Jodoh Pilihan Allah

Jodoh Pilihan Allah
Keguguran


__ADS_3

"Nyonya Shafa Azura" Panggil seorang perawat.


Mata Rayyan membulat sempurna. Ia segera berdiri mengedarkan pandangan menelisik satu persatu pasien yang ada di ruang tunggu, namun ia tidak melihat sosok yang selama seminggu ini di cari nya.


"Nyonya Shafa Azura" Panggil perawat untuk yang ke dua kalinya. Kali ini Rayyan yang maju menuju ke meja perawat.


"Maaf suster, bisa saya lihat biodata pasien atas nama Shafa Azura, saya suaminya" Pinta Rayyan dengan dada berdebar-debar. Suster itu pun memberikan kertas berisi biodata pasien yangbia ambil dari dalam map. Dilihat nya dengan seksama data yang tertera di bagian atas kertas tersebut.


Nama : Shafa Azura


Umur : 24 Tahun


Usia Kehamilan : 8 Weeks


Nama Suami : Zidane Ar-Rayyan


Deg


Jantung nya seakan berhenti berdetak. Ia merasakan nyeri teramat di dalam dadanya.


Jadi kamu baru saja berada di sini Shafa? Apa kamu melihat aku dan Nisa?


Ia segera berlari keluar mencari Shafa hingga ke depan jalan utama.


"Arrrrrgh" Ia mengusap wajah nya dengan kasar. Hampir saja ia menemukan Shafa, sekarang harus kehilangan dia lagi. Ia merogoh ponsel dalam saku hoodie nya dan menghubungi seseorang.


"Hallo, Istriku baru saja berada di klinik bersalin Permata Bunda. Periksa semua CCTV yang ada di sekitar dan segera temukan dia!!!" Perintah nya pada orang di balik telepon.


Rayyan kembali masuk ke dalam klinik. Ia duduk di kursi tunggu yang ia duduki tadi. Tak sengaja ia melihat sebuah kertas tergeletak atas kursi di sebelahnya. Ia mengambilnya dan semakin terkejutlah ia, sat mengetahui itu adalah kartu kontrol milik Shafa yang ia tinggalkan sebelum pergi tadi.


Kamu benar-benar disini sayang? Jadi wanita tadi itu adalah kamu. Aku benar-benar bodoh tidak mengenali istriku sendiri.


🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃


"Neng, Kenapa menangis? Neng sudah selesai periksanya?" Tanya mbak Nurul yang sudah berada di dalam mobil bersama Shafa dan beberapa pembina santri lainnya.

__ADS_1


Shafa menggeleng, dan mengambil tisu untuk mengusap air matanya.


"Apa ada yang sakit? Kita ke rumah sakit saja ya?" Mbak Nurul terlihat panik.


"Nggak usah mbak, Shafa baik-baik saja. Kita kembali ke pesantren saja mbak" Ujar Shafa yang sudah berhenti menangis.


Mereka sampai di pesantren tepat menjelang magrib. Shafa dan yang lainnya segera menuju masjid untuk melaksanakan sholat magrib berjamaah.


Jarak antara masjid dan rumah utama hanya beberapa meter saja. Kedua vnya masih berada di dalam ruang lingkup pesantren. Di tempat ini Shafa mulai belajar berbaur dan beradaptasi dengan kehidupan pesantren yang penuh dengan kesederhanaan.


Di sini ia harus selalu menjaga auratnya, bahkan saat berada di dalam kamar pun ia tidak pernah lagi memakai hotpants atau dress tidur minim seperti yang biasa ia gunakan dulu.


Kemewahan yang selama ini ia rasakan sangat berbanding terbalik dengan kehidupan pesantren yang sekarang ia jalani. Tak ada lagi sepatu branded atau tas limited edition yang selalu melekat di tubuhnya, melengkapi penampilan nya kemana pun ia pergi. Barang-barang yang di kenakan nya saat ini hanya barang-barang biasa yang ia beli bersama mbak Nurul dan Bilqis di pasar.


Dalam keseharian nya pun Shafa harus mencuci pakaiannya sendiri tanpa menggunakan mesin cuci atau laundy. Di sini, ia belajar untuk lebih menghargai setiap rupiah yang ia keluarkan. Perasaan berdosa dan menyesal nya pun muncul tat kala ia mengingat kembali masa lalunya yang penuh dengan kesenangan dan hura-hura. Bahkan setelah menjadi istri Rayyan pun, kebiasan nya belanja membeli barang-barang branded masih sering ia lakukan.


Pesantren ini mengajarkan arti hidup untuk Shafa. Bahwa tidak semua hal yang membahagiakan dapat di ukur dengan materi. Di sini dia belajar menjadi Shafa yang sederhana dan menerima.


Shafa beberapa kali meminta izin abah untuk merasakan tinggal di asrama bersama para santriwati lain nya, tapi abah menolak. Alasan nya karena Shafa sedang mengandung dan sudah menganggap Shafa seperti anak nya sendiri sehingga Shafa tetap berada di rumah utama bersama Bilqis dan Ummi.


Setelah selesai makan malam, Abah, Ummi beserta bilqis duduk di ruang tengah. Abah sedang menyimak hafalan Al-qur'an Bilqis. Meskipun masih duduk di bangku SMP, Bilqis sudah hafal hampir setengah dari ayat Al-Qur'an.


Shafa diam, air matanya kembali menetes.


"Kenapa Nak? apa ada maslah dengan kandungan mu?" Tanya ibu. Ia menatap Shafa dengan serius.


"Shafa bertemu suami Shafa di sana Ummi. Dia bersama ibu mertua Shafa sedang menemani Hana..." Ujar Shafa yang tak sanggup melanjutkan ucapannya. Ia langsung memeluk ummi dan menangis tersedu-sedu. Hati nya benar-benar sakit.


"Ya Allah, Sabar Nak, Allah sedang menguji kamu. Kuatkan hati mu nak. Memohonlah kepada Allah agar di beri petunjuk" Ujar umi sambil mengelus elus kepala Shafa.


"Shafa, Allah tidak menguji seorang hamba di luar batas kemampuaan nya. Akan selalu ada hikmah dari semua ini. Yang terpenting tetap istiqomah dan selalu memohon ampun pada Nya. Sekarang fokuslah pada anak yang ada di dalam rahim mu. Nanti, kalau kamu sudah siap, abah akan menemani mu menemui suami mu dan keluarga mu." Ujar abah.


🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃


Ia mulai mengerjapkan matanya, mengumpulkan segenap kesadaran nya. Matanya menatap langit-langit ruangan berwarnaa putih. Tubuhnya sangat lemah sulit untuk di gerakan. Ia meraskan nyeri di bagian tangannya yang di aliri selang infus.

__ADS_1


"A- aku dimana?" Lirih nya, menatap kiri dan kaanan.


"Mbak... Mbak Sudah sadar." Ujar bi Lastri.


"A..apa yang terjadi bi?" Tanya Nisa dengan suara parau.


"Mbak Nisa minum dulu" Bi Lastri memberikan pipet ke mulut Nisa.


"Katakan bi, kenapa saya di sini?" Tanyaanya.


Bi Lastri bingung bagaimana menjelaskan nya. Belum sempat bi Lastri menjelaskan, ibu sudah duluan masuk ke ruangan dengan wajah sendu.


"Gimana buk, apa mbak Shafa ketemu?" Tanya bi Lastri yang ikut cemas setelah mendengar Shafa ada di klinik dan menghilang lagi.


"Belum bi. Rayyan masih mencari bersama Ayah nya" Jawab ibu.


"Sha..Shafa kemana bi?" Tanya Nisa.


"Ehm... anu... itu..." Bi Lastri bingung mau menjawab apa.


"Shafa tidak kemana-mana, hanya pergi sebentar" Jawab ibu dingin. Nisa tak berani bicara lagi. Karena ibu juga sudaah mendengar semua nya. Bahwa ia masih mengharapkaan Rayyan meski telah ada Shafa di sisinya.


"Oh, ya... Apa kamu sudah merasa baikan?" Tanya ibu.


"Ia bu, hanya masih sedikit kram. Apa yang terjadi bu? Bagaimana dengan anak dalam kandungan saya" Tanya Nisa masih terbaring.


"Maaf Nisa, janin dalam kandungan kamu tidak bisa di selamatkan. Kamu baru saja menjalani prosedure *currat*ase untuk membersikan rahim kamu" Ujar ibu.


"Apa? Jadi aku keguguran?" Ujar Nisa tak percaya.


"Benar. Kata dokter kamu jatuh dengan posisi duduk sehingga menyebabkaan pendarahan" Jelas ibu.


"Ya Allah, ini nggak mungkin" Isak nya smbil menggeleng kan kepalanya.


Semua ini gara-gara kalian. Yola dan tante Lilis, kalian harus bertanggung jawab!!!

__ADS_1


_________________


please like and vote ya.. biar mas Ray cepet ketemu Shafa😘😍😍😍😍


__ADS_2