
Anggaplah kita sedang honeymoon. Berjalan berdua menyusuri jalan yang di penuhi dengan pepohonan rindang seperti muda-mudi yang sedang di mabuk cinta. Tapi jangan harap kalian akan menemukan hal itu disini. Muda mudi di sini tidak sama dengan di Jakarta yang bebas bergandengan tangan, berpelukan bahkan berciuman di manapun mereka suka. Disini mereka lebih menjaga adab yang memang di atur oleh perda pemerintah setempat.
Selepas sholat Ashar aku dan mas Ray keluar dari hotel untuk berjalan-jalan menikmati suasana sore di kota Aceh bumi serambi mekkah. Kami berniat pergi ke beberapa tempat iconic di Aceh seperti masjid Raya Baiturrahman dan museum Tsunami. Jarak antara hotel yang kami tempati tidak begitu jauh dari tempat tersebut. Sehingga sangat mudah di jangkau dengan transportasi yang banyak di jumpai di sekitar.
"Mas sudah sering kesini ya?"
"Ga juga cuma beberapa kali aja" Jawabnya. Pantas, kok dia kayaknya sudah hapal banget dengan jalanan disini.
"Ini mau kemana mas?" Tanyaku. Saat ini kami sedang duduk di sebuah bangku kayu di taman pinggir jalan.
"Mau ke Museum Tsunami, sebentar lagi jemputan datang" Jawabnya.
"Siapa yang jemput mas?"Tanyaku penasaran.
"Teman kuliah mas dulu"
"Cewek atau cowok?" Tanyaku mengintimidasi.
"Cowok sayang... cowok"
"Bagus!" Ucapku puas. Aku ga rela aja kalau ada cewek lain yang deket deket mas Rayyan nya Shafa. Apalagi cewek Aceh kan manis-manis dan alim-alim.
Sebuah mobil Toyota Rush berwarna putih berhenti di tepi jalan tak jauh dari tempat kami duduk.
"Assalamualaikum ustad" Sapa seorang pria seusiaku. Kok dia manggilnya ustad? Jadi beneran nih suamiku ini ustad?
"Wa'alaikumsalam wr.wb" Mereka saling bersalaman. Pria itu menangkupkan tangannya menyapa ke arahku. Fix, Mereka seperguruan sama-sama ga salaman dengan lawan jenis.
"Ya sudah, mari ustadz nanti keburu sore" Ajaknya. Aku dan mas Ray masuk ke dalam mobil duduk di kursi belakang.
"Mas.... Dia namanya siapa?" Bisik ku.
"Oh ya Mar, kenalin ini istriku namanya Shafa" Ujar mas Ray. Aku kan cuma nanya namanya, eh malah di kenalin.
Dia melirik sekelas dari kaca depan "Oh iya kak nama saya Amar saya mahasiswa bimbingannya ustad Zidane waktu di kairo" Jawabnya.
"Panggil Shafa aja, kita kayaknya seumuran deh" Jawabku.
__ADS_1
"Ah, i..iya" Ucapnya canggung. Emang ada yang aneh dari diriku.
"Sayang, kok dia manggilnya Ustad Zidane?" Tanyaku.
"Di Kairo mereka kenalnya Zidane bukan Rayyan" Ucapnya.
"Oh ya, Amar sudah lama kenal sama mas Ray?" Tanyaku pada pria yang sedang memegang kemudi yang ku ketahui bernama Amar.
"Alhamdulillah sudah lama kak, sejak saya mulai masuk kuliah" Jawabnya.
"Ish, jangan panggil kak ah, aku jadi merasa tua. Memangnya umur kamu berapa sih?" Tanyaku lagi.
"Saya baru 24 kak" Jawabnya. Umur aja tua an elu pake manggil gue kak. Gak kebalik bang?
"Nah, itu umurnya tuaan kamu, harusnya aku dong yang manggil kak" Protesku. Mas Ray sejak tadi sudah memberikan kode supaya aku diam tapi ga aku gubris. Aku tuh paling seneng ketemu sama orang baru apalagi dia kenalannya mas Ray. Kan aku bisa nanya-nanya banyak tentang mas Ray.
"Gak papa kak, saya ga enak kalau manggil istrinya Ustad Zidane dengan sebutan nama" Ujarnya. Sopan banget gaes.
"Ya udah terserah deh"
"Maaf ya Mar, istriku emang agak sedikit cerewet" Ujar Mas Ray yang langsung dapat pelototan dari mataku. Orang cuma mau kenalan di bilang cerewet.
"Mas ih, istrinya sendiri kok dibilang cerewet" Ucap ku kesal.
"Iya...enggak, tapi kasian Amarnya kalau di tanya tanya terus"
"Amar nya aja ga papa, iya kan Mar?" Tanyaku. Pasti dia bakal bilang iya.
"Iya kak ga papa" Benerkan dugaan ku.
"Eh Mar, Mas Ray dulu waktu di Kairo gimana sih?" Sekalian ku tanya Amar deh.
"Shafa..." Mas Ray kembali buka suara memberi peringatan.
"Eh..itu..aduh saya jadi bingung jawabnya? Ku lihat wajahnya nampak canggung.
"Jawab saja Mar, kalau ga kamu jawab pertanyaan makin banyak nanti" Ucap mas Ray yang sepertinya sudah putus asa menghentikan ku. Aku jadi semakin semangat.
__ADS_1
"Emh...Ustad Zidane baik" Ucapnya singkat.
"Hah? cuma itu Mar?" Tanyaku seolah menuntut jawaban lebih dari Amar. Ia malah mengangguk. Sedangkan mas Ray terkekeh. Susah emang ngomong sama mereka.
Kurang lebih 15 menit perjalanan kami sampai di sebuah bangunan besar yang di sebut Museum Tsunami. Di dalamnya terdapat lorong lorong yang mungkin saling terhubung. Di museum ini kita bisa menonton film pendek tentang Tsunami pada tahun 2004 silam yang berhasil meluluh lantahkan kota Aceh. Di tempat ini juga terdapat nama-nama orang yang menjadi korban pada tragedi maha dahsyat yang telah merenggut jutaan nyawa. Nama nama tersebut di abadikan pada dinding museum.
Aku tak menyangka bahwa Amar adalah salah satu anak yang harus menjadi yatim karena kejadian tersebut. Setelah dari Museum Tsunami, kami mampir di sebuah tempat seperti pemukiman warga tapi uniknya ada sebuah kapal yang nampak bertengger di salah satu atap bangunan tersebut. Kapal tersebut merupakan kapal yang tersangkut di salah satu rumah warga pada saat Tsunami terjadi.
"Mar, Fotoin yah" Aku menyerahkan handphoneku ke pada Amar. Dan menarik mas Ray untuk berfoto bersama. Awalnya mas Ray menolak karena malu pada Amar, namun pada akhirnya dia nurut juga.
Kami berfoto dengan beberapa gaya seperti bergandeng tangan saling memeluk dan ada juga foto kita saling tertawa. Aku juga sempat berfoto dengan seorang ibu yang juga merupakan korban Tsunami yang selamat karena kapal yang tersangkut di atap rumah tetangganya itu. Aku sempat ngobrol sebentar dengan ibu yang di panggil wak, beliau memberikan sebotol kecil madu. Katanya madu itu bagus untuk pasangan yang menginginkan momongan. Alhamdulillah ya Allah Rizqi istri sholeh.hihihi.
Setelah dari tempat itu kami segera menuju destinasi utama kota Aceh yaitu masjid raya Baiturrahman. Begitu tiba di halaman masjid, rasanya nyaman dan tenang mulai terasa. Ku lihat banyak muslimah yang sedang berkumpul dalam kelompok kelompok kecil. Kata mas Ray mereka sedang bermajelis ilmu. Aku ga ngerti deh yang begituan. Aku juga menyempatkan diri untuk berfoto dan ber-selfie ria. Karena sudah masuk waktu magrib akhirnya kami melaksanakan sholat magrib di masjid ini. Aku bergabung dengan shaf perempuan sedangkan mas Ray berada di Shaf laki-laki yang posisinya cukup jauh dariku.
Setelah selesai sholat kami bertiga makan malam dan menyempatkan diri menikmati minuman dan jajanan khas Aceh yaitu teh tarik dan Martabak Aceh. Kami bertiga larut dalam obrolan panjang seputar kota Aceh dan segala keunikannya
Tak terasa waktu sudah menunjukan pukul setengah sembilan malam. Setelah Sholat Isya kami memutuskan untuk kembali ke hotel. Rasanya cukup puas bisa menikmati hari bersama Mas Ray. Meskipun singkat tapi berkesan.
Begitu sampai di hotel aku langsung membersihkan diriku, begitu pun mas Ray. Dia sudah berganti baju dengan memakai kaos dan celana pendek. Aku pun memakai dress tidur pendek ku yang sudah pasti mengekspos bagian dada dan pahaku. Ini pakaian ternyaman saat tidur.
"Sayang tadi aku di kasi ini loh sama wak yang di kapal tadi, katanya bagus buat yang lagi program hamil" Ujarku sambil menunjukan botol kecil pemberian Wak tadi. Kami memang tidak menunda untuk memiliki anak, tapi kami juga belum sempat konsultasi ke dokter. Intinya biarkan dulu semua mengalir apa adanya.
"Coba mas lihat"
Aku memberikan botol tersebut pada mas Rayyan. Ia membuka nya dan mencium aromanya.
"Ini madu. Ambil sendok gih!" Perintahnya. Aku Pun mengambilkan sendok yang terletak di atas cangkir. Ku lihat mas Ray menuang madu tersebut kedalam sendok dengan hati-hati.
"Buka mulut, baca bismillah" Ujarnya sambil menyuapkan sesendok madu.
"humm... manis" Ucapku sambil menikmati sensasi legit di mulutku.
"Gantian!" Mas Ray menyerahkan botol madu tersebut. Aku pun menuangnya ke dalam sendok dan menyuapkannya. Semoga setelah ini keinginan kami untuk memiliki anggota keluarga baru dapat terwujud.
_________________
Honeymoon to Aceh🤗❤️😍
__ADS_1