Jodoh Pilihan Allah

Jodoh Pilihan Allah
Tante Lilis


__ADS_3

Author Point Of View


Sampai malam tiba Shafa masih tak mau bicara pada Rayyan. Dia juga melakukan aksi mogok makan untuk yang pertama kalinya. Setelah shalat Isya ia memilih untuk nonton nonton film di laptopnya. Malam ini Shafa merasa sangat dingin sehingga ia harus memakai hoodie panjang dan celana training lengkap dengan masker.


Di ruang makan, seusai makan malam Rayyan tak langsung naik ke kamar karena tante Lilis mengajaknya untuk bicara.


"Rayyan, tante minta maaf atas kejadian tadi sore" Ucap tante Lilis. Kejadian yang di maksud adalah saat ia melihat Shafa kedapur dengaan pakaian minim.


"Tante ga perlu minta maaf, Shafa aja tadi yang teledor" Jawab Rayyan. Ia tidak akaan pernah menyalahkan apalagi bersikap tidak sopan pada tante Lilis.


"Rayyan, bukannya tante mau ikut campur masalah rumah tangga kamu, tapi menurut tante sekali-kali kamu perlu keras dengan istrimu" Ucap tante Lilis.


"Maksud tante?" Ray keheranan mendengar ucapan tantenya.


"Maksud tante kamu jangan terlalu memanjakannya, agar dia tidak keras kepala. Kamu kepala keluarga Ray, kamu yang harus di ikuti kata-katanya bukan dia. Jangan selalu menuruti kemauannya. Tante lihat kamu terlalu nurut sama istri kamu, bahkan kamu juga sekarang menjauhi adik kamu"


"Maksud tante Yola? Ray tidak menjauhi Yola tante, hanya saja akhir-akhir ini Ray banyak kesibukan di kampus" Ucap Rayyan, ia merasa sangat tidak enak pada tante Lilis karena mengaanggapnya menjauhi Yola. Walaupun sebenarnya ia sedikit menghindar karena sifat cemburu Shafa.


.


.


.


Rayyan naik ke kamarnya sambil memikirkan ucapan tante Lilis.


Apa benar aku terlalu memanjakan Shafa. Tapi akhir-akhir ini aku merasa dia mulai bertingkah aneh.


Rayyan masuk kedalam kamar. Ia mendapati Shafa yang tengah asyik nonton di laptopnya.


"Sayang... Kamu kok pakai pakaian kaya gini sih?" Ucap Rayyan mendekati Istrinya. Aneh saja melihatnya yang biasaa buka-bukaan jadi pakai pakaian seperti sedang berada di kutub utara.


"Dingin" Ucapnya singkat. Rayyan duduk di sebelahnya sambil merangkul bahunya.


"Shafa masih ngambek?" Tanyanya tapi tak mendaat respon dari Shafa.


"Sayang, berdosa loh kalau suaminya bertanya lantas di diamkan atau di acuhkan" Ucap Ray membuat Shafa langsung berbalik. Shafa paling takut jika Ray sudah berbicara soal dosa.


Ia menatap wajah Ray tanpa berucap sepatah katapun.


"Maafin mas ya? Tadi sudah bentak Shafa" CUP! Rayyan mengecup kening Shafa dan merangkulnya. Shafa tak menolak. Ia justru merasakan kenyamanan yang teramat sangat setiap kali Ray memeluknya.

__ADS_1


"Dimaafin" Ucap Shafa lirih.


"Sekarang makan yuk! Shafa kan belum makan" Bujuk Ray.


Makan bakso di depan yuk mas, yang dekat pos kamling itu" Ucapnya. Tiba-tiba ia membayangkan bakso dengan kuah yang banyak. Sampai membuatnya beberapa kali menelan ludah.


"Kok tumben ingin makan bakso?" Ray keheranan. Biasanya Shafa sangat menghindari makanan-makanan yang menggunakan MSG.


"Lagi dingin mas, ingin makan yang kuah-kuah" Ucapnya. tak lama ia berdiri. Mengambil pasmina hitam dan langsung memakainya tanpa menggunakan peniti.


"Dibenerin dulu kerudungnya. Itu lehernya masih kelihatan" Rayyan menunjuk bagian leher yang tak tertutup sempurna.


"Iya-iya" Ia segera mengambil peniti dan mengancingkannya. Hampir sebulan ini pula Shafa mulai membiasakan diri untuk memakai kerudung saat keluar rumah meskipun kerudung ala kadarnya.


Rayyan dan Shafa berjalan bergandengan tangan mencari penjual bakso yng biasanya mangkal di dekat pos jaga sekitar 100 meter dari rumahnya.


"Assalamualaikum pak dosen" Sapa salah seorang pria paruh baya yang kelihat sedang berjaga.


"Waalaikum salam pak Edi"


"Mau kemana pak?" Tanya salah seorang pria lainnya.


"Mau beli bakso pak, Bapak mau sekalian ikut?" Tawar Rayyan. Dia memang cukup akrab dengan warga sekitar.


"Iya pak saya traktir" Ucapnya. Merekapun ikut memesan bakso.


"Mang aku baksonya yang banyak kuahnya ya terus bakso keciknya di tusuk aja bakso besarnya di simpan di mangkuk" Pinta Shafa pada mas penjual bakso. Ray hanya menggeleng mendengar permintaan istrinya.


"Ga usah pakai mi istant ya mang" Imbuh Ray. Dia tidak akan membiarkan Shafa memakan mi instant yang banyak mengandung pengawet.


"Saya mie nya kasi saya saja mang" Ucap pak Edi sambil cengengesan.


Setelah puas menyantap bakso Shafa dan Ray pun kembali ke rumah mereka.


"Mas, besok aku mau ketemuan sama Nisa. Dia udah pulang sejak minggu lalu" Ucapnya sambil mengayun-ayunkan tangan suaminya.


"Oh ya? Gimana keadaannya?"


"Suaminya sih ga peduli lagi. Ibu sama bapaknya juga marah besar. Karena sejak awal mereka ga setuju Nisa menikah dengan suaminya. Tapi Nisa bersikeras karena dia tuh dari dulu terobsesi sama cowok-cowok Timur Tengah yang tinggi dan hidungnya mancung" Terang Shafa yang sudah sangat mengetahui perihal temannya tersebut.


"Itu mengapa sayang restu orang tua itu yang utama dalam membangun sebuah hubungan. Karena dari sanalah Ridho Allah berasal. Jadi cinta itu bukan jaminan utama kelanggengan sebuah hubungan" Ucap Ray sambil merangkul bahu istrinya.

__ADS_1


"Kaya kita kan Mas? Meskipun tidak berawal dari cinta, namun pada akhirnya kita bisa saling mencintai" Shafa memeluk pinggang Rayyan sambil berjalan.


"Kalian dari mana?" Tanya tante Lilis begitu mereka masuk kedalam rumah.


"Beli bakso tante" Ucap Shafa sumringah.


"Beli bakso? Dirumah kan banyak makanan Ray. Atau Shafa sengaja ga mau makan masakan tante dan Yola?" Tanyanya nya.


"Ga tan, Shafa cuma lagi pengen makan bakso aja" Ucap Shafa.


"Shafa ga perlu berpura-pura di depan tante. Kalau Shafa memang tidak berkenan kami berada disini. Kami akan pergi" Ucap tante Lilis yang terlihat sedih.


"Tante....tante bicara apa sih? Kita senang tante disini, jadi jangan pernah berfikir seperti itu. Ia kan sayang?" Rayyan menatap Shafa dengan tatapan memohon. Ia tahu benar bahwa istrinya memang tidak menyukai tante Lilis dan Yola.


"Iya" Ucap Shafa.


Kenapa sih tante Lilis selalu buruk sangka ke aku? Apa yang sebenarnya tante rencanakan? Aku ga pernah ganggu tante maupun Yola. Tapi kalian selalu saja berusaha mencari kekurangan ku.


"Mah, mama kenapa?" Yola berlari menghampiri mamanya yang masih berdiri bersama Ray dan Shafa.


"Mama kenapa kak?"


"Mama gak papa nak, ayo kita ke kamar" Ucap Lilis kemudian meninggalkan mereka berdua. Rayyan memijit pelipisnya. Kenapa semua jadi seperti ini?


Tanpa berbicara sepatah kata pun mereka berdua masuk ke dalam kamar. Shafa segera mengganti pakaiannya dengan piyama tidur. Ia kemudian menghampiri Rayyan yang tengah termenung. Shafa membaringkan kepalanya di pangkuan Ray.


"Mas, Atau aku tinggal di rumah Mommy aja ya?, tante Lilis sepertinya tidak nyaman dengan Shafa"


"Mas ga akan ngijinin! Jangan pernah libatkan orang tua dalam masalah rumah tangga kita Shafa" Ucapnya sambil mengusap kepala Shafa.


"Terus aku harus gimana?"


"Berusahalah untuk menerima tante Lilis dan Yola dengan iklas. Buang jauh jauh fikiran negatifmu terhadap Yola. Biar bagaimana pun mereka itu keluarga ku Shafa" Kata-kata Rayyan terdengar begitu datar.


Jadi sekarang kamu nyalahin aku mas? Kalau saja Yola tidak menggoda kamu dan tante Lilis tidak selalu menyudutkan ku tentu aku akan menerima mereka tanpa kamu minta sekalipun!


"Mas minta aku terima mereka. Apa mereka bisa terima aku mas? Mas liat sendirikan gimana tante Lilis nunjuk-nunjuk aku kemaren" Ujar Shafa dengan amarah yang siap meledak.


___________________


Ada apa dengan Shafa😍😍😍

__ADS_1



__ADS_2