Jodoh Pilihan Allah

Jodoh Pilihan Allah
Sebuah Lagu


__ADS_3

Menjelang jam pulang, aku baru di izinkan keluar dari ruangan Ayah, itu pun dengan di kawal langsung oleh mas Ray. Sejak makan siang tadi aku hanya memeriksa pekerjaan anak-anak dan bersantai ria bersama mas Ray. Aku bahkan sudah makan 2 kali. Yang pertama makan Mie goreng seafood dan kedua makan Nasi goreng seafood yang di belikan mas Ray. Sebenarnya aku ga enak sama teman-teman yang lain. Kalau aku hanya berdiam diri di ruang guru, pasti pak Briyan atau Tania berulah. Karena hanya mereka berdua yang jadwal mengajarnya longgar sepertiku.


"Dih pengantin baru dari tadi ga muncul-muncul. Betah banget di dalem. Bikin ngiri tau gak" Ujar bu Ita, yang juga sudah bersiap-siap pulang.


"Makanya bu Ita buruan nikah, biar tau nikmatnya pengantin baru" Kata pak Adit.


Aku seperti mendengar sesuatu.


"Wah bu Shafa keren banget performnya. Duh, ini romantis banget duetnya. Ga nyangka ternyata pak Briyan dan bu Shafa pernah duet bareng" Ucap Tania si tukang buat onar. Dia pasti udah buka akun youtube SMA Kartika. Malah sengaja di kerasin lagi volumenya.


"Iya dong, Itukan acara Pensi sekolah jadi tampilnya maksimal paripurna tanpa cacat dan cela" Ucapku. Kalau aku sok menutupi dan jaim dia akan semakin nyinyir.


"Eh, tapi bukannya pas acara ini pak Briyan harusnya udah kuliah ya? Kok masih tampil sih jadi pasangannya bu Shafa" Tanyanya sengaja memancing kemarahan ku.


"Kita kan siswa populer waktu SMA, sekalipun udah tamat, kepopuleran kita tetap membahana seantero sekolah. Iya kan pak Briyan?" Sekalian aja aku jeburin dia. Toh ini semua ulahnya dia yang membeberkan video pensi 09 yang aku sendiri sebenarnya udah lupa.


"Ha.ha.ha. Benar, tapi populernya kita beda, Kalau bu Shafa populer karena prestasinya kalau saya karena apa ya..... intinya kita sama-sama suka musik jadi sering di pasangkan" Jawabnya santai. Dasar Briyan kenapa ga bilang kalau dia populer karena label Play Boy cap kuda yang melekat pada dirinya.


"Oh, begitu.... Wah kalau pak Rayyan suka musik juga ga?" Tanya bu Anne menggoda. Mana ada sih makhluk lempeng sekelas Ustad gini suka musik.


"Emm... Suka" Jawabnya.


"Serius mas?" Aku menoleh tak percaya ke arahnya.


"Iya... Nanti mas tunjukin" Bisiknya. Huaaa.... Gue bakal dapet kejutan lagi nih.


"Ya Udah balik yuk" Seru bu Anne. Kami pun keluar menuju mobil masing-masing.


"Pak Briyan tunggu" Mas Ray menghentikan pak Briyan yang hendak masuk ke dalam mobilnya. Mau ngapain sih mas Ray? Jangan bilang meu memperpanjang masalah.


"Ada apa pak Rayyan?"


"Saya cuma mau bilang terima kasih, sudah traktir istri saya makan siang. Lain kali gantian pak Briyan yang saya traktir ya" Ucap mas Ray. Tak nampak ekspresi marah di wajahnya.


"It's okay pak Ray. Saya senang bisa bertemu kenalan lama disini" Jawabnya. Sepertinya dua orang dewasa ini benar-benar ahli dalam mengontrol emosi. Keduanya terlihat biasa saja seolah tidak ada yang terjadi. Padahal aku tahu betul mas Ray itu tingkat kecemburuan nya berada di level kronis, dan Briyan temperamennya pun sangat tinggi.


"Mas, ngapain sih tadi ngucapin terim kasih segala. Pake acara mau traktir lagi" Ucapku kesal.


"Sayang, kamu sudah makan pemberiannya dia, jadi ya harus bilang terima kasih dong. Kita berbaik sangka saja, semoga pak Briyan ga punya maksud buruk." Ealah, masih bisa yaa ngomong kek gini. Kamu belum tau mas Briyan itu seperti apa. Maksud baiknya dia palingan juga modus.


***


Aku mencari-cari keberadaan mas Ray, setelah shalat Ashar tadi dia tiba-tiba menghilang. Dicariin di kamar ga ada, di teras belakang juga ga ada. Kan aku mau nanya dia mau makan apa malam ini. Ya udah lah masak apa yang ada aja.


"Bi Lastri liat mas Ray ga bi?" Tanyaku pada ART yang sedang membantu menyiapkan bahan makanan.


"Mas Ray tadi keluar kayanya mbak"


"Kemana? Kok ga bilang? Itu mobilnya ada di depan" Tumben kok keluar ga bilang-bilang.


"Pake mobilnya mba Shafa keluarnya" What? Aku segera mengecek ke garasi. Benar, mobilku tidak ada di tempatnya. Ih, mas Ray keluar kok ga ajak ajak aku sih. Kemana ya kira-kira? Telfon ibu ah.

__ADS_1


Terdengar suara panggilan masuk. Ibu jawabnya lama banget sih.


"Hallo Assalamualaikum mantunya ibu" Sapa ibu mertua dari balik telfon


"Waalaikum salam ibunya Shafa"


"Pasti mau nanyain Ray ya?" Ujarnya. Pas banget! Ibu selalu tau yang ku fikirkan.


"Em... i..iya bu, mas Ray ada di situ bu? Soalnya perginya ga bilang Shafa" Jawabku.


"Iya Ray di sini, lagi ngambil barangnya yang ketinggalan katanya"


"Oh..Ya udah kalo gitu bu, Shafa tutup ya. Shafa mau lanjutin masak. Assalamualaikum"


"Waalaikum salam" Tut..tut. Huh, ternyata ke rumah ibu.


Setelah perbincangan dengan ibu, sekitar 30 menit kemudian mas Ray tiba. Seperti biasa aku langsung berlari menghampirinya mengapit lengannya.


"Mas dari rumah ibu kok aku ga di ajak" Tanyaku dengan wajah mengintimidasi


"Kamu tadi lagi di kamar mandi jadi ga semat bilang. Mas cuma sebentar kok, kalau kamu ikut malah lama jadinya"


"Terus kenapa bawa mobil aku? Tanyaku kembali. Jangan sampai dia janjian sama seseorang makanya sengaja bawa mobilku biar ga ketahuan.


"Ya kan mobil mas tadi lagi di cuci sama pak Madi. Udah ah, ayo masuk. Ini lagi kenapa keluar rumah bajunya kaya gini? Kalau ada yang liat gimana?" Omelnya. Dia emang gitu selalu cerewet kalau aku pake baju baju pendek kek gini. Aku hanya nyengir saat dia mencubit hidungku. Maaf mas aku khilaf.


Setelah selesai shalat Isya aku dan mas Ray menghabiskan waktu di teras belakang. Tempat ini adalah saksi bisu perjalanan cintaku dengan Mas Ray.


"Aku melihat mas Ray memutar sesuatu dari handphonenya"


"Kan ada di youtube. Ini kok mesra banget, mas jadi iri" Jawab mas Ray.


"Maas.... Apaan sih, udah ga usah di lihatin." Aku berusaha merebut handphonenya. Untung saja waktu itu penampilanku masih dalam batas wajar. Aku memakai gaun berwarna pink dengan hiasan kepala melingkar terbuat dari bunga mawar. Ala-ala princess Aurora gitu. Aku berduet dengan pak Briyan membawakan lagu yang berjudul Just Give me a reason. Aku ingat betul ada beberapa adegan pak Briyan mencium tanganku dan terakhir dia merangkul ku. Huaa....aku merasa kotor!


"Apa sih, sayang... Mas suka nih denger suara kamu" Ujarnya mempertahankan handphonenya.


"Kalau suka ntar aku nyanyiin, tapi ga usah liat itu. Aku tuh udah buang jauh-jauh semua kenangan dengan mantan-mantanku tau gak. Mas malah ngingetin. Di hati ku tuh cuma ada dirimu seorang. Sekarang besok dan selamanya" Ucapku berusaha meyakinkan suamiku. Toh kenyataannya memang seperti itu. Saat ini hanya dia satu satunya orang yang ku harap akan menemaniku sampai aku menua nanti.


"Ih, istriku sudah pintar gombal" Ucapnya sambil menarik ujung hidungku.


"Jangankan gombal mas, apapun juga akan aku lakuin untuk mu" Balasku. Malam ini kayaknya malam nya kamu mas.


"Kalau gitu mas mau dong di nyanyiin sama istrinya mas yang paling antik ini" Pintanya.


"Mas tadi katanya suka musik dan mau nunjukin ke aku. Mana? Atau kita nyanyi sama-sama aja yuk" Ajakku. Tadi siang kan diaa bilang mau nunjukin. Mas Ray paati suaranya bagus, orang kalao ngimamin sholat magrib suaranya merdu buanget.


"Mas ga bisa nyanyi. Tapi mas bisa main musik. Tunggu ya" Ucapnya. Dia beranjak meninggalkanku.


Tak lamabkemudia ku lihat ia datang dengan sebuah gitar di tangannya. Wih suami gue keren. Mas Ray kemudian duduk besila di depanku sambil memetik gitar nya. Seriusan ini dia bisa main gitar? Aku kok ga percaya ya.


"Mas, emang bisa" Tanyaku.

__ADS_1


"Shafa ga percaya mas bisa main gitar?" Tanyanya balik.


"Ya gaa nyangka aja, Ustad Rayyan bisa mainin alat musik. Shafa kira bisanya cuma ngaji doang" Jawab ku jujur. Bukannya aku ngeremehin tapi di lihat dari segi mana pun kayaknya ga mungkin.


"Mas dulu tuh waktu SMA pernah ikut-ikutan jadi anak band tahu. Jadi kalau cuma main gitar mah kecil. Memangnya Shafa aja yaang masa mudanya populer" Ujarnya. Wahh... Amazing. Suamiku memang yang terbaik.


"Ya udah, coba ya lagu ayat ayat cinta deh.bisa ga? Tanyaku. Ia kemudian memetik gitarnya mencocokan nada.


"Ok, siap"


*Desir pasir di padang tandus.


Segersang pemikiran hati


Terkisah ku di antara cinta yang rumit


*Bila keyakinanku datang


Kasih bukan sekedar cinta


Pengorbanan cinta yang agung


Ku pertaruhkan


Maafkan bila ku tak sempurna


Cinta ini tak mungkin ku cegah


Ayat-ayat cinta bercerita


Cinta ku padamu...


Bila bahagia mulai menyentuh


Seakan ku bisa hidup lebih lama


Namun harus ku tinggalkan cinta


Ketika ku bersujud**...


"Yee... !!!" Aku bertepuk tangan mengakhiri lagu yang ku nyanyikan. Mas Ray meraih tubuhku dan mendekapnya erat.


"I love you" Ucapnya.


"I love you too" Jawabku mengeratkan pelukanku.


___________


Gitarisnya Shafa dong๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜


__ADS_1


Bu Shafa mau tes vocal dulu yaaโค๏ธ๐Ÿ˜๐Ÿ˜



__ADS_2