
"Mommy" Shafa berlari memeluk mommy nya yang datang ke rumahnya.
"Mommy, Daddy kok ga bilang kalau datang" Ray menyalami kedua mertuanya.
"Pengen kasi kejutan aja sama anak mommy" Ucap Fany yaang masih di apit Shafa.
"Mommy gak bawa makanan atau apa gitu?" Shafa celingukan mencari sesuatu.
"Ga sempat, Mommy kesini karena ada hal penting yang mau mommy sampaikan" Mereka semua duduk di sofa ruang tengah.
"Loh Nis, ga usah repot-repot biar bi Lastri aja yang buatin minum" Ujar Shafa saat melihat Nisa membawa nampan berisi air dan segera mengambilnya.
"Ga papa Fa, bi Lastri lagi sibuk. Assalamualaikum tante, om" Nisa menyalami kedua orang tua Shafa.
"Ini Annisa kan? Temannya Shafa?" Mommy menahan taangan Nisa. Karena Nisa adalah satu-satunya sahabat Shafa yang di anggap paling sopan.
"Iya Tante, sementara waktu saya tinggal disini" Ucapnya.
"Ya Ampun, Nisa. Kamu apa kabar nak? Tante senang sekali kalau Shafa ada temannya. Supaya dia bisa belajar banyak" Ujarnya sambil memeluk Nisa.
"Alhamdulilah Nisa baik tante, Nisa permisi dulu ya tan" Pamitnya.
"Kamu kok ga bilang mommy kalau Nisa ada disini?"
"Lupa Mom, lagian baru juga 3 hari Nisa disini.. Jadi mommy dan Daddy mau ngomongin apa sih?" Tanya Shafa.
"Gini Fa, Ray. Daddy sedang mengurus kontrak kerja sama dengan salah satu rumah sakit di Singapura. Jadi sementara waktu Daddy akan berada disana. Mungkin sekitar satu bulan dan Mommy kamu ini maksa mau ikut. Jadi kami kesini mau sekalian pamitan, kalau ga ada halangan lusa kami berangkat" Jelas Daddy.
Shafa memutar bola matanya malas. Ia tau betul bahwa mommy nya tidak akan membiarkan daddy nya pergi sendiri.
"Ray doakan semoga dimudahkan segala urusannya Dad" Ujar Rayyan.
"Mommy tinggal aja, kalau Shafa kangen gimana? Lagian daddy sudah tua mom. Ga akan ada yang naksir" Ujar Shafa. Mungkin sifat posessive Shafa di turunkan dari sng mommy.
"No..no..no..Tidak ada jaminan usia tua ga ada yang naksir apalagi seperti Daddy kamu ini" Benar saja, meski sudah kepala 5 Daddy Shafa masih terlihat gagah dan bugar.
"Mommy kamu terlalu berlebihan Fa. Kamu jangan kaya gitu ya sama Ray" Ucap daddy membuat Shafa mendelik. Sedang Ray hanya tersenyum.
"E..enggak kok, Shafa ga kaya gitu. Iya kan Mas" Dia melirik sang suami yang sejak tadi senyum-senyum.
"Eh ada tamu rupanya" Suara tante Lilis yang baru pulang dari belanja bersama Yola ikut meramaikan ruang tengah sore itu.
__ADS_1
"Hey, apa kabar jeng" Mereka saling berpelukan dan cepika cepiki.
"Alhandulillah baik, oh ya udah dari tadi ya?" Tanya tante Lilis dengan ramah.
Giliran sama mommy ramah banget. Kalau sama aku, senyum aja ga pernah. Gumam Shafa.
Setelah kedua orang tua Shafa pulang, Lilis dan Yola masuk ke kamar mereka masing-mading. Sudah 2 hari ini Yola dan Lilis tidak berkutat di dapur. Mereka menyerah menarik perhatian Ray dengan makanan, karena nyatanya Rayyan tetap bersikap biasa. Sekarang giliran Nisa yang terlihat sibuk di dapur bersama bi Lastri.
Di dalam kamar, Rayyan sedang memperhatikan bacaan Al Qur'an Shafa. Kegiatan rutin mereka setelah shalat magrib. Meski masih terdapat kesalahan dalam bacaannya Rayyan dengan penuh kesabaran membimbing Shafa.
"Mas aku gerah" Ucapnya setelah menyimpan Al-Quran ia langsung membuka mukenanya dan duduk menghadap kipas angin.
Gue kok sering merasa gerah ginu ya? Jangan...jangan Gue kemasukan jin? Oh No!!! Gue perlu di ruqiyah nih kayanya.
"Maaaaas" Shafa berteriak memaanggil Ray.
"Kenapa Sayang?" Shafa menghampiri Rayyan sambil membawa Al-Quran.
"Mas ngerasa aku aneh ga sih akhir-akhir ini?"
"Emmm... Iya sih. Shafa akhir-akhir ini suka minta aneh-aneh" Jawab Ray. Tak bisa di pungkiri hal itu dirasakan betul oleh Rayyan yang selalu di usiknya setiap malam.
"Ga salah lagi, Mas harus ngelakuin sesuatu" Shafa memberikan Al-quran ada Rayyan. Sedangkan dia segera mengambil posisi duduk bersila di sebelahnya.
"Baca mas! Ruqiyah aku. Aku akhir akhir ini suka gerah, terus pengen makan yang aneh-aneh dan anehnyaa lagi aku jd sensitif banget. Pasti ini ada jin ynag nemplok di badan aku. Udah buruan mas baca" Perintahnya. Bukannya mengaji, Rayyan malah tertawa mendengar penuturan istrinya yang terlihat panik.
"Mas ih, malah ketawa" Shafa memukul lengan suaminya.
"Kamu ada-ada saja. Mana ada orang kemasukan jin minta di ruqiah?" Jawab Ray kembali tak bisa menahan tawanya.
"Kalau bukan kemasukan jin, mungkin aku stress kali mas?" Shafa mulai berfikir kembali.
"Intinya Shafa jangan banyak fikiran. Positif thinking biar hatinya tenang, pikirannya jernih"
"Bener juga mas, aku pernah baca kalo stress juga bisa mempengaruhi mood dan nafsu makan" Ucapnya.
"Betul itu, nih coba lihat sekarang Shafa gendutan" Ray memperhatikan tubuh istrinya yang memang terlihat lebih berisi.
"What? Aku harus diet ketat nih kalo begini" Wajahnya terlihat panik.
Gawat, kalau gue gendut ntar ga seksi lagi. Ntar mas Ray ga suka lagi. Oh No.. Gue harus diet. Mulai malam ini gue harus stop makan malam.
__ADS_1
"Ga usah diet, Mas suka yang kaya gini" Ucapnya dengan tangannya yang mulai tak terkendali.
"Jangan di mainin mas Rayyan. Itu sakit, tuh kan bengkak" Protesnya saat tangan Ray mulai mendarat di bagian depan tubuhnya.
Tok..tok...
Suara ketukan pintu terdengar dari luar. Rayyan beranjak menuju pintu kamarnya.
"Ada apa?... Eh, Ha..Nisa" Lagi lagi Rayyan hampir keceplosan.
"Maaf pak, makan malamnya sudah siap" Ujarnya.
"Eh Nisa" Shafa berlari menuju pintu hanya memakai hotpants dan singlet yang menampakan bentuk dadanya yang kian membengkak.
"Oh iya kami segera turun" Rayyan cepat-cepat menutup pintu. Ia tak ingin orang lain melihat tubuh istrinya seperti ini.sekalipun itu sahabatnya sendiri.
"Buruan pakai baju, makan malam sudah siap"
Nisa sangat terkejut melihat penampilan Shafa yang sangat vulgar sekalipun itu di dalam kamar. Terlebih saat ia melihat gambar yang masih terlihat samar di lengan kanannya.
Ternyata kamu ga berubah Fa. Kasihan kak Zidane, harusnya dia bisa mendapatkan wanita yang lebih baik dari kamu. Apakah kamu tidak tahu kalau kamu akan menjadi pemberat pertanggung jawabnnya kelak di akhirat.
"Tante rendangnya enak banget, tante atau Yola yang buat" Puji Shafa. Ia ingin belajar mendekatkan diri dengan tante Lilis sekalipun ia dibenci.
"Oh ya, sayangnya bukan kita yang masak. Iyakan mah" Yola menjawab.
****** salah lagi deh gue!
"Masakan tante kan ga sesuai dengan lidah Shafa" Sindir tante Lilis.
"Ini aku yang masak Fa" Ucap Nisa.
Pantasan rasanya sama persis dengan yang sering ku makan di Kairo!
_________________
Ga terasa udah di penghujung Ramadhan yah. Author mengucapkan minal Aidin Walfaidzin mohon maaf lahir bathinππ
Author suka ketawa baca comen kalian. Wanita mah gitu yah suka emezz dengan yang namanya orang ketiga.
Novel ini sudah authorr buatin alurnya sedemikian rupa sampai ending sudah tertata rapih. Kalaupun ada orang ke tiga, anggap aja pemanis dalam sebuah cerita yahπππ
__ADS_1
Happy Reading, Like nya jangan lupa. vote and Ratenya jugaπππ