Jodoh Pilihan Allah

Jodoh Pilihan Allah
Tetap Mengajar


__ADS_3

"Kalau ngajarin yang bener dong mas, masa dari tadi salah mulu! tenggorokanku udah kering nih" Aku menggerutu karena sejak awal aku membaca Al-Quran selalu tidak sesuai dengan pendengaran mas Ray. Bahkan aku belum menyelesaikan surat Alfatihah pada lembar pertama.


"Kok jadi marah-marah sih? Ini di benerin bacaannya sayang. Ayok mulai lagi!" Ujarnya dengan lembut. Aku menggeleng karena kesal. Perasaan dulu pak ustad ngajar ngajinya ga gini banget deh.


"Ya udah kalau ga mau, kita lanjutin nanti subuh lagi ya"


"Lagi mas?" Tanyaku tak suka.


"Ia sayang, kalau sering di baca pasti akan terbiasa. Meski awalnya berat dan terbata, tapi Allah sudah menyiapkan pahala yang sangat besar untuk Shafa. Shafa tau, kelak di dalam kubur yang gelap, bacaan Al Quran inilah yang akan datang menerangi dan memberikan pertolongan pada kita" Terangnya. Aku baru tahu tentang itu. Aku berasa lagi belajar mata pelajaran Pendidikan Agama Islam.


"Tapi bacanya dikit aja ya mas, kan capek akunya kalau di ulang-ulang terus." Tawarku. Aku lebih baik baca novel berlembar-lembar dari pada ngaji. Ya Allah ampuni hamba Mu yaang khilaf ini.


"Iya... yang penting baca. Karena amalan yang di sukai Allah adalah amalan yang sedikit tetapi rutin" Ujarnya lagi-lagi dengan senyuman hangat dan menenangkan.


Aku membereskan perlengkapan Sholat ku dan menyusul mas Ray yang tengah duduk di pinggiran ranjang.


"Mas Mau makan apa?" Tanyaku pada sang suami.


"Apa aja yang ada pasti mas makan" Enaknya punya suami yabg ga rewel kek gini. Mau aku suguhin nasi ama bawang goreng juga pasti dia makan.


"Ya udah ayok!" Ajak ku menarik tangannya. Tapi dianya malam ga beranjak sama sekali.


"Mas tunggu di sini aja" Ucapnya.


Aku meninggalkannya di kamar dan melenggang menuju dapur. Bi Lastri begitu begitu terkejut melihatku. Apa ada yang salah dengan diriku? Oh pasti dia heran melihatku pakaian yang ku gunakan. Sebuah dress putih di atas paha dengan model leher bahu.

__ADS_1


"Bibi Ga masak kan?" Tanyaku pada bi Lastri yang tengah mengelap piring dan gelas.


"Saya cuma masak nasi mbak, katanya kan makanan mas Rayyan mbak yang mau masakin"


"Bagus, besok besok bahan yang sudah saya beli, di siapain aja semua ya bi, supaya kalau mau masak aku tinggal ngambil aja" Ujarku sambil memilih bahan yang ada di kulkas


"Siap mbak"


Malam ini aku mau membuat tumis jamur dan wortel serta ayam popcorn. Aku menghela nafas panjang sebelum memulai memasak. Ku perhatikan jari-jari indahku yang baru minggu lalu ku rawat dengan budget yang tak sedikit. Huft, demi suami aku rela deh jadi koki tiap hari. Nanti tinggal minta tambahan uang buat perawatan. Aku mulai memakai apron warna pink yang baru ku beli khusus untuk chef Shafa yang cantik jelita tiada tara. Satu demi satu bahan sayuran ku masukan dalam wajan. Setelah matang aku meminta bi Lastri menggoreng ayam yang telah ku siapkan. Meskipun aku telah bertekad untuk memaskan makanan untuk suamiku, aku masih sayang jika kulit mulusku harus terkena percikan minyak panas yang bisa mengakibatkan noda hitam dalam waktu lama.


"Maaaas, makanan udah siap" Aku berlari riang menuju kamarku. Kulihat wajahnya nampak serius tidak seperti biasanya. Ada apa ya? apa aku buat salah? perasaan aku ga buat aneh-aneh deh.


"Mas, kenapa sih?" Aku mendekatinya, duduk di sebelahnya sambil mengusap lembut bahunya.


"Ga kanapa-kenapa. ayo makan!" Dia beranjak keluar kamar. Aku mengikuti di belakangnya. Rasanya ada yang aneh dari mas Ray. Seperti ada sesuatu yang ia sembunyikan.


Selesai makan aku membantu bi Lastri membereskan sisa makanan, sedangkan mas Ray pamit ke ruang kerjanya. Aku masih menerka-nerka apakah ada sesuatu yaang terjadi. Ku putuskan untuk menemuinya di ruang kerjanya sambil membawakan Madu hangat dan cemilan.


"Maaass..." Aku membuka pintu ruang kerjanya perlahan dan mendorongnya dengan lenganku agar aku bisa masuk. Ku letakan nampan berisi madu dan camilan di atas meja.


"Kenapa repot-repot sayang?" Mas Ray merentangkan tangannya di atas sofa memintaku untuk mendekat.


Aku duduk di sebelahnya dengan tubuhku direngkuh menggunakan tangan kirinya.


"Maas, kenapa sih? Apa aku bikin salah? Apa makanannya tadi ga enak? Apa mas ada masalah?" Tanyaku beruntun.

__ADS_1


"Ga ada apa-apa, Masakan Shafa enak kok, Shafa juga ga bikin salah. Mas aja yang lagi banyak fikiran. Maafin yah" Mas Ray mengecup pelipisku. Namun aku masih belum puas dengan jawaban nya. Aku butuh alasan yang logis yang dapat di terima akal sehatku.


" Mas mikirin apa sih? Mikirin aku bukan?" Tanyaku sambil memainkan telunjukku di dadanya.


"Hmm..Salah satunya"


"Aku kenapa mas?" Aku mendongakan wajah menatapnya. Dia menghela nafas panjang.


"Emm.. Shafa keberatan ga kalau mas minta Shafa berhenti mengajar?" Tanyanya.


" Tapi kenapa mas?" Tanyaku balik. Aku memang bukan berasal dari backround pendidikan sebagi guru. Aku juga heran mengapa yayasan ini menerimaku sebagai guru Bahasa Jerman. Aku adalah salah satu lulusan terbaik program sarjana salah satu Universitas Terbaik di Indonesia pada jurusan Sastra Jerman. Aku berniat untuk melanjutkan kuliah di bidang Design tapi Mommy melarangku dengan alasan tak ingin jauh dari putri semata wayangnya ini karena aku ingin melanjutkan studyku di Berlin. Alhasil, setelah lulus aku yang sama sekali ga ada minta untuk bekerja memilih untuk bersenang-senang menghabiskan waktu bertraveling keliling Indonesia bahkan ke beberapa negara Asia dan Eropa. Aku menguasai bukan hanya bahasa Jerman tetapi juga bahasa Inggris dan bahasa Jepang. Sejak SMP aku menyukai pelajran bahasa Asing dengan tujuan kelak ketika aku dewasa aku akan keliling dunia tanpa harus takut nyasar ataupun hilang. Aku lebih menyukai kegiatan sosial dari pada harus terikat pekerjaan.


"Demi kebaikan kamu" Ucapnya singkat. Tanpa penjelasan.


"Maksud mas apa? Aku baik baik saja, lagi pula aku kan ngajarnya ga setiap hari"


"Mas takut mas ga bisa ngawasin kamu saat mas ga ada di sekolah" Ucapnya mengeratkaan pelukannya. Mas Ray smemang ga setiap hari berada di sekolah. Jadwalnya di sekolah hanya 2 hari, yaitu hari Selasa dan Kamis. Selebihnya ia mengajar di kampus sebagai dosen. Aku jadi bingung sebenarnya pekerjaan tetap suamiku itu apa sih.


"Dulu dulu juga ga di awasin baik-baik aja. Aku ga mau pokoknya. Ntar Tania makin gencar godain mas kalau aku ga ada. Ga.ga pokoknya ga mau" Tolakku. Si Tania pasti akan besorak sorai kalau aku resign dari sekolah. Dia akan leluasa mendekati suamiku tercinta. Ga akan aku biarkan ada pelakor masuk kedalam rumah tanggaku, siapapun itu. Aku memang bukan wanita sempurna tapi aku juga bukan wanita yang mau berbagi hati dengan wanita lain.


"Justru itu mas ga mau kamu kenapa-napa"


"Aku ga akan kenapa-kenapa mas, mas pikir aku wanita lemah yang mudah di tindas ha?" Tanyaku kesal.


"Bukan gitu sayang, aku tahu kamu wanita kuat, strong tapi-----"

__ADS_1


"Ga ada tapi-tapian, sekali enggak ya enggak."


"Iya..iya...Tapi Shafa harus janji, kalau ada apa-apa Shafa langsung beri tahu mas. Dan jangan dekat dekat sama bu Tania". Ujarnya yang mengalah dengan keputusanku.


__ADS_2