Jodoh Pilihan Allah

Jodoh Pilihan Allah
Mahasiswa


__ADS_3

Shafa mematut dirinya di depan cermin, berputar putar sambil memperhatikan lekuk tubuhnya yang sudah mulai membesar. Kali ini ia akan mengunjungi kampus Rayyan untuk ke dua kalinya. Ia mengenakan terusan lengan panjang berwarna hitam di padu dengan outer motif kotak yang juga dominan hitam. Warna hitam bisa membuat tubuh terlihat lebih langsing, sehingga Shafa memutuskan untuk berpakaian dengan warna dominan hitam.


Selanjutnya ia melangkah menuju lemari dimana koleksi tas mahalnya berada. Ia mencari tas ransel yang bisa membuatnya tampil seperti mahasiswi. Ia memilih ransel kecil berlogo LV untuk melengkapi penampilannya. Setelah siap ia segera turun untuk mengambil kotak bekal Rayyan.


"Bi, apa aku udah cantik?" Tanyanya sambil berputar centil di depan Bi Lastri.


"Cantik banget mbak.... Kaya masih gadis lo mbak" Puji Bi Lastri.


"Ma acih bi" Jawab Shafa dengan gaya imut nan menggemaskan.


"Wah, kayaknya anak mbak Shafa nanti perempuan deh." Ujar bi Lastri.


"Kok tau bi? Bibi dukun?" Tanya Shafa.


"Kalau ngeliat dari gayanya mbak Shafa yang cantik gini, kemungkinan perempuan mbak. Kata orang dulu kalau ibunya suka dandan dan terlihat cantik, anaknya perempuan" Tutur Bi Lastri.


"Kata Ibu, aku ngidamnya persis ibu dulu, Tapi yang keluar kok malah mas Rayyan. Apapun itu, mau laki atau perempuan yang penting sehat kan Bi?" Ujar Shafa sambil meminum susu yang sudah di siapkan bi Lastri.


"Bener mbak. Semoga Mbak Shafa dan bayinya sehat terus. Ini bekalnya sudah siap mbak, Mau jalan sekarang?" Bi Lastri memberikan bekal yang sudah di masukan ke dalam tas bekal yang terbuat dari kain.


"Iya bi, Pak Madi kayaknya udah siap juga di depan. Shafa berangkat ya bi. Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam"


Bi Lastri mengantar Shafa sampai di teras. Baginya, Shafa dan Rayyan sudah seperti anaknya sendiri. Di rumah ini dia di perlakukan tidak seperti pembantu pada umumnya tetapi lebih seperti keluarga.


Setelah sampai di kampus, Shafa segera berjalan menuju ke ruangan dosen. Banyak mata yang memperhatikan kedatangan Shafa, Ia memakai tasnya dengan satu tali yang menyampir di bahu kirinya sambil menenteng tas bekal. Sepintas tidak ada bedanya Shafa dengan mahasiswa lainnya. Ia justru terlihat lebih cantik dan muda.


Hari itu ruangan di sekitar ruang dosen cukup ramai. Banyak mahasiswa yang mengantri duduk dengan memeluk lembaran kertas berjilid tebal. Tak salah lagi, mereka adalah para mahasiswa semester akhir. Para pejuang skripsi yang sedang menunggu giliran untuk mendapatkan tanda tangan berharga dari dosen yang pada masa itu tentu lebih berharga dari tanda tangan personil Boyband dari Negeri Gingseng.


Shafa melihat ada sekitar 6 orang mahasiswi yang tengah duduk di bangku panjang depan ruangan Rayyan. Ia langsung saja nyelonong menuju arah pintu, namun pada saat ia hendak membukaa pintu, seorang wanita cantik dengan rambut kriting sosis keluar dengan membawa kertas. Ia sama sekali tidak mengindahkan kehadiran Shafa.


"Dwi Fatmawati, Sekarang giliranmu" Ujarnya pada jajaran wanita yang duduk di bangku panjang. Wanita cantik ini terlihat seperti asisten dosen.


Nampak seorang wanita berkerudung hitam masuk ke dalam ruangan dengan membawa map berisi kertas tebal.


"Saya ingi bertemu pak Rayyan" Ujar Shafa pada wanita cantik itu.

__ADS_1


"Mr. Ray sedang sibuk. Tunggu aja disitu!" Ujarnya jutek kemudian kembali masuk dan menutup pintu.


Shafa mengepalkan taangannya, hatinya sudah memanas serasa ingin mengobrak abrik ruangan itu.


"Kak, tunggu saja disini" Ujar salah seorang mahasiswi yang duduk di bangku tunggu tersebut.


Shafa akhirnya menunggu Rayyan di bangku panjang tersebut bersama Mahasiswi lainnya.


"Emm Maaf, kamu mahasiswanya Mr. Ray ya?" Tanya Shafa ada gadis di sampingnya.


"Iya, Kami semua ini mahasiswa bimbingan beliau. Kakak juga mau konsul?" Tanyanya balik.


What? Konsul? Dia pikir aku mahasiswa apa. Sepertinya penampilanku hari ini berhasil menipu.


"Enggak cuma mau mengantar ini" Shafa mengangkat tas bekalnya.


"Oh, delivery food.." Ujar salah satu dari mereka.


Dasar bocah! Enak aja, lo pikir gue kurir apa?


Shafa menarik nafasnya dalam-dalam berusaha meredakan amarahnya.


"Oh itu, Anna mahasiswi juga" Jawab gadis di sebelahnya.


Anna...Nama lengkapnya pasti Annabell! Pantesan jelek!


"Dia asisten Pak Rayyan ya?" Tanya Shafa lagi. Kesempatan buat Shafa mencari tahu tentang aktivitas Rayyan kepada mahasiswinya.


"Bukan kak, dia sama kok kaya kita, tapi ya gitu deh." Ujaranya. Sebuah jawaban menggantung yang membuat jantung Shafa berdegup kencang. Pikirannya sudah kemana-mana.


"Eh, kalian udah pernah lihat istri Mr. Ray belum?" Tanya seorang mahasiswa kepada teman-temannya.


Wallah, mereka lagi gosipin aku. Nguping ah!


Shafa memasang kupingnya baik-baik, mendengarkan obrolan mereka.


"Belum pernah sih, tapi katanya isyri Mr. Ray cantik banget, model gitu." Ujar mahasiswa yang lain.

__ADS_1


"Serius? Wah tipenya Mr. Ray ternyata keren juga. Nggak nyangka aku. Ku pikir dia suka sama yang sholehah gitu."


"Denger denger sih mereka di jodohin. Istrinya itu putri tunggal pemilik HS Clinic."


"Oh... Pantesan... Aku jadi penasaran kaya apa sih orangnya." Ujar gadis di sebelah Shafa.


Shafa senyum senyum sendiri menahan tawa mendengar dirinya menjadi topik perbincangan para mahasiswi itu.


Shafa melirik jam di pergelangan tangannya. Sudah pukul 11.30. Tapi belum ada tanda-tanda Rayyan akan keluar. Ia juga sudah mengirimkan beberapa pesan namun belum juga di baca oleh Rayyan. Perasaannya kembali kesal membayangkan Rayyan sedang berada di ruangan dengan wanita muda nan jutek itu.


Ceklek,


Pintu ruangan terbuka, Shafa cepat cepat berdiri. Mahasiswa yang masuk tadi sudah keluar dengan tangan tangan kosong.


"Bimbingan dilanjutkan setelah makan siang" Ujar wanita itu.


"Yahh" Keluh mahasiswa yang sudah sedari tadi menunggu. Sabar, Hanya itu kata-kata pamungkas yang mampu menguatkan para pejuang gelar itu. Menunggu dosen pada saat detik-detik skripsi sama mengerikannya dengan menunggu jodoh.


Shafa segera melangkah ke arah pintu namun lagi-lagi di tahan oleh wanita bernama Anna itu.


"Kamu nggak dengar, bimbingan di lanjutkan setelah makan siang. Mr. Ray mau istirahat." Ujarnya.


Sialan! Kamu pikir aku siapa Ha?


"Saya bukan mau bimbingan, saya---"


" Kamu ngerti bahasa nggak sih? Mr. Ray Mau istirahat" Ulang wanita itu dengan nada Tinggi. Ia menatap Shafa dengan tatapan sinis.


Dengan penuh emosi Shafa menekan kontak Rayyan dan menelponnya. Panggilan diangkat!


"Ayah!!! Keluar Sekarang Atau Puasa Nanti Malam dan Seterusnya...!!!!!" Teriaknya dengan penuh amarah.


Sontak semua pandangan mahasiswa tertuju pada Shafa yang sudah berdiri di depan pintu ruangan Rayyan. Begitu juga Anna, ia nampak terskejut mendengar teriakan Shafa.


_________________


Pada Kangen ga sih sama wajah Shafa😍

__ADS_1



__ADS_2