
Setelah selesai makan malam Shafa benar-benar tak mengizinkan Ray untuk keluar kamar. Ia terus-terusan bermaja membuat Rayyan merasa bingung sendiri. Shafa selalu meengikuti kemana Ray pergi. Bahkan ke kamar mandi pun jika tidak di cegah dia akan ikut masuk kedalam.
"Mas aku mau ngomong" Ucap Shafa ragu-ragu.
"Mau ngomong apa sayang?" Ray masih berkutat dengan pekerjaannya yang hampir selesai.
"Emmm.... Mas Ray masih butuh pegawai di toko ga?" Shafa memilin ujung bajunya.
Ray mengerutkan dahinya menatap Shafa.
"Kenapa memangnya? Kok tumben Shafa nanya soal pegawai di toko?"
"Anu mas, emm... Temen ku butuh pekerjaan Mas, dia di usir sama bapaknya terus di tuh sekarang ngekos sama sepupunya. Aku kan kasihan Mas, mas tolongin ya..ya.." Shafa memohon dengan tatapan penuh harap.
Apakah kamu selalu bersikap seperti ini sama semua orang Shafa? Kenapa sama temanmu kamu bisaa begitu baik tapi sama tante Lilis dan Yola kamu seolah acuh.
"Hmm... Nanti mas tanya Dian dulu ya" Jawabnya.
"Done!!! Alhamdulillah" Mas Ray menutup laptopnya dan meregangkan otot otot tubuhnya. Saat iaa mengangkat tangannyabke atas, ada dorongan yang kuat dalam diri Shafa untuk lengsung memeluknya. Menikmati aroma tubuhnya yang begitu menenangkan.
"Aku sayang mas Ray" Ocehnya, seemakin mengeratkan pelukannya.
"Shafa kenapa jadi manja banget ya? Ini ga lagi modus kan?" Rayyan mengelus-elus rambut Shafa, sesekali menciumnya. Shafa hanya menggeleng.
"Maaaasss" Panggilnya lagi.
"Hmmmm"
"Boleh ga sementara waktu Nisa tinggal disini? Ga lama sampai dia dapat tempat tinggal yang nyaman" Ucap Shafa.
Sudah kuduga pasti kalau manja-manja begini ada maunya.
"Kamar di rumah kita kan masih ada yang kosong mas. Nisa anaknya baik kok, sholehah lagi dia kan alumni Kairo juga. Aku nanti bisa belajar banyak sama Nisa mas" Ujar Shafa, berharap Rayyan akan meengizinkaan.
"Apakah itu tidak berlebihan sayang? Mas ga mau kamu ikut campur terlalu jauh dengan masalah orang lain. Karena yang menurut kita baik belum tentu baik di mata Allah" Ujarnya.
"Mas, bukankah mas Ray pernah bilang barang siapa yang memudahkan urusan orang lain maka Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan di akhirat" Ucap Shafa dengan penuh keyakinan. Ray terkekeh mendengar hadis yang di sebutkan Shafa.
"Istriku makin pinter ya sekarang" Ujarnya sambil memberikan kecupan di pipinya.
__ADS_1
"Jadi mas mengizinkan kan?" Shafa menatap Ray penuh harap.
"Hmm... Asalkan Shafa bahagia, Mas ga masalah" Ucapnya.
"Makasih Maaas.. Muach..muach..muach" Shafa berkali kali melayangkan kecupan di bibir Rayyan.
"Mas, Mas udah selesai kerjanya?" Tanya Safa yang sudah berubah posisi baring di pangkuan Ray.
"Sudah, Shafa ingin sesuatu?" Tanyanya. Shafa laangsung terbangun. Ia mengingat sesuatu.
"Tunggu ya Mas" Ucapnya langsungblari keluar kamar. Kali ini Ray taak khawatir karena ia masih berpakaian sewajarnya.
Shafa membuka sebuah kotakbTupperware dari dalam kulkas yang berisi strawberry yaang ia beli tadi sore. Ia mengambil sebuah piring ceper dan menyusun Strawberry di atas piring dan meletakan mangkuk kecil berisi gula di tengahnya. Setelah selesai ia pun segera melenggang ke kamarnya dengan bahagia.
"Apa itu sayang?" Ray memperhatikan Shafa yang baru masuk dengan membawa sebuah piring.
"Ini Strawberry Mas. Tadi aku mampir toko buah buat beli ini. Liat deh mas, cantik banget kan. Aku sengaja milih yang gaa terlalu merah biar enak kalo di makaan pake gula. Soalnya aku pas habis liat iklan gula jadi kepengen" Shafa mulai menggigit ujung stawberry dan mencelupkannya di gula.
"Hmmm enak" Ujarnya. Sementara Ray hanya menelan ludah.
"Mas coba deh.. Aaa!" Shafa menyuapkan sepotong stawberry yang dengan terpaksa di gigit oleh Ray. Ia memejamkan matanya bergidik karena rasa strawberrynya cukup asam.
Ray menggeleng melihat istrinya begitu lahap memakannya membuatnya hanya bisa menelan ludah.
.
.
"Mas.... mas bangun" Shafa menusuk nusuk pipi suaminya dengan menggunakan telunjuknya.
"Hmmmmm"
"Masssss!" Panggilnya lebih kencang.
"Apa sih sayang" Jawab Ray dengan suara khas orang bangun tidur.
"Aku lapar" Ucap Shafa tanpa rasa bersalah.
"Ini masih tengah malam sayang, kamu habis mimpi ya?" Ray melirik jam di hpnya. Ssangat heran dengan tingkah istrinya. Biasanya Shafa akan menghindari makan malam karena takut gemuk, sekrang malam minta makan di tengah malam.
__ADS_1
"Tapi aku lapar banget mas" Ujarnya sambil memegang perutnya.
Ray membuang nafas kasar dan memakainkembaali kaca matanya. Ia beranjak menyalakan lampu.
"Ayo!" Ucapnya singkat. segera di ikuti oleh Shafa.
Setelah sampai di dapur shafa membuka laci tempat persediaan bahan makanan tapi sepertinya dia tidak menemukan yang dia inginkan. Ia beralih membuka kulkas mencari sesuatu.
"Cari apa sih sayang? katanya mau makan, ya udah cepat" Ray mulai jengah melihat tingkah istrinya.
"Cari I*domi mas, aku mau makna yang panas-panas" Ujarnya.
"Ga boleh! Sekrang Shafa duduk biar mas yang buatin makan" Rayyan menuntun istrinya untuk duduk di kursi.
"Emang mas Ray bisa" Tanyanya. Jujur Shafa meragukan kemampuan Ray untuk hal satu itu.
"Bisa-bisa... sudah diam" Ucapnya. Ray segeranmemasak air. Setelaah mendidih ia memasukaan potongan worter, kentang, kol dan bakso ke dalamnya. kemudian menambahkan bawang goreng di atasnya.
"Nah, ini sudah jadi. Makanan yang panas-panas dan lebih sehat" Ray meletakan mangkuk tersebut di hadapan Shafa. Shafa ternyenyum bahagia. Matanya berbinar-binar meelihat makanan buatan Ray di hadapannya.
Shafa memakan makanan yang ada di depannya dengan lahap.
"Gimana? enak?"
"Shafa menggeleng, ini hambar tapi aku suka" Ucapnya sambil memasukan potongan bako terakhir.
Shafa juga heran, masakan Ray sangat juh dari kata lezat tapi begitu masuk di mulutnya. Ia merasa ingin lagi dan lagi.
"Udah kenyang kan. Ayo sekarang tidur lagi" Ray menarik tangan Istrinya.
"Jangan tidur dulu mas, Di luar kan masih Rame. Kita liat kembang api dari balkon kamar ya" Pintanya. Benar saja, ldi luar rumah masih terdengar hingar bingar masyarakat yang sedang merayakan momen pergantian tahun yng akan terjadi beberapa saat lagi. Ini menjadi kali pertama bagi Shafa tinggal di rumah saat pergantian tahun tiba. Seandainya belum menikah, saat ini pasti dia sudah berada di negara tetangga untuk berhura-hura.
Shafa dan Rayyan duduk di sofa yang ada di balkon kamarnya. Mereka menggunakan selimut untuk menutupi tubuh mereka karena suasana di luar cukup dingin. Shafa merebahkan kepalanya di bahu Rayyan, sementara Rayyan merangkul bahunya. Terlihat langit malam yang begitu cerah mulai di hiasi oleh nyala kembang Api yang bersahutan silih berganti.
"Semoga cinta kita ga seperti kembang api itu ya Mas" Ucap Shafa.
"Kenapa?"
"Indah, tapi hanya sesaat".
__ADS_1