Jodoh Pilihan Allah

Jodoh Pilihan Allah
Sang Penakhluk


__ADS_3

"Am... Siapa mas?" Shafa sudah tak sabar sambil menggoyang-goyangkan lengan Rayyan.


"Ih Shafa kepo deh" Goda Rayyan sambil melirik istrinya.


"Mas!"


"Iya...iya!


"Huuh" Shafa memalingkan wajahnya lantaran kesal.


"Eh..sini lihat mas!" Rayyan meraih wajah Shafa namun Shafa tetap acuh.


"Mau tau nggak?"


"Nggak!" Jawabnya ketus.


"Ya udah"


"Ya udah iya, cepat siapa?" Shafa berbalik menatap Rayyan.


CUP!


"Mas!" Shafa mendengus wajahnya merah lantaran kesal dengan kejahilan suaminya.


"Iya sayang, jangan marah-marah dong. Jadi nama ini mas sudah siapkan sejak kuliah du Mesir dulu" Ujar Rayyan sambil mengusap pipi anaknya yang masih lelap di antara mommy dan ayahnya.


"Siapa?"


"AMR" Ujar Rayyan.


"Amr?"


"Iya AMR SYA'BAN AR-RAYYAN" Ujar Rayyan dengan senyuman penuh Arti.


"Artinya apa mas? Kok Amr? Kenapa nggak Amar atau Amry sekalian?" Tanya Shafa.


"Amr, Amar atau Amry itu artinya adalah pemimpin. Tapi Amr itu merupakan nama salah satu sahabat nabi yang di jamin masuk surga." Ujar Rayyan.


"Kok bisa?"


"Bisa dong. Mau tau kisahnya?" Tanyanya. Shafa pun mengangguk.

__ADS_1


"AMR BIN ASH adalah sahabat yang mendapat julukan SANG PENAKHLUK MESIR. Pada masa Abu Bakar ash-Shiddiq, Amr bin al-Ash turut serta dalam memerangi orang-orang murtad. Setelah itu Abu Bakar mengangkatnya sebagai panglima salah satu pasukan yang diberangkatkan menuju wilayah Syam. Lalu ia bergabung dengan Khalid bin Walid dalam Perang Yarmuk. Kemudian ia merampungkan penaklukkan wilayah Syam. Melalui pemimpin ulung ini, wilayah Gaza, Yafa, Rafah, Nabulus, dll. berhasil dikuasai kaum muslimin."


"Pada masa Umar bin Khattab, ia dipercaya memimpin wilayah Palestina. Kemudian Umar memerintahkannya berangkat menuju Mesir untuk menghadapi pasukan Romawi. Dan Amr bin Ash berhasil membebaskan Mesir dari tangan kedzoliman. Ia kemudian diangkat sebagai gubernur untuk memerintah masyarakat Mesir kala itu. Dengan ditaklukannya Mesir maka membuka jalan untuk menaklukan Afrika dan Eropa."


"Amr tidak hanya seorang panglima perang tangguh sebagaimana Ali bin Abi Thalib dan beberapa sahabat lain. Ia tidak hanya seorang diplomat ulung sebagaimana Muawiyah. Tapi juga seorang negarawan yang pintar memerintah. Bahkan bentuk tubuh, cara berjalan dan bercakapnya, memberi isyarat bahwa ia diciptakan untuk menjadi amir atau penguasa. Hingga pernah diriwayatkan bahwa pada suatu hari Amirul Mukminin Umar bin Al-Khathab melihatnya datang. Ia tersenyum melihat caranya berjalan itu, lalu berkata, “Tidak pantas bagi Abu Abdillah untuk berjalan di muka bumi kecuali sebagai amir.”(Riwayat Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq, 46:155).


Tetapi di samping itu ia juga memiliki sifat amanat, menyebabkan Umar bin Al-Khathab seorang yang terkenal amat teliti dalam memilih gubernur-gubernurnya menetapkannya sebagai gubernur di Palestina dan Yordania, kemudian di Mesir selama hayatnya Al-Faruq" Terang Rayyan. Shafa tersenyum puas mendengarkan penjelasan suaminya tersebut.


"Wah, keren. Jadi waktu mas di Mesir udah kepikiran nama itu?" Tanya Shafa.


"Iya, kebetulan Mas kuliah di Mesir dan membaca buku-buku sejarah pemimpin mesir di antaranya Amr bin Ash ini. Mas jadi ingin kalau punya anak laki-laki di beri nama Amr. Agar kelak ia bisa seperti Amr bin Ash sahabat tangguh yang berjuang di Jalan Allah."


"Dan Shafa perlu tahu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Amr bin al-Ash adalah di antara orang-orang yang baik dari kalangan Quraisy.” (HR. Tirmidzi dalam Sunan-nya no.3845).


"Dalam riwayat Hakim dalam Mustadrak Rasulullah mempersaksikan bahwa Amr bin al-Ash adalah orang yang beriman bukan seorang laki-laki yang munafik. “Dua orang anak laki-laki al-Ash adalah orang yang beriman, yaitu Hisyam dan Amr.” (HR. Hakim no.5053 dan Ahmad dalam Musnad-nya no. 8029)"


"Ini adalah persaksian dari manusia yang paling mulia, yang perkataannya adalah wahyu yang tidak didustakan, atas keimanan Amr bin al-Ash. Rasulullah sangat mencintai dan mengagumi kemampuan Amr bin al-Ash, terbukti dengan beliau mengangkatnya sebagai pimpinan pasukan perang Dzatu Salasil dan mengangkatnya sebagai amir wilayah Oman sampai beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat" Imbunya membuat Shafa semakin yakin dengan nama pilihan suaminya tersebut.


"Gimana? Shafa suka namanya?" Tanya Rayyan sambil menatap istrinya yang tengah tersenyum memandangi putra kecilnya. Shafa mengangguk.


"Jadi AMR SYA'BAN AR-RAYYAN artinya apa kalau di satukan?"


"Pemimpin yang lahir di bulan Sya'ban anaknya ayah Rayyan" Jawab Rayyan sambil tertawa renyah.


"Iya, terserah mommy, panggil Rayyan juga boleh"


"Nggak lah! Itu kan nama ayah. Fix! Panggilnya baby Am."


"Atau Shafa mau menambahkan atau mengurangi namanya mungkin?"


"Nggak mas, udah itu aja. Aku suka namanya bagus. Iya kan tayang" Balasnya sambil memainkan jemari kecil anaknya.


Akhirnya mereka bertiga terlelap dalam buaian sang malam. Terucap doa di hati Shafa dan Rayyan aagar anaknya kelak bisa menjadi sosok seperti Amr bin Ash. Malam ini baby Am nampaknya cukup bersahabat dengan kedua orang tuanya, ia tak rewel ataupun bangun tengah malam lagi.


Rayyan terbangun tepat pukul 3 dini hari. Dilihatnya Shafa yang tengah tertidur miring dengan satu tanganya sebagai bantal dan satu lagi merengkuh tubuh anaknya. Sebuah pemandangan yang sangat indah bagi Rayyan. Nampak anaknya bergerak gerak hendak menangis, dengan cepat Rayyan menggendongnya agar tidak membangunkan Shafa.


"Masya Allah, anak ayah ngompol ya?" Gumam Rayyan saat merasakan bagian bawah anaknya basah. Pantas saja ia terbangun. Ia segera meletakkan kembali baby Am di atas kasurnya dan mengambil popok yang kering. Mommy melarang keras Shafa memakaikan pampers atau sejenisnya kepada anaknya sebelum usianya menginjak 3 bulan. Sehingga ia hanya menggunakan popok kain yang dalam sehari bisa lebih dari 10 kali mengganti popok dan celana.


"Kenapa mas?" Shafa dengan suara seraknya terbangun saat mendengar anaknya merengek.


"Nggak papa kok sayang, cuma ngompol, tapi udah mas gantiin popoknya" Ujarnya sambil menepuk nepuk paha baby Am, mencoba menenangkan nya yang mulai rewel.

__ADS_1


"Dia haus kali mas, makanya nangis" Shafa bangkit dari tidur dan menyandarkan tubuhnya pada kepala ranjang. Mencari posisi yang nyaman untuk bersandar. Benar saja baby Am langsung diam saat berada dalam dekapan ibunya. Ia minum dengan begitu kuatnya membuat Shafa harus ekstra sabar menahan perih pada bagian p*yudaranya.


"Apa sakit sekali?" Tanya Rayyan yang kasihan melihat ekspresi istrinya tersebut. Shafa hanya mengangguk.


"Sabar ya sayang, Insha Allah ada pahala dalam setiap tetes air susu yang dia minum".


"Apa hari ini mas akan ke kampus?"


"Iya, mas nggak enak udah 4 hari nggak masuk. Lagi pula besok juga libur awal Ramadhan" Ujarnya.


"Ramadhan nanti berarti aku nggak puasa dong mas. Ntar bayar utangnya banyak banget. Utang yang Ramdhan tahun lalu aja belum lunas ini mau nambah lagi" Keluh Shafa. Pasalnya yang lalu-lalu dia paling malas berpuasa.


"Wanita hamil dan menyusui boleh mengganti puasanya dengan membayar fidiyah sayang. Jadi Shafa tidak perlu membayarnya dengan berpuasa, cukup membayar fidiyah saja"


"Fidiyah itu siapa mas? Perempuan?"


"Ya Allah istriku. Fidiyah itu pengganti puasa dengan cara memberi makan fakir miskin selama jumlah hari puasa yang di tinggalkan. Misalnya Shafa meninggalkan puasa selama satu bulan penuh, berarti fidiyahnya memberi makan fakir miskin selama satu bulan penuh."


"Gimana caranya mas? Aku harus cari fakir miskin terus aku ajak kerumah buat makan, gitu?"


"Cara membayar fidyah ibu hamil atau menyusui bisa berupa makanan pokok. Misal, ia tidak puasa 30 hari, maka ia harus menyediakan fidyah 30 takar beras di mana masing-masing 1,5 kg. Fidyah boleh dibayarkan kepada 30 orang fakir miskin atau beberapa orang saja (misal 2 orang, berarti masing-masing dapat 15 takar). Menurut kalangan Hanafiyah, fidyah boleh dibayarkan dalam bentuk uang. Besarannya biasanya setiap daerah berbeda beda sesuai ketetapan BAZNAS"


"Oh, begitu. Mas yang kuat ya puasanya. Padahal aku pengen lo puasa bareng-bareng" Ujar Shafa.


"Setelah puasa Ramadhan kita tetap bisa puasa bareng-bareng kok sayang malah durasinya lebih lama" Balas Rayyan.


"Hah?" Shafa tak paham


"Seperti yang di bilang ibu kan?"


"Apa?"


"2 bulan!" Jawab Rayyan saambil tersenyum menaik turunkan alisnya.


"Oh.. Apa tadi? 2 bulan? Enak aja! 3 bulan!"


"2 bulan setengah kalau begitu yah..yah!


"Nggak ada ya mas! Pokoknya 3-4 bulan. Udah deh mas nggak usah ngeres aja pikirannya. Buruan Tahajjud sebelum subuh Omel Shafa. Berdwbat dengan Rayyan tidak akan ada habisnya.


"Iya nyonya..iya"

__ADS_1


_______


__ADS_2