Jodoh Pilihan Allah

Jodoh Pilihan Allah
Mulas


__ADS_3

"Mas Janji nggak akan lama" Ujar Rayyan sambil menatap Shafa yang tengah merapikan dasinya. Setelah menerima panggilan dari dekan, ia segera pulang dan bersiap ke kampus. Hari ini ada rapat besar yang akan di adakan di rektorat universitas. Sebagai salah satu ketua jurusan di kampus itu, ia wajib menghadiri rapat yang membahas masalah penganiayaan yang baru saja terjadi di kampus tersebut yang mengakibatkan salah satu dosen mengalami cidera dan luka parah.


"Iya aku nggak papa kok mas." Balas Shafa sambil tersenyum. Entah mengapa Rayyan lebih suka Shafa yang suka merajuk dan mengomel seperti biasa dari pada saat ia tenang seperti ini. Ini membuatnya khawatir dan beristigfar dalam hati menepis semua fikiran buruk yang tiba-tiba melintas.


"Shafa tunggu mas pulang ya" Rayyan memeluk istrinya tersebut.


"Iya mas, ya udah buruan sarapan nanti terlambat loh" Ujar Shafa sambil menepuk bahu suaminya


Rayyan membungkuk mensejajarkan wajahnya dengan perut Shafa dan mengusapnya lembut.


"Anak ayah, jangan dulu keluar sebelum ayah pulang ya nak!" Ucapnya kemudian mencium perut Shafa.


Shafa menikmati sarapan pagi itu dengan lahap, tak seperti biasanya. Ia bahkan sampai nambah nasi goreng buatan ibu. Tak lupa ia meminum susunya.


"Zafrannya nggak mau masuk sekolah, gimana ni Ray" Ujar ibu yang tengah menyuapi Zafran.


"Uti, aku udah bilang aku mau jagain mommy tunggu adikku kelual Uti" Jawab Zafran bak orang dewasa.


"Nggak papa bu, Shafa sudah bilang sama maminya Aira kalau Zafran izin dulu" Balas Shafa.


"Mommy aku mau langsung sekolah sama ayah, di sekolah Zaflan tiap hali cuma nyanyi-nyanyi sama main-main mommy" Adunya pada mommynya. Di antara teman-temannya yang lain, Zafran memang paling menonjol. Ia bahkan sudah bisa membaca kata sederhana dan juga oprasi penjumlahan dan pengurangan sederhana. Selain itu hafalan surat-surat pendek dan kata dalam bahasa Inggrisnya pun paling banyak diantara teman-temannya yang lain.


"Kalau mau sekolah sama ayah, Zafran harus tamat paud dulu habis itu laanjut TK" Ujar Shafa.


"TK itu yang bajunya bilu ya mommy. Yang kelasnya ada ail manculnya?" Tanyan.


"Iya sayang"


Setelah selesai sarapan Rayyan segera menuju ke kampus meski hatinya tak tenang. Begitu sampai kampus ia langsung menghubungi Shafa untuk menanyakan kondisinya, dan jawaban Shafa masih sama, ia belum merasakan apa-apa.


Rapat besar bersama rektor hari itu di mulai pukul 08.00 pagi hingga pukul 10.00. Dan dilanjutkan dengan rapat di masing-masing fakultas. Rapat di fakultas di pimpin oleh dekan dan di ikuti seluruh akademisi yang terdiri dari ketua jurusan, ketua program study dan para dosen dan staff.


Rayyan sudah nampak gelisah dan tidak fokus mengikuti rapat. Fikirannya berkelana memikirkan istrinya dirumah. Satu senggolan di lengan Rayyan membuatnya kembali terjaga dari lamunannya. Ia menoleh melihat bu Sonya memberikan kode seolah bertanya ada apa. Rayyan hanya menggeleng dan kembali fokus pada rapat.


Sementara itu di halaman belakang, Shafa yang tengah asik memetik buah strawberry bersama Zafran tiba-tiba merasakan mulas pada perutnya. Ia menghentikan kegiatannya merilekskan diri di atas kursi panjangbdi tempat itu. Tak lama kemudian sakitnya perlahan mulai hilang.


Ah, mungkin kontraksi palsu lagi. Gumam nya. Ia kembali melanjutkan memetik buah sampai sebaskom kecil penuh. Dan lagi-lagi sakit itu kembali menyerang dan ia kembali mendudukan dirinya di atas bangku.


"Zafran, ayo masuk nak. Di buatin jusnya sama Uti saja ya. Mommy mau istirahat" Ujar Shafa sambil menuntun Zafran masuk ke dalam rumah.


"Dari mana Fa?"


"Ambil strawberry bu. Zafran minta jus strawberry"


"Sini biar ibu yang buatin. Kamu istirahat saja" Ujar ibu, mengambil baskom dari tangan Shafa.


"Ayo sini, cucu Uti buat jusnya sama Uti ya? Nanti kita buatkan juga mommy sama adek" Ujar ibu sambil menggandeng Zafran menuju dapur, sedangkan Shafa memilih untuk masuk kamar karena merasakan perutnya mulas lagi.


"Ya Allah, ini apa aku udah mau lahiran? Tapi kok sakitnya tibul hilang" Gumamnya sambil memegang pinggangnya. Ia kembali teringat ucapan dokter Lily bahwa jangan panik dan terburu-buru. Tiba-tiba ia merasa ingin buang air besar, Shafa pun segera masuk ke dalam kamar mandi untuk menuntaskan hajatnya.


"Huh... Lega!!!" Ucapnya setelah keluar dari kamar mandi. Rasa mulasnya pun mulai hilang. Ia yang tadinya hendak menelfon Rayyan jadi mengurungkan niatnya tersebut.


"Sabar ya nak, tunggu ayah pulang" Ujarnya sambil mengelus perutnya.


"Fa..." Ibu masuk kedalam kamar Shafa dengan membawa segelas jus strawberry.

__ADS_1


"Belum terasa yah?" Tanya ibu sambil menyodorkan gelas berisi jus tersebut.


"Belum bu" Shafa menerima gelas tersebut dan langsung meminumnya.


"Kalau sudah mulai terasa mulas atau sakit beri tahu ibu ya. Shafa jangan panik dan takut ya nak" Ujar ibu sambil mengusap bahu Shafa.


"Ibu dulu waktu ngelahirin mas Rayyan gimana?" Tanya Shafa.


"Ibu dulu pas ngelahirin Rayyan alhamdulillah cepat prosesnya. Begitu di bawa ke rumah sakit nggak sampai dua jam, Rayyan udah lahir.


What 2 jam? Ibu bilang itu cepat?


"Tipsnya apa bu?" Tanya Shafa.


"Tips nya, jangan mengejan kalau bidan belum suruh mengejan karena itu bisa menguras tenaga dan juga jangan buru-buru ke rumah sakit. Jadi ibu dulu begitu sakitnya udah nggak bisa di tahan baru ke rumah sakit, ibu kira mau lahiran di mobil eh nyatanya pas sampai rumah sakit masih pembukaan 5" Terang ibu.


Shafa hanya menggut-manggut mendengar penjelasan ibu mertuanya tersebut.


"Ya udah, kamu lanjut istirahat, ibu mau nemenin Zafran nonton tivi di luar"


"Iya bu"


Setelah kepergian ibu Shafa kembali merasakan mulas, kali ini lebih kuat dari sebelumnya. Namun sebisa mungkin ia menahannya. Ia menarik nafas dalam - dalam, menghembuskan nya perlahan. Begitu seterusnya.


Aduh kok sakitnya nggak ilang-ilang sih? Keluhnya sambik meringis menahan nyeri.


Ia kembali masuk ke dalam kamar mandi, namun kali ini tidak ada yang bisa ia keluarkan. Sakitnya pun mulai menjalar sampai bagian punggung. Ia memeriksa celana dalam nya barangkali ada darah atau cairan yang keluar tapi nyatanya semuanya masih kering. Ia memilih untuk duduk selonjoran di atas sofa. Tak lama kemudian handphonenya kembali berdering, satu panggilan dari Rayyan.


"Assalamualaikum mas" Sapa Shafa.


"Waalaikum salam, sayang gimana kondisimu? Apa baik-baik saja? Mas sedang di perjalanan pulang" Ujarnya.


"Ya udah, hati-hati di rumah, jangan jauh-jauh dari ibu" Ujar Rayyan.


Ya ampun Mas Ray ini, kaya aku lagi di mana aja.


"Iya mas, mas juga hati-hati bawa mobilnya jangan ngebut. Oh ya mas, aku pengen makan kepiting saos padang kaya waktu itu. Mas beliin ya" Pintanya.


"Iya, ya udah mas tutup. Assalamualaikum"


"Waalaikum salam"


Setelah selesai menelfon Shafa memutuskan untuk keluar kamar bergabung bersama ibu dan Zafran di ruang tengah.


"Bu, apa perlengkapan nya sudah di siapkan?" Tanya Shafa yang berjalan sambil memegang pinggangnya yang kembali terasa nyeri.


"Sudah sayang, sini duduk disini" Ibu menuntun Shafa menuju Shofa di ruang tengah tersebut.


"Bu, pinggang ku rasanya mulai keram" Ujar Shafa sambil meringis, karena bukan hanya kram tapi juga mulas yang ia rasakan.


"Kram?" Ibu membelalakkan matanya. Meski sudah berpengalaman tetap saja ia deg-degan dengan kelahiran cucu pertamanya ini. Shafa mengangguk.


"Shafa tarik nafas dalam-dalam, kemudian hembuskan" Ibu memberi instruksi yangblangsung di ikuti oleh Shafa.


"Rayyan sudah kamu telfon?"

__ADS_1


"Mas Rayyan sedang di perjalanan bu. Kalau di telfon lagi nanti malah tidak fokus nyetirnya" Ujar Shafa.


Ibu mengusap-usap punggung Shafa. Ia benar-benar yakin Shafa akan melahirkan.


"Gimana? Makin sakit ya?" Tanya ibu yang melihat Shafa memejamkan matanya. Shafa hanya mengangguk menikmati sensasi nyeri di seputar pinggang dan perutnya.


"Mommy... Mommy sakit?" Tanya Zafran ikut mendekat pada Shafa. Shafa tersenyum.


"Sini elus-elus perut mommy. Adek pengen di elus sama abangnya" Ujar Shafa menarik tangan Zafran dan di letakkan nya di atas perutnya.


"Adek jangn nakal, kasian mommy" Bisiknya pada perut Shafa.


"Apa adek sudah mau kelual mommy?" Tanya Zafran.


"Iya sayang, adek sudah mau keluar" Ujar ibu sambil mengusap kepala Zafran.


Setelah mengetahui bahwa Shafa mulai merasakan kram dan mulas, Ibu segera menelfon mommy Shafa yang masih berada di klinik menemani masa penyembuhan Jeffri. Karena kondisi nya belum benar-benar membaik.


"Gimana bu?" Tanya Shafa setelah ibunya selesai menelfon.


"Semuanya sudah siap. Dokter Lily juga sudah diberitahu oleh daddy mu. Dia akan stay di klinik. Shafa jangan takut ya nak. Shafa pasti bisa" Ibu menguatkan menantu nya tersebut.


"Ssshhh.... Huuuuuhhhh" Shafa kembali mendesah sambil memejamkan matanya.


"Bi... Bi lastri"


"Iya buk" Bi Lastri datang menghampiri ibu.


"Tolong buatkan susu hangat untuk Shafa, setelah itu keluarkan tas dan perlengkapan bayi yang semalam kita siapkan di kamar Zafran" Titah ibu. Bi Lastri pun segera bergegas melaksanakan apa yang di perintahkan oleh ibu.


"Kenapa mbak lastri kok buru-buru?" Tanya mbak Yati yang sedang memasak makan siang.


"Mbak Shafa mau melahirkan kayaknya Ti, ini aku disuruh buat susu anget, habis itu kasi keluar tas bayi yang semalem kita siapkan" Ujar Bi Lastri.


"Ya Allah, semoga di paringi gangsar" Ujar mbak Yati.


"Amiiin, yo wes aku kesana dulu" Bi Lastri berjalan cepat sambil membawa segelas susu hangat.


"Di minum dulu susunya, tubuh mu akan bekerja keras setelah ini, jadi asupan nutrisi nya harus maksimal" Ujar ibu sambil memberikan segelas susu hangat yang langsung di teguk oleh Shafa.


"Apa makan siang nya sudah siap bi?" Tanya ibu.


"Masih sementara di masak bu" Jawab bi Lastri.


"Aku tadi udah nitip kepiting saos padang bu sama mas Ray" Ujar Shafa.


"Oh iya, kamu harus makan dulu sebelum melahirkan agar nggak lemas dan kuat mengejan." Ujar ibu sambil mengelus perut Shafa. Shafa hanya mengangguk samabil meringis.


"Sakitnya datang-datangan bu" Keluhnya.


"Memang begitu rasanya. Shafa sabar ya nak, tetap tenang dan rileks" Ucap ibu.


"Assalamualaikum" Terdengar Rayyan mengucapkan salam dari arah pintu masuk.


"Waalaikum salam"

__ADS_1


"Ayah...ayah... Adik aku mau kelual" Zafran segera berlari menghampiri Rayyan. Mendenger ucapan Zafran Rayyan segera mendatangi Shafa yang tengah duduk di sofa di dampingi ibu di sebelahnya. Ia memberikan kantong berisi kepiting pesanan Shafa pada bi Lastri.


"Sayang? Apanya yang sakit?" Tanyanya sambil menatap wajah istrinya.


__ADS_2