. Ia juga sudah menyetujui permintaan Shafa untuk tinggal di rumahnya sementara waktu sampai ia menemukan tempat tinggal yang nyaman.
"Sayang, jam berapa temanmu datang? Kalo kesorean mas ga bisa, karena mau nyiapin bahan ajar buat besok" Ucapnya. Mereka sedang bersantai di depan televisi. Sedaangkan Yola dan tabte Lilis sedang berbelanja.
"Ga lama juga nyampe, tadibudah dijalan katanya"
TING..TONG..
Suara bel berbunyi. Shafa langsung berlari menuju ke ruang tamu untuk membuka pintu.
"NISAAAAA" Teriaknya sambil memeluk sahabatnya.
"Assalamualaikum Fa" Ujarnya sambil menepuk bahu Shafa.
"Eh ia gue lupa. Waalaikum salam, Ayo masuk" Shafa meraih koper di tangan Nisa dan mengajaknya duduk di sofa ruang tamu.
"Tunggu disini ya, gue ambilin minum sekalian gue kenalin sama suami gue" Nisa mengangguk. Ia memperhatikan setiap sudut ruangan itu.
Beruntung banget sih kamu Fa. Memiliki keluarga yang begitu menyayangimu juga suami yang sangat baik. Kenapa Allah begitu baik padamu padahal kamu dulu selalu mengerjakan hal-hal yang di larangNya. Sedangkan aku.... Astagfirullahhalazim..
Nisa segera beristigfar karena meratapi hidupnya yang kini berantakan. Diusir oleh keluarga disaat dirinya sedang hamil anak dari laki-laki yang tidak bertanggung jawab.
Shafa datang dengan mwmbawa nampan berisi minuman berwarna kuning juga toples berisi kue. Rayyan mengikutinya dari belakang.
"Oh ya Nis kenalin, ini suamiku Mas Ray"
Nisa mengangkat kepalanya menatap sosok yang tengah berdiri di belakang Shafa.
Deg..
Kak Zidane!
Hana!
Batin mereka bersamaan.
"Assalamualaikum" Ucap Nisa gugup sambil menangkupkan kedua tangannya.
"Waalaikum salam" Rayyan pun melakukan hal yang sama.
Rayyan duduk di sebelah Shafa dengan perasaan tak menentu.
Bagaimana mungkin itu kamu Hana. Jadi sahabat istriku yang selalu di ceritakan itu adalah dirimu.
Shafa memandang Rayyan dan Nisa silih berganti. Nisa nampak menunduk.
"Kalian sudah saling kenal?" Tanyanya.
__ADS_1
"Emh.. Kak Zidane dulu pernah menjadi mentor kami" Ucap Nisa.
"Oh" Shafaa menggut-manggut.
Maafkan aku Fa, aku tidak mungkin mengatakan kalau dia adalah orang yang pernah aku kagumi. Tapi aku cukup tahu diri. Apalah aku yang hanya seorang mahasiswa yang mengandalkan beasiswa dibandingkan dia seorang yang memiliki segalanya.
"Apakah Ha.. Em Nisa sudah siap untuk bekerja besok?" Tanya Rayyan yang hampir keceplosaan memanggilnya Hana. Bisa dibayangkan bagaimana reaksi Shafa jika mengetahui wanita yang pernah singgah di hati suaminya adalah sahabatnya yang akan seatap dengannya.
"Insha Allah siap pak" Jawabnya tanpa memandang Rayyan.
"Sayang, ajak temanmu masuk biar dia beristirahat. Habis Ashar baru kita jalan" Ujar Ray.
"Ya udah Nis, Ayo masuk. Aku tunjukin kamarmu. Anggap rumah sendiri ya" Shafa menggandeng Nisa menuju kamar di lantai bawah. Sedangkan Rayembawakan kopernya.
"Bi, Tolong bantuin teman saya ya" Ujarnya pada bi Lastri.
"Ini dia kamar lo. Semoga nyaman ya. Kalo lo perlu apa-apa bisa minta sam bi Lastri.
"Makasih banyak Fa" Ucapnya sambil menggenggam kedua tangan Shafa.
"Its okay. Lo jangan stress, jaga baik baik keponakan gue disini" Shafa mengusap lembut perut Nisa yang terlihat sedikit gendut.
"Gue ke atas dulu ya, lo istirahat aja dulu"Amit Shafa menuju kamarnya menyusul Rayyan.
"Maas..." Shafa duduk di pangkuan Rayyan dengan manja.
"Hmm" Rayyan melingkarkan tangannya menahan pinggang Istrinya.
"Hmm" Jawabnya singkat. Pandangan matanya masih fokus di layar hpnya.
Grep
Shafa menyahut handphone Rayyan dan memeriksaa isinya. Kebiasaan beberapa hari yang cukup membuat Ray harus lebih bersabar.
"Ga ada apa-apa sayang. Mas lagi periksa file yang di kirim dekan" Ujar Ray.
"Ya, kali aja ada yang keselip" Shafa meletakan kembali hp Ray di tangannya.
"Kenapa sih sekarang Shafa jadi curiga sama Mas?"
"Karena Mas ganteng, CUP!" Shafa mengecup bibir Rayyan sekilas dan menyandarkan kepalanya di lehar Rayyan.
"Mas, Waktu di Kairo mas Ray pernah ketemu Nisa ga?"
"Ehm...Pernah" Jawab Ray
Aku tidak mungkin mengatakan kalau hampir setiap hari aku bertemu dengannya. Bahkan dengan sengaja mencarinya dengan alasan memesan makanan.
"Kalau suaminya Nisa mas tau ga? Diakan mahasiswa di sana juga. Namanya Ahmed kalau ga salah" Tanyanya lagi.
"Mahasiswa di sana banyak sayang, mana mungkin mas mau kenal satu. Kalau yang dari Indonesia kebetulan banyak yang kenal" Ujarnya.
__ADS_1
***
"Nah udah sampai, Ayo Nis turun" Mereka bertiga telah sampai di ZR Center. Pusat produksi pakaian muslim merk ZR.
Mereka bertiga masuk kedalam toko yang langsung disambut ramah oleh pegawai disana.
"Hallo, Nani, Dewi, Fika" Sapa Shafa pada beberapa kariyawna yang beejaga di depan.
"Hallo mbak Shafa. Makin bening aja" Ucap mereka. Shafa dengan sikap humble nya sangat mudah berbaur dan bahkan akrab dengan kariyawan di toko tersebut.
"Dian, ini calon asisten kamu yang akan membantu pekerjaan kamu. Tolong di bimbing ya" Ujar Ray pada Dian.
"Siap pak, Kenalkan saya Dian Amira. Semoga betah ya" Dian mengulurkan tangannya dengaan ramah.
"Saya Annisa Farhanah. Panggil saja Nisa, Mohon bantuannya ya bu Dian".
Cukup lama mereka berbincang-bincang di toko hingga waktu menunjukan pukul 5 sore. Rayyan pun berpamitan untuk pulang.
"Gimana Nis? Kamu nyaman ga dengan tempatnya" Tanya Shafa sambil menoleh ke belakang.
"Nyaman Fa, Mereka ramah-ramah " Ucapnya.
"Syukurlah kalau kamu nyaman. Oh ya Nis, kamu ga pengen makan apa gitu. Kamu kan lagi hamil"
"Enggak Fa, Aku suka mual kalau liat makanan" Jawabnya.
"Terus kamu makannya gimana? kalau kamu mual?"
Emang gitu banget ya kalau hamil ampe ga bisa makan. Kasian banget sih Nisa. Kalau gue hamil bisa kurus gue kalo ga makan.
"Makan seperti biasa sih Fa, cuma porsinya di kurangi. Aku juga minun vitamin dari dokter kok"
"Mas, singgah di swalayan depan ya. Aku mau beli sesuatu" Ujar Shafa.
Rayyan pun menepikan mobilnya di sebuah swalayan tempat mereka biasa membeli kebutuhan dapur.
"Mas ikut atau sendiri aja" Tanya Rayyan.
"Ikut dong.. Ntar siapa yang bawain belanjanya. Ayo Nis" Ajak Shafa. Nisa pun ikut turun bersama mereka.
"Nis, gue mau beliin susu buat ponakan gue. Lo mau rasa apa?" Tanya Shafa saat berada di depan rak susu ibu hamil.
"Ga usah Fa"
"Ga ada penolakan yah, gue tu mau beliin ponakaan gue bukan elu, Iya kan baby" Shafa mengusap perut Nisa.
"Yang ini aja" Nisa menunjuk susu rasa coklat. Dia sangat hafal dengan sifat dermawan dan suka memaksa yang di miliki oleh Shafa.
_______
Terjawab sudahkan siapa Nisa dan Hana. Jangan lupa like, vote and Rate ya😍😘😘😘
__ADS_1