Jodoh Pilihan Allah

Jodoh Pilihan Allah
Keluarga


__ADS_3

Shafa masih terpaku di depan sebuah ruangan bersalin yang di lali nya. Pintu yang tidak tertutup rapat membuatnya mendengar teriakan, tangisan juga keluh kesah orang yang berada di dalam saat hendak berjuang mengeluarkan bayi dalam perutnya. Sesekali ia mengumpat dan memarahi semua yang berada di ruangan tersebut membuat bulu kuduk Shafa merinding.


"Ayo, mommy dan daddy pasti sudah menunggu!" Rayyan berusaha mengajaknya pergi namun rasa penasaran Shafa membuatnya enggan untuk bergeser.


"Apakah itu lebih penting dari Jeffri? Kakak Shafa" Bisiknya membuat Shafa langsung menoleh. Ia sampai lupa tujuannya datang kemari untuk melihat Jeffri.


"Ayo mas cepat!" Giliran ia yang menarik Rayyan untuk segera menuju ruang perawatan Jeffri. Saat ini ia berada di lantai 3. Ruang perawatan yang biasa digunakan untuk merawat keluarga, dan pejabat tinggi negara serta pengusaha kelas atas. Sebuah pintu yang di jaga oleh 4 orang berseragam hitam dengan senjata lengkap pasti menjadi kamar perawatan Jeffri.


"Saya adiknya pak Jeffri. Putri pemilik tempat ini!' Ujar Shafa saat penjaga tersebut hendak membuka mulut menginterogasinya. Ia menunjukan sebuah kartu berwarna gold sebagai pengenal.


"Silahkan masuk bu" Ujarnya setelah melihat kartu yang di berikan oleh Shafa.


Shafa cukup terpana dengan pemandangan di depannya. Baru kali ini ia melihat ruang perawatan yang lebih terlihat seperti kamar hotel. Daddy benar-benar mengerahkan kekuatan penuh untuk menunjang kesembuhan Jeffri. Terlihat di ruangan itu Aini sedang duduk sambil membaca ayat suci Al-quran di samping tubuh Jeffri. Sedangkan daddy dan mommy Shafa tak nampak di ruangan itu. Perlahan Shafa mendekati Aini yang tengah khusuk mengaji. Ia masih belum menyadari keberadaan Shafa sampai Shafa menyentuh bahunya.


"Shafa... Kamu dari tadi? Sini duduk" Aini memberikan kursi yang di dudukinya kepada Shafa.


"Barusan kak. Bagaimana kondisi kak Jeff?"


"Alhamdulillah kondisi tubuhnya semakin baik meski belum stabil, setidaknya lebih baik dari kemarin" Jawab Aini.


Shafa memberanikan diri menatap tubuh Jeffri yang di tutupi selimut sebatas dada. Terlihat beberapa kabel melekat di dadanya. Mungkin kabel itu merupakan salah satu alat penunjang hidup Jeffri.


Air mata Shafa jatuh saat menatap wajah Jeffri yang sedang terlelap dalam komanya. Ia baru menyadari bahwa wajah Jeffri mirip dengan daddy nya. Selama ini ia tidak menyadari, karena Jeffri selalu memelihara brewoknya hingga terlihat garang dan galak.


"Kak Jeff..." Shafa menyentuh tangan Jeffri dengan lembut. Sambil menangis.


"Kak Jeff jahat! Kenapa kak Jeff nggak ceritain semuanya sama Shafa? Kenapa kak Jeff selalu berbohong sebagai pengawal bayaran daddy. Kenapa kak? Kakak fikir Shafa akan marah? Enggak kak! Shafa sayang kak Jeff. Hiks hiks"


"Kak Jeff, maafin Shafa. Shafa sering buat kak Jeff kesal. Shafa sering ngerepotin dan ngerjain kak Jeff. Maafin Shafa kak! Kakak bangun, aku kangen kak Jeff yang dulu. Aku kangen di omeli sama kak Jeff" Ujarnya sambil terisak. Jeffri dulu memang sering mengomeli Shafa saat ia ketahuan berfoya-foya atau pergi tanpa sepengetahuan daddy dan momnynya yang membuat mereka kelabakan mencarinya.


"Kak Jeff, aku nggak mau jadi anak tunggal di keluarga kita. Kak Jeff harus bangun! Mommy dan daddy membutuhkan kak Jeff. Kasihan mommy dan daddy kak. Mereka sangat terpukul. Kak Jeff janji akan melindungi kita. Kalau kak Jeff pergi siapa yang akan jaga mommy dan daddy kak?" Ia masih saja berceloteh di depan tubuh Jeffri yang masih lemah tak berdaya. Setetes buliran bening mengalir dari mata Jeffri. Apakah dia menangis?


"Shafa!"


Daddy dan mommy baru muncul dari sebuah pintu kaca di sisi ruangan dan menghampiri dirinya..

__ADS_1


"Daddy" Shafa langsung memeluk daddy nya, menangis tersedu-sedu. Ia tak kuasa melihat raut wajah Daddy nya yang begitu sendu. Pria itu pasti merasa bersalah terhadap dirinya yang juga menjadi korban kebohongan nya selama ini.


"Maafkan daddy nak" Ucapnya sesakali mencium kening putri kesayangannya itu. Ia tahu Shafa pasti kecewa padanya, tapi semua itu daddy lakukan agar keluarganya tetap utuh meski harus mengorbankan Jeffri.


"Daddy harus nyembuhin kak Jeff, kalau mau Shafa maafin!" Ujar Shafa sambil sesunggukan.


"Daddy akan berusaha sekuat tenaga untuk menyembuhkan Jeffri. Shafa bantu doa ya nak?" Ujarnya sambil mengusap kepala Shafa.


Daddy mendekatkan bibirnya di telinga Jeffri sambil berucap,


"Dengar Jeff, adikmu tidak mau memaafkan pak dokter kalau kamu tidak bangun! Bangunlah nak! Kami merindukanmu" Bibir daddy bergetar saat mengucapkan kalimat tersebut. Bagaimana tidak, Jeffri adalah anaknya, namun demi menjaga nama baiknya di hadapan kakek dan nenek Shafa, ia harus terus memanggilnya pak dokter, meski ia ingin memanggilnya daddy atau ayah tapi dia tak bisa. Saat itu, ada jarak yang tak mampu ia lampaui. Kini tak ada lagi yang mereka takutkan, karena kedua orang tua Fanny sudah tiada.


"Jeff, semua ada disini untuk menemanimu nak. Lekas bangun dan kita mulai semuanya dari awal. Ibu sayang kamu Jeffri. Meski kamu tidak keluar dari rahim ibu, tapi kamu adalah bagian dari hidup ibu nak. Kamu akan selalu menjadi bagian dari keluarga kami. Ibu tidak mau kehilangan putra sulung ibu Jeff" Ujar ibu sambil mencium tangan Jeffri.


Air mata Jeffri kembali mengalir dari sudut matanya. Meski tidak dapat melihat tapi ia bisa merasakan kasih sayang tulus dan harapan orang terdekatnya.


"Dad... Tubuh Jeffri merespon dad!" teriak mommy saat melihat air mata Jeffri mengalir. Ia segera menekan tombol yang ada di atas ranjang Jeffri.


Daddy segera mengambil perlengkapan medisnya dan mulai memeriksa kembali Jeffri. Beberapa dokter dan perawat juga terlibat masuk ke dalam ruangan melihat kondisi Jeffri. Daddy terlihat bercakap-cakap dengan dokter Mike yang ia datangkan dari Singapura dalam Bahasa Inggris. Yang mereka tangkap dari pembicaraan dokter Mike dan daddy ialah, meski masih koma namun Jeffri sudah bisa mendengar suara dari luar. Hal ini biasa terjadi pada pasien yangvmengalami koma. Jadi meskipun belum ada tanda-tanda untuk bangun, keluarga harus terus memberikan rangsangan dan stimulus dari luar.


"Syafakallah kakak ipar, semoga Allah segera memberikan kesembuhan. Agar adik cantikmu ini tidak selalu gelisah memikirkan kakaknya." Ujar Rayyan yang juga ikut memberikan stimulus di telinga Jeffri.


"Hati-hati Fa, aku titip Hafiz dulu ya?" Aini memeluk Shafa sebelum berpisah.


"Iya kak, Hafiz pesan suruh nyampein bunda. Katanya dia senang dibrumah bersama Zafran" Jawab Shafa.


"Alhamdulillah... Maaf ya Fa, jadi ngerepotin"


"Nggak kok kak... Aku malah senang Zafran ada temannya jadi nggak rewel kalau di tinggal" Balas Shafa.


Setelah keluar dari ruangan Jeffri Shafa berjalan dengan di tuntun oleh Rayyan. Lagi-lagi ia melewati ruangan bersalin yang tadi di laluinya. Sudah hampir 2 jam sejak ia datang namun sepertinya tidak ada perubahan pada Sinta. Ia masih saja berteriak dan menjerit kesakitan membuat Shafa kembali menghentikan langkahnya.


"Sayang ayo! Jangan nguping. Berdosa" Bujuk Rayyan yang melihat istrinya tengah berusaha mengintip di balik celah pintu yang tidak tertutup rapat.


"Jangan mengedan bu! Belum waktunya!" ujar seseorang dari dalam memperingatkan.

__ADS_1


"Sakit dokter... Ini sakit!!!! Aaaaaaagggghh... Sakiiit ma" Terikanya membuat Shafa meringis sambil memegang perutnya.


BRAK!


Rayyan merapatkan pintu tersebut agar istrinya tak lagi mengintip dan membuatnya ketakutan sendiri nantinya.


"Pulang!" Tanpa bantahan Rayyan menarik pelan tangan Istrinya meninggalkan ruangan tersebut.


Sepanjang jalan Shafa hanya diam membayangkaan apa yang di lihatnya dari celah pintu tadi. Sinta terlihat kepayahan di atas ranjang sambil berteriak.


Kayaknya rasanya sakit banget! Apa aku cecar aja yah? Ntar kalau aku nggak kuat terus dead gimana? Duh nak, mommy takut.


Keraguan mulai menyusupi hatinya. Ia segera mengetik sesuatu dari layar ponselnya. Ia mencari video melahirkan normal di youtube. Dengan begitu ia bisa mengira-ngira sakitnya melahirkan.


Mata Shafa membelalak dan mulutnya terbuka saat melihat detik-detik orang melahikan. Ia sengaja menonaktifkan suaranya agar tidak ketahuan suaminya. Jantung Shafa berpacu lebih ceat saat melihat bagian inti wanita yang terbuka lebar saat kepala bayi hendak keluar.


Grep! Dengan cepat Rayyan menyahut ponsel Shafa dan memasukannya kedalam saku celananya.


"Yah, mas. Kok di ambil?"


"Masih tanya kenapa mas ambil?" Rayyan menatapnya tajam.


"Akukan cuma pengen lihat bagaimana proses lahiran normal" Jawab Shafa dengan nada memelas.


"Untuk apa mencari tahu kalau membuatmu ketakutan sendiri. Mas sangat hafal dengan sifat keras kepalamu Shafa! Yang harus kamu lakukan di saat seperti ini adalah menenangkan diri, merilekskan fikiran, positive thingkin dan banyak berdoa. Bukan malah mencari tahu sesuatu yang justru akan membuatmu tertekan" Balas Rayyan.


"Kan aku penasaran mas! Mas sih nggak ngerasain jadi aku. Aku yang mau melahirkan mas. Jadi aku harus tahu" Ujar Rayyan dengan wajah cemberutnya. Rayyan segera menepikan mobilnya dan mematikan mesin saat melihat istrinya tengah merajuk. Ia tidak ingin fokus menyetirnya menjadi terganggu saat ibu hamil ajaib satu itu ngambek.


"Sayang dengar mas," Ia meraih bahu Shafa menghadap ke arahnya.


"Melahirkan itu adalah kodrat wanita, mau sesulit dan sesakit apapun akan tetap Shafa lalui. Apa Shafa takut?" Rayyan menatap mata Shafa. Ia bisa melibat ketakutan di mata istrinya.


Shafa mengangguk sambil berkaca-kaca.


Sudah tahu takut masih juga nonton!

__ADS_1


"Kalau Shafa takut, Shafa harus banyak berdoa supaya diberi kemudahan dan kelancaran dalam melahirkan nanti. Allah pasti akan membantu Shafa! Mas akan selalu ada di samping Shafa melewati semuanya" Ujar Rayyan lembut sebelum melanjutkan kembali perjalanan mereka.


__ADS_2