
Shafa Azura
Saat sakit yang tiada terperi menghampiri aku hanya bisa berpasrah menyerahkan hidup ku pada sang pemilik hidup. Sakit ini sungguh luar biasa, tak pernah ku rasakan sakit yang seperti ini sebelumnya. Saat pinggang ku rasanya remuk, terputus bak di hujam ribuan pedang. Aku berfikir ini mungkin akhir dari hidupku.
Aku menyerah, aku tak kuat lagi namun wajah teduh itu kembali menatapku menguatkan ku dengan dzikir-dzikir yang ia bisikkan di telingaku. Aku tahu seberapa besar ia menginginkan anak ini. Begitu juga aku. Aku akan sangat merasa bersalah jika aku tidak bisa melahirkannya dengan selamat. Meski nyawaku yang harus menjadi taruhan nya. Mas Rayyan menempelkan keningnya di keningku, terlihat jelas gurat kekhawatiran di wajah tenangnya itu.
Ya Allah, aku teramat sangat mencintainya, laki-laki yang kini menggenggam erat tanganku, meyakinkanku bahwa aku bisa melalui semuanya. Dia adalah hidupku, sumber kekuatanku. Aku berusaha mengumpulkan kembali tenagaku yang sudah terkuras. Terlintas kembali di ingatanku kebersamaan kami beberapa bulan ini. Aku tersenyum mengingat betapa uniknya cara Allah mempertemukan kita, membuat kita saling jatuh cinta hingga bagaimana Dia menghadirkan Zafran dan anak dalam kandunganku ini di tengah-tengah kami. Allah sudah begitu baik kepadaku. Memberikan ku suami yang begitu sempurna di mataku. Pantaskah aku jika harus meminta lagi?
"Ayo bu, lebih kuat lagi, sudah kelihatan kepalanya." Ujar dokter Lily memberi instruksi. Ia mengatakan bahwa kepala anakku sudah terlihat, itu artinya tak lama lagi ia akan melihat dunia. Aku harus berjuang, demi dia, demi anak yang ada dalam kandunganku dan demi semua orang yang mencintaiku.
"Bismillah..." Ucapku sebelum memulai untuk berkuat. Rasanya dorongan dari dalam perutku semakin kuat dan menyakitkan. Sakiiit... Sungguh Sakiit...!
"Eeeeeeeeenggghh.... Aaaarrrggghhh.... Allahu akbaaar!!!" Teriakku saat tubuhku terasa seperti remuk, benar benar remuk.
Kita tidak pernah bisa memilih takdir yabg akan kita lalui. Tapi kita bisa memilih seperti apa kita menjalaninya. Aku memilih mencintaimu, menjadi ibu dari anakmu tapi aku tidak bisa janji akan menua bersamamu.
Mataku mulai terasa berat, badanku terasa lemas.
Hening!!!
Senyap!!!
Gelap!!!
Apakah aku sudah mati?
.
.
.
.
***
"Owek...Owekk... Owek!!!"
Suara tangisan bayi itu menggema di dalam ruangan membuat seulas senyum tersungging di sudut bibir Rayyan. Ucapan syukur pun tak henti-hentinya ia lafaz kan. Namun wajahnya seketika berubah menjadi pucat pasi saat memandang wajah istrinya.
"Shafa!!! Shafa!!!"
Rayyan menepuk wajah Shafa yang terpejam sempurna. Tangan Rayyan gemetar seakan mati rasa.
__ADS_1
"Shafa bangun Shafaa!!!" Teriaknya membuat bidan dan dokter yang sedang membersihkan bayi mereka terperanjat.
Dokter Lily segera menghampiri dan memeriksa kondisi Shafa. Sementara Rayyan sudah menangis sambil menenggelamkan wajahnya di samping wajah Shafa.
Dokter Lily memeriksa denyut nadi dan nafas Shafa. Ia terlihat sedang sibuk memberikan tindakan tanpa banyak bicara.
"Kenapa kamu tega Shafa? Kenapa?" Rayyan sudah kehilangan akalnya. Ia bahkan lupa bahwa anak yang selama ini ia nantikan telah lahir ke dunia. Pikirannya semua hanya terfokus pada Shafa seorang.
"Jangan pergi Shafa, jangan tinggalkan aku dan anak-anak kita. Apa yang akan aku katakan pada Zafran dan anak kita saat dia menanyakan mommy nya. Apa Shafa? Hiks...Hiks!" Ujar Rayyan sambil terisak di samping wajah Shafa.
"Maaf pak Rayyan - - -"
"Diam dokter! Saya tidak mau mendengar apapun!" Bentak Rayyan yang masih memeluk tubuh istrinya sambil tersedu.
"Pak Rayyan, Saya harus memasang infus pada ibu Shafa" Ujar dokter Lily yang membuat Rayyan langsung mendongak menatapnya.
"Ma..Maksud dokter istri saya belum meninggal?" Tanya Rayyan.
"Ha.ha.ha. Bapak ini ada-ada saja, Ibu Shafa tidak apa-apa pak, dia hanya terlalu kelelahan hingga seperti ini" Ujar dokter Lily sambil tertawa membuat Rayyan melongo seperti orang b**oh. Dua orang bidan yang sednag mengurus anaknya pun ikut terkekeh.
"Alhamdulillah ya Allah!!! Terimakasih sayang, terimakasih sudah berjuang untuk anak kita" Rayyan menghujani wajah Shafa dengan ciuman lembut di seluruh wajahnya.
Tak lama kemudian pintu ruangan terbuka, mommy dan daddy masuk ke dalam. Rayyan langsung memeluk daddy dan menangis di bahu daddy sedangkan mommy langsung melihat bayi Shafa yang tengah di lap dan di potong tali pusarnya oleh bidan.
"Maksud Daddy?" Tanya Rayyan.
" Lihat di sudut sana!" Daddy menunjuk sudut ruangan yang terdapat CCTV. Artinya semua kegiatan mereka selama beberapa jam tadi terpantau atas.
Astagfirullah. Pantas saja daddy dan mommy tenang-tenang saja.
"Daddy tidak mungkin membiarkan putri kesayangan daddy kenapa-napa. Semua sudah di perkirakan Ray, dan dokter Lily adalah dokter kandungan terbaik di klinik ini. Dia tidak mungkin melakukan kesalahan fatal, apalagi sebelumnya sudah di ketahui bahwa kondisi Shafa sangat baik dan memungkinkan untuk melahirkan normal" Ujar Daddy dengan tenang.
Benar, kenapa aku bisa sebodoh ini ya Allah.
"Dad, lihat cucu kita!" Ujar mommy sambil menggendong bayi kecil yang masih merah dengan kulit yang terlihat masih keriput.
"Ayo Ray, lekas adzani anakmu" Ujar ayah. Kewajiban pertama seorang ayah ketika anaknya baru lahir adalah mengadzani di telinga kanannya dan iqamah di telinga kirinya.
Tangan Rayyan bergetar saat pertama kali menyentuh kulit anaknya. Kulitnya begitu lembut dengan bekas kelupasan putih yang masih melekat. Mommy membantunya memposisikan bayi tersebut di dalam gendongan Rayyan. Daddy membatu Rayyan yang gemetaran menahan tubuh anaknya.
"Bismillahirrahmanirrahim" Rayyan menempelkan bibirnya di telinga kanan anaknya.
"Allahu akbar... Allahu akbar"
__ADS_1
Lantunan Azan yang di kumandangkan Rayyan terdengar begitu merdu dan menenangkan setiap yang mendengarnya. Di sela-sela Azannya tak kuasa ia menjatuhkan air matanya lantaran begitu bahagia atas nikmat yang Allah berikan kepadanya. Rasanya hidupnya kini begitu lengkap.
Setelah mengumandangkan Azan. Ia berpindah ke telinga kiri anaknya untuk ber iqomah.
Ya Allah, jadikan lah anak ini anak yang sholeh, yang selalu takut akan Mu. Jadikan lah ia sebagai laki-laki yang lurus dalam agama mu. Jadikanlah ia laki-laki yang akan berjuang di jalanMu. Amiiin.
Setelah selesai di adzani, dengan hati-hati mommy meletakkan bayi tersebut dengan posisi tengkurap di dada Shafa. Rayyan menahan punggung anaknya yang masih belum berbalut kain tersebut dengan telapak tangannya agar ia tidak terjatuh karena Shafa belum juga membuka matanya. Ia masih merelaksasi kan tubuhnya yang kelelahan
"Sayang, bangunlah. Lihat anak kita. Dia sangat tampan" Ujar Rayyan. Bayi itu terlihat bergerak gerak dan menangis sebelum sebuah tangan lembut mendekapnya, membuatnya tenang dalam dekapan ibunya.
"Sayang..."
Rayyan tersenyum dan kembali mencium kening Shafa. Kali ini lebih lama. Ia ingin menyalurkan rasa bahagia yang tengah membuncah di dalam dadanya.
"Jangan menangis mas, aku belum mati! Mas malu-maluin!" Akhirnya ia mendengar lagi suara itu. Suara merdu yang hampir membuatnya kehilangan akal. Ia pikir dirinya akan berakhir menjadi duda beranak dua seperti dalam beberapa serial film yang pernah di tonton nya.
Shafa telah membuka matanya. Perjuangannya selama hampir 5 jam terbayar sudah dengan hadirnya bayi mungil dalam dekapannya. Bayi laki-laki dengan berat 3,3 kilo gram tersebut mampu menjungkirkan balikkan dunianya. Bayi tampan dengan hidung mancung itu mampu membuatnya lupa akan rasa sakit yang masih terasa di bagian kewanitaan nya. Ia menatap anaknya tersebut dengan rasa yang tak bisa di gambarkan.
Akhirnya mommy bisa melihatmu nak, selama sembilan bulan kamu di dalam perut mommy, tapi kenapa wajahmu lebih mirip ayahmu? Gumam Shafa yang terus memandangi wajaah putranya tersebut.
"Mom, dimana Zafran?" Shafa tiba-tiba teringat pada Zafran kecilnya yang begitu ingin melihat adiknya.
"Zafran ada di ruangan sebelah sama ibu dan ayahmu. Dari tadi dia merengek ingin ketemu dengan kamu Fa" Ujar Mommy.
"Kenapa nggak di ajak kesini mom, dia pasti nggak sabar mau lihat adiknya" Balas Shafa.
"Dia tidak mungkin bertemu kamu dalam keadaan seperti ini kan? Bisa bisa dia menangis histeris melihat banyak darah" Ujar mommy.
"Kalau gitu mommy bantu Shafa bersih-bersih biar daddy yang menenangkan Zafran. Kalau sudah siap suruh bidan memberitahu kami. Ibu dan ayah Rayyan juga pasti sudah sangat ingin melihat cucunya" Ujar Daddy kemudian meninggalkan ruangan menuju ke ruangan yang berada di sebelahnya.
"Bu Shafa kita lakukan inisiasi menyusui dini dulu yah. Sepertinya sudah cukup pengenalan skin to skin nya" Ujar dokter Lily.
"Mommy aku malu" Ujar Shafa saat mommy nya berusaha untuk menurunkan bagiaan atas dasternya ke bawah.
"Malu sama siapa Fa? ini cuma dada kamu loh yang mau di lihat, sedangkan dokter tadi sudah melihat bagian yang lebih privat dari ini" Balas Mommy membuat wajah Shafa memerah.
Bukan cuma lihat mom, dokter bahkan sudah memporak porandakan aset berhaga aku. Ya Allah nggak bisa ngebayangin gimana bentuknya sekarang. Batin Shafa miris. Ia masih ngeri jika mengingat bagaimana dokter memasukkan tangannya dengan santainya kedalam kewanitaannya.
"Dekatkan dengan bagian put*ng nya ya bu, biar dia mencari sendiri" Ujar dokter. Nampak bayi kecil itu aktif mencari sendiri letak sumber kehidupannya. Setelah menemukan apa yang di carinya ia langsung menyusu dengan aktif. Shafa nampak meringis menahan geli karena lidah bayi yang baru lahir terasa lebih kasar.
"Mulai sekarang kamu harus ngalah sama anak mu Ray" Tukas ibu yang membuat wajah Rayyan merah seketika.
___________
__ADS_1