
Kegiatan makan malam hari itu berjalan kacau tidak sebagai mana mestinya. Tak satupun makanan yang terhidang di meja makan tersentuh.
Yola masih menangis sesunggukan dalam pelukan mamahnya, sementara Nisa sudah kembali masuk ke kamarnya.
"Mamah, Yola takut Mah hiks..hiks" Ujarnya sambil memeluk mamahnya.
"Ray, kali ini tante tidak bisa memaafkan Shafa! Apa salah Yola sampai dia berbuat seperti ini padanya" Ucap tante Lilis berusaha menenangkan anaknya sudah tentu dengan perasaan bahagia.
"Maaf Tante" Hanya kata itu yang terlontar dari mulut Rayyan. Dia tidak mungkin menyalahkan Yola karena dia melihat dengan mata kepalanya sendiri, untuk kedua kalinya Shafa menyerang Yola dengan brutal. Juga kata-katanya yang sempat mengusir tante Lilis dan Yola dengan kasar masih terngiang di telinganya.
"Kak Ray nggak ngejar kak Shafa?" Tanya Yola yang masih sesunggukan.
"Tidak, dia tidak akan pergi jauh karena kunci mobil dan dompetnya sudah kakak sita" Ujar Ray.
Sial!!! kenapa ga minggat aja sih kak Shafa itu. Kalau dia masih dirumah ini bisa babak belur terus aku. Tapi ga papa, setidaknya kak Ray sudah mulai benci sama dia. Cintaa itu memang butuh pengorbanan Yola.
"Tapi Ray, kalau dia tidak kembali bagaimana?" Tanya tante Lilis pura-pura simpati.
"Dia tidak akan senekat itu tante. Shafa bukan tipe wanita yang bisa hidup tanpa uang. Jika tidak pulang pasti dia pulang ke rumah Mommynya. Mungkin dia butuh ketenangan" Ujar Ray.
"Tapi bagaimana kalau mertuamu tahu Ray?"
"Mommy dan Daddy sedang berada di Singapura tante. Nanti Rayyan akan menghubungi mereka"
"Tante dan Yola istiratlah, besok Ray akan kembali bicara pada Shafa. Maafin kak Shafa ya Yol" Ucap Ray dengan penuh rasa bersalah.
Rayyan bangkit dari duduknya hendak masuk ke dalam kamarnya. Namun bi Lastri tiba-tiba menghampirinya.
"Mas... Mbak Shafa pergi Mas" Usap bi Lastri sambil beberapa kali mengusap matanya yang basah.
"Dia bilang kemana bi?"
"Mbak Shafa bilang mau pulang Mas" Ujarnya khawatir.
Sudah ku duga kamu pasti akan pulang ke rumah mommy mu. Aku harap kamu bisa merenungi semua perbuatanmu Shafa.
"Ngga papa bi, besok Rayyan temui Shafa. Sekarang biarlah dia menenangkan dirinya dulu" Ujar Ray kemudian berlalu masuk kedalam kamarnya.
__ADS_1
Rayyan membuka kembali brangkasnya mengeluarkan kunci mobil dan dompet Shafa. Dia membuka dompet Shafa dan mulai mengecek isinya. Ia melihat foto dirinya bersarang manis di dalam dompetnya. SIM, KTP, Kartu kredit, ATM semua masih tersusun rapi di dalamnya. Di dalam dompet, di sana juga terdapat beberapa lembar uang tunai yang biasa ia gunakan untuk membeli jajanan.
Rayyan memasukan dompet dan kunci mobil tersebut ke dalama laci nakas sebelah ranjangnya. Namun, saat hendak membuka laci, ia melihat sebuah cincin bermatakan berlian yang selama 4 bulan terakhir melingkar di jari manis istrinya tergeletak begitu saja di atas nakas. Shafa benar-benar melepaskannya saat marah tadi.
***
Shafa berjalan keluar dari rumah Rayyan tanpa membawa apapun. Hanya handphone yang tak pernah lepas dari genggamannya.
"Kamu akan menyesal mas Rayyyyy!!!" Teriaknya sambil menendang benda apapun yang ada di depannya.
"Gue nggak akan pernah maafin kalian semua sebelum kalian bersujud di hadapan gue!" Sumbarnya.
"Ia mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celananya saat meraskan benda itu bergetar. Panggilan dari Nisa. Dengan cepat ia langsung menggeser tombol hijau.
"Puas loe sekaraang!!! Sekarang Loe bisa bebas deketin suami gue" Teriaknya tanpa salam dan basa basi.
"Fa, maafin aku Fa. Aku khilaf, aku nggak bermaksud merebut suami kamu Fa. Aku ingin jujur kalau aku Hana tapi aku takut kamu marah Fa" Suara di telfon berusaha untuk menjelaskaan.
"Elleh bullshit! Sahabat t*i lo Nis. Kalau gue nggak nemuin SMS lo sam mas Ray, pasti lo nggak akan pernah ngaku kan Nis? Gue nyesel pernah kenal sama lo. Mulai sekarang kita bukan lagi sahabat. Paham Lo!!!" Shafa langsung memutus panggilannya dan memblokir semua kontak Nisa.
Tujuan Shafa saat ini adalah pulang ke rumah Mommy nya. Setidaknya di sana ia tidak kekurangan apapun. Mobil, supir, pembantu semua tersedia. Ia kemudian mencari kontak Mommy dan menekan tombol panggilan.
"Waalaikumsalam... Mommy hiks..hiks" Shafa ingin mengadu pada Mommy nya.
"Kamu kenapa Fa? Ada masalah dengan Rayyan?" Tanya sang Mommy.
"Iya Mom, Shafa mau pulang ke rumah Mommy" Ujarnya pada wanita yang selalu menyebutnya anak kesayangan itu.
"Ga boleh!!!" Tolak Mommynya.
"Tapi Mom--"
"Ini pasti kamu yang bikin ulah duluan. Pokoknya nggak boleh! Shafa sudah dewasa nak, jangan selalu lari dari masalah. Suami kamu itu laki-laki baik. Cobalah untuk mengerti dia. Sebaik baik tempat pulang bagi seorang istri adalah rumah suaminya Shafa. Kamu memang anak Mommy dan Daddy tapi sekarang kamu adalah istri Rayyan" Ujar Mommy memberi nasehat.
"Ya udah mom, Shafa tutup. Assalamualaikum"
Bahkan sekarang mommy gue sendiri nolak gue. Aku nggak mungkin kembali ke rumah mas Ray. Dia tidak mengejarku itu berarti dia sudah rela melepaskanku.
__ADS_1
"Ya Allah, kenapa selalu berakhir seperti ini? Tidak bisakah engkau memberiku sedikit saja kebahagiaan?" Keluhnya.
Tiba-tiba Shafa merasakan perutnya begitu mual. Ia segera berlari ke bawah pohon untuk memuntahkan semua isi perutnya.
Hoek...Hoek....
Nafasnya terengah-engah. Keringat dingin mulai mengucur deras dari pelipisnya.
Shafa mencoba bangkit namun tubuhnya terlalu lemas. Ia bersandar di sebuah bangku di tepi jalan sambil terus mengusap keningnya yang berkeringat.
Ku mohon jangan sakit dulu. Gumamnya.
Sebuah mobil berwarna Biru tiba-tiba berhenti tepat di depan Shafa. Seorang pria bertubuh tegap nampak turun menghampirinya.
"Fara?" Panggilnya.
Shafa menoleh, pandangannya mulai kabur tapi ia masih bisa mengenali dengan jelas pria di depannya tersebut.
"Bri..Briyan" Ucapnya lemah.
"Muka kamu pucat Fa. Mana Suamimu?" Tanyanya sambil menoleh ke kiri dan ke kanan mencari keberadaaan Rayyan.
"Aku telfon suamimu dulu ya?" Ia merogoh poselnya dalam saku celananya, namun pergerakan tangannya di tahan oleh Shafa.
Shafa menggeleng, memberikan isyarat agar Briyan tidak menghubungi Rayyan.
"Aku antar kamu ke klinik kalau gitu!" Tanyanya khawatir. Walaupun bukan lagi kekasihnya namun rasa cintanya pada Shafa masih tertinggal hingga saat ini. Dan alasannya melamar kerja sebagai guru musik di tempat Shafa mengajar adalah karena ia ingin kembali dekat dengaan Shafa setelah mengetahui bahwa Shafa putus dengan Samuel.
"Ga usah Bri..Aku nggak papa" Jawabnya lemah.
"Bibirmu bilang nggak papa tapi tubuh apa-apa. Ayo! Aku nggak akan ngapa-ngapain kamu" Ujarnya sambil menarik Shafaa masuk ke dalam mobilnya. Shafa tak mampu menolak karena tubuhnya sangat lemah.
Briyan membawa Shafa ke sebuah klinik keluarga tak jauh dari tempatnya bertemu Shafa. Setelah mengurus pendaftaran dan mengantri, akhirnya tiba giliran Shafa untuk di periksa. Sedangkan Briyan menunggu di ruang tunggu dengan perasaan khawatir.
Apa yang sebenarnya terjadi padamu Fara? Dimana Rayyan? Kenapa dia sampai membiarkanmu seperti ini sendiri?
Di dalam ruangan pemeriksaan dokter telah selesai memeriksa kondisi Shafa. Mulai dari tekanan darah, detak jantung dan menanyakan hal-hal yang ia rasakan belakangan ini. Dari semua hasil pemeriksaan dan jawaban Shafa, dengan mudah dokter daat menyimpulkaan apa yang sedang terjadi pada Shafa.
__ADS_1
"Selamat ya bu Shafa, Anda saat ini sedang mengandung. Usia kandungannya sudah memasuki minggu ke 7" Ucap dokter wanita itu dengan senyum mengembang.
"Hah? Hamil?"