
Sudah lama aku tak berkutat dengan peralatan masak-memasak. Tepatnya setelah aku berubah menjadi Shafa yang cantik, sexy dan menggoda. Aku tak akan membiarkan kulit mulusku dan kuku cantikku rusak karena memasak. Terakhir aku memasak minggu lalu, itupun dengan menggunakan bumbu instan dan peralatan sekedarnya. Aku membuat nasi goreng yang bahkan tidaak di sentuh sedikitpun oleh mas Ray.
Dan siang ini aku akan memasak untuknya, memasak dengan bumbu yang ku racik dan ku uleg dengan tangan cantikku ini.
"Kamu yakin mau masak?" Tanya mas Ray ragu-ragu. Kamu meragukanku rupanya! Lihatlah aku akan buat jarum timbanganmu bergeser ke kanan karena masakanku. Gini-gini sebelum jadi model selebgram aku kan hobi masak.
"Mas ga percaya kalau aku bisa masak?" Ucapku kesal sambil mencincang-cincang bawang yang terdengar sangat mengerikan.
"Ya.. Enggak sih cuma... Nanti tangan kamu ke iris lo, Udah biar bi Lastri aja yang lanjutin" Bujuknya yang masih setia berada di sampingku.
"Iya, biar saya saja mbak. Nanti mbak Shafa kenapa-napa lagi" Ujar bi Lastri yang juga nampak khawatir.
"Ga usah bi, mulai sekarang saya sendiri yang akan masak makanan buat mas Ray, bibi bersih-bersih aja. Kecuali saya ga ada dirumah baru bibi masak." Terangku yang sudah seperti nyonya besar.
"Shafa serius?" Mas Ray menahan tangganku yang hendak membersihkan ikan. Bukannya ekspresi senang yang di tunjukan, dia malah seolah terkejut dan was-was. Mungkin dia fikir aku akan ngerjain dia apa ya.
"Mas! Udah deh jangan ngekorin aku mulu" Ucapku yang mulai jengah di ikuti terus, walupun hanya sekedar untuk mengambil bahan-bahan di kulkas.
"Mas kan cuma mau bantu Shafa, siapa tau Shafa butuh bantuan"
"Mas! Sekarang duduk! Jangan ngikutin aku terus. Ganggu tau gak. Lagian ya, mas ini jangan menilai seseorang cuma dari casing nya aja. Gini-gini kalau cuma buat berat badan kamu naik 5 kg dalam seminggu mah kecil" Ucapku sambil menjetikan jari kelingking membuat mas Ray terkekeh. Apakah aku sudah terlihat seperti istri galak? Bodo ah, yang jelas aku paling ga suka di recokin kalo lagi fokus gini.
"Iya..iya mas duduk. Tapi kalau udah ga sanggup Shafa istirahat aja ya. Biar bi Lastri yang lanjutin" Ujarnya masih sama.
"Mas!" Aku agak berteriak karena kesal dengan tingkah suami tercintaku ini.
__ADS_1
"Iya nyonya.....iya" Dia segera menjauh menuju sofa di depan tv setelah melihatku melototkan mata.
Nah, gitu kek dari tadi. Aku kan jadi bisa masak dengan tenang. Aku akan membuatkan dia Gurame bakar Pedas manis dengan tumis kangkung serta puding strawberry. Jangan lupakan bahwa aku adalah wanita yang sangat lincah sehingga bisa mengerjakan semua dalam sekali jalan.
Kurang lebih sekitar 1 jam aku berkutat dengan dapur, masakanpun siap uantuk di sajiakan. Warna dan tampilan gurame pedas manis dan tumis kangkungku begitu menggoda. Soal rasa? Jangan di tanya sudah pasti enak, cukup enak untuk membuat suamiku merubah penilaiannya tentang diriku.
Ku lihat dia sudah siap di meja makan dengan wajah berbinar-binar melihat makanan tersaji rapi di atas meja.
"Ini beneran kamu yang masak?" Tanyanya lagi saat aku mulai menyendokan nasi ke piringnya.
"Bukan mas, ini tadi aku pesan delivery dari resto langganan" Ucapku kesal. Ia malah tertawa kecil.
"Makasih sayang" Ucapnya manis. Ia mulai menyendokan makanan ke dalam mulutnya.
Mas Ray membelalakan matanya kemudian melihat ke arahku.
"Gimana?" Tanyaku penasaran.
"Enak sayang... Enak sekali, Mas gak nyangka Shafa pinter masak" Ucapnya sambil memasuk kembali makanan ke dalam mulutnya. Ia terlihat sangat lahap. Akhirnya aku berhasil.
"Makanya mas tu harus lebih mengenal aku, banyak yang mas ga tau kan tentang aku" Ucapku mengejek.
"Iya, mas akan mulai belajar mengenal kamu luar dalam"
"Uhuk-Uhuk" Aku langsung tersedak mendengar ucapnnya barusan. Sepertinya virus virus kemesuman mulai menjangkit fikiranku.
__ADS_1
"Pelan-pelan pelan Shafa" Ujarnya menyodorkan segelas air putih padaku.
"Mas... Nanti malam mau aku masakin apa?" Tanyaku padanya yang sedang sibuk menatap layar ponselnya.
Sore ini kami bersantai di teras belakang, sambil menikmati udara sore yang teduh. Aku berbaring manja di pangkuannya. Rasanya tingkat ke bucinanku mulai bertambah dibanding saat bersama Sam dulu. Karena bagiku, ada tantangan tersendiri menaklukan pria cuek dan datar seperti suamiku ini.
"Malam ini mas ada seminar, Jadi sekalian makan malam dengan rekan-rekan kampus" Ucapnya masih tak beralih dari layar ponselnya.
"Dimana? boleh ikut ga?" Tanyaku. Masa ia, baru juga anget-angetnya udah di tinggal lagi. Dia ini sebenarnya beneran cinta atau terpaksa cinta sih sama aku.
"Shafa di rumah aja ya. Ga lama kok, paling jam 9 udah selesai" Ucapnya sambil membelai lembut pipiku.
"Yaah, baru juga mau sayang-sayangan udah di tinggal pergi" Ucapku mengerucutkan bibirku kedepan.
"Shafa bener mau sayang-sayangan?" Ucapnya dengan tatapan menggoda.
"Ihh mas, liatnya jangan gitu dong. Serem tau" Protesku mengalihakan wajahnya yang menatapku genit.
"hahahahaha... Ntar ya sayang-sayangannya kalau mas udah pulang. Shafa di rumah aja, mandi yang bersih, dandan yang cantik dan tunggu mas pulang oke?" Ucapnya menarik ujung hidungku. OMG kata-kata mas Ray ini membuatku blushing, bulu kuduk ku mendadak merinding. Duh, Adeek ga kuuatt bang.
Aku menatap bayangan diriku di depan cermin lebar di kamarku, setelah memoles tipis wajahku yang memang sudah cantik dari sononya. Setelah mas Ray pergi tadi aku segera berendam dengan sabun beraroma apel kesukaanku. Sekitar 30 menit aku berendam sambil merilekskan tubuh dan fikiranku. Aku menerka-nerka apa yang akan terjadi malam ini.
Seperti perintah mas Ray, setelah mandi aku berganti dress tidur pendek berwarna coklat. Kupandangi diriku di depan cermin. Wajah mulus, hidung mancung, bulu mata lentik, rambut pirang dan bibir sexy. Mendadak aku merasa jijik dengan tubuhku yang terdapat ukiran tinta di bagian kanan lenganku. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku. Kemana Shafa yang selalu percaya diri? Sudahlah mas Ray itu laki-laki baik dia pasti akan menerima aku apa adanya. Yang penting sekarang perbaiki niat dan berusaha menjadi istri yang baik. Allah sudah memberikan kesempatan untuk memperbaiki hubunganmu dengannya. Jaangan sia-siakaan Shafa atau azab Allah akan menantimu. Sisi malaikat dalam diriku berulang kali mengingatkan. Aku bergidik ngeri jika harus mengingat kejadian malam kemarin yang aku anggap sebagai teguran Allah padaku.
Aku yang sudah cantik dan ini berulang kali menengok ke arah jam yang bertengger di atas dinding kamar untuk memastikan mas Ray akaan segera pulang. Katanya jam 9 udah pulang, taunya udah jam 10 belum nongol. Akunya di suruh dandan cantik, pas udah cantik membahana gini malah di anggurin. Apa aku tidur aja ya? Tapi durhaka ga sih kalo aku bobo duluan?
__ADS_1
Baring-baring baring aja dulu ah, kan capek dari tadi mondar-mandir kaya setrikaan. Sengaja pintu kamar tidak ku kunci supaya kalau aku ketidurn mas Ray masih bisa masuk ke dalam kamar.
Aku sudah tidak bisa menahan rasa kantuk yang sedari tadi menghinggapiku. Mas Ray, sorry aku bobo duluan. Aku mulai terlelap dalam kenyamanan, sampai aku merasa ada sebuah tangan yang memelukku dari belakang. Mungkin hanya mimpi, tapi rasanya begitu nyata. Aku merasa tangan itu mulai berbergerak.