Jodoh Pilihan Allah

Jodoh Pilihan Allah
Memaafkan


__ADS_3

Waktu masih menunjukan pukul 03.00 dini hari, waktu tidur yang sangat nyaman, di tambah dengan gerimis yang sejak malam tadi turun seperti mengisyaratkan bahwa bumi rindu akan tetes airnya.


Saat semua orang masih terlelap, sepasang suami istri ini telah terjaga dengan kesibukannya masing-masing. Shafa yang terjaga karena rengekan sang buah hati yang merasa kehausan memaksanya untuk membuka mata dan menyusui bayi yang baru berumur 21 hari tersebut. Kebiasaan baru baby Am, dia akan terjaga bersamaan dengan ayahnya yang hendak melaksanakan ibadah malamnya.


Mas Rayyan rajin banget sih tahajjud nya. Pantesan ya aku dulu cepet banget klepek-klepek nya sama dia. Ini pasti gara-gara di tiap hari di tikung di sepertiga malamnya.


Baby Am yang di timang-timang mommy nya nampak tenang kembali. Setelah puas minum susu maka, tak ada pilihan lain selain tidur kembali atau terjaga sampai pagi dengan mulut berkecap-kecap yang kadang tertawa dan tersenyum dengan sendirinya. Entah apa yang sedang bayi kecil itu pikirkan yang jelas hadirnya dirinya, tangis dan tawanya kini menjadi hiburan tersendiri bagi Shafa dan keluarga kecilnya.


Cup! Sebuah kecupan mendarat di kening Shafa. Rayyan segera mengambil alih bayi yang yang tengah terjaga dalam pangkuan istrinya. Ia membisikkan kalimat-kalimat berisi doa pada putra kecilnya kemudian menitipkannya di bagian ubun-ubun nya.


"Di apain Am nya mas? Udah kaya mbah dukun aja pake tiup-tiup. Jangan-jangan aku dulu juga di tiup-tiup ya kalau tidur makanya ampe jadi bucin banget sama mas Rayyan?" Shafa memicingkan matanya mengikuti setiap gerak gerik yang di lakukan papa muda itu kepada anaknya.


"Ini di doain sayang, supaya jadi anak Sholeh, ya nak ya?" Ujarnya sambil mencoba berbicara pada bayi mungil tersebut.


"Kalau Shafa, biar nggak ditiup-tiup sudah pasti klepek-klepek" Balasnya tanpa mengalihkan pandangan dari bayi mungil tersebut.


"Why?"


"Karena tiap hari mas tikung kamu di sepertiga malam seperti ini"


Emang lagi balapan sepeda, main tikung-tikung.


"Gombal!"


"Bukannya suka di gombalin? Waktu di nikahannya pak Briyan katanya pengen di gombal"


"Gak! Itu kan maunya Am waktu dalam perut"


"Jadi nggak mau?"


"Gak!"


"Yakin?"


"Mas ih, kalau mau gombal ya udah cepat bilang. Nggak usah banyak nanya" Shafa mengerucutkan bibirnya kesal.


"Mas nggak bisa gombal. Bisanya ini"


CUP! Ia mencium bibir Shafa sekilas di iringi dengan tatapan nakalnya


"Mass ih, mesum!!!" Pekiknya sambil memukul tangan Rayyan.


"Kalau mas nggak m*sum nggak akan ada Am di antara kita sayang"


"Udah ah, aku mau nyiapin makan sahur mas dulu. Jagain yang bener anaknya, jangan di buat nangis" Ujar Shafa kemudian beranjak meninggalkan bapak dan anak yang tengah berkomunikasi dengan caranya sendiri.


Sekitar 40 menit Shafa berkutat di dapur membuatkan makan sahur untuk suaminya. Kendati pun belum cukup sebulan ia melahirkan, tak menjadi penghalang baginya untuk tetap melayani Rayyan seperti biasa kecuali dalam hal kebutuhan biologis, Rayyan harus menunggu sampai beberpa bulan ke depan.


"Makanan siaaaap" Shafa membuka pintu kamar hendak memanggil Rayyan untuk makan sahur, tapi justru mendapati pemandangan yang sangat menyejukkan mata. Ia melihat Rayyan tengah terrtidur kembali dengan tangan kanan nya merengkuh tubuh Am dan Zaf yang tidur berdampingan.


Sebelum membangunkan mereka, ia mengabadikan momen tersebut di ponsel miliknya. Satu jepretan cukup untuk mengenang saat ini.


"Mas, bangun. Ayo sahur" Ia sedikit menggoyangkan bahu Rayyan. Rayyan bukanlah tipe manusia yang susah di bangunkan. Tidak sama seperti dirinya dulu, yang butuh perlakuan ekstrim agar cepat bangun.


"Eh... Mas! Mau apa?" Shafa tersentak saat tubuhnya tiba-tiba ditarik dan jatuh dalam dekapan Rayyan.


"Mau peluk seperti ini. Sebentar saja" Jawabnya dengan mata yang masih tertutup.


Shafa menikmati dekapan lembut suaminya sambil memperhatikan lamat-lamat wajah teduh yang selalu membuatnya bahagia. Tak bisa di bayangkan apa yang terjadi jika suatu hari nanti ia tak lagi bisa menatap wajah teduh penyejuk hatinya itu. Ah, mungkin dia akan gila.


Shafa menggelengkan kepalanya, membuang semua fikiran negatif yang tiba-tiba mampir di kepalanya.


"Mas, udah meluknya." Ujar Shafa yang sudah merasa sesak karena himpitan di dadanya.


"1 menit" Ujarnya sambil mengeratkan pelukannya, menghirup dalam-dalam aroma tubuh yang selalu menjadi candu baginya. Aroma yang selalu ia rindukan. Aroma yang tak pernah bosan di ciumnya.


"I Love you Mom"

__ADS_1


CUP! Sebelum akhirnya ia melepaskan pelukannya.


"Ayah tenapa peluk-peluk mommy?" Suara itu cukup membuat keduanya saling adu pandang dan menoleh secara bersamaan.


Am dan Zafran sudah terjaga dan sedang memperhatikan wajah bengong mommy dan ayah nya yang tertangkap basah sedang bermesraan.


.


.


.


.


.


"Sayang, tante Lilis mau kesini melihat Am. Apa Shafa mengizinkan?" Tanya Rayyan. Saat ini mereka tengah bersantai di ruang tengah yang menjadi tempat favorite baru ke duanya setelah teras belakang. Menjelang hari raya Rayyan bisa sedikit lebih santai karena jam kerjanya di kampus sedikit berkurang. Beberapa mata kuliah pun sudah selesai di ujian kan, membuatnya lebih banyak waktu di rumah.


"Mas tahu shafa masih sakit hati, tapi dengan menjauhi dan membencinya tidak akan membuat sakit hati Shafa berkurang. Justru akan bertambah seiring dengan bertambahnya dosa kita. Tidak baik memelihara dendam sayang. Karena itu bisa menjadi penyakit hati buat Shafa." Ujar Rayyan sambil mengelus lembut kepala istrinya.


"Masa? Ga percaya ah. Kan nggak ada dalilnya" Ujar Shafa. Ia sudah terbiasa mendengar dalil-dalil yang di ucapakan Rayyan untuk memperkuat perkataannya.


"Sayang, orang yang memaafkan dan berlapang dada akan di ampuni oleh Allah ta'ala. Allah bahkan menyebutkannya dalam Al-Qur'an Surat An-Nur ayat ke 22 yang artinya, Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin Allah mengampuni mu? Dan Allah adalah maha pengampun lagi maha penyayang . Apa Shafa tidak ingin di ampuni dosanya?"


"Ya ingin lah mas, apalagi dosaku kan menggunung"


Walau nggak kelihatan tapi aku bisa ngerasain kalau dosaku banyak banget. Apalagi dosa di masa lalu. Ya Allah aku merasa koto**r. Ya Allah dengan aku memaafkan tante Lilis semoga Engkau memaafkan juga dosaku yang telah lalu.


"Kenapa bengong sayang?"


"Ah, enggak papa. Ya udah mas suruh tante Lilis datang, sekalian buka puasa di sini. Nanti aku yang akan masak" Ujar Shafa. Ia mencoba untuk berlapang dada memaafkan tante Lilis, selebihnya biar Allah yang atur apakah dia tulus atau hanya sandiwara.


Rayyan tersenyum senang mendengar Shafa yang sudah memaafkan tantenya.


"Masya Allah, istri sholehah ku" Ujarnya sambil mengusap pipi Shafa


"Mas nanti mau aku masakin apa?"


"Apapun yang Shafa masak pasti mas makan" Shafa berdecih mendengar jawaban suaminya yang selalu seperti itu sejak pengantin baru hingga kini sudah memiliki anak.


"Mas, kalau aku nanya gitu, mas request dong apa kek gitu. Ntar kalau aku jengkel aku masakin air aja lo. Mau?"


"Yakin cuma mau masakin air?" Rayyan mengangkat sebelah alisnya membuat Shafa mengerutkan keningnya.


"Kenapa emang?"


"Shafa nggak tergiur pahala besar?"


"Hah? Pahala apa?"


"Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga." (HR. Tirmidzi no. 807, Ibnu Majah no. 1746, dan Ahmad 5: 192)"


"Memangnya Shafa nggak pengen dapat pahala seperti orang berpuasa meskipun Shafa sedang tidak puasa?" Tanya Rayyan sambil menatap wajah cantik istrinya.


"Ya pengen! Makanya request dong mas Rayyan. Jangan terserah-terserah mulu" Jawabnya yang terdengar kesal.


"Ya udah iya, mas mau makan nasi pecel, bisa nggak?"


"Hah? Nasi pecel?"


"Iya... Sama gurame goreng. Udah itu aja" Jawabnya. Shafa pun manggut-manggut. Jujur saja, untuk membuat pecel ia sendiri belum pernah, tapi bukan berarti tidak bisa dong. Semangat Shafa!!!


Tepat pukul setengah lima sore, Shafa telah menyelesaikan masakannya. Ia membuat bumbu pecel seperti keinginan Rayyan dan juga gurame yang tinggal di goreng oleh bi Lastri setelah ia bumbui. Tak lupa ia juga membuatkan sayur bening bayam dan jagung manis serta udang goreng untuk Zafran.


"Mbak, ini ikannya banyak banget memang siapa yang mau makan?" Tanya bi Lastri. Biasanya Shafa hanya menyiapkan hanya untuk Rayyan dan Zafran. Karena para ART yang pada menyukai makanan pedas akan memasak sendiri makanan mereka dengan bahan yang ada di kulkas. Shafa dan Rayyan tidak pernah membeda-bedakan makanan untuk ART nya.


"Tante Lilis dan Yola akan buka disini bi" Jawabnya tenang, seolah tak pernah terjadi masalah diantara mereka.

__ADS_1


"Mbak Shafa serius? Bukannya bu Lilis - -"


"Saya sudah melupakannya bi. Jangan di ungkit lagi biar saya bisa ikhlas" Jawab Shafa sambil mencuci tangannya.


"Ya Allah Gusti! Mbak Shafa ternyata bukan hanya cantik wajah nya saja, tapi juga hati nya. Bibi saja yang orang lain masih sakit hati dengan perbuatan mereka ke mbak, tapi mbak Shafa malah sudah memaafkan" Ujar Bi Lastri, tak sengaja menjatuhkan air mata nya mengingat kembali apa yang terjadi pada Shafa waktu itu.


"Ih, nangis ya? Batal loh puasanya" Ledek Shafa sambil terkekeh melihat bi Lastri yang justru terlihat begitu sedih.


Shafa sedang bersiap memakai kerudung nya setelah di beri tahu bahwa tante Lilis sudah ada di ruang tamu bersama dengan Rayyan. Ia baru saja selesai mandi dan menyusui Am.


Bismillah... Semoga apa yang aku lakukan hari ini bisa menjadi penyebab di ampuninya dosaku yang lalu dan di mudahkannya kesulitanku di masa yang akan datang.


Shafa keluar kamar dengan menggendong Am, ia sudah membesarkan hatinya untuk memaafkan tante Lilis dan Yola. Meski sakit, meski berat, bukankah Allah yaang maha Esa saja maha pengampun? Kenapa manusia yang hina dan penuh dosa justru angkuh dengan kesombongan dan keegoisannya?


"Shafa" Kata pertama yang di dengar Shafa begitu ia menampakkan dirinya di hadapan Yola dan tante Lilis. Shafa memberikan Am pada Ayahnya. Sementara Shafa tersenyum menghampiri tante Lilis yang sudah berdiri dengan mata berkaca-kaca.


"Tante apa kabar?" Shafa mengulurkan tangannya hendak mencium tangan tante Lilis namun belum sempat ia menyentuh tangannya ia langsung di peluk begitu saja oleh tante Lilis.


"Shafa... Maafkan tante nak, maafkaan tante" ujarnya dengan derai tangis.


"Sudah tante, sudah. Shafa sudah memaafkan tante" Ujar Shafa yang membalas pelukan tante Lilis tersebut.


Tante Lilis semakin terisak dan mengeratkan pelukannya.


"Tante, bukannya tante ingin melihat Am?" Ujar Shafa agar tante Lilis segera melepaskan pelukan yang mulai terasa menyesakkan dadanya.


"Hiks...hiks... Apa boleh tante melihat cucu taante" Ucapnya masih terisak. Shafa mengangguk pertanda setuju. Tante Lilis segera menghampiri Rayyan yang tengah menggendong Am yang di alasi dengan selimut tebal di bagian bawah tubuhnya.


"Kak" Suara Yola nampak terbata. Ia tak berani mengangkat wajahnya.


"Kakak sudah memafkanmu juga Yola" Shafa memeluk Yola yang terlihat takut sambil meremas jari-jarinya.


"Kak Shafa...hu..hu..hu hiks..hiks... Maafkan Yola kak" Tangisnyaa pecah saat Shafa dengan lapang memeluknya.


"Maafkan Yola kak, Yola menyesal. Yola janji tidak akan menyakiti kakak lagi hiks..hiks"


"Iya... Kakak sudah memaafkan Yola" Balas Shafa sambil mengusap pungung Yola.


"Masya Allah Ray, dia persis sekali dengan kamu waktu kecil hampir tidak ada bedanya kalau hidung nya seperti kamu" Tante Lilis memandang Am dengan wajah berkaca-kaca, haru campur bahagia.


"Am lebih ganteng kan tante? Ayahnya hidung nya pesek, sedangkan Am mancung" Ujar Shafa mencairkan suasana yang sempat haru biru. Tante Lilis mengangguk sambil tersenyum menatap Am yang begitu tampan.


"Kalau besar, pasti jadi foto copy ayahnya" Ujar tante Lilis yang masih memandangi Amr dengan intens.


"Ayo tan, masuk di dalam aja, Shafa mau nyiapin buka puasa dulu."


"Aku bantu kak?" Tawar Yola yang di sambut anggukan oleh Shafa. Ia mencoba untuk membangun hubungan baik kembali dengan Yola dan tante Lilis, karena di kemudian hari kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi. Bisa jadi orang yang pernah kau benci adalah orang yang akan kau sayangi nantinya.


"Kamu memang tidak salah memilih Shafa sebagai istrimu Ray. Tante baru menemukan wanita se tulus dia. Tante pikir Shafa tidak akan pernah memaafkan tante. Tapi ternyata hatinya begitu lapang. Tante benar-benar menyesal pernah menuduh nya yang tidak-tidak" Tante Lilis menatap Shafa dan Yola yang berjalan menuju dapur dengan tatapan haru.


"Bukan Ray yang memilih tante. Tapi Allah yang memilihkan dia untuk Rayyan. Shafa adalah jodoh pilihan Allah untuk Rayyan"


___________


Hai..hai... Pada nungguin ya... Maaf ya telat up nya soalnya author lagi sibuk banget nyiapin berkas buat kuliah profesi. Belum lagi harus belajar buat menghadapi tes SKB yang semakin dekat. Mohon doa terbaiknya ya dari pembaca semua🤲🤲🤲


Oh ya, sekalian mau ngasih tahu bahw JPA sudah memasuki babak akhir. Beberapa eps lagi akan tamat.😭😭😭


Sedih ya?


Masih kangen mas Ray dan Shafa?


Jangan sedih ya, karena sedih-sedihnya ada di sequel JPA dengan Judul SAKINAH BERSAMAMU. 😍😍😍


Kok judulnya ganti Thor? Apa ini kisah anak-anak mereka?


Judulnya ganti karena ku sesuaikan dengan alur ceritanya. Dan Ini kisah mereka. Mereka "Rayyan dan Shafa" dalam bingkai yang lain.

__ADS_1


__ADS_2