Jodoh Pilihan Allah

Jodoh Pilihan Allah
Sensitif


__ADS_3

Sudah hampir sebulan Yola dan tante Lilis berada di rumah. Tak banyak yang berubah dari Yola dan ibunya. Dia masih saja mencari perhatian mas Ray dengan membuatkan makanan dan cemilan. Begitu juga tante Lilis, dia masih sering memuji-muji Yola di hadapanku dan suamiku. Tapi setidaknya dia tidak pernah lagi mengomentari apa yang aku kenakan, membuatku sedikit tenang.


Karena keberadaan tante Lilis dan Yola di rumah kami, mas Ray jadi membatalkan agenda liburan akhir tahun bersamaku dengan alasan tidak enaklah, ga sopan lah, ini lah, itu lah. Aku tuh heran sama mas Ray, dia tuh tipe anak patuh banget dengan orang tua bahkan dengan tante Lilis. Menghormati orang tua adalah prinsip utama hidupnya.


Sejujurnya aku pengen banget jalan-jalan menikmati libur dan pergantian tahun di tempat istimewa seperti tahun-tahun sebelumnya. Tapi sepertinya semua itu hanya mimpi. Kata mas Ray ini bukan tahun baru kita. Tahun baru kita itu pada 1 Muharram jadi gaa perlu menyambut ataupun merayakannya karena itu merupakan perbuatan yang sia-sia alias unfaedah. Padahal tahun lalu aku merayakan tahun baru di Singapura bersama Amel Vira dan Lainnya. Menyaksikan hujan kembang api dan Barbeque an dan karaokean sampai pagi. Sebuah kesenangan yang mungkin tidak akan pernah terulang kembali.


"Mas aku bosan dirumah, pengen jaalan-jalan" Ujarku pada suamiku yang sedang sibuk dengan pekerjaannya. Akhir akhir ini mas Ray cukup sibuk dengan pekerjaannya di kampus.


"Mas masih sibuk sayang, nanti malam ya,, kita makan di luar" Jawabnya masih terus berkutat di depan laptopnya. Ish pengen lempar ke laut deh tu laptop.


"Aku ga mau nanti malam mas, aku maunya sekarang mas. SEKARANG!" Ucapku yang sudah gusar. Mas Ray mendengus menatapku yang sudah mondar-mandir di hadapan nya sedari tadi.


"Shafa kenapa sih kok tumben marah-marah" Ucapnya membuatku tersinggung dan semakin ingin mencak-mencak di hadapan nya. Ini suami ga ada perhatiannya sama istri. Bikin gue sakit hati tau ga. Liburan kagak, piknik kagak, giliran pengen jalan-jalan di bilaang marah-marah.


Aku memalingkan mukaku berjalan menuju balkon dan duduk disana sambil memeluk lututku. Kenapa jadi mewek gini sih. Gue ngerasa di hati nyesek banget. Beneran kurang piknik deh aku.


"Sayang kenapa nangis?" Mas Ray mengusap kepalaku. Entah sejak kapan dia berdiri di belakangku. Aku diam tak menjawab. Aku lagi berada pada mode ngambek berat. Aku mengusap kasar air mataku dengan punggung tanganku.


"Sudah, sudah. Shafa mau kemana? Ayok kit jalan-jalan" Ucapnya sambil meraih kepalaku. Mood ku tiba-tiba berubah kembali begitu mendapat pelukan hangat darinya.


"Mas, ayok beli es buah di jalan simpang 3 yang pas itu" Ucapku. Sambil menatap wajahnya. Ia mengerutkan dahinya.


"Cuma mau beli es buah? Mending suruh bi Lastri buat ya?" Ucapnya membuat ku kembali merajuk. Dih aku maunya es buah yang itu malah bi Lastri yang suruh buat. Mana enak. Udah lah bilang aja kalau ga mau neemenin aku.


"Ga usah deh mas. Kalau mas ga iklas nemeninnya. Aku ga papa kok" Ucapku memalingkan wajah. Genangan bening di mataku rasanya sudah mau tumpah saja.

__ADS_1


"Eh? Kok nangis lagi. Iya..iya mas mau iklas lahir batin demi istri tercintaku" Ucapnya mengusap lembut mataku.


"Kamu kok jadi ngambekan gini sih sayang" Ucapnya yang langsung dapat tatapan tajam dari mataku.


.


.


Aku meminum dan memakan es buahku dengan lahap. Rasanya tuh plong banget setelah menikmati semangkuk es buah dengan sirup melon. Setelah membeli es buah kami langsung kembali ke rumah. Cuaca memang lagi panas cocok buat yang adem-adem.


"Kak Ray dari mana?" Tanya Yola yang juga baru pulang kursus.


"Habis keluar sebentar beli es buah" Jawab mas Ray. Aku males dong mau jawab kan bukan aku yang di tanya. Aku langaung menuju kamarku dan mengganti pakaian dengan dress pendek yang sudah jarang ku pakai. Ku amati wajahku di depan cermin. Sepertinya sudah waktunya nyalon. Rambut juga sudah lama ga di urus. Karena sekarang aku lebih sering keluar rumah dengan memakai kerudung. Gaya kerudung yang aku pakai tuh beda banget dengan yang di pakai Yola. Dia keseringan memakai kerudung instan di bawah dada, sedangkan aku levih suka pakai pasmina dan kerudung segitiga. kalau gerah tinggal buka penitinya terus di sampirin deh di bahu ke dua ujungnya.


"Mas besok aku ke salon langganan ya?" Tanyaku pada suami yang sudah berkutat kemvali dwngan laptopnya.


"Mau kemana?" Tanya mas Ray begitu aku berjalan menuju pintu.


"Mau minum air es mas, haus" Ucapku.


Biar mas ambilin. Kamu tunggu disini" Ucapnya meletakkan laptopnya dan berjalan menuju dapur. Aku kan mau nyari cemilan sekalian. Akhirnya ku susul mas Ray ke dapur.


"ASTAGFIRULLAH HAL ADZIM..!!!" Teriak seseorang.


Aku menoleh, ku lihat tante Lilis memandangku sambil menutup mulutnya. Si Tante kenapa sih macam lihat hantu aja. Ku menoleh ke kiri kanan siapa tau aja ada hantu beneran.

__ADS_1


"Ada apa tante?" Mas Ray berlari menghampiri tante Lilis sambil memegang botol minum.


"Lihat Ray... Lihat kelakuan istri kamu!!" Ucapnya sambil menunjuk nunjuk ke arahku. Ku lirik bagian bawah tubuhnku, tidak ada yang salah. Aku memakai dress putih tanpa lengan sebatas paha dengan detail jaring-haring di bagian perut sampai pinggang.


Mas Ray menatapku tajam dan langsung menarik ku menuju kamar.


"Kenapa sih mas?" Tanyaku kesal.


"Mas kan sudah bilang Shafa tunggu di sini, kenapa ga mau dengar!" Ia nampak marah. Aku jadi bingung, memangnya salah ku apa.


"Aku mau ambil cemilan mas. Mas kenapa marah-marah sih? Ucapku tak kalah kesal.


"Shafa lupa kalau di bawah ada tante Lilis, dan Shafa keluar dengan pakaian seperti ini. Mas ga mau tante Lilis salah paham sama kamu" Ujarnyaa memegangi ke dua bahuku.


"Memangnya kenapa sih mas? Aku gerah tau ga sih. Lagian kan di dalam rumah ini. Kalau dia mau salah paham terserah. Aku males pusing" Ucapku memalingkan pandanganku karena lagi-lagi ku rasa mataku sudaah memanas. Sial!!!


"Sayang, mas hanya ga mau tante Lilis menganggap kamu---"


"Apa mas? Nganggap aku apa? cewek murahan? atau istri ga tau diri? atau apa? Ucapku dengan air mata bercucuran.


"Shafa!!!" Bentaknya membuatku tersentak. Aku berlari menuju arah balkon menangis dan menumpahkan segala emosiku.


_________________


Pak Rayyan lagi kerja jangan di ganggu🤭😍😍

__ADS_1



__ADS_2