
Setelah kedatangan Mommy, bu Hesti ga berani lagi buka mulut. Aku baru tahu kalau suami bu Hesti ternyata bawahan Daddy. pantas aja di ga lagi ngomong macam-macam tentangku. Dia bahkan pamit pulang duluan karena ada kesibukan mendadak. Alasan klasik!
Akupun baru tahu kalau selama ini Mommy sering curhatin aku sama mereka sampai mau di cariin ustadz segala buat meruqiyah agar aku kembali ke jalan yang benar. Se tragis itukah jalan hidupku dulu. Perasaan aku ga ngelakuin hal aneh, cuma jalan-jalan, shoping, nongki-nongki cantik dan nyalon doang. Atau mungkin Mommy beranggapan aku kena guna-guna si Sam kali ya. Aaah, apapun itu intinya sekarang aku udah ga bikin mommy stress lagi. Mommy ga perlu nyari Ustad lagi karena mantunya sendiri kan Ustad. Ustadz Rayyan nya Shafa.
Sehabis makan malam, Aku dan Mas Ray langsung pulang ke rumah. Padahal ibu minta kita buat nginep loh. Aku sih mau mau aja, setelah kenal ibu lebih dekat, aku merasa nyambung. Dibalik penampilannya yang bersahaja ternyata ibu tuh ga kudet malah selalu up to date dengan berita-berita baru seputar perfashionan atau permodelan.Tapi mas Ray bersikeras untuk pulang, alasannya besok taku telat.
Sebelum tidur, ku pastikan telah mengabsen seperangkat perawatan kulit dan wajahku. Lotion malam, toner, serum, sugar lips, Vit e. Ok, semua sudah. time to sleep. Ah, sebelum itu mau manja-manja dulu sama suami ganteng yang sudah bersandar di kepala ranjang.
Aku langsung saja ndusel di ketiaknya supaya di peluk. Aroma tubuhnya yang wangi ini like a candu yang selalu memberikan efek nyaman dan tenang. Tiba-tiba aku teringat ucapan Tania tempo hari, yang mengatakan bahwa mas Ray mungkin tidak mencintaiku dia hanya merasa bertnggung jawab padaku. Bener ga sih?
"Maaaas....." Panggilku sambil memainkan jari telunjuk ku di dadanya.
"Hmmm" Sebuah jawaban klasik yang selalu keluar dari bibirnya.
"Mas, cinta ga sih sama aku? Emm... Maksudnya udah cinta beneran belum?" Aku bingung bangaimana mengatur kalimat yang tepat. Intinya aku mau tau dia beneran cinta sama aku atau hanya sebatas merasa bertanggung jawab.
"Kalau Shafa, udah cinta belum sama mas?" Tanyanya balik. Hhff, Selalu saja seperti ini kalau di tanya pasti nanya balik. Ga bisa ya nanyanya setelah jawab.
"Cinta lah, Love you so much! Kalau ga cinta mana mau aku di "ea ea" in sama mas, di *****-grepein tiap hari. Buruan jawab deh mas ga usah nanya balik" Ucapku mulai kesal.
"Cinta ga ya?" Dia melirik ke arahku kemudian tersenyum kembali menatap layar ponselnya. Aargghh... Nyebelin. Ini hati aku berasa kaya di jungkir balikin.
"Jadi bener ya kata Tania, mas cuma merasa bertanggung jawab aja sama aku, bukan cinta" Ucapku pelan. Aku berbalik memunggungi mas Ray. Kira-kira gimana reaksinya.
__ADS_1
"Jadi Shafa lebih percaya Tania dari pada mas? Ck!" Ucapnya. Heh? ini kok istrinya sedih bukannya di bujuk di sayang atau apalah. Kok malah jadi aku yang di sudutin. Ga bener ini. Aku membalikan kembali tubuhku.
Cup!
Satu kecupan mendarat mulus tanpa hambatan di keningku.
"Maaaass, nyebelin" Ucapku pura-pura kesal padahal mah seneng. Mas Ray ini pintar sekali membolaka balikan perasaanku. Aku kan jadi ambyaaar, apalagi kalau sudah melihat senyumnya. Duhh... gak kuat bang!
Ia meletakan hpnya nakas sebelah nya, kemudian mensejajarkan tubuhnya denganku. Jarak antara wajah kami sangat dekat. Aku bahkan bisa melihat dengan jelas beberapa tahi lalat kecil di sekitar pelipisnya. Berada sedekat ini memang bukan hal pertama bagiku, tapi entah mengapa jantungku selalu berdebar-debar di buatnya. Aku selalu malu kalau dia menatapku dengan intens.
"Ulangi pertanyanmu tadi" Ucapnya tepat di depan wajahku.
"Hah?" Aku mendadak blank. Aku jadi ga pengen nanya apa-apa lagi.
"Shafa tanya apakah mas cinta sama Shafa kan?" Ujarnya. Aku mengangguk. Itu tahu, kenapa nanya lagi sih.
"Sejak kapan" Tanyaku lagi.
"Entah, yang pasti sejak mas cincin ini melekat di jari manis Shafa, Sejak itu pula cinta mas bertambah setiap harinya" Ucapnya sambil mencium tanganku. Wow, sejak cincin ini melekat. Berarti pas aku gencar-gencarnya ngerjain dia biar kesel sama aku donk. Pantesan ia mau-mau aja pas aku ajakin nonton, aku minta mobil. Ternyata oh Ternyata... Ampuni aku ya Allah aku sudah jadi istri durhaka.
"Sekarang Shafa percayakan?" Ia menatap mataku dalam. Aku pengen tenggelam rasanya.
Aku mengagguk kemudian mendaratkan sebuah ciuman di bibirnya.
__ADS_1
"Mas mau jujur, Sebenarnya cincin ini bukan ibu yang nyuruh beli, tapi mas sendiri yang ingin beliin buat Shafa" Ucapnya sambil nyengir.
"Jadi pas waktu itu mas bohongin aku?" Aku melotot ke arahnya. Pake jual-jual nama ibu lagi.
"Mas bingung aja gimana ngomongnya, ntar Shafa ge er lagi. Mas itu ingin nya, perasaan Shafa itu tumbuh tanpa ada paksaan, Mas ingin Shafa mencintai mas apa adanya, sekalipun mas ga seromantis pacar-pacar Shafa sebelumnya" Ucapnya. Kamu ngomong apa sih mas? Kamu tuh romantis banget tau ga sih, apa lagi kalau natap aku kaya gini. Bikin aku nyesel udah nolak kamu dulu.
"Maas, kamu romantis kok walaupun irit ngomong. Thank you" Ucapku sambil mencium bibirnya. Biarlah malam ini aku yang memulainya karena dia telah mencintaiku lebih dulu. Aku pun mulai melakukan apa yang harus aku lakukan. Ku lihat dia tersenyum menikmati setiap perlakuan yang aku berikan.
___________________________________________
Hari ini kami kembali ke aktivitas biasanya. Walaupun resepsi kita akan di gelar kurang dari seminggu, tapi kami tetap beraktivitas seperti biasa. Beda dengan pasangan lain yang harus melalui banyak prosesi adat. Pernikahan kami justru terjadi tanpa rencana. Ga ada tunangan, ga ada pendekatan. Tau-tau udah sah aja. Tapi itulah cara Tuhan menyatukan kami.
"Bu Shafa gimana rencana resepsinya? Eh kita kita udah dapet dreesscode loh buat di acaranya bu Shafa, ya ga bu Anne" Ujar bu Ita.
"Ia bener, jadi ga sabar. Oh ya tau ga denger- denger mau ada guru baru lagi loh bu" Ucap bu Anne.
"Yang bener? Mudah-mudahan gurunya cowok deh. Biar ada yang bisa buat fresh mata gitu" Ucap bu Ita genit.
"Cowok bu, kalau ga salah namanya Briyan Utama, kaya nama artis yah". Ujar bu Anne.
Briyan Utama? Sebuah nama yang hampir aku lupakan, kalau saja bu Anne tidak menyebutnya. Mungkinkah dia Briyan yang aku kenal? Ah , mana mungkin! Bukankah nama Briyan itu banyak. Mungkin hanya kebetulan sama.
.
__ADS_1
.
.