Jodoh Pilihan Allah

Jodoh Pilihan Allah
Ngidam Para Orang Tua


__ADS_3

"Shafa" Mommy berlari memeluk Shafa sambil menangis haru.


"Kamu pulang Nak. Kamu kemana aja, kami semua khawatir!" Ujar Mommy sambil memandangi tubuh putri semata wayang nya dari ujung kaki sampai ujung kepala.


"Aku baik-baik saja Mom, Shafa hanya refreshing sebentar" Ujar Shafa. Ia sudah menduga pasti respon Mommy nya akan seperti ini. Ia sudah tidak kaget. Karena dulu ia sering pergi traveling bahkan hampir 2 bulan tinggal di Berlin pun ia pernah. Dan Mommy pasti akan selalu seperti itu.


Nak, kamu nanti jangan seperti Mommy dulu yah. Yang sukaa jalan-jalan berbulan bulan baru pulang. Kamu seperti ayah mu saja yang anteng dan lempeng.


Ada ketakutan tersendiri di hati Shafa, jika anaknya kelak mengikuti jejaknya. Bukan kah buah jatuh tak jauh dari pohon nya?


"Mbak Shafa, Alhamdulillah mbak Shafa pulang." Bi Lastri pun ikut memeluk Shafa.


"Iya bi."


"Alhamdulillah ya Allah. Bibi nggak tega lihat mas Rayyan tiap hari kaya orang bingung." Ujar bi Lastri sambil mengusap air matanya.


Sesusah itu kah kamu mas selama aku pergi?


"Ayo masuk Shafa, kami sudah siapin makan siang untuk kalian" Ujar ibu.


Shafa di giring menuju ke meja makan oleh dua orang wanita yang berstatus sebagai ibu nya itu. Begitu banyak makanan yang terhidang di atas meja. Membuat Shafa binggung untuk memilih yang mana. Pasalnya, saat berada di pesantren ia dan keluarga abah hanya makan makanan secukupnya, tidak lebih dari 4 jenis, Sayur, lauk dan pauk, juga pelengkap seperti kerupuk atau lalapan.


Di atas meja juga tersedia berbagai macam buah-buahan, desert, sampai es buah dan salad buah pun ada.


" Bu, ini makanannya banyak sekali." Ujar Shafa.


"Mas Rayyan yang nyuruh mbak. Katanya biar mbak Shafa bisa milih mana yang di suka." Jawab bi Lastri.


Aku kan cuma pergi sebulan, bukan puasa sebulan. Di pikir aku karung beras apa? Mau di kasi makan sebanyak ini.


"Sebagian di kasi ke tetangga aja ya bi, sayang kalau mubadzir" Ujar Shafa.


"Sayang, bagaimana cucu Momny di dalam sini? Apa dia baik-baik saja? Kapan kamu akan periksa ke dokter?" Tanya Mommy antusias.


"Iya, ibu sudah nggak sabar pengen tau kondisinya." Ucap ibu sambil mengambilkan makanan untuk Shafa.


"Shafa mau yang itu bu." Ujarnya sambil menunjuk tempe goreng.

__ADS_1


"Kami tadi sudah cek di dokter bu. Alhamdulillah kondisinya sehat." Jawab Rayyan.


"Alhamdulillah, kamu harus banyak istirahat dan jangan stress. Karena di trimester awal itu sangat rawan." Terang Mommy yang sudah sangat paham akan masalah ibu dan anak.


"Apa kamu nggak ngidam sesuatu sayang?" Tanya ibu.


"Enggak bu, hanya 2 hari ini Shafa suka mual. Padahal sebelum-sebelumnya nggak papa." Jawab Shafa sambil mengunyah makanan nya.


Di meja makan itu, hanya Shafa yang makan, yang lainnya hanya memperhatikan sambil sibuk menawari ini dan itu.


"Wah sepertinya dia mau manja sama ayah nya. Begitu ayahnya datang langsung bereaksi." Ujar ibu.


Apa benar seperti itu? Semoga Jangan ya Nak. Kamu anak Mommy, jadi nggak boleh menyulitkan Mommy.


"Semoga kamu ngidamnya nanti nggak seperti Mommy mu Shafa." Sahut Daddy yang baru tiba di susul oleh ayah di belakang nya.


"Daddy..!!!!" Teriak Shafa langsung memeluk Daddy nya.


"Apa cucu Daddy nakal di dalam sini?" Tanya Daddy sambil mengusap perut putri kesanyangan nya itu.


"Dia mulai Nakal Dad, Shafa jadi sering mual sekarang." Adunya pada pria yang berusia lebih dari setengah abad itu.


Shafa melanjutkan kembali makan nya di temani oleh lima orang yang sangat memperhatikan nya.


"Memangnya Mommy dulu seperti apa waktu hamil Shafa?" Tanya Rayyan.


"Mommy mu ini waktu hamil Shafa sangat menyiksa Daddy Ray." Ujar Daddy.


"Kenapa bisa Dad?" Kali ini Shafa yang bertanya. Ia penasaran bagaimana sepak terjangnya waktu di dalam kandungan.


"Mommy dulu, waktu hamil kamu nggak bisa sedetik aja jauh dari Daddy, Maunya nempel terus sama Daddy. Kalau malam, nggak akan bisa tidur kalau nggak di peluk Daddy." Terangnya.


Glek!


Kamu jangan ya Nak, Mommy mohon jangan seperti Mommy.


"Wah, enak dong Dad. Rayyan juga mau dong kaya Daddy." Sahut Rayyan sambil melirik Shafa yang sudah menghentikan makan nya.

__ADS_1


"Enak apa nya Ray. Gara-gara Mommy mu ngidam Shafa, Daddy sempat kehilangan beberapa kontrak kerja sama lantaran Mommy mu yang tidak mau ditinggal. Dia bahkan pernah maksa nerobos ruang meeting cuma karena pengen nyium keringat Daddy. Daddy sampai nyiapin kamar khusus di rumah sakit, karena Mommy suka minta tiba-tiba. Untung saja Mommy bertugas di rumah sakit Daddy jadi Daddy nggak perlu bolos kerja" Jelas Daddy panjang lebar membuat Shafa melongo.


"Daddy!!! Malu-maluin tau." Ujar Mommy sambil memukul lengan Daddy, membuat semua yang berada di situ tertawa geli.


"Wah, Mommy keren. Semoga Shafa juga seperti itu." Ujar Ray yang langsung mendapat pelototan dari Shafa.


Jangan ya Nak. Pokoknya kamu harus seperti ayah mu. Jangan seperti Mommy!


"Kalau ibu, gimana waktu hamil? Pasti nggak aneh-aneh kaya Mommy kan?" Tanya Shafa, yang kali ini penasaran dengan cerita maternity ibu.


"Siapa bilang? Selama ibu hamil Rayyan, ayah selalu ketar-ketir, karena ibu berubah jadi possesive dan galak. Setiap teman perempuan ayah pasti di curigai yang enggak-enggak. Ayah itu sampe pernah malu sekali gara-gara ibu datang ke kampus marah-marah sama teman mengajar ayah. Padahal dia sudah menikah dan punya 2 anak. Selain itu, ibu mu suka minta aneh-aneh. Ayah jarang tidur malam karena tiap malam pasti ibu bangun minta ayah buatin makanan." Terang nya.


"Serius ayah?" Tanya Shafa.


"Iya, teman-teman ayah jadi pada takut mau bicara sama ayah. Karena ibu suka tiba-tiba muncul." Jawab ayah.


"Wah, ibu keren. Aku mau kaya ibu" Ujar Shafa sambil melirik sinis pada Rayyan.


"Cuma itu aja yah?" Tanya Rayyan mengerutkan dahi nya.


"Emmm... Ada lagi. Ibu mu jadi suka dandan. Pokoknya kalau di depan ayah jadi manis sekali. Katanya takut ayah tergoda sama perempuan lain. Ibu hanya akan galak kalau ayah di luar rumah. Setiap waktu ayah harus laporan sama ibu. Tapi kalau sudah di dalam kamar, Masya Allah rasanya ayah seperti berada di surga dunia. Ibu mu sangat luar biasa. Sebelum tidur pasti--------"


"Ayaahhhh!!! Jangan bikin malu ah."Ujar ibu yang wajah nya sudah merona. Ayah hanya terkekeh melihat ekspresi ibu yang sudah menahan malu.


"Jadi Shafa mau seperti Ibu atau Mommy? Mas iklas lahir batin." Ujar Rayyan kembali menggoda istrinya. Berharap Shafa bisa sedikit luluh.


Gak ada! Aku nggak ingin seperti Mommy atau ibu. Nak, kamu jangan seperti ayah mu ya Nak, jangan seperti Mommy juga. Kamu harus jadi dirimu sendiri Nak. Jangan biarkan ayah mu enak-enak setelah menyakiti Mommy.


"Tapi sepertinya Shafa cenderung seperti ibu deh, Karena dulu Shafa sering bangunin Ray buat minta makan. Kalaupun sekarang masih seperti itu, Ray akan dengan senang hati melakukan nya." Ujar Ray sambil tersenyum ke arah istrinya.


"Intinya kamu harus sabar Ray! Kamu harus jadi suami siaga. Dari sekarang kamu harus siapin mental kalau-kalau Shafa tiba-tiba muncul di kampus mu. Kamu harus mulai jaga jarak dengan rekan perempuan mu. Dan juga siapkan tempat khusus di ruangan mu, barangkali Shafa seperti Mommy nya yang suka tiba-tiba---"


"Daddy!!!" Kali ini Shafa yang menyela dengan wajah yang sudah merah merona.


Aku hanya akan datang untuk memusnahkan serangga pengganggu seperti yang tadi ku lihat di cafe!!!


Sepertinya, Nyidam ibu benar-benar menurun pada Shafa.

__ADS_1


________


Jangan Lupa Like and vote ya... ❤️ Kalian nunggu Up... Aku nunggu Vote😁


__ADS_2