
Briyan cepat-cepat masuk kedalam kamarnya sebelum Sonya datang. Setelah mendengar percakapan Sonya dan Joenathan di cafe tadi, ia segera kembali ke apartement.
"Jadi si Sonya bukan l*sbian" Gumamnya sambil berjalan mondar-mandir di depan lemari.
"Dia pake ngatain aku bodoh lah, play boy lah, awas aja kalau dia jatuh cinta sama aku"
Terdengar suara pintu kamar Briyan di ketuk dari luar. Briyan segera menuju ke arah pintu dan membuka hendel pintunya.
"Briyan? Ngapain pake masker? Kamu flu?" Tanya Sonya yang nampak heran dengan penampilan Briyan.
"Eh...ini... Anu... Ahhhh mau ngapain ketuk-ketuk pintu kamarku?" tanya Briyan yang bingung mau menjawab apa pertanyaan Sonya.
"Aku cuma mau kasi tau, nanti malam aku mau makan malam sama temanku jadi aku nggak bisa buatin kamu makanan okey?" Ujarnya kemudian meninggalkan Briyan yang mematung di depan pintu.
"Eh Son...Son...Mau makan malam sama siapa?" Tanyanya refleks ia langsung memukul mulutnya sendiri. Sonya berbalik sambil tersenyum mengejek.
"Mau tau ajah!" Ujarnya kemudian masuk ke dalam kamarnya.
"Arghhhh....Sonya!!!" Awas saja, kamu tidak begitu saja lepas dari ku" Ujarnya penuh amarah. Ada rasa yang tak biasa yang mulai mengganggu hatinya.
Tepat pukul 7 malam Sonya keluar dari kamar dengan mengenakan dress hitam lengan panjang sebatas lutut. Ia nampak cantik dan elegan. Lagi-lagi Briyan di buat terpana dengan penampilannya. Pasalnya selama ini Sonya selalu berpenampilan cuek dan biasa saja.
"Mau kemana kamu Bri?" Tanya Sonya,, melihat Briyan sudah rapi dengan kemeja hitam lengan panjangnya.
"Makan malam lah, kan kamu nggak nyiapin makanan jadi aku juga mau makan di luar" Jawab Briyan enteng.
"Ooh" Balas Sonya kemudian melangkah menuju pintu yang di ikuti Briyan di belakangnya.
"Ngappain kamu ngikutin aku?" Tanya Sonya ketus. Ia merasa Briyan sedang mengekorinya.
"Eh Son. Kamu tau nggak, di sini itu bahaya kalau perempuan jalan sendirian." Ujar Briyan menakuti.
"Elleh, itu cuma alasan kamu aja supaya bisa ngikuti aku kan? Udah, ngaku aja!" Balas Sonya.
__ADS_1
"Berisik ah, Buruan masuk" Perintahnya setelah menghentikan taxi. Mau tidak mau Sonya masuk ke dalam taxi yang sama dengan Briyan.
"Di Red Velvet Cafe ya pak" Ujarnya pada supir taxi.
"Janjian ama siapa sih Son?"
"Apaan sih kamu Bri, Son, Son. Kamu piki aku Samson? Balas Sonya kesal. Ia paling benci di panggil Son.
"Ya aku harus panggil apa dong. Nama kamu Sonya Adam, Masa ia aku panggil Adam" Ujar Briyan yang tak mau kalah.
"Sonya Briyan... S O N I A" Ujar Sonya mengeja huruf namanya satu per satu.
"Oh ya, teman kamu cewek atau cowok? Bisa kenalin sama aku dong?" Tanya Briyan sambil menaik turunkan alisnya.
"Dasar Play Boy!!! Pantas ajaa ya mantan kamu lebih milih suaminya dari pada Play Boy gila kaya kamu"
"Eh..eh jangan bawa-bawa dia dong, ntar aku makin nggak bisa move on" Ujar Briyan.
"Nyatanya kan memang begitu. Lagian ya Bri kamu itu aneh, udah mantan masih juga di kejar, apalagi statusnya sekarang istri orang. Emang secantik apa sih mantanmu itu" Ujar Sonya yang merasa konyol dengan sikap Briyan mengejar mantannya yangnsudah bersuami.
"Dia berhijab? Pantas aja dia nggak mau balikan sama kamu. Pasti suaminya ustad, jelas dia lebih milih suaminya lah" Ejek Sonya. Membuat Briyan malas berkomentar.
Akhirnya mereka sampai di tempat yang di tuju. Sonya masuk lebih dulu yang di ikuti Briyan di belakangnya.
"Awas jaga jarak!" Ancam Sonya. Ia tak ingin acara makan malamnya bersama Joenathan dan Kekasihnya kacau gara-gara Briyan.
"Oke... Lagian aku nggak tertarik tuh makan malam sama cewek judes kaya kamu" Balasnya.
"Bagus!!!" Setelah perdebatan kecil di pintu masuk, mereka memilih meja dengan jarak yng agak berjauhan, namun masih bisa saling lihat satu sama lain.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Setelah menidurkan Zafran di kamarnya, Shafa bergegas menuju kamarnya sendiri. Rayyan nampak sedang sibuk dengan laptopnya.
__ADS_1
"Maas..." Panggilnya Manja, ia bersandar di bahu suaminya.
"Iya sayang, Anak ayah ingin sesuatu?" Tanyanya sambil mengusap lembut perut Shafa yang sudah mulai terlihat membesar di usia kandungannya yang sudah memasuki 18 minggu. Saat ini nyidamnya sudah mulai berkurang tidak seperti di awal yang setiap hari menginginkan makanan yang berbeda-beda. Sekarang ia lebih bisa di ajak berkompromi hanya saja ia mudah sekali lelah dan kakinya terlihat agak membengkak.
"Mas aku ingin nanam buah di halaman belakang" Ujarnya sambil membaringkan kepalanya di paha Rayyan. Rayyan segera menutup laptopnya, karena dalam situasi seperti ini Shafa akan sangat ngambek jika Rayyan tetap fokus dengan benda yang di sebutnya sebagai setan gepeng itu.
"Shafa ingin nanam buah apa? Besok mas suruh pak Madi beli bibitnya yah?" Ujarnya sambil mengusap lembut kepala istrinya.
"Bukan buah begitu mas, aku mau pohon yang sudah ada buahnya" Pintanya, keinginannya sebulan yang lalu ternyata masih di ingatnya.
"Pohon yang sudah berbuah? Mana ada sayang, kalau pun ada pasti akan mati jika di pindahkan kesini" Balas Rayyan.
"Aku pokoknya mau pohon yang udah berbuah Mas, kaya ini loh!" Ia menunjukan foto foto di layar ponselnya. Foto yang di posting oleh salah satu penjual bibit tanaman Stek menampilkan berbagai macam buah-buahan yang sudah berbuah meski pohonnya masih kecil. Entah itu foto sungguhan atau hasil edit.
"Sayang kalau mau buah begini ya harus nanam dulu, nggak ada yang jual kaya gini sayang. Ini coba Shafa baca tulisannya. Menjuaal bibit, berarti yang di jual bibitnya" Terang Rayyan.
"Ya itu urusannya Mas, sebagai ayah harus mau ngikutin maunya baby dong. Jangan cuma mau enaknya aja pas bikin. Aku udah pengen ini sejak sebulan yang lalu loh mas, apa mas mau nanti anaknya lahir ecesan" Ujar Shafa. Menurut orang tua, apa bila ada ngidam yang tidak di turuti, maka anaknya akan ileran, meskipun pada kenyataannya hal itu tidak bisa di jelaskan secara ilmiah. Secara ilmiah, Bayi atau balita memang akan mengeluarkan liur yang disebut ileran pada tahap awal pertumbuhannya dan akan berhenti seiring dengan pertumbuhannya yang semakin bertambah. Jadi, sama sekali tidak ada hubungannya dengan ngidam yang tidak di turuti.
"Iya..iya besok mas usahain ya" Jawab Rayyan Pasrah.
"Makasih ayah" Cup! Cup! Shafa meraih leher suaminya agar menundukan wajahnya agar ia bisa mengecup bibirnya.
"Mommy centil" Ujar Rayyan sambil menarik hidung mancung Shafa.
"Ayah, Zafran sudah hampir 4 tahun. Gimana kalau kita daftarin PAUD di depan kompleks yah, Supaya aku nggak jauh-jauh kalau nganterinnya. Lagian aku bosen yah di rumah terus nggak ada kegiatan. Kalau Zafran masuk PAUD, kan aku bisa sekalian kenalan dengan ibu-ibu yang lain" Ujar Shafa.
"Mommy yakin? Tapi ayah khawatir kalau Mommy kecapean, apalagi ini kehamilan pertama" Balas Rayyan sambil mengusap usap perut Shafa.
"Yakin yah, supaya Zafran juga punya teman. Tadi sore aku lihat dia main sama anak pak RW di depan. Diaa kelihatan seneng banget, apalagi kalau di Sekolah, pasti akan lebih senang karena banyak temannya yah. Semoga itu bisa mengobati traumanya" Tetang Shafa. Meskipun sudah yerlihat biasa, tapi Zafran masih sering ketakutan atau menangis jika berada di dalam kendaraan terutama saat macet. Itulah sebabnya Shafa lebih sering memintanya tidur saat berada di dalm mobil atau mendekapnya agar ia tidak melihat ramainya kendaraan yang mungkin mengingatkannya akan kejadiaan naas yang menimpanya dan kedua orang tuanya.
"Kalau gitu besok Mommy coba tanya-tanya sama bu RW, diakan kepala sekolahnya PAUD itu. Kalau bisa masuk nanti kita siapkan semua kebutuhan buat sekolahnya Zafran" Balas Rayyan.
"Makasih ayah.... Pohon buahnya jangan lua ya?" Ujarnya mengingatkan.
__ADS_1
Ya Allah, udah bicara panjang lebar masih juga ingat dengan pohon buahnya!
"Iya Mommy... iya, semua untuk mu dan anak kita". Pasrahnya. Ia berharap pohon buah seperti di gambar itu benar adanya. Bukan hanya sebagai foto pemanis agar para pembeli berminat untuk membeli bibit tanaman tersebut.